Gempa bumi yang berlaku adalah yang terburuk pernah dialami Jepun dalam tempoh 140 tahun. Gempa bumi sekuat 8.9 pada skala Ritcher itu telah mengakibatkan tsunami besar sehingga 10 meter di bahagian timur Jepun. 4.4 juta rumah telah terputus bekalan eletrik. Sebuah kapal dengan 100 penumpang telah dihanyutkan. seramai 10 000 rakyat Jepun terkorban.
Kerajaan Jepun telah mengisytiharkan darurat disekitar loji nuklear Fukushima. Dalam pada itu, 100 rakyat Malaysia dikawasan ini diberitakan selamat. Kejadian ini mirip kepada gempa dan tsunami yang telah melanda Acheh pada 2004.
Adakah kita tidak merasakan sesuatu ? atau
kita sedang mencari apa sebenarnya punca semua ini ?
atau
kita tak sedar pun hakikatnya inilah penanda AKHIR ZAMAN
ketahuilah bahawasanya masa berlakunya sesuatu itu telah pun Allah tetapkan. ianya tidak akan berganjak sedetik ke hadapan ataupun berundur sedetik ke belakang.
" Dan kami tidak membinasakan sesuatu negeri melainkan sudah ada ketentuan yang ditetapkan olehNYA" ( surah al-hijr, ayat 4 )
"Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam keruntuhan rumah mereka" ( Surah Al-A'raf, ayat 78 dan 91 )
" Dan apabila lautan dijadikan meluap" ( Surah Al-Infitar, ayat 3)
" Dan apabila lautan dipanaskan " ( Surah At-Takwir, ayat 6)
Makna kedua Surah tersebut, adalah menegaskan, dimana laut akan meluap kerana kerana adanya proses pemanasan didasar bumi.
Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi adalah kehidupan yang dirasakan oleh hati seorang hamba, yaitu hati yang senantiasa memenuhi seruan Rabbul ‘Alaamin dan hati yang tunduk dan taat kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi, yang akan memberikan manfaat kepada manusia hanyalah kehidupan yang meng-‘ijabah’-i panggilan Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang hatinya tidak memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kehidupan baginya, meskipun dia hidup namun dengan kehidupan yang serupa dengan hidupnya binatang ” (Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 140)
Oleh karenanya Allah ta’alatatkala mensifati orang-orang kafir, Allah misalkan mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak. Allah ta’ala berfirman :
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Mereka (orang-orang kafir) adalah bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat (dari binatang)” (Al A’raaf : 179)
Allah ta’ala telahberfirman,
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “Yaitu hari yang harta dan anak-anak tidak akan memberi manfaat, kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat”(Asy Syu’ara : 88-89)
Hari kiamat adalah hari yang tidak ada akan bermanfaat harta benda dan anak-anak. Harta manusia tidak akan bisa melindungi pemiliknya dari jilatan adzab Allah, meskipun dia mendatangkan harta berupa emas sepenuh bumi, meskipun dia berlindung kepada seluruh penduduk bumi.
Pada hari tersebut tidaklah bermanfaat seluruh materi dan perbendaharaan dunia. Sesuatu yang dapat memberikan manfaat hanyalah hati yang beriman kepada Allah, hati yang memurnikan agama kepada-Nya, dan hati yang terbebas dari kesyirikan.
Ibnu ‘Abbas rahimahullahu mengatakan, “Hati yang selamat adalah hati yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah ta’ala semata” (Lihat Tafir Ibnu Katsir untuk surat Asy Syu’ara : 88-89)
Muhammad bin Sirrin rahimahullahu mengatakan, “Hati yang selamat adalah hati yang mengetahui bahwa Allah adalah haq (benar), mengetahui bahwa kiamat kelak akan datang, tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya dan hati yang meyakini bahwa Allah akan membangkitkan manusia setelah kematian” (Lihat Tafir Ibnu Katsir untuk surat Asy Syu’ara : 88-89)
Abu Utsman An Naisabury rahimahullahu mengatakan, “Hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari kebid’ahan dan hati yang tentram di atas sunnah.”(Lihat Tafir Ibnu Katsir untuk surat Asy Syu’ara : 88-89)
Lapan surah ini diamalkan dan dibaca untuk memusnahkan sel-sel barah kanser. Jika pesakit dapat membacanya lagi baik. Jika tak terdaya atau kurang baik bacaannya maka boleh minta suami, ayah, ibu atau orang lain membaca untuknya. Selok-eloknya sebelum memulakan bacaan surah dibawah :
1. Istighfar 10x. 2. Salawat Nabi 10x. 3. Al-Fatihah 1x.
Sediakan sebotol secukupnya air yang bersih lagi suci dan setiap kali habis surah dibaca, ditiupkan kepada air. Pesakit dinasihat minum air bacaan tiap-tiap hari dan sapu/mandi pada anggota yang kena barah kanser. InsyaAllah kerana sakit dan sembuh semua kekuasaanNya.
1. Surah Al Maidah (Ayat 82-91). 2. Surah Al Araf (Ayat 70-81). 3. Surah Ar Ra’d (Ayat 16-28). 4. Surah Al Anbiyaa’ (Ayat 38-50). 5. Surah Asy Syu’ara (Ayat 185-227). 6. Surah Az Zummar (Ayat 42-52). 7. Surah Ghafir (Ayat 67-77). 8. Surah Az Zukhruf (Ayat 52-70).
Kepada pembaca tolong sebarkan kepada ahli keluarga dan saudara yang sedang mengidap penyakit kanser. Semoga dengan menolong mereka yang sakit, akan juga mendapat pahala dari bacaannya serta pahala kerana menolong sesama hamba yang benar-benar memerlukan pertolongan dan penyembuhan dari-Nya.
Yang pasti, beriman kepada taqdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidup dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada taqdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Beriman kepada taqdir justru semakin membuat seseorang berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya su’ul khatimah.
Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin.
Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:
”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat 103-104)
Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid:
Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.
Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:
”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177)
Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.
Ya Allah, kami memohon kepadaMu husnul khatimah dan berlindung kepadaMu dari su’ul khatimah. Amin ya Rabb,-
KERAGUAN adalah suatu fenomena lazim yang dihadapi manusia. Ia datang dan hilang tanpa diduga, namun dalam sesetengah kes, perasaan itu sukar dilenyapkan dan berpanjangan sehingga kerap mempengaruhi diri.
Bahayanya apabila ia bukan setakat menyukarkan seseorang menilai dan membuat keputusan terhadap sesuatu perkara, malah pada satu tahap mengakibatkan hati tidak tenteram.
Seringkali mereka yang dikuasai perasaan ini mengalami masalah dalam menentukan keseimbangan hidup seharian dan bagi umat Islam ia mengganggu tumpuan dalam aspek keimanan dan amal ibadat.
Perasaan ragu-ragu boleh disamakan dengan sangsi, waswas, syak hati dan bingung seperti diterangkan dalam Kamus Dewan.
Ditinjau lebih jauh ia juga disifatkan sebagai bisikan dan suara halus syaitan.
Syaitan berusaha sedaya upaya mengganggu manusia dengan menitipkan perkara bukan-bukan supaya timbul kecelaruan di dalam hati, malah kadangkala mempengaruhi keputusan akal.
Al-Quran ada menjelaskan perkara ini, antaranya ayat dari surah an-Nas, antara lain bermaksud: “Dari kejahatan pembisik, penghasut yang timbul tenggelam. Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia. (Iaitu pembisik dan penghasut) dari kalangan jin dan manusia.”
Sahabat Nabi Muhammad s.a.w juga dilaporkan tidak terlepas daripada perasaan ragu-ragu dan syubhat.
Malah, sesetengah mereka datang kepada baginda mengadukan perkara terbabit.
Abu Hurairah menceritakan, beberapa orang sahabat Rasulullah ]datang dan bertanya: “Sesungguhnya kami mendapati di dalam diri kami suatu yang kami tidak mampu untuk mengucapkannya.”
Rasulullah bertanya: “Apakah engkau mendapatinya?”
Sahabat menjawab: “Ya.”
Rasulullah bersabda: “Itulah kejelasan iman.” (Hadis riwayat Muslim)
Kejelasan iman itu dimaksudkan penolakan gangguan syaitan dan kebencian mereka terhadapnya.
Umat Islam diajar memohon perlindungan dari Allah apabila didatangi bahaya batin iaitu perasaan ragu-ragu dan ingatan buruk angkara makhluk yang tidak kelihatan, seperti syaitan dan jin serta dari tipu daya manusia.
Surah an-Nas adalah antara pelindung daripada bahaya terbabit.
Rasulullah ada menjelaskan ayat yang terkandung dalam surah an-Nas dan al-Falaq tidak ada tolak bandingnya bagi memohon pertolongan Allah daripada segala jenis bahaya.
Imam Muslim meriwayatkan hadis bermaksud: “Bacalah surah-surah (al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas) tiga kali apabila engkau berada pada waktu pagi dan tiga kali apabila engkau berada pada waktu petang supaya engkau terpelihara dan terselamat dari segala bahaya dan bencana.”
Seorang alim bernama Syaqiq menerangkan mengenai bisikan syaitan di dalam diri manusia, katanya: “Tiada satu pagi pun melainkan duduk padaku syaitan dari empat penjuru, dari depanku, belakang, kanan dan sebelah kiriku.”
Seterusnya dia berkata: “Janganlah engkau berasa takut, sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kemudian dia membaca ayat 82 dari surah Taha, ayat 6 dari surah Hud, ayat 128 dari surag al-A’raaf dan ayat 54 dari surah Saba pada setiap penjuru.
Ibrahim bin Hakim menceritakan; dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata: “Ada seorang lelaki yang berpergian jauh (musafir), ternampak seorang lelaki sedang tidur dan dekatnya ada dua syaitan.
“Musafir terbabit mendengar satu antara syaitan itu berkata kepada temannya: ‘Sila pergi dan rosakkan hati orang yang sedang tidur itu.’
“Apabila syaitan itu menghampirinya dia berpatah balik kepada temannya dan berkata: ‘Dia tidur dengan satu ayat yang membuatkan kita tidak menemui jalan kepadanya.’
“Satu lagi syaitan datang kepadanya. Apabila menghampirinya, ia berpatah balik kepada temannya dan berkata: ‘Engkau betul.’
“Kemudian syaitan terbabit beredar dari tempat itu.
Musafir terbabit mengejutkan lelaki yang sedang tidur itu dan menceritakannya hal syaitan yang dilihatnya itu. Dia bertanya: ‘Apa yang engkau baca ketika hendak tidur?’
“Lelaki itu menjawab: ‘Aku membaca ayat ini (maksudnya: Dan berapa banyak negeri yang Kami binasakan, iaitu datang azab seksa Kami menimpa penduduknya pada malam hari atau ketika mereka berehat pada tengah hari-ayat 4 surah al-A’raaf).’”
Mereka yang menghiaskan diri dengan takwa dan iman, malah selalu mengingati Allah sukar diganggu bisikan syaitan. Hati mereka tenang dan tidak mudah dipengaruhi, walaupun berdepan dengan cabaran dan godaan.
Ibnu Qayyim berkata, sangat perlu bagi seseorang agar tidak menghentikan lidahnya daripada berzikir kepada Allah. Dengan zikir seseorang dapat melindungi dirinya, sedangkan syaitan tidak dapat masuk kepadanya melainkan melalui pintu kelalaian.
Syaitan sentiasa mengintai manusia. Apabila manusia lalai dan mengantuk ia menerkamnya.
Apabila manusia berzikir kepada Allah, terancamlah musuh Allah itu dan berasa dirinya terhina dan tertunduk.
Ibnu Abbas berkata: “Syaitan itu seperti virus penyakit di hati manusia. Apabila manusia lalai dan lupa, syaitan beraksi dan apabila manusia ingat kepada Allah ia menyorok (lari bersembunyi).”
Tetapi tidak dinafikan, sesetengah pihak mengalami kesukaran menangkis ancaman terbabit walaupun selepas dibaca doa pelindung dan ini membuatkan diri semakin buntu memikirkan usaha terbabit.
Dalam hubungan ini Ibnu al-Jauzi ada membuat perumpamaan, katanya: “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan iblis terhadap orang yang takwa dan tidak adalah seperti seorang sedang duduk di hadapannya ada makanan dan daging.
“Seekor anjing melalui kawasan itu, kemudian dia berkata: ‘Husy! Husy!.’
“Anjing itu berlalu dan kemudian datang pada orang lain, juga terdapat makanan dan daging di hadapannya.
“Orang itu juga menghalau anjing terbabit dengan mengatakan: ‘Husy! Husy!.’ Tetapi kali ini anjing tidak mahu meninggalkannya.
“Perumpamaan yang pertama adalah seperti orang yang takwa didatangi syaitan, ia mampu menghalau syaitan dengan zikir saja. Perumpamaan kedua seperti orang yang tidak takwa, syaitan tidak mahu lari darinya (walaupun dihalaunya dengan zikir).”
Justeru, bagi orang Islam yang ingin selamat dari bisikan syaitan dan tipu dayanya, hendaklah menyibukkan diri dengan ketakwaan, keimanan dan perlindungan kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
Doa’ Penyakit Was-Was:
Wallahu’alam….
sumber dari: http://hasnulhadiahmad.com/penyakit-waswas/
Saudaraku, waspadalah akan tentara pemusnah masal yang siap Alloh SWT kirimkan kepada hamba yang melanggar aturan-Nya. Tentara itu tidak pandang bulu, ia tidak hanya akan menyerang orang yang bermaksiat, namun juga akan menyerang orang mukmin yang membiarkan saudaranya bergelimang dalam maksiat.
Layaknya seekor nyamuk yang menggigit kita, maka yang kita lakukan bukan hanya memburu nyamuk yang bersalah itu, namun nyamuk lain yang tak bersalahpun kita buru.
ANGIN TOPAN Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ahzab : 6)
GUNTUR & PETIR
Jika mereka berpaling maka katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud." (QS. Fushilat : 13)
GUNUNG BERAPI & LAHAR “dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,” (QS. Al-Mursalat: 10)
TSUNAMI Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qoshosh: 40)
API Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar: 16)
BADAI “atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (QS. Al-Mulk: 17)
GEMPA BUMI “Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,” (QS. Al-A`rof: 91)
HUJAN BATU METEOR Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (QS. An-Naml: 58)
BANJIR Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu. (QS. Al-Mu`minuun: 41)
TANAH & LONGSOR Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS. Al-Qoshosh: 81)
Untuk itu, marilah kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita untuk senantiasa berbakti kepada Alloh Yang Maha Suci dan berusaha meninggalkan kemaksiatan yang selama ini kita perbuat kepada-nya,
Sebagaimana firman Alloh SWT: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Sebagaimana sebuah Hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari daripada Rasulullah SAW yang bermaksud :
“Apabila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebahagian malam maka tahanlah anak-anak mu kerana sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkan lampu-lampu mu serta sebutlah nama Allah, ikatlah minuman mu serta sebutlah nama Allah dan tutuplah sisa makanan mu serta sebutlah nama Allah ( ketika menutupnya )"
Hadis di atas bermaksud bahawa Jin dan Syaitan akan tidur di waktu siang dalam cahaya dan sinar sehingga menjelang petang, di mana pada waktu itu mereka berkeliaran mencari rezeki dan makanan, baik lelaki maupun perempuan, samada yang dewasa atau kanak-kanak.
Aishah r.a menceritakan bahawa Nabi SAW apabila mengadu sakit, baginda SAW akan membaca ke atas dirinya surah al-Falaq dan al-Nas kemudian menghembuskannya. (Mafhum hadis riwayat Muslim)
# Sentiasa berzikir kepada Allah
# Apabila menuang air panas, sebutlah Allah atau membaca “istia’zah”أَعُوْذُبِاللهمِنَالشَّيْطَانِالرَّجِيْمِ dan “Basmalah”بسماللهالرحمنالرحيم
Dua lafaz ini adalah amat penting dalam kehidupan setiap Muslim lelaki atau wanita. Ia hendaklah diamalkan sepanjang masa walaupun wanita itu dalam keadaan uzur syarie (period).
# Jangan menuang air panas dalam tandas kerana tandas adalah tempat jin dan syaitan. Begitu juga ke dalam lubang.
# Apabila masuk bilik yang gelap, sebutlah “Basmalah”.
# Jangan kencing ke dalam lubang kerana ia tempat tinggal jin.
# Jangan tidur seorang diri. Jika terpaksa tidur serorang diri, maka hendaklah berwuduk dan membaca zikir tidur.
# Jangan menyakiti anjing atau kucing.
# Jangan membunuh ular yang berada di rumah. Hendaklah memberi amaran selama tiga hari.
# Jangan berjalan seorang diri di padang pasir atau hutan belantara.
# Mengamalkan bacaan surah-surah pilihan seperti surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah al-Nas dan ayat Kursi.
# Hidupkan suasana al-Quran di dalam rumah.
# Menyebut zikir لاإلهَإلاّاللّهُ seratus kali setiap hari. Dalam hadis diceritakan bahawa sesiapa yang membawa seratus kali : Tiada Tuhan selain Allah
“Tiada tuhan selain Allah. Allah yang esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dan Dia berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.”
Maka antara fadilatnya ialah diperlihara daripada syaitan pada hari itu. (Mafhum hadis riwayat Bukhari).
# Sentiasa membaca ayat-ayat yang mengandungi makna bagi membatalkan sihir seperti surah al-A’raf : 118 dan 119, surah Taha : 69.
# Makan ubat tertentu seperti tamar. Sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Sesiapa yang makan setiap pagi buah tamar ‘Ajwah maka tidak akan memudaratkannya oleh racun dan sihir pada hari itu hingga malam hari”. (Mafhum hadis riwayat Bukhari).
sumber dari: rahsiadankonspirasidunia.blogspot.com
Sulayman ibn ‘Abd al-Malik (the Ruler) once sent for Abu Hazim, and when he came to him, he said, “O Abu Hazim, why is it that we dislike death?”
He said, “Because you have ruined your Hereafter and built up your present world. So you hate to leave this constructed world of yours and go to the ruins.”
He said, “That’s true. So how will our arrival be when we go back to Allah?”
He said, “As for the righteous good-doer, then he will be like the absent one returning to his family, and as for the wicked, then he will be like the runaway slave being brought back to his master.” Sulayman then wept and said, “Alas, what do we have with Allah then, O Abu Hazim?”
He said, “Present yourself to the Book of Allah `azza wa jall, and you will know what you have with Him.”
He said, “O Abu Hazim! How can I get that?”
He said, “At the point of His Words: “And indeed, the wicked will be in Hellfire.” [al-Infitar: 14]
He said, “So where is the Mercy of Allah?”
He said, “…Near to the good-doers.” [al-A’raf: 56]
Sulayman said, “What do you say about our affairs (as rulers)?”
He said, “Pardon me from answering this.”
He said, “Even words of advice that you can give?”
Abu Hazim said,“There are some people who took hold of this matter (authority/government) forcefully without consulting the Muslims or gathering their opinions. So they shed therein much blood because of their pursuit of the Dunya (world), and then they left this world. God knows what they will say and what will be said to them.”
Some of those present said, “What evil you have uttered, O shaykh!”
Abu Hazim said, “You are a liar. Indeed Allah has taken a covenant from the scholars that they should make things clear to the people and not conceal knowledge.”
Sulayman said, “Accompany us, O Abu Hazim, so that we can gain from you and you can gain from us.”
He said, “I seek refuge in Allah from that.”
He said, “And why?”
Abu Hazim said, “I fear that I will incline to you a little and thus be made to taste double punishment in life and double punishment after death.” (referring to verses from Surah al-Isra’)
He said, “Instruct me.”
He said, “Beware that Allah sees you where He has prohibited you from, and that He finds you missing from where He has ordered you to be.”
He said, “O Abu Hazim, pray for us for goodness.”
He said, “O Allah, if Sulayman is from Your close slaves, then ease the path of goodness for him. And if he is an enemy to You, then take him by the forelock and guide him to good.”
Sulayman said to one of the workers, “Bring a hundred dirhams.” And he gave it to Abu Hazim saying, “Take it.”
Abu Hazim said, “I have no need for it. I fear that you are bestowing this upon me because of what you just heard from me.”
1-Satu kewajipan pada Allah SWT yang perlu disempurnakan. Surah Al-Lail, ayat : 12.
"Sesungguhnya tanggungan Kamilah memberi hidayah petunjuk (tentang yang benar dan yang salah)."
2-Hidayah terdapat dimana-mana dan dapat menyelamatkan manusia. Surah Taha, ayat 10 dan 20.
Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada isterinya:
"Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa
kepada kamu satu cucuhan daripadanya, atau aku dapat di tempat api itu:
penunjuk jalan.
Lalu ia mencampakkannya, maka tiba-tiba tongkatnya itu menjadi seekor ular yang bergerak menjalar.
3-Hidayah tidak akan diberi kepada kaum yang telah disesatkan. Surah An-Nahl, ayat : 37.
Jika engkau (wahai Muhammad) terlalu tamak (inginkan mereka beroleh
hidayah petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk
kepada orang-orang yang berhak disesatkanNya; dan tiadalah bagi mereka
sesiapapun yang dapat memberikan pertolongan. 4-Hidayah daripada Allah SWT adalah amat benar. Surah Al-Baqarah, ayat : 120 dan Surah Ali Imran, ayat : 73.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau
suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut ugama mereka
(yang telah terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): "Sesungguhnya
petunjuk Allah (ugama Islam itulah petunjuk yang benar". Dan demi
sesungguhnya jika engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka sesudah
datangnya (wahyu yang memberi) pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran),
maka tiadalah engkau akan peroleh dari Allah (sesuatupun) yang dapat
mengawal dan memberi pertolongan kepada mu.
Dan (mereka berkata lagi): "Janganlah kamu percaya melainkan kepada
orang-orang yang mengikut ugama kamu". Katakanlah (wahai Muhammad):
"Sesungguhnya petunjuk yang sebenar benarnya ialah petunjuk Allah".
(Mereka berkata pula: "Janganlah kamu percaya) bahawa akan diberi kepada
sesiapa seperti apa yang telah diberikan kepada kamu, atau mereka akan
dapat mengalahkan hujah kamu di sisi Tuhan kamu". Katakanlah (wahai
Muhammad): "Sesungguhnya limpah kurnia itu adalah di tangan Allah,
diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas
limpah kurniaNya, lagi Meliputi pengetahuanNya.
5-Hidayah akan membawa ke Jalan Yang Lurus. Surah Al-Anam, ayat :87 dan 88.
Dan (Kami juga lebihkan darjat) sebahagian daripada datuk nenek mereka,
dan keturunan mereka, dan mereka, dan keturunan mereka, dan
saudara-saudara mereka; dan Kami telah pilih mereka, serta Kami
tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.
Yang demikian itu ialah petunjuk Allah, yang dengannya Ia memimpin
sesiapa yang dihendakiNya dari hamba-hambaNya; dan kalau mereka
sekutukan (Allah dengan sesuatu yang lain) nescaya gugurlah dari mereka,
apa yang mereka telah lakukan (dari amal-amal yang baik).
6-Hidayah daripada Allah SWT memerlukan penjelasan daripada Allah SWT. Surah An-Nisa', ayat : 115.
Dan sesiapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata
kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut
jalan yang lain dari jalan orang-orang yang beriman, Kami akan
memberikannya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan
(pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke dalam neraka
jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
7-Hidayah akan mudah diterima jika tidak ada perkara yang menghalang. Surah Al-Kahfi, ayat : 57.
Dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang diberi ingat
dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling daripadanya dan lupa akan
apa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya; sesungguhnya (disebabkan
bawaan mereka yang buruk itu) Kami jadikan tutupan berlapis-lapis atas
hati mereka, menghalang mereka daripada memahaminya, dan (Kami jadikan)
pada telinga mereka penyumbat (yang menyebabkan mereka pekak). Dan jika
engkau menyeru mereka kepada petunjuk, maka dengan keadaan yang
demikian, mereka tidak sekali-kali akan beroleh hidayah petunjuk
selama-lamanya.
8-Orang yang mendapat hidayah akan bertambah ketaqwaan atau perasaan takut kepada Allah SWT. Surah Muhammad, ayat : 17.
Dan (sebaliknya) orang-orang yang menerima petunjuk (ke jalan yang
benar), Allah menambahi mereka dengan hidayah petunjuk, serta memberi
kepada mereka (dorongan) untuk mereka bertaqwa.
9-Hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang memiliki sifat zalim. Surah Al-Qasas, ayat : 50.
Kemudian, kalau mereka tidak dapat menerima cabaranmu (wahai Muhammad),
maka ketahuilah, sesungguhnya mereka hanyalah menurut hawa nafsu mereka;
dan tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menurut hawa
nafsunya dengan tidak berdasarkan hidayah petunjuk dari Allah.
Sesungguhnya Allah tidak memberi pimpinan kepada kaum yang zalim (yang
berdegil dalam keingkarannya).
10-Tidak semua manusia yang akan mendapat Hidayah daripada Allah
SWT, hanya mereka yang dipilih oleh Allah SWT sahaja yang akan mendapat
hidayah daripada Allah SWT. Surah Al-An'am, ayat : 35.
Dan jika perbuatan mereka berpaling (daripada menerima apa yang engkau
bawa wahai Muhammad) terasa amat berat kepadamu; maka sekiranya engkau
sanggup mencari satu lubang di bumi (untuk menembusi ke bawahnya) atau
satu tangga untuk naik ke langit, supaya engkau dapat bawakan mukjizat
kepada mereka, (cubalah lakukan jika engkau sanggup). Dan sekiranya
Allah menghendaki, tentulah ia himpunkan mereka atas hidayah petunjuk.
(Tetapi Allah tidak menghendakinya), oleh itu janganlah engkau menjadi
dari orang-orang yang jahil.
11-Golongan mereka yang terpilih untuk mendapat hidayah Allah SWT. Surah Al-A'raf ayat 178 dan Surah Al-Isra' ayat 97.
Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah (dengan sebab persediaannya)
maka dia lah yang beroleh petunjuk; dan sesiapa yang disesatkan oleh
Allah (dengan sebab keingkarannya) maka merekalah orang-orang yang rugi.
Dan sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah maka dia lah yang
sebenar-benarnya berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang
disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan mendapati bagi mereka,
penolong-penolong yang lain daripadaNya. Dan Kami akan himpunkan mereka
pada hari kiamat (dengan menyeret mereka masing-masing) atas mukanya,
dalam keadaan buta, bisu dan pekak; tempat kediaman mereka: neraka
Jahannam; tiap-tiap kali malap julangan apinya, Kami tambahi mereka
dengan api yang menjulang-julang.
12-Golongan yang memperolehi pengajaran daripada kisah-kisah
Nabi serta kitab-kitab yang Allah SWT utuskan. Surah Al-Hadid ayat 26.
Dan demi sesungguhnya! Kami telah mengutus Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim,
dan Kami jadikan pada keturunan keduanya orang-orang yang berpangkat
Nabi dan menerima Kitab-kitab ugama; maka sebahagian di antara mereka:
orang yang beroleh hidayah petunjuk, dan kebanyakan mereka orang-orang
yang fasik – derhaka
13-Golongan yang hatinya tidak tertawan dengan tawaran dunia yang merugikan. Surah Al-Baqarah ayat 16.
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan
petunjuk; maka tiadalah beruntung perniagaan mereka dan tidak pula
mereka beroleh petunjuk hidayah.
14-Golongan yang menyembah Allah SWT dan tidak mengikut hawa nafsu. Surah Al-An'am ayat 65, 55 dan 56.
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran satu persatu (supaya
jelas jalan yang benar), dan supaya jelas pula jalan orang-orang yang
berdosa.
Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah mereka
yang kamu sembah yang lain dari Allah". Katakanlah lagi: "Aku tidak
akan menurut hawa nafsu kamu, kerana kalau aku turut, sesungguhnya
sesatlah aku, dan tiadalah aku dari orang-orang yang mendapat hidayah
petunjuk".
Katakanlah: "Dia lah yang berkuasa menghantar kepada kamu azab seksa
(bala bencana), dari sebelah atas kamu, atau dari bawah kaki kamu, atau
Ia menjadikan kamu bertentangan dan berpecah-belah – berpuak-puak, dan
Ia merasakan sebahagian daripada kamu akan perbuatan ganas dan kejam
sebahagian yang lain". Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan
ayat-ayat keterangan (yang menunjukkan kebesaran Kami) dengan berbagai
cara, supaya mereka memahaminya.
15-Golongan yang tidak membunuh anak dan tidak menghalalkan apa yang Allah SWT haramkan.Surah Al-An'am ayat 140.
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka kerana
kebodohan, lagi tidak berpengetahuan (sedang Allah yang memberi rezeki
kepada sekalian makhluknya), dan juga (rugilah orang-orang yang)
mengharamkan apa yang telah dikurniakan oleh Allah kepada mereka, dengan
berdusta terhadap Allah. Sesungguhnya sesatlah mereka, dan tiadalah
mereka mendapat petunjuk.
16-Bersedia dan redha dengan pemberian dan dugaan Allah SWT. Surah Al-An'am ayat 82.
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan
kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan
merekalah orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk.
17-Golongan yang tidak mengharapkan balasan sesama manusia. Surah Yasin ayat 20 dan 21.
Dan (semasa Rasul-rasul itu diancam), datanglah seorang lelaki dari
hujung bandar itu dengan berlari, lalu memberi nasihat dengan katanya:"
Wahai kaumku! Turutlah Rasul-rasul itu -
"Turutlah orang-orang yang tidak meminta kapada kamu sesuatu balasan,
sedang mereka adalah orang-orang mandapat hidayah petunjuk".
"Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah), maka
sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan
barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian)
dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang
lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang
rasul." (Surah Al-Isra 17: Ayat 15)
Elaborating on TAQWA: The Fear of ALLAH
, I wish to enlighten dear audience about the blessings the most
merciful ALLAH has granted for devoted slaves for being Taqwa compliant.
ALLAH SWT enjoins the mankind to submit to HIM so as to safeguard our
own selves from HIS wrath. Indeed, securing from HIS rage and earning
HIS gratificaton is adequate for us as a reward of Taqwa, but it does
not cease here. There are more glad tidings from ALLAH the Almighty for
fearing HIM. Remuneration of Taqwa in our lives is immense hereafter and
not less compensating here. Casting light on few
Blessings from the heaven and the earth
Blessings of both the worlds are enclosed within Taqwa. ALLAH SWT proclaims,
“And if only the people of the cities had believed and feared ALLAH, WE
would have opened (bestowed) upon them blessings from the heaven and
the earth…” [Al Aaraf, 7:96] Help from ALLAH during distress and grieves
Help from the source you least expect. That is the wonder of Taqwa! ALLAH promises, “And whoever fears ALLAH – HE will make for him a way out. And will provide for him (his needs) from where he does not expect,” [At-Talaq, 65: 2,3].
Good news in both the worlds
Showers of blessings. ALLAH mentions, “Those who believed and were fearing ALLAH. For them are the good tidings in the worldly life and in the hereafter,” [Yunus 10:63,64]. Ubadah RA asked Prophet PBUH the meaning of the mentioned verse. He was replied, “It (good news) is the good dream which a muslim sees or is shown to him,” [Ibn Majah: Hadith 3898]. Protection from the enemies
Feel protected with Taqwa. ALLAH SWT says, “And indeed, the wrong-doers are allies of one another; but ALLAH is the protector of those who fear ALLAH,”[Al Jathiyah 45:19]. In another verse HE pronounces, “And if you are patient and fear ALLAH, their plot will not harm you at all,” [Al Imran, 3:120].
Forementioned are some of the many benefits affirmed in the holy Quran.
May ALLAH help us to fear HIM every moment of our lives, in the daylight
and in the darkness, in open and in secret, in our blessings and during
the times of trails and tribulations; perhaps to gain HIS forgiveness.
ALLAH SWT proclaims that, “HE is worthy of fear and adequate of granting forgiveness” [Al Muddathir 74:56]
Jari-jemari ini seakan ingin menekan-menekan papan kekunci ini, mahu saja dikeluarkan apa saja yang difikirkan di benak fikiran ini satu-persatu.
Menulis di sini sekadar mahu mengingatkan diri ini, insan yang masih tercari-cari diri, insan sentiasa memohon keberkatan dan keredhaan Maha Suci Allah, Yang Menjadikan Alam ini.
Sambil ditemani buku-buku yang setia menuggu meminta dibaca dan dihadam satu demi satu, jari terus menekan-nekan papan kekunci ini...
Membaca memberikan saya berfikir dan menghayati setiap tulisan dan karya yang dibaca.
Moga ilmu yang diperolehi memberi manfaat, mudah-mudahan...InsyaAllah..
Sambil mencari-cari buku di rak buku kepunyaan abah, saya terjumpa sebuah buku bertajuk ”Akhlak” karya Abdul Rahman Rukaini, Mantan Ketua Bahagian Agama dan Tamadun Islam Dewan Bahasa Dan Pustaka Perunding dan Penulis Kitab-kitab Sekolah Agama Kerajaan Johor. Tulisan beliau sangat mudah difahami ayat-ayatnya. Salah satu tulisan beliau adalah berkaitan Amal Soleh.
Menurut Abdul Rahman Rukaini (2001), pengertian Amal Soleh, ialah merupakan apa saja amal orang Islam yang meliputi gerak hati (termasuk akal) pengucapan lisan dan perlakuan anggota tubuh badan (termasuk pancaindera) mengikut syariat Islam. Amal dilakukan dengan:
Niat yang ikhlas kerana Allah S.W.T
Mengikut rukun, syariat dan cara yang betul
Tidak dicampuri oleh perkara maksiat dan perkara-perkara yang membatalkan atau merosakkannya.
Amal itu mencakupi amal yang menghubungkan antara manusia dengan Allah S.W.T, dengandiri sendiri, dengan orang lain atau dengan alam dan kehidupan seluruhnya. Ringkasnya, ruang lingkup amal soleh amat luas yang membolehkan setiap orang mengambil peluang untuk melakukan bagi mencapai keselamatan, keamanan dan kebahagian di dunia dan di akhirat. (Abdul Rahman Rukaini, 2001)
Tulisan ini, mengingatkan saya, di mana setiap manusia diberi peluang oleh Allah untuk melakukan yang terbaik. Maka terpulang pada insan tersebut untuk merebut peluang yang diberikan oleh Allah Azzawajjalla.
Cukup indah dan cantik setiap anugerah Allah kepada kita. Alam yang dihuni ini penuh dengan sumber-sumber yang diberikan Allah supaya kita melihat dan merenung kebesaran Allah. SUBHANALLAH....
Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf, ayat 56 yang bermaksud :
" Dan janganlah kamu berbuat kerosakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-NYA dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan "
(56:سورة الأعراف)
Setiap amal yang dilakukan hendaklah berlandaskan ilmu, maka insyaAllah amal dapat dilakukan dengan terbaik. Motivasikan diri dengan mendekati Allah dalam setiap waktu dan ketika, moga kita sentiasa disisi Allah Yang Maha Berkuasa dan Maha Penyayang.
Bibit-bibit maaruf sentiasa bersemi di hati, dengan bertasbih, "Subhanallah”, bertakbir "Allahu akbar” dan bertahmid "Alhamdulillah”.
Rasulullah S.A.W bersabda :
" Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya, dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umur dan buruk amalannya " (Riwayat Ahmad)
Mungkin ada ketika kita alpa..alpa dengan kemewahan dunia, alpa dengan keseronokkan dunia. Berdoalah semoga hati kita sentiasa mengingati Allah, mengingati Allah, mengingati Allah....
Doa yang Allah ajarkan dalam firmanNYA dalam Surah Ali Imran,ayat 8 :
" Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-MU, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Anugerah "
( سورة ال عمران :8)
Rasulullah S.A.W bersabda:
" Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rosak, nescaya akan rosak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qalbu "
(Riwayat Bukhari & Muslim)
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih...
Binalah hati ini dengan akhlak mulia, akhlak yang terpuji di sisi Allah....
Moga Allah menganugerahkan kepada kita, "nur”(cahaya-cahaya) iman, keyakinan dan zikir sehingga hidup kita diterangi cahaya Ilahi, cahaya petunjuk dan cahaya hidayah yang membawa kebahagian dan keberkatan hidup di dunia dan akhirat. Aminn..
Surah Al-An’am, ayat 162 dan ayat 163 yang bermaksud :
”Katakanlah (Muhammad)’ ”Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
( سورة الانعام : 162)
" tidak ada sekutu bagiNYA; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”
( سورة الانعام : 163)
Coretan ini adalah ingatan untuk diri ini jua..sekadar ingin berkongsi kembara di hati ini...
Semoga yang baik itu datangnya daripada Allah Azzawajjalla dan yang buruk itu datangnya daripada kelemahan diri ini jua..
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
2. Al-Baqarah, ayat 195 : Jangan campakkan diri dalam kehancuran
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan(kehancuran), dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
3. An-Nisa’, ayat 29 : Jangan melakukan perbuatan bunuh diri
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
4. Al-Isra’, ayat 26-27 : Sikap boros adalah saudara setan
dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
5. Al-Ghasiyah, ayat 6-7 : Makanan neraka “tidak menyebabkan gemuk maupun menghilangkan rasa lapar
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya“. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.”
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,
Bismillah wal Hamdulillah, was sholatu was salamu ‘ala
Rasulillah Pembukaan Jin adalah makhluk
ghoib yang diciptakan Allah dari api dan keberadaannya tersembunyi, tidak
terlihat oleh mata kita (manusia). Sesuai dengan nama yang telah diberikan Allah
kepadanya, yaitu Jin. Yang berasal dari kata, “Janna-Yajannu“ yang artinya
menutup/ menyembunyikan. (Kamus al-Munawwir:
215) Allah berfirman,
“Ketika malam telah menutupinya (gelap), dia melihat sebuah bintang (lalu) dia
berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
"Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am:
76). Hanya Allah yang
Mengetahui Dunia jin adalah
dunia ghoib, dan tidak ada yang paling mengetahui tentang karakter dan kehidupan
mereka selain Allah. Muhammad sebagai manusia pilihan dan utusan mengetahui hal
yang ghoib sebatas informasi yang didapatkan dari Allah melalui wahzu yang dia
terima. Al-Qur‘an
menegaskan, “Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Allah." (QS. An-Naml:
65). Di ayat lain
Rasulullah diperintahkan, “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa
perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan
tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak
mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. An-Naml:
65). Bukti Eksistensi Jin
Meskipun jin itu
makhluk yang tersembunyi, wujud aslinya tidak bias dilihat oleh mata, namun kita
harus percaya bahwa mereka ada. Dan itu masuk bagian dari iman kepada yang
ghoib. Allah telah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana
Dia menciptakan manusia. Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan kami telah menciptakan
jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 26-27).
Allah telah
berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56). Jenis Sosok
Jin Jin itu tidak hanya
satu jenis, tapi ada banyak jenisnya. Kita bias mengetahui keberagaman mereka
melalui sabda Rasulullah berikut ini. Dari Abu Tsa‘labah
al-Khosyani berkata, Rasulullah bersabda, “Jin itu ada tiga jenis; Ada yang
bersayap dan terbang di udara, dan ada yang berjenis ular dan kalajengking, dan
ada yang menetap atau berpindah-pindah.” (HR. Thabrani dan al-Hakim dengan sanad
yang shahih, dan dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani, lihat Kitab Shahihil
Jami‘ as-Shaghir: 3/ 85). Idiologi
Jin Apa agama dan
kezakinan jin? Meskipun tujuan diciptakan mereka untuk ibadah kepada Allah, tapi
kenyataanya tidak semua jin taat dan mau menyembah Allah. Seperti halnya
manusia. Agama jin juga berbeda, aliran keyakinan mereka juga berbeda-beda. Ada
yang muslim, ada yang kafir. Ada yang shalih, ada yang thalih (suka
bermaksiat). Allah telah
berfirman, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih, dan di
antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan
yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11). Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula)
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka
itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api (bahan bakar) bagi
neraka Jahannam.” (QS. Al-Jin: 14-15). Manusia Bisa Melihat
Jin? Apakah manusia bias
melihat wujud jin dalam bentuk aslinya? Mari kita tanyakan kepada Allah, karena
Dialah yang paling paham akan keterbatasan jin dan manusia. Namun jika jin dalam
wujud tidak aslinya, dalam penampakan alias telah berubah menjadi bentuk
tertentu, maka kita bisa melihat mereka. Hanya saja sebagian hewan bias melihat
jin dalam wujud aslinya, seperti yang dikabarkan Rasulullah
berikut. Allah berfirman,
“…Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syetan-syetan
itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf:
27). Rasulullah bersabda,
“Apabila kalian mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah
dari (kejahatan) syetan. Karena ia telah melihat syetan.” (HR. Bukhari dan
Muslim). Rasulullah bersabda,
“Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka
berlindunglah kepada Allah. Karena mereka sedang melihat apa yang tidak kalian
lihat.” (HR. Abu Daud, no. 5103). Imam Syafi’i
rahimahulloh berkata, “Barangsiapa yang mengaku dirinya bisa melihat jin (dalam
bentuk aslinya), maka kami tolak kesaksiannya kecuali dia seorang nabi.” (Kitab
Fathul Bari: 4/ 489). Jin Bisa Kita
Buru? Jin jahat (Iblis dan
syetan) adalah musuh manusia. Oleh karena itu kita tidak usah disibukkan diri
dengan memburu dan mengejar mereka untuk kita karantina atau kita binasakan.
Kalau bisa jangan berharap bertemu dengan syetan jin. Mohonlah kepada Allah agar
terhindar dari kejahatan mereka. Namun jika mereka menyerang dan mengganggu
kita, maka kita harus melawan dan jangan takut, karena Allah bersama senantiasa
kita. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka
berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu
beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45). Allah berfirman,
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu).
Karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka
menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6).
Dalam suatu hadits
Rasulullah berpesan, “Wahai manusia, janganlah kalian berharap ketemu musuh, dan
mohonlah kepada Allah perlindungan darinya. Tapi jika kalian bertemu mereka,
maka bersabarlah (berteguh hati). Ketahuilah bahwa surga itu di bawah kilauan
pedang.” (HR. Bukhari dari Salim). Jin Bisa
Ditangkap? Rasulullah tidak
pernah menyuruh kita untuk berburu jin dan menangkapnya. Karena itu bukan
wewenang kita. Jin itu makhluk ghoib, bagaimana kita akan menangkap hal yang
ghoib. Dalam wujud aslinya, jin tidak bisa kita tangkap. Tapi jika mereka
menampakkan diri atau menyerupai sesuatu, maka kita bias menangkapnya.
Sebagaimana yang pernah dilakukan Abu Hurairah, Abu Ayyub al-Anshari, dan Mu’ady
bin Jabal. Pada suatu hari, Rasulullah bercerita kepada para shahabatnya,
"Sesungguhnya Ifrit dari golongan jin tadi malam telah datang kepadaku untuk
mengganggu shalatku. Dan Allah memberiku kemampuan sehingga aku bisa
menangkapnya. Aku berkeinginan untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid,
agar di pagi harinya kalian semua bisa melihatnya. Hanya saja saya ingat do'a
saudaraku Sulaiman, "Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak
dimiliki seorang juapun sesudahku. (QS. Shad: 35)" Abu Hurairah berkata, "Lalu
Rasulullah melepasnya dalam keadaan hina'." (HR. Bukhari dan Muslim).
Prof. Dr. M. Quraish
Shihab berkata, “Apabila jin berubah bentuk, maka Anda dapat menangkap dan
membunuhnya, karena pada saat seperti itu, ia tidak dapat berlepas diri dari
hukum alam yang berkaitan dengan manusia. Itulah sebabnya, saat Rasulullah
diganggu oleh jin yang berbentuk manusia, beliau bermaksud menangkap dan
mengikatnya di tiang masjid agar dapat dilihat orang banyak.” (Buku; Yang
Tersembunyi: 46-47, dan dia menukil penjelasan Syekh M. Mutawalli Sya‘rawi dalam
Kitab as-Sihru wal Hasad). Jin Bisa
Dibotolin? Kalau secara hukum
syari’at Islam, jin dalam wujud aslinya tidak bisa dilihat manusia, bagaimana
kita akan memburu dan menangkap serta memasukkannya ke botol. Itu hanya bualan
mereka yang terinspirasi dari kisah Aladin dan legenda lampu ajaibnya. Yang mana
kisahnya, jin yang dalam lampu itu bisa dipanggil dan dimintai bantuan. Yang
bisa menangkap, memenjarakan, menghukum jin hanyalah
Allah. Rasulullah bersabda,
“Apabila telah datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan
ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu.” (HR. Muttafaqun
‘alaih). Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya semalam syetan hendak menggangguku saat aku menyusuri bukit. Di
antara mereka ada yang membawa obor-obor untuk membakar wajahku. Lalu malaikat
Jibril mendatangiku dan menyeru, ‘Hai Muhammad, bacalah!: A‘udzu bi
kalimatillahit tammati lati la yujawizuhunna barrun wa la fajir min syarri ma
kholaqo wa dzaro-a wa barok...“. Ketika aku selesai membacanya, obor-obor mereka
padam, dan Allah-pun mengalahkan mereka.” (HR.
Ahmad). Abu Sa‘id al-Khudri
berkata, “Adalah Rasulullah selalu beristi‘adzah dari kejahatan mata Jin dan
kejahatan mata manusia. Ketika telah turun surat al-Mu‘awwidzatain, beliau lebih
suka membaca dua surat tersebut dan meninggalkan yang lainnya.” (HR. Tirmidzi,
dan dihasankannya). Tujuan Jin (syetan)
Menggoda manusia? Untuk Apa syetan
mengganggu manusia? Jawabannya tidak lain tidak bukan, hanyalah ingin
menyesatkan kita dari jalan yang benar, yang kelak Iblis bisa punya teman yang
sebanyak-banyaknya dalam neraka Jahannam yang telah dijanjikan Allah
Allah mengabarkan,
“Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa‘: 60). Di surat lain, Iblis
berkata, "Demi Keagungan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (QS. Shad:
82). Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya syetan telah berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi Keagungan-Mu, aku akan
terus-menerus menggoda hamba-hamba-Mu selama roh mereka berada dalam jasad
mereka (masih hidup)…” (HR. Ahmad dan Hakim).
Cara Aman Melawan
Syetan Masing-masing agama
punya cara tersendiri untuk mengusir atau menghilangkan gangguan jin jahat
(syetan). Namun kita sebagi ummat Islam tidak boleh memakai cara lain. Kita
harus komitmen terhadap ajaran dan tuntunan Islam. Kita bangga jika menggunakan
konsep sendiri, karena itulah konsep yang benar, yang lainnya
salah. Allah berfirman,
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan syetan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf:
200). Rasulullah bersabda,
“Seorang hamba tidak bisa menjaga dirinya dari kejahatan syetan kecuali dengan
dzikrulloh.” (HR. Tirmidzi, dan dinyatakan sebagai hadits hasan
shahih). Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya syetan akan kabur dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat
al-Baqarah.” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya kamar kecil ini dihuni jin. Jika kalian masuk toilet, maka bacalah
do’a; ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan syetan
laki-laki dan syetan perempuan’.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dari Zaid bin Arqom).
Umar bin Khattab
berkata, “Sesungguhnya seseorang tidak bisa berubah dari bentuk asli yang
diciptakan Allah menjadi bentuk yang lain, tapi mereka punya tukang-tukang sihir
seperti tukang-tukang sihir kalian. Apabila kalian melihat penampakan mereka,
maka kumandangkanlah adzan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, dan Imam Ibnu Hajar
menyatakan sanadnya shahih/ Kitab Fathul Bari: 6:
344). Penutup Sesungguhnya yang
paling paham akan karakter syetan adalah Allah sebagai Penciptanya. Yang paling
tahu tentang apa saja yang membuat syetan takut, melemah, tidak betah, marah dan
kabur hanyalah Allah. Maka dalam hal ini
kita tidak boleh mendahulukan prasangka, kira-kira atau informasi yang tidak
valid, daripada berpedoman pada nash atau dalil yang ada. Agar kita tidak
terjebak dalam tipu muslihat syetan, entah itu syetan jin maupun syetan manusia.
Wallohu A‘lam bish Showab.