Showing posts with label Adh-Dhuha. Show all posts
Showing posts with label Adh-Dhuha. Show all posts
Wednesday, 4 June 2014
When I have Allah; I have everything
Benefits of each surahs in Quran:-
Chapter 91: Surah Ash Shams
By reciting this Surah daily, it will increase your livelihood and people will always be in agreement with you. Your heart will be strong and you will have good memory.
Chapter 92: Surah Wal Layl
Recite this Surah 15 times before sleeping and see only good dreams. And if you recite this Surah in the ear of a person who is unconscious or suffering form epilepsy, he will be cured.
Chapter 93: Surah Wad Duha
Write this Surah over the name of a person who has disappeared, he will come back. If you have forgotten anything, recite this Surah and the thing will remain in Allah (SWT)'s protection.
Chapter 94: Surah Al Inshirah
Cure chest pains by reciting this Surah and wear an amulet for palpitations. If a person whose
urine has stopped, write this Surah, soak it in water and then drink it, it will cure the ailment,.
Chapter 95: Surah Wat Teen
Poison will not affect the person who recites on his food
Chapter 96: Surah Al Alaq
Recite this Surah for safe travel, from drowning, safekeeping treasures. Recite this Surah in the
day or at night and if you die in the course of it, you will die a martyr's death.
Chapter 97: Surah Al Qadr
i) Recite 10 times in one sitting, 1000 sins are forgiven.
ii) Recite 15 times after Isha prayers, you'll be safe until the next night.
iii) Recite this Surah in wajib prayer, all your sins will be forgiven.
iv) Recite this Surah once in Ramadhan and get the reward of fasting for the whole month.
v) Recite this Surah in front of your employer, your work will be done.
vi) Recited 7 times on a mu'mins grave, his sins are forgiven.
Chapter 98: Surah Al Bayyinah
Hang around the neck for cure of jaundice/white spots on body. Soak the Surah in water, drink
and pregnancy stays safe and body swellings disappear. Recite it on food there will be no effect of
poison.
Chapter 99: Surah Az Zilzaal
Recite this Surah to keep you safe from earthquakes and accidental deaths and you will die peaceful
and enter heaven. Whoever has been afflicted with facial paralysis should look at this Surah to get
cured.
Chapter 100: Surah Al A'adiyat
Regular recitation of this Surah will be rewarded equally to the whole Qur'an. Your debts will be
paid and you will be free from fears. If you are in pain, write this Surah in a new utensil and soak it
with rainwater, then add a pinch of Sugar. Drink this water for the pain to subside.
sumber dari: facebook.com/
Friday, 28 February 2014
Friday, 27 December 2013
Allah Is With You
Qur’an [Chapter 23 (Surah Ad-Duhaa/The Morning Hours), Verse 3]
sumber dari: asparkofmoonlight.wordpress.com
Friday, 20 December 2013
Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz
Bagaimana Derajat Hadist ini:
Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.
Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, “Kami diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh-Dhuha.”
Sementara dalam Nihayatul Muhtaj disebutkan bahwa yang lebih utama membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas karena surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Alquran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Alquran.
Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah…
Bacaan Sholat Dhuha
Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua. Hadis tersebut berbunyi:
صلوا ركعتي الضحى بسورتيها : (والشمس وضحاها) ، و (الضحى).
“Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha.”Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan: “Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia diampuni.”
Hadis di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam Musnad-nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur Musyaji’ bin ‘Amr. Hadis ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari dan tidak dikomentari. Beliau hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan. Namun yang benar, hadis di atas adalah hadis palsu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: “Hadis ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji’ bin Amr. Ibn Ma’in berkomentar tentang Musyaji’: “yang saya tahu dia (musyaji’) adalah seorang pendusta.” (Silsilah Hadis Dhaif dan Palsu, hadis ke-3774).
Hadis ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam Faidlul Qodir dengan alasan adanya perawi yang bernama Musyaji’ bin Amr. Imam Ad Dzahabi dalam Ad Dlu’afa’ mengatakan dengan menukil perkataan Ibn Hibban: “Dia memalsukan hadis dari Ibn Lahi’ah dan dia adalah dhaif.” (Faidlul Qodir, 4:201).
Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadis yang menganjurkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadis dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ibadah yang penting untuk diketahui:
“Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak dengan tata cara tertentu –misalnya waktu, tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang shahih termasuk salah satu bentuk bid’ah.” (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 52)
Karena hadis yang dijadikan dalil untuk menetapan dua surat di atas adalah hadis palsu maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadis palsu bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bid’ah. Wallahu a’lam.
As Syaikh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:
“Adapun yang sesuai sunah, engkau membaca surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunah. Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah, dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal yang baik.” (Majmu’ Fatawa dan Maqalat Ibn Bazz, 11).
sumber dari: konsultasisyariah.com
Monday, 9 September 2013
sinar dhuha dlm hidupku

sumber dari: yuhaisya.blogspot.com
Friday, 2 August 2013
Arabic Calligraphy -Ad-Duha
sumber dari: everitte.org
Saturday, 19 November 2011
kemuliaan orang yang solat dhuha
Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 7 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.
Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :
“Telah berkata Abu Huraerah : Kekasih saya, (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat tiga perkara kepada saya, yaitu puasa tiga hari tiap-tiap bulan, sembahyang dhuha dua rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari Muslim).
“Ada orang bertanya kepada Aisyah : Adakah Rasulullah SAW sembahyang dhuha? Jawabnya : Ada, empat rakaat, dan terkadang ia tambah yang dikehendaki oleh Allah”. (H.R. Muslim).
“Telah berkata Ummu Hani : Rasulullah SAW pernah pergi mandi, dan dilindungi oleh Fatimah, kemudian ia ambil kainnya, lalu berselimut dengan itu, kemudian ia sembahyang delapan rakaat, sembahyang Dhuha”. (Riwayat Bukhari Muslim 318 – Pengajaran Shalat).
Memang SHALAT DHUHA merupakan keistimewaan yang luar biasa, sebab manusia akan merasa berat dan bahkan terlalu berat disaat-saat yang tanggung untuk berangkat kerja atau sedang kerja (sekitar jam 7 hingga jam 11), dia menyempatkan diri dulu buat melakukan shalat sunnat tersebut.
Padahal dirasa berat hanyalah apabila belum biasa dan belum tahu keistimewaannya. Lain halnya dengan orang yang sudah tahu keistimewaannya dan imannya pun cukup kuat, tentu walau bagaimanapun keadaannya, apakah dia mau berangkat, ataukah sedang dikantor, tentu ia mengutamakan shalat itu barang sebentar, ia merasa sayang akan keutamaan ridha Allah yang ada pada shalat tersebut.
Keutamaan shalat DHUHA dalam pahalanya memadai buat mensucikan seluruh anggota tubuh yang padanya ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sebagimana keterangan Rasulullah SAW bahwa setiap persendian itu ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sedang dengan tasbih, tahmid, takbir dan amar ma’ruf nahyil munkar, cukuplah memadai buat kafarat kepada haq tersebut. Tapi semua itu cukuplah memadai dengan shalat DHUHA dua rakaat :
“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda : Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya, setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH/ MAHA SUCI ALLAH, ALHAMDULILLAH/ SEGALA PUJI BAGI ALLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU/TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, ALLHU AKBAR/ALLAH MAHA BESAR), setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakuka n dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim – Dalilil Falihin Juz III, hal 627).
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah :
“Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).
Dengan lafadz lain berbunyi :
“Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).
Coba renungkankan isi daripada do’a setelah shalat dhuha itu, nadanya seolah-olah memaksa untuk diperkenankan oleh Allah. Dan memang demikianlah lafadz do’a tersebut diajarkan oleh Rasulullah SAW :
“Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu”.
Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah (berlafadz perintah), dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.
Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakheratpun /di hari kiamat orang itu dipanggil/dicari Tuhan untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi :
“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).
waktu afdhal solat dhuha
Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang], maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”. [HR. Muslim]
- Penjelasan:
Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta.
Jadi dari rincian penjelasan diatas dapat disimpulkan waktu yg paling afdol untuk melaksanakan dhuha adalah Antara jam 08:00 AM ~ 11:00 AM.
tafsir adh-dhuha dari seorang sahabat

001. (Demi waktu Dhuha) yakni waktu matahari sepenggalah naik, yaitu di awal siang hari; atau makna yang dimaksud ialah siang hari seluruhnya.
002. (Dan demi malam apabila telah sunyi) telah tenang, atau telah menutupi dengan kegelapannya.
003. (Tiada meninggalkan kamu) tiada membiarkan kamu sendirian, hai Muhammad (Rabbmu, dan tiada pula Dia benci kepadamu) atau tidak senang kepadamu. Ayat ini diturunkan setelah selang beberapa waktu yaitu lima belas hari wahyu tidak turun-turun kepadanya, kemudian orang-orang kafir mengatakan, sesungguhnya Rabb Muhammad telah meninggalkannya dan membencinya.
004. (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu) maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi.
005. (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka." Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan.
006. (Bukankah Dia mendapatimu) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan (sebagai seorang yatim) karena ayahmu telah mati meninggalkan kamu sebelum kamu dilahirkan, atau sesudahnya (lalu Dia melindungimu) yaitu dengan cara menyerahkan dirimu ke asuhan pamanmu Abu Thalib.
007. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung) mengenai syariat yang harus kamu jalankan (lalu Dia memberi petunjuk) Dia menunjukimu kepadanya.
008. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan) atau orang yang fakir (lalu Dia memberikan kecukupan) kepadamu dengan pemberian yang kamu merasa puas dengannya, yaitu dari ganimah dan dari lain-lainnya. Di dalam sebuah hadis disebutkan, "Tiadalah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa."
009. (Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang) dengan cara mengambil hartanya atau lain-lainnya yang menjadi milik anak yatim.
010. (Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya) membentaknya karena dia miskin.
011. (Dan terhadap nikmat Rabbmu) yang dilimpahkan kepadamu, yaitu berupa kenabian dan nikmat-nikmat lainnya (maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya) yakni mengungkapkannya dengan cara mensyukurinya. Di dalam beberapa Fi'il pada surah ini Dhamir yang kembali kepada Rasulullah saw. tidak disebutkan karena demi memelihara Fawashil atau bunyi huruf di akhir ayat. Seperti lafal Qalaa asalnya Qalaaka; lafal Fa-aawaa asalnya Fa-aawaaka; lafal Fahadaa asalnya Fahadaaka; dan lafal Fa-aghnaa asalnya Fa-aghnaaka
waktu paling bererti
Allah berfirman di dalam surah Ad Dhuha: ” Wadhuha wallaili izasaja.”
Maksudnya:
”Demi waktu dhuha dan demi waktu malam bila ia belabuh.” (Ad Dhuha: 1-2)
Waddhuha` ertinya `demi waktu dhuha` dan `wallaili` ertinya `demi waktu malam`.
Kita akan bahaskan dua perkataan Al Quran ini sahaja. Maksudnya Tuhan bersumpah dengan waktu dhuha dan Tuhan bersumpah dengan waktu malam. Perlu diingat bahawa bila Tuhan bersumpah dengan satu perkara atau keadaan, itu menunjukkan sesuatu perkara atau keadaan itu sangat penting. Ia suatu perkara yang menarik perhatian. Kalau tidak penting tentu Tuhan tidak sebut. Tuhan tidak berkata,”Demi habuk” atau “demi debu” yang manusia tidak manfaat darinya. Bila Tuhan bersumpah dengan sesuatu benda, perkara atau keadaan, itu sesuatu yang besar, yang manusia akan dapat manfaat penting darinya.
Bila mana Tuhan bersumpah dengan waktu dhuha, ia membawa beberapa tafsiran:
1.Waktu dhuha adalah waktu yang memberi erti sangat besar kepada kehidupan manusia. Waktu dhuha adalah waktu penting yang mesti diberi perhatian
2.Waktu dhuha itu 15 min selepas waktu Isyrak (terbit matahari) sehingga kedudukan matahari tepat dan tegak diatas kepala. Ertinya kedudukan matahari penting diperhatikan manusia.
3.Waktu dhuha adalah waktu paling berfaedah buat manusia. Manusia baru bangun dari tidur, otak dan tenaga masih segar. Bila otak dan tenaga yang segar bertemu dengan waktu dan suasana yang segar, akan memberi hasil dan faedah yang banyak.
Waktu inilah orang hendak keluar bekerja, hendak mengaji, hendak berniaga, bertani, hendak ke pejabat, hendak belajar, hendak mengajar dan sebagainya. Waktu ini juga bagi kebanyakan negeri-negeri terutama di timur tidak terlalu panas dan tidak terlalu sejuk. Ini menyebabkan kita seronok bekerja dan tidak cepat letih. Kebetulan pula kita baru bangun dari tidur, otak masih segar, tenaga masih segar dan masih baru. Kalau bertani akan mendapat hasil yang banyak. Kalau sedang belajar, waktu ini juga kita boleh menerima banyak ilmu.
Walaupun boleh bekerja hanya untuk 3 atau 4 jam diwaktu dhuha tetapi hasilnya lebih banyak daripada 10 jam. Kerana itulah itu Tuhan bersumpah dengan waktu dhuha. Jadi kena jaga waktu ini. Inilah waktu perdana (prime time) di mana manusia boleh berusaha dan memberikan hasil yang maksima.
amalan pembuka pintu rezki

Dalam menjalankan perniagaan , perlulah kita mengetahui amalan-amalan dalam Islam yang boleh kita sama-sama amalkan untuk mendekatkan diri kepadaNya di samping dapat membuka lagi pintu rezeki. Di sini saya kongsikan sedikit info tentang Solat Dhuha yang merupakan satu amalan sunat yang sangat- sangat dituntut dalam Islam untuk sama- sama kita amalkan.
Solat dhuha adalah solat sunat ab'adh yang amat dituntut bagi Nabi Muhammad selain solat witir. Kita sebagai umatnya sebaiknya mengikuti anjuran Nabi kita. Bukankah Nabi itu contoh ikutan yang baik?
Solat didirikan pada waktu dhuha - kira-kira matahari segalah, 8.00-10.30 pagi waktu Malaysia. Ketika ini, pagi amat cerah, suam haba dengan vitamin percuma matahari. Waktu inilah yang dilarang tidur, kerana ketika ini rezeki dan rahmat sedang disebarkan.
Amnya, solat asasnya mudah saja, mungkin sekitar 3-5 minit saja. Lagi bagus jika dipanjangkan sesuai dengan pergerakan, bacaan , keperluan diri dan kesungguhan hati.
Cara:
Niat "Sahaja aku solat dhuha, 2 rakaat, sunat, kerana Allah Ta'ala".
Terpulang untuk surah bacaan selepas Al-Fatihah bagi rakaat 1 dan 2. Aku suka baca Surah As-Syams (rakaat 1) dan Surah Adh-Dhuha (rakaat 2); atau Surah Adh-Dhuha (rakaat 1) diikuti Surah Al-Insyirah (rakaat 2).
Boleh tambah lagi beberapa solat lagi, jika rajin dengan 2 rakaat 1 salam. Bacalah surah-surah lain pula.
Doa selepas solat sunat dhuha:
Maksudnya:
Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu.
Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar.. mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.
“Solat duha itu mendatangkan rezeki dan menolak kemiskinan, dan tidak ada yang memelihara solat kecuali hanya orang yang bertaubat.”
- Hadis Riwayat Tirmizi
berfikiran positif
Arti dari Dhuha adalah saat matahari naik di pagi hari. Oleh karena itu waktu ideal melaksanakan shalat Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalan atau sekitar pukul 8, walaupun diperkenankan sejak matahari mulai terbit (sekitar pukul 6.00 s.d 6.30).
Surat ini dimulai dengan qasam (sumpah) dengan huruf wâw (و) dan dhuhâ (ضُحَى) sebagai muqsamu bih-nya (مُقْسَمٌ بِهِ, obyek yang digunakan untuk bersumpah). Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah al-Qur’an dengan wâw mengandung makna pengagungan terhadap muqsamu bih (مُقْسَمٌ بِهِ). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar. Menurut Muhammad Abduh, sumpah dengan dhuhâ (cahaya matahari di waktu pagi) dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya dan besarnya kadar kenikmatan di dalamnya. Berarti pada saat matahari naik di pagi hari (Dhuha) dan pada saat sunyinya malam ada rahasia penting tentang nikmat Allah di dalamnya.
Mari kita renungkan satu persatu lanjutan ayat-ayatnya.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”
Para mufassir sepakat bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhan nya dan dibenci-Nya.
Ayat ini memberikan taujih (arahan) kepada Rasulullah SAW agar tetap berpikir positif kepada Allah SWT, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk seperti yang ada di pikiran orang-orang munafik dan musyrik.
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk…” (QS. 48 ayat 6)
Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْفَأَلَ و يَكْرَهُ التَّسَاؤُم
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Hadits)
Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”
Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat yang seluas lautan itu sendiri.
Bagaimana agar kita selalu berpikir positif? Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ, وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”
Ingat, renungkan rasakan betapa luas nikmat Allah kepada kita. Apa nikmat Allah yang paling Anda syukuri? Di antaranya adalah, Anda bisa melihat tulisan ini, yang melibatkan kerja milyaran sel, prajurit-prajurit Allah SWT. Bagaimana jika sel-sel itu tidak bekerja?
Mari kita bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan. Nikmat sekecil apapun! Dengan lisan ucapkan “Alhamdulillah”, didukung dengan pikiran dan perasaan kita. Sampaikan rasa terima kasih tak berhingga seperti seorang pengemis yang berhari-hari kekurangan makan dan diberi makan oleh seorang kaya, seperti seorang pasien yang sudah berbulan-bulan menderita sakit dan disembuhkan dengan bantuan seorang dokter. Yang Allah berikan kepada kita lebih dari orang kaya dan dokter tersebut di atas, namun mengapa kita lupa mengucapkan terima kasih kepada-Nya? Pantas jika Allah belum menambah nikmat kepada kita, nikmat-nikmat yang lalu saja belum kita syukuri sebagaimana mestinya.
Kalaupun ada kesulitan dan kekurangan dalam hidup kita, tetap saja karunia dan kelimpahan dari Allah masih jauh lebih besar. Lihatlah ke bawah, orang-orang yang lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita, lebih miskin dari kita. Jangan selalu melihat ke atas. Melihat ke bawah akan menghaluskan jiwa, melembutkan perasaan, menghidupkan syukur dan mengobati stress, ketidakpuasan dan putus asa.
Setelah bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan, syukur sejati adalah syukur dengan ‘amal.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ, وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
Seorang yang bersyukur akan memanfaatkan nikmat-nikmat yang diperolehnya untuk ibadah, amal shalih, dan perbuatan baik terhadap sesama. Itulah yang dimaksud dalam ayat pamungkas surat ini :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Wallahu a’lam.
doa penyembuh penyakit
seorang sahabat mengirimkan email.....
harap dapat dikongsi bersama.....

harap dapat dikongsi bersama.....
Dibaca sebagai doa penyembuh penyakit jantung yang lemah dan masalah penyakit dalam badan - dibaca 25 kali pada segelas air dan diminum oleh orang yang sakit. InsyaAllah. Lakukan selepas setiap kali solat wajib.
Surah dan amalan ini, diamalkan oleh ibu saudara penulis yang kembali kerahmatullah 4 tahun yang lepas pada usia 125 tahun. Walaupun arwah berusia 125 tahun. Arwah tidak nyanyuk dan kuat beribadat. Khatam Al-Quran sebulan sekali. Sepanjang masa arwah berpuasa melainkan hari-hari yang tidak dibenarkan dalam Islam. Hebat sungguh arwah ini.
Ini kali pertama penulis mendedahkan kisah arwah ibu saudara penulis yang bernama Allahyarhamah Siti Aminah Bt Hj Din iaitu kakak sulong kepada arwah bapa penulis. Semuga arwah ditempatkan dikalangan orang-orang yang beriman.
amalan solat sunat dhuha

Antara ibadat sunat yang dianjurkan dan menjadi amalan Rasullullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri ialah sembahyang sunat Dhuha. Banyak hadis-hadis yang mengalakkannya dan menyatakan keutamaannya, Antaranya dalam riwayat Abu Hurairah katanya yang bermaksud:-
Dalam riwayat yang lain Rasullullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda yang maksudnya :
" Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah ( sebagai ganti ) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat sembahyang Dhuha ."
( Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim )
Adapun kelebihan sembahyang Dhuha itu sepertimana di dalam kitab "An-Nurain" sabda Rasullullah Sallallahu 'alaihi Wasallam yang maksudnya :
( Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim )
Adapun kelebihan sembahyang Dhuha itu sepertimana di dalam kitab "An-Nurain" sabda Rasullullah Sallallahu 'alaihi Wasallam yang maksudnya :
"Dua rakaat Dhuha menarik rezeki dan menolak kepapaan."
Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya :"Barangsiapa yang menjaga sembahyang Dhuhanya nescaya diampuni Allah baginya aku segala dosanya walaupun seperti buih dilautan."
