Thursday, 5 September 2013

Ibu…surgakan aku… surgalah dirimu…






Didalam al Quranul Mubiin, ada beberapa kalimat yang hampir selalu disebut secara bergandengan dan berurutan, seperti Perintah shalat yang selalu diikuti dengan perintah menunaikan ibadah zakat. Perintah ta’at kepada Allah selalu disusul dengan perintah Ta’at kepada Rasul-Nya. Dlsb. Nah, salah satu kalimat yang selalu disebut bergandengan adalah perintah untuk bersyukur kepada Allah yang hampir selalu diiringi dengan perintah berbakti dan berterima kasih kepada kedua orang tua. Maknanya apa ?, maknanya adalah, shalat kita setiap hari, puasa kita tiap ramadhan, zakat kita setiap tahun dan Ibadah hajji kita ke Baitulloohil harom, tidak akan punya makna apa apa, tidak akan bisa menyelamatkan kehidupan kita di Akhirat kelak, ketika kita sebagai anak tidak pandai berbakti kepada kedua orang tua, tidak mampu berterima kasih kepada Ayah dan bunda

( Coba lihat QS. Luqman : 14 dan QS. Al Isra : 23 ).

- Suatu ketika Rasul ditanya oleh seseorang : “ Ya Rasul, sunnguh saya telah menggendong ibu saya sejauh 2 farsakh di jalan berpasir yang terik, andai atas pasir itu diletakkan sepotong daging niscaya matang daging itu. Apakah dengan begitu saya telah menyampaikan rasa terima kasih saya kepadanya ? “, Nabi menjawab “ la’alla an yakuuna litholqotin waahidatin, mungkin hal itu baru bisa membalas sedikit rasa sakitnya saat bunda melahirkanmu “. ( HR. Thobroni )

- Ibnu Umar pernah melihat ada seorang lelaki dari Yaman sedang thowaf sambil menggendong ibunya, kemudian laki laki bertanya kepadanya : “ apakah dengan seperti ini aku telah membalas kebaikan ibuku ? “ Ibn Umar menjawab : “ sama sekali belum, bahkan belum bisa membalas satu kali helaan nafasnya “
Jahimah datang menemui Rasul dan berkata : “ saya ingin berperang wahai Rasul, dan sungguh saya datang kesini untuk meminta pendapat “ Nabi berkata : “ apakah kau masih punya ibu ? “ ia mengangguk, lalu Nabi bersabda : “ rawatlah ia dengan penuh kasih sebab surga ada di antara kedua kakinya ( Ibn Majah )
Suatu hari diatas makam seorang sahabatnya yang bernama Alqomah, Nabi berpesan kepada para sahabat waktu itu ( dan hakikat pesan ini berlaku pula untuk kita sebagai ummatnya ). Kata Beliau : “ Wahai kaum Muhajirin dan Anshar !!! barangsiapa yang lebih mengutamakan istrinya ketimbang Ibunya, lebih cinta kepada pasangannya mengalahkan cintanya kepada ibunda, maka bagi orang tersebut laknat dari Allah, dilaknat segenap para Malaikat dan dilaknat pula oleh seluruh ummat manusia. Ketahuilah ! bahwa Ridlo Allah itu, tergantung pada ridlonya orang tua, demikian pula murkanya Allah pun bergantung pada marah dan murka Ayah bunda “

Pantas saja, jika pada satu ketika Rasul ditanya tentang siapakah manusia yang paling berhaq dipergauli dangan sebaik baiknya, siapakah orang yang paling harus dihormati dengan penghormatan setinggi tingginya, maka Rasul dengan jelas dan tegas berkata : Ibumu, ibumu, dan ibumu, baru setelah itu ayahmu ( HR. Bukhori ). Subhaanalloh.

Tanyalah kepada orang orang sukses diatas dunia ini, apa kiat keberhasilan mereka,..? bacalah torehan sejarah yang telah mengukir nama orang orang besar, apa kunci sukses mereka ..?.

Rasulullah pernah memerintahkan kepada Umar bin Khatthab untuk minta didoakan apabila satu saat nanti ia bertemu dengan seseorang yang bernama Uwais al Qorni. Saudaraku, bukankah Umar adalah sahabat pilihan, bukankah Umar seorang khalifah idaman yang selalu jadi panutan, bukankah jika Umar berdoa kita yakin bahwa doanya pasti dikabulkan, lantas mengapa Rasul memerintahkan agar Umar minta didoakan jika bertemu dengan Uwais al Qorni, gerangan apa yang membuat doa Uwais begitu berharga, amalan apa yang dimiliki Uwais sehingga kedudukannya begitu mulia, ternyata, setelah melalui sebuah investigasi ditemukan sebuah jawaban, kedudukan Uwais begitu mulia, doa Uwais begitu berharga karena ia adalah seorang anak yang sangat cinta terhadap ibunya, Allahu Akbar. Mahatma Gandhi pernah berkata : kunci sukses yang aku punya adalah doa dari ibunda. Hadirin sekalian, silahkan minta doa kepada para Ulama dan orang orang sholih lainnya, boleh saja memohon doa dari manusia yang hatinya dipenuhi dengan keikhlasan, namun kenapa kita sering lupa, bahwa ternyata dirumah kita ada manusia keramat yang sangat mustajab doa doanya, kenapa kita tidak menyadari bahwa disamping kita ada seorang manusia yang jika ia berdoa pintu ‘arsy segera terbuka, siapa lagi ia jika bukan Ibunda, “ doa orang tua bagi anaknya adalah sama seperti doa Nabi untuk ummatnya “.

OLEH KARENA ITULAH, khususnya bagi kita yang saat ini masih bertemu dengan kedua orang tua atau salah satu dari keduanya, kita yang saat ini tengah survive dan berjuang menggapai kesuksesan, mungkin ada diantara kita yang saat ini punya planning / Rencana untuk memulai sebuah usaha, atau kita yang sekarang sedang berada pada posisi apa adanya, jika kita kita ingin sukses dalam setiap usaha, jika kita ingin berhasil menemukan nilai sebuah bahagia, maka kata kuncinya adalah : berbaktilah kepada kedua orang tua, datangi keduanya, ciumlah tangan ibunda, pandanglah wajah ayahanda, dan mintalah doa dari lisannya. Namun sebaliknya, siapapun kita, betapapun hebatnya kita, berapapun banyaknya harta kekayaan kita, setinggi apapun pangkat dan jabatan kita, jika kita tidak pandai berbakti kepada keduanya, andai kita memerankan diri menjadi anak yang durhaka, percayalah ! malang melintang kita diatas dunia sekejap matapun tidak akan pernah hidup bahagia.

Disisi lain, dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah bersabda : “ rugi besar bagi seorang manusia yang masih sempat bertemu dengan kedua orang tuanya, namun dia tidak bisa masuk kedalam surga “. Jadi, lewat untaian mutiara hadits ini, Rasul ingin memberitakan kepada kita, bahwa keberadaan kedua orang tua adalah merupakan ladang amal yang sangat subur untuk ditanami pepohonan ibadah, dan ladang yang subur tadi akan siap memberikan hasil panenan pahala yang melimpah ruah. Bayangkan saudaraku! memandang keduanya saja dengan pandangan penuh kasih sayang, maka kata Nabi, sang anak tersebut akan mendapatkan catatan pahala hajji yang mabrur. Itu baru sekedar memandang saja, apalah lagi jika kita mampu berbakti dan membahagiakan keduanya, masyaa-allaah.

Kedua orang tua kita adalah pintu bagi keberkahan hidup manusia, betapa tidak, dalam tubuh kita mengalir air susunya. Merekalah pintu kebahagiaan kita semua, karena pada jasad dan badan kita tumbuh darah dagingnya. Sadarkah kita, ketika bunda mengandung, dijaganya kita dengan penuh rasa sayang, ibarat kata, jika ibu terjatuh kedepan, ia lebih memilih mukanya hancur ketimbang janinnya gugur, kalau ia jatuh kebelakang ia lebih suka kepalanya retak daripada kandungannya rusak, andai ia jatuh kesamping ia lebih rela tangannya yang patah ketimbang anaknya yang terluka parah, lalu ketika ibunda melahirkan kita, Allahu Akbar, penderitaanya bertambah parah, bertaruh nyawa, meregang raga, berpacu antara hidup dan mati, sakit diatas sakit tak diambil peduli, berjuang dalam semangat cinta, berkuah darah, bersimbah keringat, bermandikan air mata, hanya satu asa & harapan dalam hatinya, semoga anaknya dapat lahir dengan selamat dan sempurna. Subhaanallooh ,,,

Ibu…mamah… bunda… ummi… apapun sebutanmu, surgakan aku… surgalah dirimu…


sumber dari: ahmadmilady.wordpress.com

Rasulullah terisak-isak menangis






PADA suatu hari Rasulullah SAW datang ke masjid Bani Zhafar bersama Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan sahabat lain. Dia perintahkan Ibnu Mas’ud membaca Alquran.

