Wednesday 19 March 2014

Falaa tuzakkuu anfusakum…








Demikianlah bunyi salah satu potongan ayat al-Qur’an. Sebagaimana di dalam surat an-Najm ayat 32. Maknanya kurang lebih ialah:

“oleh karena itu, janganlah kalian menilai sucinya diri-diri kalian”. Yaitu janganlah kalian merasa terbebas dari kelemahan, kekurangan, kesalahan dan dosa. Sikap menilai baiknya diri seperti ini disebut tazkiyah dan Alloh azza wajalla melarang setiap kita dari mentazkiyah diri-diri masing-masing.

Perhatikanlah bagaimana hikmah para salaf kita yang sholih. Adalah Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu pun tidak mentazkiyah dirinya, justru mencela diri beliau. Padahal setiap kita telah mengetahui dan mengakui kebaikan beliau radhiyallahu anhu. apakah kita lebih pantas ,mentazkiyah diri kita dibandingkan beliau?
Disebutkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia mengatakan: “Pada suatu hari aku pernah keluar bersama Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu samapi kami memasuki sebuah tembok sebuah bangunan. Maka tatkala antara aku dengan beliau terpisahkan oleh tembok, sedangkan beliau di dalam tembok bangunan, di saat itulah aku mendengar beliau mengatakan: “Umar bin Khoththob adalah amirul mukminin. Bakh, bkah (aku tak mau mengatakannya, sebab ini kesombongan, ini ujub, ini adalah kesenangan yang tidak benar). Demi Alloh, wahai Ibnu Khoththob, kamu mau bertaqwa kepada Alloh atau Dia benar-benar akan mengadzabmu”. (Muhasabatun Nafs 1/15)
Dengan sikap seperti ini, wajar apabila para salaf jauh dari penderitaan saat merasa dirinya tidak dipuji oleh manusia. Bagaimana dengan kita?
Allohumma, Ya Alloh, bimbinglah hamba-Mu menuju akhlak para sahabat Rosul-Mu. Amin.



sumber dari: http://alghoyami.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment