Showing posts with label At-Taghabun. Show all posts
Showing posts with label At-Taghabun. Show all posts

Tuesday, 22 April 2014

Anugerah Anak







Setiap orang yang telah berkeluarga, bisa dipastikan amat mendambakan keturunan. Segala cara akan mereka tempuh, walau harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya, guna memperoleh sang pelanjut generasi. Kondisi ini bukanlah sesuatu yang aneh, apalagi ganjil. Sebab Allah Swt. telah menjabarkan di dalam Alqur’an Surat Ali Imran ayat 14 dengan menyatakan bahwa pasangan hidup dan anak-cucu merupakan perhiasan (ziinah) kemanusiaan. Namun tidak banyak yang sadar di antara manusia tentang “sesuatu” yang mereka dambakan tersebut. Sebab bagi kebanyakan orang tua, anak hanya merupakan investasi masa depan, baik di dunia maupun akhirat, tanpa ada pandangan yang lebih jauh lagi tentang resiko dari investasi tersebut.

Berkaitan dengan masalah anak, Alqur’an telah menjelaskan ada 4 model anak manusia. Yang semuanya merupakan fase-fase yang senantiasa mengiringi eksistensi kita, meskipun kita sendiri mungkin saja sudah beranak cucu pula. Ialah tipe yang menjadi ujian bagi kedua orangtua, tipe yang mencelakakan orangtua, tipe yang menjadi seteru orang tua, dan tipe anak yang bisa membanggakan kedua orangtuanya.

Untuk tipe anak pertama, terdapat di dalam Alqur’an surat at-Taghabun ayat 15 dan al-Anfal ayat 28.

Di dalam surat at-Taghabun ayat 15 dinyatakan bahwa, “Harta benda dan anak-anakmu hanyalah menjadi ujian. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar.” Sedangkan di dalam surat al-Anfal ayat 28 disebutkan sebagai berikut, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu menjadi ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Dari dua ayat di atas bisa dipastikan bahwa pada dasarnya anak adalah ujian dari Allah Swt. yang bermakna ganda, sebagaimana sifat dasar dari sebuah ujian. Ia bisa membawa kebaikan, dan tidak menutup kemungkinan mengajak kejahatan. Meskipun sifat dasar dari anak manusia adalah cenderung pada kebajikan (‘ala al-fitrah).

Tipe kedua adalah anak yang menjadi model di dalam surat al-Munafiqun ayat 9 sebagai berikut, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingati Allah. Dan siapa yang berbuat begitu, itulah orang-orang yang menderita kerugian.” Contoh dari model anak kedua adalah seorang anak yang bisa memposisikan orang tuanya berada dalam situasi yang begitu bernafsu melanggar ketentuan-ketentuan Allah, terutama dengan berbekal senjata kasih sayang.

Di dalam surat at-Taghabun ayat 14 disebutkan model anak yang ketiga sebagai berikut, “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagi kamu. Sebab itu, berhati-hatilah terhadap mereka. Tetapi kalau kamu suka memaafkan, berhati lapang, dan memberikan ampun, sesungguhnya Allah itu maha pengampun lagi Maha Penyayang.” Anak yang paling tepat menjadi contoh dari tipe anak yang ketiga ini adalah Kana’an, putra Nabi Nuh As.

Keempat, anak yang bisa membanggakan dan menyenangkan hati kedua orang tuanya sebagaimana yang terdapat di dalam surat al-Furqan ayat 74 sebagai berikut ini, “Wahai Tuhan Kami, kurniakanlah kepada kami isteri dan keturunan yang menjadi cahaya mata (yang terdiri dari orang-orang yang beriman, berilmu, berbudi, dan taat beragama), dan jadikanlah Kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Dan Nabi Ismail AS. adalah figur anak yang paling pas dalam memerankan model yang keempat ini. Bagaimana tidak, kala dimintai penyerahan jiwanya oleh sang ayah, Nabi Ibrahim AS, demi memenuhi amar Tuhan, dengan mudahnya Nabi Ismail memasrahkan dirinya. Itulah gambaran anak yang bisa membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya. Semoga di bulan Ramadhan yang suci ini, kita bisa bisa menjadi Ismail-Ismail baru dan mempunyai “anak-anak Ismail” pula. Amin Ya Allah, Ya Mujibas Sa’ilin. Semoga.

Wallah A’lam bi ash-Shawwab



sumber dari: pahrurrojimbukhori.wordpress.com/

When One’s Family Becomes his Enemy







The final section of Surat At-Taghbun addresses the believers, warning them against failure in the test represented in the temptation of spouses, children and riches. They are required to remain God-fearing, be obedient to him and give willingly for his cause. They are warned against being stingy.

They are further promised the doubling of their provisions, forgiveness of their sins and success. They are finally reminded of God’s all-encompassing knowledge, power and wisdom:

{Believers, some of your spouses and children are enemies to you; so beware of them. Yet, if you overlook their faults, pardon and forgive, God is much forgiving, ever merciful. 
Your wealth and children are only a trial and a temptation, whereas with God there is a great reward. 
Therefore, remain God-fearing as best as you can, listen, obey and be charitable. That will be best for you. Those that are preserved from their own meanness are the ones who will achieve success. 
If you make a goodly loan to God, He will repay you in multiples, and will forgive you your sins. God is ever thankful, forbearing. 
He knows all that is beyond the reach of human perception and all that is witnessed; the Almighty, the Wise.} (At-Taghabun 64: 14-18)

A man asked Ibn `Abbas about the first verse in this section and it is reported that he told him that  there were some people in Makkah who accepted Islam and wanted to join the Prophet in Madinah, but their spouses and children prevented  them.

When they ultimately joined him, they realized that those who were already with the Prophet had acquired insight in their religion. Therefore, they wanted to punish their spouses and children from having kept them away. God then revealed this verse telling them:

{If you overlook their faults, pardon and forgive, God is much forgiving, ever merciful.} (At-Taghabun 64: 14)
Follow the Shari`ah Zone
FollowShariahTW2
FollowShariahFB2

This hadith is related by At-Tirmidhi who described it as authentic. The same opinion is expressed by `Ikrimah, Ibn `Abbas’ disciple.
The Qur’anic statement is wider in scope and import than this particular situation represents. For this warning is the same as in the following verse:

{Your wealth and children are only a trial and a temptation, whereas with God there is a great reward.} (At-Taghabun 64: 15)

Both caution against the temptation that wives, children and wealth present. The warning that some spouses and children may be one’s enemies refers to a true fact in human life. In this way, the verses touch upon some intricate and complex ties in man’s emotions and how they are influenced by life’s circumstances. 
One may be willing to face such hardship himself, but cannot bear that such hardship be suffered by his wife and children.

Spouses and children may divert person’s attention from God’s remembrance. They may also make a man fall short of discharging the responsibilities required of his faith; this in order to spare himself the troubles that he may face as a result of fulfilling such responsibilities.
A person who strives for God’s cause may be exposed to much loss and may have to sacrifice a great deal. He and his family may have to withstand much hardship. He may be willing to face such hardship himself, but cannot bear that such hardship be suffered by his wife and children.

As a result, he may be tight-fisted and cowardly in order to ensure that they are safe, free of trouble and financially secure. Thus, they become his enemies as they turn him away from doing what is good and stop him from fulfilling the ultimate objective of his existence. Indeed, they may even stand in his way, stopping him from fulfilling his duty. In doing so, they may wish to spare themselves what may happen as a result, or they may not share his belief.

In this way, man finds himself unable to separate himself from them and dedicate himself to God’s cause. This is also a form of enmity that may vary in degrees. Furthermore, such situations are faced by believers at all times.

This very complex situation merits such a caution from God as to alert believers’ hearts so that they do not allow such feelings and pressures to creep into their minds. The caution is stated again, this time as a warning against the temptation presented by wealth and children. The Arabic word used here is fitnah, which conveys two earnings:

The first is ‘trial’, which makes the verse mean that God puts you to trial by giving you riches and children. He tests you in this way, so always be on the alert in order to pass your test and dedicate yourself to God.

The second meaning is ‘temptation’, and in this sense the verse means that riches and children present temptations for you to indulge in sin. Beware then and do not allow such temptations to distract you from the way that leads to God’s acceptance. Both meanings are acceptable.



The Prophet’s Care for Children
Imam Ahmad relates on the authority of Buraydah, a Companion of the Prophet:

“The Prophet was delivering a sermon when Al-Hasan and Al-Husayn came wearing two red shirts and tripping as they walked. The Prophet got down from the pulpit and took them up, placing them next to him. He then said:

"God and His Messenger speak the truth: {Your wealth and children are only a trial and a temptation.} 
I saw these two young boys tripping as they walked, and I could not wait. I had to interrupt my speech to lift them up”.

Thus did the Prophet do with his two grandchildren. It is, then, a very serious matter. Therefore, alerting people to it and making them aware of what it may lead to is necessary, as God, Who created people and gave them  their natural feelings, knows. They can then restrain themselves so as not to allow such feelings to dictate their behavior, knowing that such loving bonds could end up causing them what an enemy tries to cause.

Therefore, when the warning is given and the encouragement is made to pass the test and to overcome the temptation, they are reminded of what God has in store for them, {whereas with God there is a great reward. } (At-Taghabun 64: 15)

The believers are admonished to do their best to remain God-fearing and to obey God's orders:

{Therefore, remain God-fearing as best as you can, listen, obey and be charitable} (At-Taghabun 64: 16)

Here, we see an aspect of God's care as He restricts what is expected of the believers to that which remains within their power and ability. He knows the limit of what they can do in obedience of Him. The Prophet says:

"When I give you an order, do it as best you can, and when I prohibit something, refrain from it completely." (Al-Bukhari and Muslim)

Limits cannot be set on obeying an order to do something. Therefore, what is within one's ability and power is sufficient. On the other hand, prohibition cannot be divided. It is required in full.
They are also called upon to be generous in what they donate:

{And be charitable. That will be best for you} (At-Taghabun 64: 16)


Feed, Greet and Pray

Normally, they spend their money on their own needs, God instructed them to spend in charity what is good for themselves. Thus when they are charitable, they are actually spending their money on what is good for themselves. The Surah also depicts meanness as a plague, one they must try to get rid of. He is happy who manages to achieve this:

{Those that are preserved form their own meanness are the ones who will achieve success.} (At-Taghabun 64: 16)

The Surah goes on encouraging them to be charitable, making it desirable for them. It describes such charity as a loan given to God. Who would want to lose the opportunity to give his Master a loan?
God accepts the loan, repays it many times over, forgives the lender his sins, thanks the lender and forbears with him when he falls short of thanking Him:

{If you make a goodly loan to God, He will repay you in multiples, and will forgive you your sins. God is ever thankful, forbearing.} (At-Taghabun 64: 17)

Blessed be God's name:  how generous and great He is! It is He who creates man, His servant, and then gives him all his provisions. He then asks him to give Him as a loan some of what is surplus to his needs. He Almighty repays this loan in multiples and thanks his servant and forbears when His servant is not as grateful as he should be.

God thus teaches us how to rise above our weaknesses and shortcomings and how to aspire to the sublime, trying to be like Him, albeit within our limited abilities. God breathed of His spirit into man, so that man will always aspire to achieve this ideal, within the scope of his nature and ability.

Therefore, the sublime remains open for man always to aspire to. He can try to rise, step after step, so that he can meet God presenting what He likes him to present and what earns him His pleasure.
The section then concludes with a statement of God's knowledge and wisdom:

{He knows all that is beyond the reach of human perception and all that is witnessed; the Almighty, the Wise.}  (At-Taghabun 64: 18)

Everything is within His knowledge, subject to His Power, conducted according to His wisdom. As they go through life, people should realize they remain under God's watchful eye, are subject to His power, and that everything takes place by His will. When this truth is appreciated by people, they will remain God-fearing and respond to Him only as they should



sumber dari: onislam.net/

Infaqlah Harta Anda Pasti Allah Gandakannya







Infaq Apa yang Kamu Cinta & Sayang

(Surah Ali Imran: 92)
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”


Mendekatkan Diri kepada Allah

(Surah At-Taubah: 99)

“Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Pinjaman kepada Allah (Infaq), Diampunkan Dosa

(Surah Al-Maidah: 12)

“Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik* sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

*Maksudnya ialah: menafkahkan harta untuk menunaikan kewajiban dengan hati yang ikhlas.


(Surah At-Taghabun: 17)

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”


Rezeki – Allah Ganti Derma Kamu

(Surah Saba: 39)

“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”


Bisnes yang Tidak Rugi

(Surah Fatir: 29)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,”


Infaq Sebelum Mati

(Surah Al-Munafiqun: 10)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"”



Tidakkah seruan-seruan ini mampu mengetuk pintu hati anda? Hakikatnya orang yang berinfaq adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab menginfakkan (membelanjakan) harta akan memperoleh barakah dan keuntungan. Tidak menghairankan jika orang yang berinfaq diibaratkan orang yang melabur dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperolehnya berlipatganda. Sesungguhnya, orang-orang beriman merasakan janji Allah s.w.t sebagai pendorong kepada dia untuk bekerja kuat, beramal soleh dan berjihad pada jalan-Nya. Janji-janji Allah itu benar dan Dia tidak sekali-kali akan memungkiri janji-janji-Nya. Jadi ayuh, sambutlah Ramadhan dengan semangat berderma dan bersedekah sebanyak-banyaknya di jalan Allah.
 
 
 
sumber dari:  misrihjbohari.blogspot.com/

cabaran-cabaran yang ditempuhi oleh umat Islam







Juzuk 28 merupakan himpunan surah-surah Madaniyah. Ia terdiri 9 buah surah, iaitu Al Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, As Saff, Al Juma’ah, Al Munafiqun, At Taghabun, At Tholaq dan At Tahrim.

Perbicaraan tentang surah-surah ini, membawa kita menghayati peristiwa-peristiwa dalam masyarakat Madinah. Kita akan bersama dengan masyarakat dan kerajaan Islam yang pertama, sedang berkembang untuk membawa tasawwur hidup Islam  di alam realiti keseluruh alam.

Tugas adalah satu tanggungjawab yang dipikul oleh umat Islam. Ia menuntut persediaan yang sempurna. Pentarbiahan dan penyediaan jiwa memerlukan usaha dan kerja yang teliti, kesabaran yang panjang dan rawatan yang berterusan dalam sekecil-kecil perkara sehinggalah sebesar-besarnya. Hampir kesemua juzuk ini membentangkan usaha yang hebat ini, selain dari teknik dan pendekatan al Quran dalam membina jiwa, menangani pelbagai peistiwa, adat kebiasaan dan kecenderungan.
Begitu juga juzuk ini menjelaskan cabaran-cabaran yang ditempuhi oleh umat Islam dalam memikul tanggungjawab antaranya diri mereka sendiri, anak-anak, isteri-isteri  dan harta kekayaan yang kadang menjadi beban dan menghalang perjalanan mereka.

Juzuk ini juga membentangkan pertembungan yang panjang antara Islam dan musuh-musuhnya. Mereka sentiasa merancang dan menanti peluang untuk menghapuskan Islam.Antara musuh-musuh yang dijelaskan dalam juzuk ini seperti kaum yahudi, golongan munafiq dan kaum musyrikin.

Intima’ dan al tabarru’

Objektif umum yang menjadi intipati ayat-ayat juzuk ke-28 adalah berkaitan dengan isu yang amat sensitif. Iaitu intima’ (pengabungan) hidup mati dengan Islam dan at tabarru’ (membebaskan) diri sepenuhnya dari kekufuran dan orang-orang kafir. Ia merupakan diantara perkara asas dalam Islam, yang tidak dapat ditampung dengan solat dan ibadat-ibadat lain. Persoalan ini wajib memenuhi seluruh minda dan menguasai sanubari setiap peribadi muslim, di mana mereka mesti memberi kasih sayang, wala’ dan pertolongan hanya kepada orang-orang yang beriman (mukminin) dan pada masa yang sama memusuhi sesiapa yang menjadi musuh Allah, Rasul dan orang-orang beriman.

Masyarakat Islam Madinah

Surah al Mujadilah membicarakan perkara ini dengan detail. Bermula dengan institusi kekeluargaan, dan apa kaitannya dengan intima’…? Ini kerana ikatan masyarakat dan perasaan terikat dengan masyarakat bermula dengan institusi kekeluargaan.

Adapun surah al Hasyr, as Saff dan al Jumu’ah membicarakan tentang masyarakat Islam dan kesatuannya (wehdah), di mana hubungan sesama mereka dibentuk berdasarkan perasaan intima’ mereka kepada Islam dan Muslimin.

Awasi ancaman mereka!

Manakala surah al Mumtahanah menjelaskan tentang ujian, halangan dan cabaran terhadap intima’, ada pun surah al Munafiqun pula menzahirkan fenomena nifaq (sifat munafiq) yang merosakkan intima’ dan memecah belah kesatuan umat.

Adapun surah at Taghabun, at Talaq dan at Tahrim membentangkan perkara-perkara yang menyibukkan umat Islam daripada tuntutan intima’ dengan sepenuh hati kepada Islam seperti harta dan anak isteri.

Mula dan penutup

Surah al Mujadilah bermula dengan firman Allah:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا
ۚ
“Sesungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengadu kepada mu (wahai Muhammad) tentang suaminya dan mengadu halnya kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua”

Ayat ini menjelaskan kepentingan institusi kekeluargaan dalam pembinaan masyarakat Islam, di mana seorang suami telah mengatakan isterinya sama seperti ibunya, lalu Allah menurunkan ayat-ayatNya bagi menerangkan bahawa tindakan suami tersebut adalah salah di sisi Islam, dan tidak sepatutnya si suami menzalimi isterinya dan merungkai ikatan kekeluargaan. Ini menggambarkan bahawa Islam begitu mengambil berat tentang kedudukan wanita dan institusi kekeluargaan. Apabila seseorang wanita merasai bahawa Islam telah memuliakan kedudukan mereka, nescaya dia akan mendidik anak-anaknya supaya intima’ dengan Islam.

Sebagaimana permulaan juzuk yang ke 28 menjelaskan tentang isu wanita, begitulah juga pengakhirannya, di mana contoh tauladan wanita kuat intima’ dengan agama dipaparkan, iaitu melalui kisah permaisuri Fir’aun dan Mariam binti Imran. Seolah-olah Allah menyatakan kepada kita agar memelihara hak-hak wanita kerana wanita merupakan lambang keimanan dan kesejahteraan masyarakat. Adakah di sana sesiapa lagi yang sanggup mendakwa Islam mengabaikan wanita…?

Cinta dan benci kerana Allah

Seterusnya Allah menjelaskan hal keadaan kelompok mukminin dengan firmanNya:

أُولَـٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“mereka itulah Hizbullah, ingatlah sesungguhnya Hizbullah itulah yang berjaya” (ayat 22)

Ayat sebelumnya menjelaskan tentang musuh-musuh Allah, iaitu hizbusy-syaitan. FirmanNya:

أُولَـٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“mereka itulah hizbusy- syaitan dan ketahuilah bahawa parti syaitan itulah yang rugi” (ayat 19)

Kitalah yang menentukan pilihan untuk diri kita sendiri, samada ingin bersama Hizbullah atau hizbusy-syaitan. Jika kita memilih untuk bersama Hizbullah, maka kewajipan kita adalah untuk mencintai Allah, rasulNya dan orang mukmin dan membenci semua yang memusuhi Allah. Sebaliknya, jika kita memilih parti syaitan maka ketahuilah bahawa hizbusy-syaitan akan rugi dan dikalahkan!

Kemudian Allah menegaskan bahawa seorang muslim mesti mencintai apa yang dicintai oleh Allah serta membenci apa yang dibenci oleh-Nya. Firman Allah:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ
“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu adalah bapanya, anaknya, saudaranya atau keluarganya…” (ayat 22).

Tidak sepatutnya seorang muslim yang mengaku beriman dengan Allah dan Rasul mengasihi musuh Allah dan RasulNya dalam masa yang sama, sekalipun mereka itu adalah terdiri daripada kaum kerabatnya.

Intima’ yang rapuh…

Surah al Hasyr diturunkan kerana Bani an-Nadhir salah satu suku yahudi, peristiwa ini berlaku di dalam tahun yang keempat hijrah selepas peperangan Uhud dan sebelum peperangan Azhab kerana mengkhianati perjanjian damai dengan Rasulullah saw. Akhirnya bagaimana mereka diusir keluar dari Madinah. Golongan Munafiqin memberi sokongan kepada yahudi Bani an-Nadhir yang diketuai oleh Abdullah bin Ubai bin Salul telah menghantar utusan kepada mereka supaya menolak tuntutan itu dan terus melawan.Golongan Munafiqin itu telah memberi kata yang tegas kepada mereka ‘Jika kamu tetap dengan pendirian kamu dan sanggup bertahan, maka kami tidak akan menyerahkan kamu dan jika kamu diperangi, kami tetap berperang bersama kamu, dan jika kamu diusir keluar, kami tetap keluar bersama kamu’. Hal ini telah diterangkan oleh Allah dengan firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir dari golongan ahli kitab, jika kamu diusir keluar, nescaya kami akan tetap keluar bersama kamu dan kami selama-lamanya tidak akan tunduk kepada sesiapa pun yang menentang kamu. Dan jika kamu diperangi, kami tetap akan membantu kamu, dan Allah menyaksi bahawa sesungguhnya mereka adalah pendusta” (ayat 11)

لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِن قُوتِلُوا لَا يَنصُرُونَهُمْ وَلَئِن نَّصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ
“Jika mereka(Yahudi) diusir keluar, mereka tidak akan keluar bersama kamu, jika mereka (Yahudi) diperangi, mereka tidak akan membantu, jika merekamembantu, mereka akan berpaling lari ke belakang kemudian mereka(Yahudi) tidak akan dapat bantuan” (ayat12)

لَأَنتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِم مِّنَ اللَّهِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ
“Sesungguhnya kamu di dalam hati mereka lebih ditakuti mereka dari Allah, sebab mereka adalah golongan manusia yang tidak mengerti” (ayat 13)

Golongan Munafiqin tidak akan sekali-kali memberi bantuan kepada orang Yahudi Bani an Nadhir, seperti apa yang telah dijanjikan oleh ketua munafiq iaitu Abdullah bin Ubai bin Salul kerana intima’ mereka terlalu rapuh yang tidak mampu menghadapi ujian dan rintangan. Al Quran membandingkan  keadaan dan hakikat Bani an Nadhir dan kaum munafiqin, dengan syaitan yang menghasut manusia, yang mana pada akhirnya manusia yang menerima hasutan itu telah menerima nasib kesudahan yang  amat teruk. Firman Allah:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“(Pujukan kaum munafiqin itu) sama seperti pujukan syaitan yang berkata kepada manusia; kafirlah engkau, dan apabila manusia menjadi kafir ia berkata, aku tidak ada apa-apa hubungan dengan engkau, kerana aku sebenarnya takut Allah Tuhan semesta alam” (ayat 16)

Tiga contoh tauladan

Kemudian Allah membawa contoh bagaimana hubungan orang mukmin sesama mereka dan hubungan mereka dengan orang lain. Marilah kita menghayati firman Allah:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
“Harta fai’i itu juga untuk orang-orang Muahjirin yang fakir yang telah diusirkan dari kampung halaman mereka dan harta benda mereka kerana mencari limpah kurnia dan keredhaan Allah” (ayat 8 )

Mereka keluar kerana mencari keredhaan Allah, mereka itu adalah golongan Muhajirin.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ
“Juga untuk orang-orang Ansar yang menetap dalam negeri hijrah dalam keimanan sebelum kedatangan Muhajirin” (ayat 9).

Inilah intima’ dan kesatuan, mereka mengutamakan kepentingan Muhajirin dari kepentingan diri mereka sendiri walaupun diri mereka memerlukan, mereka itu adalah golongan Ansar.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Juga untuk orang-orang yang datang selepas mereka (Muhajirin dan Ansar) yang berdoa; Wahai Tuhan Kami! Ampunkan kami dan saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (ayat 10 )

Mereka berdoa kepada saudara mereka yang lebih dahulu beriman dan saudara-saudara mereka yang beriman semasa hidup bersama dengan doa:

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami perasaan dendam terhadap orang-orang yang beriman; Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengasih” (ayat 10 )

Bagi mereka cinta dan kasih sayang, mereka itu adalah tabi’in yang datang selepas generasi Muhajirin dan  Ansar  dan mereka yang beriman selepas  itu  sehinggalah hari kiamat.

Sifat kebesaran dan kesempurnaan

Surah ini diakhiri dengan tasbih kepada Allah yang memiliki segala isi langit dan bumi dengan firman-Nya:

لَوْ أَنزَلْنَا هَـٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“dan sekiranya Kami turunkan al Quran ini di atas sebuah gunung nescaya engkau melihat gunung itu tunduk patuh dan pecah terbelah kerana takut kepada Allah, itulah perumpaan yang Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (ayat 21)

Bagaimanakah orang-orang Yahudi menduga bahawa benteng perlindungan mereka teguh dan kuat sedangkan jika al Quran diturunkan ke atas gunung, ia akan hancur. Manakah yang lebih teguh dan kuat, gunung yang menjadi pasak bumi atau benteng-benteng yahudi? Fikirlah wahai orang-orang yang berakal!

Surah al Hasyr diakhiri dengan menyebut tasbih dan memuji nama Allah al husna,seolah-olah Allah berkata kepada kita, wahai muslim!kenapa kamu tidak memberi intima’ dan menyerah diri sepenuhnya kepada Allah SWT yang mempunyai kekuasaan Yang Maha Agung lagi gagah perkasa?

Intima’ atau tidak.

Seterusnya surah al Mumtahanah membicarakan tentang ujian dan cabaran wala’ terhadap masyarakat Islam. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ
“Wahai orang-orang mukmin apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka” (ayat 10 )

Bermakna hendaklah kamu kenalpasti keimanan mereka dan Allah lebih mengetahui hakikat keimanan mereka.

Surah ini juga melarang umat Islam dari memberi wala’ kepada mana-mana tamadun selain dari Islam, dan menuntut mereka agar menjadikan Islam sebagai pegangan dan ikatan yang teguh serta kukuh dalam membina dan membangun kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan kamu mengambil musuh-Ku dan musuh mu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita Muhammad), kerana rasa kasih sayang, pada hal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada mu” (ayat 1)

Justeru itu sesiapa yang mengaku beriman tetapi tidak memberi wala’ dan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman, maka imannya ada kesamaran atau dia tidak memahami isu ini.

Bergaul dengan mereka, tetapi berbeza dari mereka

Ini bukan bermakna kita memulau terus semua tamadun yang tidak ada kaitan dengan Islam atau tidak berinteraksi dengan mereka atau tidak mengambil faedah dari mereka. Kita berinteraksi dengan mereka dalam perkara yang memberi faedah kepada agama dan umat manusia keseluruhannya. Interaksi ini tidak boleh membawa kepada leburnya identiti Islam kita. Allah SWT berfirman:

عَسَى اللَّهُ أَن يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُم مِّنْهُم مَّوَدَّةً ۚ وَاللَّهُ قَدِيرٌ ۚ
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka dan Allah adalah Maha Kuasa” (ayat 7)

Allah berfirman lagi:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama dan tidak mengusir dari negeri kamu dan berlaku adil kepada mereka” (ayat 8 )

Kebaikan adalah suatu yang perkara yang dituntut, tidak kira kepada orang Islam ataupun kepada orang bukan Islam. Selagi mana orang bukan Islam itu tidak memerangi umat Islam dan tidak memberi bantuan kepada orang yang memerangi umat Islam.

Ujian-ujian…

Kisah Hatib bin Abi Balta’ah merupakan kisah ujian pertama yang dibentangkan oleh Allah SWT dalam surah ini. Hatib bin Abi Balta’ah merupakan seorang sahabat yang terlibat dalam peperangan Badar al Kubra. Beliau telah menghantar surat kepada ahli keluarganya melalui seorang wanita, menceritakan tentang tujuan Rasulullah SAW untuk menyerang kota Mekah. Ini sememangnya merupakan satu kesilapan!

Tetapi Allah Maha Mengetahui kejujuran iman Hatib bin Abi Balta’ah, bahawa dia bukanlah seorang munafiq, tetapi sekadar ingin memberi perlindungan kepada ahli keluarganya. Justeru, Allah telah memberi keampunan kepadanya, lalu Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan kamu mengambil musuh-Ku dan musuh mu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita Muhammad), kerana rasa kasih sayang, pada hal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada mu” (ayat 1)

Lantaran itu, kisah ini menjadi pedoman kepada semua umat Islam di sepanjang zaman supaya tidak berbuat demikian selepas teguran tersebut.

Seterusnya kisah kekasih Allah Nabi Ibrahim a.s yang berjaya dalam ujian, Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya ada suri teladan yang baik bagi mu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka; sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain dari Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sehinggalah kamu beriman kepada Allah” (ayat 4)

Inilah contoh mufasolah imaniah atau pemisahan yang berdasarkan keimanan yang tidak ada tolak ansur.

Ujian seterusnya supaya kita berlaku adil kepada orang bukan Islam selama mana mereka tidak memerangi umat Islam dan tidak menyokong dan memberi bantuan kepada orang-orang yang  memerangi umat Islam. Firman Allah:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama dan tidak mengusir  dari negeri kamu dan berlaku adil kepada mereka” (ayat 8 )

Seterusnya ujian terhadap intima’ wanita-wanita yang beriman dan berhijrah. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ
“Wahai orang-orang mukmin apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka” (ayat 10 )

Saff ar Rahman…

Surah ash Shaff terus mengukuh lagi isu wala’ dan intima’ kepada Islam dan umat Islam. Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh” (ayat 4)

Begitulah sebaliknya orang-orang kafir, mereka sentiasa berusaha untuk menghancurkan Islam dan umat Islam. Allah memberi peringatan dengan firmanNya:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya, meskipun orang kafir benci” (ayat 8 )

Surah ini ditutup dengan seruan kepada orang-orang beriman supaya berpegang teguh dan memberi intima’ sepenuh hati kepada agama Allah, sebagaimana Nabi Isa a.s menyeru dan menuntut al hawariyun supaya mereka membantu dan menolongnya dalam menegakkan agama Allah. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Mariam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama Allah); pengikut-pengikutnya yang setia berkata: kamilah penolong-penolong agama Allah” (ayat 14)

Lambang kesatuan umat…

Kemudian diikuti dengan surah al Jumu’ah yang menggambarkan kesatuan umat Islam melalui perhimpunan mingguan mereka untuk menunaikana solat Jumaat setiap minggu. Dalam solat Jumaat ada bacaan ayat-ayat Allah, ada tazkiyah, ada taalim kitab dan hikmah. Firman Allah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membaca ayat-ayat Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajar kepada mereka  Kitab dan Hikmah (as Sunnah” (ayat 2)

Adakah solat Jumaat yang ditunaikan pada hari ini telah mencapai objektif-objektif tersebut?
Surah ini dinamakan dengan solat Jumaat untuk menjelaskan kapada kita bahawa kesatuan umat Islam tertegak di atas asas taalim Rabbaniah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan solat pada hari Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingatkan Allah dan tinggalkan jual beli” (ayat 9 )

Umat Islam tidak diberi kelonggaran untuk melewat-lewatkan kehadiran dalam solat Jumaat atau tidak hadir tanpa sebarang keuzuran yang syar’ie kerana ia merupakan lambang kesatuan umat.

Tidak memberi intima’ kepada mereka…

Surah ini juga menceritakan tentang sikap orang-orang Yahudi yang tidak pernah memberi intima’ kepada agama Allah. Firman Allah:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ
“perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal; amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (ayat 5)

Demikian pula Allah membentangkan kisah golongan munafiqin dalam surah al Munafiqun:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Apabila orang-orang munafiq datang kepada mu, mereka berkata: kami mengakui bahawa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah; dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta” (ayat 1)

Hati orang-orang munafiq tidak pernah mencintai Allah dan orang-orang beriman, serta mereka juga tidak pernah beriman dengan Rasul yang Allah utuskan. Mereka ini sama seperti orang-orang Yahudi yang tidak pernah mengambil pengajaran dari kitab Taurat.

Virus Intima’

Surah al Munafiqun terus membentangkan sifat-sifat orang-orang munafiq dan memberi peringatan kepada orang-orang beriman tentang betapa merbahayanya virus intima’ yang dibawa kaum munafiq ini. Golongan munafiq ini berhasrat untuk memporak peranda kesatuan umat Islam dengan tindakan mereka secara terang-terangan mahupun secara senyap-senyap.

Surah ini juga menjelaskan beberapa perkara yang boleh menyebabkan kaum muslimin sibuk dari intima’ mereka seperti harta benda, anak-anak dan isteri-isteri. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kamu melalaikan kamu dari mengingati Allah” (ayat 9)

Seterusnya masalah harta, isteri dan anak yang melalaikan kaum muslimin dari tugas asasi mereka, iaitu mengabdikan diri kepada Allah SWT dan berjuang untuk mendaulatkan syariatNya di dunia ini. Ianya lebih tegas dan jelas, diberi peringatan oleh Allah melalui surah at Taghaabun, at Thalaq dan at Tahrim. Dalam surah at Taghaabun Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya isteri-isteri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh kepada kamu maka berhati-hatilah kamu dengan mereka” (ayat 14)

Kemudian selepas ayat tersebut Allah memberi peringatan:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu hanyalah cubaan atau ujian bagi kamu, di sisi Allahlah pahala yang besar” (ayat 15)

Kecuali mereka yang mendapat rahmat dari Allah..

Allah SWT menarik perhatian kaum muslimin ketika menyebut anak-anak dan isteri-isteri kamu sebagai seteru dalam surah at Taghaabun, firmanNya:

إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ
“Sesungguhnya isteri-isteri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh kepada kamu” (ayat 14)

Perkataan ‘min’ bukan bermakna semua anak-anak dan bukan semua isteri-isteri, kerana ‘min’ bermakna lit tab’iid yang bermaksud sebahagian atau bermaksud terdapat sebahagian dari anak-anak dan isteri-isteri kamu menjadi seteru kepada kamu maka hendaklah kamu berhati-hati.

Cuba kita perhatikan dalam surah at Tahrim, firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman peliharalah diri dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya ialah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak menderhakai Allah terhadap apa yang diperintah Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (ayat 6)

Dalam ayat ini jelas institusi kekeluargaan adalah paksi penting bagi keteguhan intima’ seseorang kepada Islam. Oleh itu menjaga atau memelihara institusi kekeluargaan adalah jaminan kepada lahirnya masyakat Islam yang prihatin terhadap anggota masyarakat muslim.

Allahu A’lam.



sumber dari: ustmuhammad.wordpress.com/

Istri & Anakmu Ada Yang Menjadi Musuhmu!







يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِڪُمۡ عَدُوًّ۬ا لَّڪُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡ‌ۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi 
Maha Penyayang.”  (Surah At-Taghabun: 14)


SEBAB PENURUNAN AYAT

Menurut satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir daripada ‘Ata Ibn Yasar, dia berkata: Surah At-Taghabun telah diturunkan keseluruhannya di Makkah kecuali ayat 14 dan ayat-ayat berikutnya diturunkan di Madinah. Ayat 14 dalam surah ini diturunkan berkenaan kejadian yang terjadi kepada ‘Auf Ibn Malik al-’Ashja’i. Beliau mempunyai seorang isteri dan seorang anak. Ketika ‘Auf hendak pergi berperang di jalan Allah, isteri dan anaknya menangis dan menahannya supaya tidak pergi sambil mereka berkata, “Kepada siapa kami akan kamu tinggalkan?” ‘Auf berasa simpati dengan mereka dan tidak jadi pergi. Maka turunlah ayat 14 dalam surah ini menceritakan peristiwa berkenaan.

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmizi dan Imam al-Hakim daripada Ibnu Abbas, dia berkata: Ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya antara isteri-isteri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu, oleh karena itu berhati-hatilah kamu”,  diturunkan berkenaan dengan satu kaum dari penduduk Makkah yang telah memeluk agama Islam, tetapi isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak mau berhijrah ke Madinah tempat Rasulullah SAW berada. Apabila sampai di Madinah dan melihat masyarakat yang telah faham Islam, maka timbullah keinginan untuk menghukum isteri-isteri dan anak-anak mereka tetapi Allah menurunkan ayat yang berbunyi: “dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi mereka serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Meskipun dua riwayat di atas  berlainan antara satu sama lain, ia memberikan suatu gambaran latar belakang ayat yang diturunkan. Kedua-duanya menyentuh masalah ayah atau suami yang isteri dan anaknya menghalanginya atau melambatkannya untuk keluar di jalan Allah.  Kedua-dua riwayat itu juga memperlihatkan si ayah atau suami sebagai orang yang paling bertanggungjawab dalam rumah tangga memiliki kafa’ah dan usaha yang lebih daripada isteri dan anak-anakdari sudut ilmu, amal, iltizam, jihad dan lain-lain.

MEMILIH ANTARA  KELUARGA DAN PANGGILAN ALLAH
 
Perbedaan dari segi kefahaman dan iltizam ini kadangkala menampakkan hakikatnya dalam keadaan-keadaaan yang genting, seperti pergi untuk berperang atau berhijrah di jalan Allah karana perbuatan-perbuatan ini mungkin membawa kepada perpisahan keluarga. Keadaan ini memang menimbulkan masalah bagi seorang suami atau ayah dan di sinilah letaknya ujian-ujian Allah. Dalam keadaan ini, ia berada di tengah-tengah dua pilihan, antara memilih keluarga pada satu sisi, namun kefahaman dan keiltizamannya dengan panggilan Allah membuatnya ingin pergi. Apabila bersama keluarga lebih kuat menarik hatinya, maka isteri dan anak-anaknya tentu akan menahannya dan menjadikannya ragu untuk bergerak keluar rumah bahkan mungkin membatalkan niatnya sama sekali. Tetapi apabila  kefahaman dan keiltizaman seorang ayah atau suami lebih kuat, maka ia dapat melewati halangan-halangan itu seperti masa Nabi Ibrahim ketika diperintah menyembelih anaknya Ismail, atau seorang sahabat yang baru saja berumah tangga tetapi apabila berkumandang pangilan jihad ia pun meninggalkan isterinya dan terus berjihad sehingga syahid. Begitu juga jika kita lihat keadaan Imam Hasan Al-Banna yang tidak menghiraukan rayuan isterinya untuk menemaninya menjaga anaknya yang sedang demam. Beliau tetap meninggalkan rumah untuk menghadiri program penting dalam dakwahnya .

KEFAHAMAN DAN KEILTIZAMAN PERLU SEIMBANG
 
Jika sang suami - karena kepahamannya - berniat untuk menghukum istri dan anakanya karena  mereka menjadi penyebab dirinya bergerak lambat menyahut seruan Allah. Mungkin si ayah/suami menyangka isteri dan anak-anaknya telah sampai ke tahap kefahaman dan keiltizaman seperti dirinya yang bersedia menerima hukuman di atas kelambatan beramal. Ini adalah prasangka yang salah. Dalam hal ini  Allah melarang seorang suami menghukum isteri dan anak-anaknya karena menghalanginya menyahut panggilan Allah dengan firman-Nya :

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah SWT memberikan tuntunan kepada ayah atau suami agar mengambil sikap pertengahan dan sederhana antara ‘tafrit’ dan ‘ifrat’ ketika terjadi seperti ini. Mengikuti ajakan keluarga dan mengabaikan seruan Allah adalah tafrit (tidak perduli). Karena itu Allah SWT memperingatkan kita dengan kata-kata, “berhati-hatilah kamu” atau “waspadalah kamu” dari ajakan keluarga. Tetapi ketika berniat untuk memukul atau menghukum keluarga, itupula adalah sifat ifrat (melampaui batas). Dalam hal ini Allah SWT menyuruh kita memaafkan mereka. Inilah dua sikap yang benar yang patut diambil oleh seorang ayah atau suami dalam menghadapi keluarga apabila terjadi seperti ini.

HAKIKAT MUSUH

Dalam ayat di atas Allah SWT menyatakan bahwa, “ada antara isteri-isterimu dan anak-anakmu yang menjadi musuh bagimu”. Menurut Ibnu Katsir pengertian musuh di sini adalah “sesuatu yang melalaikan daripada mengerjakan amal saleh” seperti firman Allah dalam surah al-Munafiqun ayat 9 yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta-harta dan anak-anakmu melalaikan kamu daripada memperingati Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Daripada pendapat Ibnu Katsir ini dapatlah diambil pengertian umum bahwa apa saja yang  melalaikan kita dari mengingat Allah, beramal saleh dan mentaati perintah Allah adalah musuh kita.
Dalam hal ini musuh kita yang paling utama adalah syaitan karena ia sentiasa menyuruh kita untuk mengingkari Allah SWT dan perintah-Nya. Usaha dan pergerakan syaitan dalam menjerumuskan diri  dan keimanan kita kadangkala dengan membisikkan ide dan pemikiran yang berlawanan dengan kehendak Allah. Tetapi dalam banyak hal, syaitan menggoda manusia melalui berbagai wasilah seperti isteri, anak-anak, harta, kedudukan, pangkat dan lain-lain.

Apabila kita tidak berhati-hati dan berwaspada, wasilah-wasilah ini yang seharusnya membantu ke arah mencapai keridhaan Allah SWT, telah ditunggangi dan diperalat oleh syaitan. Ingatlah firman Allah ketika Dia mengusir Iblis dari syurga dan memberikan kesempatan kepadanya (iblis) untuk menyesatkan manusia dengan segala wasilah yang ada padanya. wallahu'alam..



sumber dari: ibnumushab.blogspot.com/

Thursday, 27 February 2014

Other names of The Judgement Day




Holy Quran appoints the judgement day several different names other than just “judgement day”, most probably to draw attention to different reflections of such a day and create a deeper awareness around it.

Here is a list of these names:

1) Yawm Al-Khurooji  : Day of Coming Forth
The day when they will hear the (Awful) Cry in truth. That is the day of coming forth (from the graves). Qaf 50/42

2) Yawm Al-Baath: Day of Resurrection  Ar-Room – 30/56
But those to whom knowledge and faith are given will say: The truth is, ye have tarried, by Allah’s decree, until the Day of Resurrection. This is the Day of Resurrection, but ye used not to know. Ar-Room – 30/56

3)  Yawm Al-Jam: Day of Assembly
And thus We have inspired in thee a Lecture in Arabic, that thou mayst warn the mother-town and those around it, and mayst warn of a day of assembling whereof there is no doubt. A host will be in the Garden, and a host of them in the Flame. Ash-Shura 42/7

4)  Yawm Al Khulood: Day of Eternal Life
Enter ye therein in Peace and Security; this is a Day of Eternal Life!” Qaf – 50/34

5) Yawm Al-Azifatu: Approaching Day
The (Judgment) ever approaching draws nigh An-Najm 53/57

6) Yawm Daru Al-Qarar : Day of The Everlasting Home
O my people! This life of the present is nothing but (temporary) convenience: It is the Hereafter that is the Home that will last. Al-Ghafir 40/39

7) Yawm Al-Fasli: Day of Sorting Out
For the Day of Sorting out,
And what will explain to thee what is the Day of Sorting out? Al-Mursalat 77/13-14
Verily the Day of sorting out is the time appointed for all of them Ad- Dukhan 44/40

8) Yawm Al-Hasrat: Day of Distress
But warn them of the Day of Distress, when the matter will be determined: for (behold,) they are negligent and they do not believe! Maryam 19/39

9) Yawm Al-Mawood: The Promised Day
By the promised Day Al Burooj 85/2

10) Yawm Al-Taghabun: The Day of Mutual Disillusion
The day when He shall gather you unto the Day of Assembling, that will be a day of mutual disillusion. And whoso believeth in Allah and doeth right, He will remit from him his evil deeds and will bring him unto Gardens underneath which rivers flow, therein to abide for ever. That is the supreme triumph. – At-Taghabun 64/9

11) As-Saatu: The hour,
The Hour (of Judgment) is nigh, and the moon is cleft asunder. Al-Qamar 54/1

12) Al-Hâaqqa: The reality Al Haaqqa 69/1-3
The Sure Reality!
What is the Sure Reality?
And what will make thee realise what the Sure Reality is? Al Haaqqa 69/1-3

13) Al-Qaria:The Day of Noise and Clamour
The (Day) of Noise and Clamour
What is the (Day) of Noise and Clamour?
And what will explain to thee what the (Day) of Noise and Clamour is? Al Qaria 101-1-3






sumber dari: islamoformation.com

Saturday, 7 December 2013

The Characteristics Of The Hypocrites




Darultawhid


Zayd Ibn Arqam (radiyallahu anh) reported: “We set out on a journey along with Rasulullah (sallallaahu alayhi wa sallam) in which we faced many hardships. Abdullah Ibn Ubayy said to his friends: Do not give what you have in your possession to those who are with Rasulullah (sallallaahu alayhi wa sallam) until they desert him. Zubayr said: That is the reciting of that person who recited as min haulahu (from around him) and the other reciting is man haulahia (who are around him). And in this case when we would return to Madinah the honorable would drive out the meaner there from. (at-Taghabun 64/8) 

I came to Rasulullah (sallallaahu alayhi wa sallam) and informed him about that and he sent someone to Abdullah Ibn Ubayy and he asked him whether he had said that or not. He took an oath to the fact that he had not done that and told that it was Zayd who had stated a lie to Rasulullah (sallallaahu alayhi wa sallam). Zayd said: I was much perturbed because of this until this verse was revealed attesting my truth: "When the hypocrites come." (al-Munafiqun 63/1) 

Rasulullah (sallallaahu alayhi wa sallam) then called them in order to seek forgiveness for them, but they turned away their heads as if they were hooks of wood fixed in the wall (al-Munafiqun 63/4), and they were in fact apparently good-looking persons.”



sumber dari: darultavhid.com

Wednesday, 17 July 2013

Participation of the Inner Self




Reading the Qur'an, the tilawah, must involve your whole 'person'. 



Only thus will you be able to elevate your encounter with the Qur'an to the level where you can be called a 'true' believer in the Qur'an (al-Baqarah 2: 121).

What is the Heart?

The more important part of your 'person' is your inner self. This inner self the Qur'an calls the qalb or the 'heart'. The heart of the Prophet, blessings and peace be on him, was the first recipient of the Qur'anic message:

Truly it has been sent down by the Lord of all the worlds, the Trustworthy Spirit has alighted with it upon your heart [O Prophet], that you may be one of the warners ... (al-Shu'ara' 26: 1924).

You will therefore reap the full joys and blessings of reading the Qur'an when you are able to involve your heart fully in your task.

The 'heart', in Qur'anic vocabulary, is not the piece of flesh in your body, but the centre of all your feelings, emotions, motives, drives, aspirations, remembrance and attention. It is the hearts which soften (al-Zumar 39: 23), or harden and become stony (al-Baqarah 2: 74). It is they which go blind and refuse to recognize the truth (al-Hajj 22: 46) for it is their function to reason and understand (al-A'raf 7: 179;al-Hajj 22: 46; Qaf 50: 37). In hearts, lie the roots of all outward diseases (al-Ma'idah 5: 52); they are the seat of all inner ills (al-Baqarah 2: 10); hearts are the abode of Iman (al-Ma'idah 5: 41) and hypocrisy (al-Tawbah 9: 77). It is the hearts, again, which are the centre of every good and bad thing, whether it be contentment and peace (al-Ra'd 13: 28), the strength to face afflictions (al-Taghabun 64: 11), mercy (al-Hadid 57: 27), brotherly love (al-Anfal 8: 63), taqwd (al-Hujurat 49: 3; al-Hajj 22: 32); or, doubt and hesitation (al-Tawbah 9: 45), regrets (Al 'Imran 3: 156), and anger (al-Tawbah 9: 15). 


Finally it is, in reality, the ways of the heart for which we shall be accountable, and only the one who brings before his God a sound and whole heart will deserve to be saved.

God will not take you to task for a slip, but He will take you to task for what your hearts have earned (al-Baqarah 2: 225).

The Day when neither wealth nor children shall profit, [and when] only he [will be saved] who comes before God with a sound heart [free of evil] (al-Shu'ara' 26: 88-9).

You must therefore ensure that so long as you are with the Qur'an, your heart remains with you. The heart not being that piece of flesh but what the Qur'an calls qalb.

This should not prove difficult if you remain conscious of a few things and observe certain actions of heart and body The seven prerequisites described earlier lay the foundation for the fuller participation of your inner self in reading the Qur'an. In addition to these, the taking of a few more steps will greatly increase the intensity and quality of this involvement of the heart.




sumber dari: afifichestclinic.ning.com

Sunday, 14 July 2013

Abandoning Worldly Appetites




In the Qur'an Allah states that the world has been adorned in such a way to separate true believers from insincere people:

"We made everything on Earth adornment for it so that We could test them to see whose actions are the best" (Surat Al-Kahf: 7).

Some of these adornments are described in the Qur’an:

The love of worldly appetites appears fair in people's eyes, painted in glowing colors: women and children, heaped-up mounds of gold and silver, horses with fine markings, livestock, and fertile farmland. All of that is merely the enjoyment of the life of this world. The best homecoming is in Allah's Presence.  (Surah Al 'Imran, 14)

Each thing listed here was created as a blessing for humanity. However, it is up to individual human beings to realize that these blessings are from Allah and that they are obliged to thank Him and use them in ways to win His favor. Each blessing should draw people closer to Allah and lead them to give Him greater thanks and better appreciate His greatness, intelligence, artistry, infinite mercy, and generosity. Individuals should always be aware that He can remove all of these things whenever He wills and that, apart from Him, there is no power that can help them.

Those believers who are aware of this understand that, apart from Allah, they have no other friends, or helpers, and that only Allah protects and cares for them, gives them their blessings and daily bread, makes their work easier, and bolsters their heart with a sense of contentment and security. They are attached to Allah with such a deep love and unshakable trust that their greatest fear is that of failing to win His approval, pleasure, love, and friendship. Therefore, they avoid any action that might cause this by doing their best to please Him and conform to the Qur'an's moral teachings.

In accord with this sincerity, they use every blessing they have to win Allah's favor, friendship, and infinite mercy. Of course, all of the things listed above are blessings for believers; however, they are never more important than winning His approval. Believers are never greedy for such profits, for they would give up any one of them immediately in order to win His approval.

Some people measure self-sacrifice in terms of looking after their own needs, desires, and comfort before considering the well-being of others. But this view has nothing to do with the moral understanding of self-sacrifice described in the Qur'an. When these people say that they have been self-sacrificial in some things, they mean only with regard to things they do not need, things whose absence does not really trouble them. They may think they are being self-sacrificial, but the Qur'anic morality is being able to renounce all gain and give up without a second thought that which he/she loves the most:

You will not attain true goodness until you give of what you love. 
Whatever you give away, Allah knows it. (Surah Al 'Imran, 92)

Another measure is not expecting any benefits in return other than Allah's good pleasure in performing self-sacrificial acts and not making the recipient feel obligated. Some people do a favor for someone else and then take every opportunity to mention it so that the recipient will feel obligated and so that they can claim a favor in the future, if necessary. Some seek to collect appreciation from those around them, hoping that they will say how generous and kind-hearted they are. However, the purpose of sincere self-sacrifice is not to gain any material or emotional return, but to win Allah's approval:

"The metaphor of those who spend their wealth, desiring the pleasure of Allah and firmness for themselves, is that of a garden on a hillside. When heavy rain falls on it, it doubles its produce; and if heavy rain does not fall, there is dew. Allah sees what you do" (Surat al-Baqara: 265).

In addition:

"Those who give their wealth to purify themselves – not to repay someone else for a favor done – desiring only the Face of their Lord Most High. They will certainly be satisfied" (Surat al-Layl: 18-21).

Allah tells us not to belittle others and make them feel obligated, and mentions a reward for those who follow these words:

Those who spend their wealth in the way of Allah and then do not follow what they have spent by demands for gratitude or insulting words will have their reward with their Lord. They will feel no fear and will know no sorrow. (Surat al-Baqara: 262)

Allah also tells us that believers, because of their moral superiority, often keep quiet about what they have given:
[People of intelligence] are steadfast in seeking the Face of their Lord; perform prayer and give from the provision We have given them, secretly and openly; and stave off evil with good. They will have the Ultimate Abode. (Surat Ar-Ra'd: 22) 

Another measure of sincere self-sacrifice can be seen among those who are poor or who have limited means. Such people could claim material and emotional difficulties in an attempt to assuage their conscience. However, they must not forget that Allah cares for them, as well as supports and helps them, and that He will show them an easy way out of their difficulties if they show a good moral character. Allah says that better things await those who seek only His approval:

Those who respond to their Lord will receive the best. But as for those who do not respond to Him, even if they owned everything on Earth and the same again with it, they would offer it as a ransom. They will receive an evil reckoning, and their shelter will be Hell. What an evil resting-place! (Surat ar-Ra'd: 18) 

Those who refuse to be self-sacrificial and do favors for others, worrying that such actions might harm their interests, might wish to give everything that they have as a ransom to save themselves from the pains of Hell. However, they will learn on the Day of Judgment that nothing they offer will be accepted.
The superior morality of believers is praised in this regard:

[The people who guard against evil] give in times of both ease and hardship, those who control their rage and pardon other people – Allah loves the good-doers. (Surah Al 'Imran: 134)

Your wealth and children are a trial. But with Allah there is an immense reward. (Surat at-Taghabun: 15)

Allah reveals in the above verse that the allures of this worldly life are only a trial and a source of temptation. In another verse, He warns those who are overcome by desire and forget about winning His favor:

You who believe. Do not let your wealth or children divert you from the remembrance of Allah. Whoever does that is lost. (Surat al-Munafiqun: 9) 

There may be times when people have to sacrifice not only their material possessions, but also their life. It should not be thought that this is restricted to certain situations. People enjoy many different blessings in this earthly life. Believers know that all of these blessings come from Allah's mercy in the form of a test, and so always think about how they can best use the means at their disposal to win Allah's favor. Sometimes they may have to risk their life to save another believer or give up their respect, rank, and position to help another person. Likewise, they may have to use their own money to solve another person's problems, sacrifice their orderly life for a person's well-being, put their own needs second to somebody else's health, or become physically exhausted and have to expend more effort than usual.

Fully aware believers try every day to use their mind and talents, knowledge and experience, physical strength and time in the best way. When required, they give up their own comfort and free time. For example, they may deprive themselves of sleep and food, ignore their personal affairs, and do good works with the intention of benefiting others. It would be quite reasonable for them to set apart large blocks of time for themselves and use the rest to help others. Although such people may be considered to act according to their conscience and freely donate their spare time, each action can still be done better. The spirit of self-sacrifice that comes from sincere belief leads people to do more than they were going to and to make the best use of every second at their disposal.

Allah offers human beings many such possibilities. However, some people get caught up in a great desire for the things of this world. Instead of thanking Allah for the blessings they have, they become less generous, and even greedy to acquire more:

Leave the person I created on his own to Me alone, the one to whom I have given great wealth and children who stay with him and whose way I have smoothed. Then this person wants Me to add yet more! (Surat al-Muddaththir: 11-15) 

Greedy for the allures of this life, such people avoid self-sacrifice and, instead of trying to win Allah's favor, pursue their own gain:

Know that the life of this world is merely a game and a diversion, ostentation and a cause of boasting among yourselves, and trying to outdo one another in wealth and children - like the plant-growth after the rain, which delights the cultivators. But then it withers and you see it turning yellow, and then it becomes broken stubble. In the Hereafter, there is terrible punishment but also forgiveness from Allah and His good pleasure. The life of this world is nothing but the enjoyment of delusion. (Surat al-Hadid: 20) 

As stated in this verse, whatever people possess and may avoid sacrificing is like plant-growth in the field, for one day everything will pass away. Only good deeds done to earn Allah's favor will receive the finest reward in His Presence and turn into blessings in this life and the Hereafter. Allah reveals this truth:

Wealth and children are the embellishment of the life of this world. But in your Lord's Sight, right actions that are lasting bring a better reward and are a better basis for hope. (Surat al-Kahf: 46) 



 

sumber dari: harunyahya.com

Thursday, 20 June 2013

Bertasbihlah laksana Semut




Tasbihlah wahai makhluk pelupa, sungguh kamu sangat pelupa, aku pelupa, kamu pelupa, mereka yang bergelar insan sering terlupa. Dan bertasbihlah pada waktu pagi dan petang. Engkau sang pelupa, ingat pelupa! Walhal mereka binatang tetap bertasbih dikala salji keputihan itu mencair-cair laksana sungai Nil kebasahan. Sang semut hitam tetap hidup dan mereka tidak ke mana. Mereka bertasbih, Mereka bertasbih. Bertasbih. Dan lagi bertasbih tanpa seutas tali tasbih.

Segala yang ada di langit dan di bumi tetap mengucap tasbih kepada Allah dan Dialah Yang MAha Kuasa lagi Maha Bijaksana. 
Al-Hadid:1

Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi sentiasa mengucap tasbih kepada Allah; bagiNya kuasa pemerintahan dan bagiNyalah segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
At-Taghabun: 1

Wahai Sang Pelupa!

Maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepadaNyam sesungguhnya Dia amat menerima taubat. 
An-Nasr: 3

Oleh yang demikian (wahai orang yang lalai) bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmua Yang Maha Besar (sebagai bersyukur akan nikmat-nikmatNya itu). 
Al-Waqiah: 74




Maka tersenyumlah Nabi Sulaiman mendengar kata-kata semut itu dan berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, ilhamkalah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMua yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai dan masukkanlah daku dengan limpah rahmatMua dalam kumpulan hamba-hambaMu yang soleh. 
An-Naml: 19


sumber dari: aminrukaini.com

Saturday, 8 June 2013

Merayu Tuhan




Wht iF SAYYED DIE tonite


Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. 
Apabila ia ditimpa kesulitan, ia akan berkeluh kesah, 
dan apabila kebaikan datang kepadanya, ia amat kikir 
-Al Maarij 19-21-

Kebiasaan yang paling sering terlihat di tembok ratapan facebook adalah ungkapan kekecewaan atau kegembiraan dari seitiap pemilik akun, seseorang akan merasakan sebuah penjara kebingungan yang teramat dalam hanya karena hasrat dan sesuatu yang lazim di jalaninya tidak terpenuhi, hingga bermunculan status-status yang aneh dan mengharap apa yang terlewat bisa terpenuhi secepat mungkin, apapun bentuknya asalkan fatamorgana itu bisa terecovery.

Melihat dari kenyataan yang ada, ayat di atas merupakan sebuah fenomena dari keunikan manusia semenjak Nabi Adam sampai hari akhir kelak ketika matahari terbit dari arah barat. karena keluh kesah dan kikir adalah bawaan manusia sejak lahir dan setiap orang tidak bisa menghindarinya maka kita tidak usah ikut-ikut sibuk mengganggu orang-orang yang terlihat frustasism, biarkan mereka menikmati Kgilaan dan ekstasenya. hanya saja keluh kesah setiap orang memiliki arti yang berbeda-beda tergantung hajat apa yang mereka butuhkan untuk bisa di kabulkan oleh sang pemilik jagat raya ini.

Dalam keadaan terhempit tersebut biasanya mereka menyebut-nyebut nama tuhannya, serta mengagungkan dan menngganggap kecil semua selainnya, mereka tidak seperti biasanya akan terlihat rajin hingga terus-terusan merayu Tuhan dengan perbutan-perbuatan baik baik: sunnah maupun wajib agar solusi dari masalah itu bisa di temukan. dan sayangnya semua itu akan dilupakan ketika apa yang dia harapkan terkabul dan menjadi kenyataan. Kembali pada gemerlap hedonism yang pantnag memeikirkan masa depan dirinya, keluarga saudara bahkan Tuhan.

so apa dan gimana cara menyadarkannya kembali?