“Apakah aku harus membacakan padamu Alquran, padahal Alquran itu diturunkan kepadamu?” tanya Ibnu Mas’ud.
“Benar, tetapi aku ingin mendengarkan dari orang lain,” sabda Nabi.

Ibnu Mas’ud mulai bacaannya dari surat an-Nisa. Ketika sampai kepada ayat 41: “Maka bagaimana sekiranya Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu.”

Ibnu Mas’ud mengangkat kepala dan melihat Rasulullah terisak-isak menangis, sehingga berguncang janggutnya. Air matanya membasahi pipi.
Terdengar Nabi bergumam, “Benar, Tuhanku. Aku bersaksi untuk mereka yang berada di tengah-tengahku sekarang. Bagaimana aku harus bersaksi dengan mereka yang tidak aku saksikan?”
Riwayat di atas saya kutip dari buku Indaidzin ‘Bakaa al-Nabi SAW (Pada Saat Itulah Nabi Menangis) tulisan Abu Abd al-Rahman Khalid.

Nabi menangis ketika mendengarkan bacaan Alquran. Nabi melanjutkan tradisi para Nabi sebelumnya dan mencontohkan kebiasaan orang saleh sepanjang sejarah manusia. Tradisi orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kebahagiaan. Orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kenikmatan, yakni para Nabi dari keturunan Adam, dan dari antara orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan di antara orang-orang yang Kami tunjuki dan Kami pilih. (Tanda mereka itu) ialah apabila dibacakan ayat-ayat Yang Mahakasih mereka merebahkan diri, bersujud, sambil menangis. (Maryam: 58).

Ibnu Katsir menerangkan tafsir ayat di atas, “Yakni, apabila mereka mendengarkan firman Tuhan yang mengandung “Hujah-hujah”-Nya, dalil-dalil-Nya, dan bukti-bukti-Nya, mereka bersujud kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati seraya memuji-Nya dan mensyukuri anugerah Tuhan yang agung pada mereka.”
Kata bukiy dalam ayat ini artinya bentuk jamak dari baaki yang artinya orang menangis. Karena itu, para ulama ijmak tentang disyariatkannya bersujud ketika sampai pada ayat ini, mengambil contoh dan mengikuti tradisi orang-orang saleh itu. (Tafsir Ibn Katsir 3:131).
Pada suatu kesempatan Nabi SAW membacakan ayat-ayat yang memuji rahib Nasrani. Pujian Alquran untuk para rahib itu begitu indah sehingga sahabat bingung dan mempertanyakan kenapa Islam tidak menyuruh umatnya jadi rahib saja.
Nabi SAW membacakan ayat-ayat itu bukan untuk merahibkan kita, tetapi untuk meniru perilaku mereka. Apa perilaku mereka?

“Sungguh akan kamu temukan orang-orang yang paling keras memusuhi orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh akan kamu temukan orang yang paling mencintai orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: Kami Nashara. Karena di antara mereka ada para pendeta dan rahib. Mereka itu tidak sombong. Apabila mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mereka mencurahkan air matanya karena mereka mengenal kebenaran di dalamnya. Mereka berkata: Tuhan kami, kami beriman. Tuliskan kami bersama orang-orang yang menyaksikan kebenaran.” (Al-Maidah: 82-83).

Di antara perilaku rahib yang harus kita tiru adalah kamu lihat mereka mencurahkan air mata ketika mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (dalam hal ini Alquran). Nabi SAW menangis ketika Alquran dibacakan kepadanya, padahal kepadanya Alquran diturunkan. Para rahib menangis ketika mendengar Alquran, padahal itu bukan kitab yang diturunkan kepada Nabi mereka.

Lebih 1.000 tahun setelah Alquran turun, Jeffry Lang, profesor matematika di AS mencari agama dengan sikap kritis. Dia bertemu dengan Alquran dan takjub dengan jawaban Alquran atas pertanyaannya. Di hadapan Tuhan, ketika dia salat pertama kali, waktu membaca Al-Fatihah, dia menangis terisak-isak. Muallaf baru ini ternyata lebih dekat dengan contoh para Nabi ketimbang kita.

Apa yang harus kita lakukan supaya bisa membaca Alquran seperti Lang?
Muhammad Iqbal, filsuf Islam dari anak benua India, menjawab dengan kisah hidupnya.
Pada waktu kecil, dia suka membaca Alquran bakda subuh. Ayahnya selalu menganggap dia belum membaca Alquran.
Ketika dia bertanya, ayahnya berkata, “Bacalah Alquran seakan-akan dia diturunkan untuk kamu!” Supaya Anda bisa menangis, masukkan ke hatimu bahwa Tuhan sedang menyapa kamu, berdialog dengan kamu, dan menjawab semua pertanyaan kamu.

Wallahualam bisshawaab....


sumber dari: ahmadmilady.wordpress.com

Doa Pembatal Sihir






Doa Pembatal Sihir

سُوۡرَةُ یُونس


فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُ ۥۤ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ




Yunus:81

Setelah mereka campakkan (benda-benda itu), Nabi Musa berkata: Apa yang kamu datangkan itu, itulah sihir; sesungguhnya Allah akan mendedahkan kepalsuannya (dengan mukjizat yang dikurniakanNya kepadaku); sesungguhnya Allah tidak akan menjayakan perbuatan orang-orang yang melakukan kerosakan.
Then when they had cast down, Mûsa (Moses) said: “What you have brought is sorcery, Allâh will surely make it of no effect. Verily, Allâh does not set right the work of Al-Mufsidûn (the evil-doers, corrupters).

وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ





Yunus:82

Dan Allah juga sentiasa menetapkan perkara yang benar dengan kalimah-kalimah perintahNya, walaupun yang demikian dibenci oleh orang-orang yang melakukan dosa.
“And Allâh will establish and make apparent the truth by His Words, however much the Mujrimûn (criminals, disbelievers, polytheists, sinners) may hate it.”


sumber dari: ayat2hafalanku.wordpress.com

Wednesday, 4 September 2013

bagaimana mereka diciptakan







Tidak diragukan lagi bahwa semua makhluk, dengan kemampuan mereka, menunjukkan kekuasaan dan pengetahuan tak terbatas dari Pencipta mereka. Allah mengungkapkan hal ini dalam berbagai ayat Al-Qur’an, mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang Sia ciptakan sebenarnya adalah sebuah tanda, yaitu lambang dan peringatan.

Dalam surat Al-Ghasiyah ayat ke-17, Allah merujuk kepada hewan yang akan kita pelajari dan pikirkan dengan saksama, yaitu unta.

Pada bagian ini, kita akan mempelajari makhluk hidup yang ditunjukkan Allah dalam ungkapan Al-Qur’an, “Tidakkah mereka memperhatikan unta; bagaimana mereka diciptakan?”

Yang menjadikan unta “makhluk hidup istimewa” adalah struktur tubuhnya, yang tidak terpengaruh oleh kondisi alam paling keras sekalipun. Tubuhnya memiliki beberapa keistimewaan, yang memungkinkan unta bertahan hidup berhari-hari tanpa air dan makanan, dan mampu mengangkut beban ratusan kilogram selama berhari-hari.

Ciri-ciri unta, yang akan kita pelajari secara terperinci pada halaman-halaman berikut, membuktikan bahwa hewan ini diciptakan khusus untuk kondisi iklim kering, dan bahwa ia disediakan untuk melayani manusia. Ini adalah tanda-tanda penciptaan yang nyata bagi orang-orang yang berakal.



sumber dari: karuniaillahi.wordpress.com

mata yang menangis di Hari Kiamat




The First Tears | Publish with Glogster!550 × 343 - 25k - jpgworldofstock.comPicture of Conceptual Photo Of A Beautiful Young Woman With Wet332 × 500 - 24k - jpgbolstablog.wordpress.comtell people they are beautiful | Triumph of the Spirit256 × 180 - 28k - jpgbeautyheaven.com.auBeauty tricks for irritated eyes | Make-up | beautyheaven.588 × 343 - 39k - jpgshutterstock.comClose-Up Of Beautiful Womanish Eye Stock Photo 97558391 : Shutterstock450 × 470 - 49k - jpgpolyvore.comYoung Woman Crying With Eye Make-up Running Down Cheek Tear300 × 300 - 21kshutterstock.comstock-photo-closeup-of-beautiful-eyes-58250086.jpg450 × 177 - 20k - jpgshutterstock.comPortrait Of A Newborn Baby Close-Up. The Child Has Beautiful Eyes450 × 470 - 33k - jpgshutterstock.comstock-photo-close-up-on-the- ...100 × 80 - 3k - jpg123rf.comBeautiful Young Woman Applying Cosmetic Paint Brush - Close-up114 × 168 - 6k - jpgshutterstock.comCrying Eyes Stock Photos, Crying Eyes Stock Photography, Crying83 × 100 - 3k - jpgmollyevangeline.blogsp...February 2008 | Molly Evangeline252 × 380 - 21k - jpgshutterstock.comSerg Zastavkin's "EYE Make Up" set on Shutterstock150 × 139 - 5k - jpgaaronandjanene.blogspo...The Crossley's: January 20121600 × 1063 - 171k - jpgshutterstock.comstock-photo-beautiful-girl-in- ...100 × 88 - 3k - jpgshutterstock.comstock-photo-beautiful-girl-in- ...80 × 100 - 3k - jpgshutterstock.comClose-Up Of Beautiful Brown Eyes, Rest Of Face Monochrome Stock450 × 195 - 20k - jpgtumblr.comeye sketch on Tumblr500 × 667 - 49k - jpgimagesource.comWoman with crystal tears RF Stock photo - IS693-353 × 436 - 38k - jpgcolourbox.comImage of 'Crying baby face closeup'


Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir.
Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt.
Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini,
seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16.

Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan.
Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria.
Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia.
Dia ditempatkan pada surga yang tinggi.
Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat,
Rasulullah pernah bersabda,
“Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal.
Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT.
Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah.
Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT
Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu,
bergumul dan berkelana di tempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.
Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan.
Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran.
Ayat yang dibaca itu berbunyi:
“Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),
dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.
Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya.
Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa.
Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan.
Kemudian ia mengubah cara hidupnya.
Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu,
beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt.,
sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi
seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.
Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh.
Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas
kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt.
Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya
kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan.
Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah SAW pernah bercerita tentang orang-orang
yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan.
Dari ketujuh orang itu salah satu di antaranya adalah
seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan,
tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.
Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini.
Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya.
Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat,
lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT.

Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah
Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan
menegakkan tonggak Islam.

Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat,
yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

***
Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat ???


sumber dari: jhoyn-ts2.blogspot.com

PENYIMPANGAN SOSIAL (MEROKOK PADA SISWI)






Dampak Negatif Merokok :

1. Al-A’raf, ayat 157 : Nabi menghalalkan semua hal baik dan mengharamkan semua hal jelek

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٥٧)
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

2. Al-Baqarah, ayat 195 : Jangan campakkan diri dalam kehancuran

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٩٥)
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan(kehancuran), dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

3.  An-Nisa’, ayat 29 : Jangan melakukan perbuatan bunuh diri

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

4. Al-Isra’, ayat 26-27 : Sikap boros adalah saudara setan

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)
dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

5. Al-Ghasiyah, ayat 6-7 : Makanan neraka “tidak menyebabkan gemuk maupun menghilangkan rasa lapar

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ (٦)لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (٧)
mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,
yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

6. HR. Ahmad, Shahih : Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain

7. Al-Baqarah, ayat 219 : dan dosa Hamr dan judi lebih besar daripada manfaatnya (begitu juga rokok)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (٢١٩)
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya“. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.”

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,


sumber dari: mohkusnarto.wordpress.com

Surat Apa yang Dibaca dalam Shalat Jum’at





Surat apa saja dari al-Qur’an yang dibaca imam setelah al-Fatihah maka telah mencukupi. Namun ada beberapa surat yang disunnahkan untuk dibaca pada shalat Jum’at yaitu surat Al-Jumu’ah dan surat Al-Munafiqun atau surat Al-A’la
(سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)
dan surat Al-Ghasyiyah
(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ).
Hal ini berlandaskan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun dalam shalat Jum’at (HR. Muslim no. 879)

Dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
dan
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
pada shalat ‘Ied dan Jum’at.” (HR. Muslim 878)

Ulama menyebutkan di antara hikmah membaca surat al-Jumu’ah karena ia memuat tentang wajibnya Jum’atan dan hukum-hukum Jum’atan. Adapun hikmah dibacanya surat al-Munafiqun karena orang-orang munafik tidaklah berkumpul pada suatu majelis yang lebih banyak daripada saat Jum’atan. Oleh karena itu, dibaca surat ini sebagai celaan atas mereka dan peringatan agar mereka bertobat. (lihat Syarh Shahih Muslim 6/404 karya an-Nawawi rahimahullah)

Bacaan al-Fatihah dan surat pada shalat Jum’at itu dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tentu menjadi salah satu bukti bahwa shalat Jum’at tidak sama dengan shalat zhuhur. Adapun bacaan-bacaan yang lain di saat sujud, ruku’, dan semisalnya, serta gerakan-gerakannya sama dengan shalat-shalat yang lain.


sumber dari: darussalaf.or.id