Diantara solusi terbaik yang menjadikan kita kembali mengenal sang empunya kita ( Tuhan) adalah selau mendengarkan bisikan Nurani: seperti yang di jelaskan salah satu Ulama Ekspert  Syiriya :

semua kembali kepada hati nurani, Hati nurani adalah berkah dan karunia bagi kemanusiaan, jika pikiran terlena dan menolak hal itu, hati nurani tidak akan pernah melupakan Penciptanya, Bahkan, jika ia menafikan kesadarannya, hati nurani melihat-Nya, memikirkan-Nya, dan berjalan menuju Dia. Hati nurani tidak pernah berada dalam ketidaksadaran, bahkan sewaktu orang tersebut tidak sadar. Hati nurani seseorang selalu tulus dan jujur, dan tidak pernah menuruti setan, bahkan bila orang tersebut mengikuti setan sekalipun. Singkatnya, seseorang secara disengaja ataupun tidak dapat melakukan kesalahan, tetapi hati nuraninya tidak pernah tersesat dari jalan yang lurus dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Bagaimanapun juga, kemampuan seseorang untuk mendengarkan hati nuraninya bisa saja berkurang. Jika seseorang tidak memperhatikan suara hati nurani yang mengajaknya kepada jalan yang lurus dan ia terbiasa menekan suara itu, ia akan melemahkan pengaruh kata hatinya dan akan menyebabkan kemampuannya untuk mendengarkan kata hati itu menjadi tumpul..

semoga kita selalu di jauhkan dari segala bentuk aib dan segala hal yang merugikan dan kembali menjadi insan sejati..Amenn ya Rab

“… Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, 
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” 
(ath-Thaghaabun [64]: 16)…


sumber dari: bikailarobbi.wordpress.com

Monday, 20 May 2013

Ketaqwaan





Ketaqwaan



Allah Ta'ala berfirman:
"Hai sekalian orang yang beriman, bertaqwalah engkau semua kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketaqwaan." (ali-lmran: 102)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Maka   bertaqwalah   engkau  semua   kepada   Allah  sekuat-kuatmu." (at-Taghabun: 16)
Ayat ini menjelaskan apa yang dimaksudkan dari ayat yang pertama.

Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Hai sekalian orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang betul - sesuai dengan apa yang sesungguhnya." (al-Ahzab: 70)

Ayat-ayat yang berhubungan dengan perintah bertaqwa itu banyak sekali dan dapat dimaklumi.
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membuat untuknya jalan keluar - dari segala macam kesulitan - dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak dikira-kirakan." (at-Thalaq: 2-3)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Jikalau engkau semua bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan untukmu semua pembedaan - antara kebenaran dan kesalahan, juga menutupi kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni dosamu dan Allah itu memiliki keutamaan yang agung." (al-Anfal: 29)

Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi. Adapun Hadis-hadisnya ialah:
 
Pertama: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. ditanya: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang semulia-mulianya?"
Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu orang yang bertaqwa di antara engkau semua.
Orang-orang berkata: "Bukan ini yang kita tanyakan." Beliau s.a.w, menjawab: "Kalau begitu ialah Nabi Yusuf, ia adalah Nabiullah, putera Nabiullah dan inipun putera Nabiullah pula dan ini adalah putera khalilullah - kekasih Allah yakni bahwa Nabi Yusuf itu adalah putera Nabi Ya'qub putera Nabi Ishaq putera Nabi Ibrahim yaitu Khalilullah."
Orang-orang berkata lagi: "Bukan ini yang kita tanyakan." Beliau s.a.w. menjawab pula: "Jadi tentang orang-orang yang merupakan pelikan-pelikan - pembesar-pembesar - dari bangsa Arab yang engkau semua tanyakan padaku? Orang-orang yang merupakan pilihan di antara bangsa Arab itu di zaman Jahiliyah, itu pulalah yang merupakan orang-orang pilihan di zaman Islam, jikalau mereka mengerti hukum-hukum agama." (Muttafaq 'alaih)
Lafaz Faquhuu jika dibaca dengan didhammahkan qafnya adalah masyhur, tetapi ada yang mengatakan dengan mengkasrahkan qaf, lalu dibaca Faqihuu, artinya ialah "mengerti akan hukum-hukum syara'."
 
Kedua: Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau - yakni lazat dan nyaman - dan sesungguhnya Allah itu menjadikan engkau semua sebagai pengganti di bumi itu, maka itu Dia akan melihat apa-apa yang engkau lakukan. Oleh karenanya, maka takutilah harta dunia dan takutilah pula tipudaya kaum wanita. Sebab sesungguhnya pertama-tama fitnah yang bercokol di kalangan kaum Bani Israil adalah dalam persoalan kaum wanita." (Riwayat Muslim)
 
Ketiga: Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Ya Allah, sesungguhnya saya memohonkan padaMu akan petunjuk, ketaqwaan, menahan diri dari apa-apa yang tidak diperkenankan serta kekayaan hati." (Riwayat Muslim)
 
Keempat: Dari Abu Tharif, yaitu 'Adi bin Hatim Aththa'i r.a., katanya; "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang bersumpah atas sesuatu persumpahan, kemudian ia mengetahui hal yang keadaannya lebih menjurus kepada ketaqwaan terhadap Allah daripada persumpahan yang dilakukannya tadi, maka hendaklah mendatangi - memilih -ketaqwaan itu saja." (Riwayat Muslim)

Kelima: Dari Abu Umamah yaitu Shuday bin 'Ajlan al-Bahili r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. berkhutbah dalam haji wada' - haji terakhir bagi beliau s.a.w. sebagai mohon diri, kemudian beliau s.a.w. bersabda:
"Bertaqwalah kepada Allah, kerjakanlah shalat lima waktumu, lakukanlah Puasa dalam bulanmu - Ramadhan, tunaikanlah zakat harta-hartamu dan taatilah pemegang-pemegang pemerintahanmu, maka engkau semua akan dapat memasuki syurga Tuhanmu."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dalam akhir kitab bab shalat dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.



sumber dari: 10108602.blog.unikom.ac.id

Ada Apa Di Balik Musibah?







Musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” 
(QS. at-Taghabun: 11).

Abu Dhabyan berkata: Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Beliau menjawab, “Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.”. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan menafsirkan, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391])

~Hikmah Di Balik Derita…~

Tidaklah kita ragu barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” 
(QS. al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah akan menunda hukuman atas dosanya itu sampai pada hari kiamat nanti hukuman itu baru akan ditunaikan.” 
(HR. Tirmidzi, disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ [308]).

Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkan dia meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam keharaman. Di sisi lain, semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal ‘iyadzu billah.

Hadits ini juga menunjukkan wajibnya berprasangka baik kepada Allah atas segala musibah yang menimpa. Perlu diingat pula bahwa pemberian Allah kepada seseorang tidak selalu menjadi bukti bahwa Allah meridhainya. Contohnya, orang yang setiap kali hendak minum khamr (minuman keras, narkotika dsb) kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya. Hal itu bukanlah bukti bahwa Allah meridhai hal itu untuknya (disarikan dari al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275 dengan sedikit perubahan dan penambahan)

Meskipun demikian, seseorang tidak boleh berdoa kepada Allah agar hukumannya disegerakan di dunia.

Dikisahkan bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi seorang yang sakit di antara para sahabatnya yang kondisinya sangat lemah. Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau meminta atau berdoa sesuatu kepada Allah sebelum ini?”. Maka lelaki itu menjawab, “Ya, dahulu saya pernah berdoa; Ya Allah, hukuman yang akan Kamu berikan kepadaku di akhirat maka segerakanlah bagiku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Subhanallah! Kamu pasti tidak akan sanggup menanggungnya, tidakkah sebaiknya kamu berdoa; Allahumma aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar (Ya Allah, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari neraka).” Maka lelaki itu pun berdoa dengannya dan disembuhkan oleh Allah 
(HR. Muslim).

~Jangan Salah Sangka!~

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…” 
(QS. al-Fajr : 15-17).

Maknanya adalah: Tidaklah setiap orang yang Allah berikan kemuliaan dan kenikmatan dunia kepadanya maka itu berarti Allah mengaruniakan nikmat yang hakiki kepadanya. Karena sesungguhnya hal itu merupakan cobaan dan ujian dari Allah baginya.

Dan tidaklah setiap orang yang Allah batasi rezkinya -sehingga Allah jadikan rezkinya sebatas apa yang diperlukannya saja tanpa ada kelebihan- maka itu artinya Allah sedang menghinakan dirinya. Namun, sesungguhnya Allah sedang menguji hamba-Nya dengan nikmat-nikmat sebagaimana halnya Allah ingin mengujinya dengan musibah (lihat Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, hal. 8. Islamspirit.com).

Adakah di antara kita yang mau mengambil pelajaran…?



sumber dari: hanafauziyah.wordpress.com