(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Dan daripada Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu berkata :"Aku mendengar Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Barangsiapa yang mengerjakan sembahyang sunat Dhuha dua belas rakaat dibina akan Allah baginya sebuah mahligai daripada emas"
(Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya :"Barangsiapa yang menjaga sembahyang Dhuhanya nescaya diampuni Allah baginya aku segala dosanya walaupun seperti buih dilautan."
(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Dan daripada Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu berkata :"Aku mendengar Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Barangsiapa yang mengerjakan sembahyang sunat Dhuha dua belas rakaat dibina akan Allah baginya sebuah mahligai daripada emas"
(Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)
erti bersyukur dalam Adh-Dhuha
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
Setiap kita memperoleh nikmat dari Allah SWT. Kita diwajibkan bersyukur kepada-Nya. Secara tepat syukur didefinisikan sebagai mempergunakan nikmat Allah di jalan yang dikehendaki-Nya.
Akan tetapi, manifestasi bersyukur dalam bentuk di atas sering kali bergeser menjadi bentuk lain, ketika nikmat dihubungkan dengan satu ayat dalam Surah Adh-Dhuha. Ayat tersebut berbunyi, Wa amma bi ni’mati Rabbika fahaddits yang berarti, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaknya engkau menyebut-nyebutnya”.
Dengan pemberian arti seperti itu, ayat ini sering kali dipahami sebagai perintah untuk menyebut-nyebut dan membicarakan nikmat yang kita terima dari Allah kepada orang lain. Akibatnya, ketika seseorang meraih keuntungan dalam bisnis, memperoleh kenaikan pangkat, anaknya jadi insinyur, dan sejenisnya, dia lalu mengundang tetangga, kawan dan teman sejawat untuk “bersyukur” dengan acara makan-makan.
Padahal fahaddits (dengan dua dal pada ayat di atas) memiliki makna yang lebih mendalam dari sekadar “membicarakan”. Ia lebih tepat jika diartikan “membuat(-nya) berbicara”. Artinya, ketika seseorang menerima nikmat dari Allah, dia harus menjadikan nikmat tersebut berbicara.
Nikmat dan anugerah Allah kepada manusia, sungguh tak terbilang banyaknya. Seluruh anggota tubuh kita, dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, sejak otak hingga hati, adalah nikmat Allah yang tak terhingga nilainya. Akan tetapi karena sejak lahir semuanya itu sudah kita “miliki”, maka kita cenderung untuk tidak menyebutnya sebagai nikmat dan anugerah. Yang kita sebut sebagai nikmat, biasanya, adalah pemberian-pemberian Allah yang incidental tadi: naik pangkat, dapat keuntungan dalam bisnis, lulus perguruan tinggi.
Terlepas dari itu semua, yang jelas seluruh nikmat tersebut harus kita buat “berbicara” kepada sesama manusia. Makanya nikmat tersebut harus betul-betul membawa manfaat bagi sesama, dan tidak sekadar bagi diri kita sendiri. Jika hari ini kita memiliki tangan, maka tangan kita mesti bermanfaat bagi umat manusia. Jika kita merasa bahwa Tuhan telah memberi anugerah otak kepada kita, maka otak kita harus memberi manfaat dan berbicara apa yang dikerjakannya bagi orang lain. Dan jika saat ini kita memperoleh rezeki cukup banyak dari Allah, maka rezeki itu pun harus dapat berbicara dalam bentuk amal-amal bagi kepentingan diri dan kepentingan sesame.
Sesudah itu, seluruh nikmat tersebut hendaknya dapat pula berbicara di hadapan Tuhan di akhirat kelak, dalam bentuk laporan yang padat dengan amal. Dengan begitu, maka bersyukur atas nikmat Allah berarti kehadiran. Yakni, kehadiran nikmat yang kita peroleh, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan. Karenanya, jika usia kita merupakan anugerah dan nikmat Allah, maka usia itu pun mesti hadir di hadapan manusia dan di hadapan Allah dengan amal-amalannya.
Maka dari itu agar nikmat tersebut tidak mejadi sia-sia. Hendaknya tidak ada di antara kita yang hidup selama 50 tahun di dunia ini, tanpa ada satu pun dari waktu kita yang tidak berbicara kepada umat manusia dalam bentuk kebaikan-kebaikan. Dengan begitu, bersyukur juga punya dimensi kesejarahan dalam bentuk kehadiran kita di dunia ini.
hadis berkaitan solat dhuha
* “Siapapun yang melaksanakan salat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (H.R Tirmidzi)
* “Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW salat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud)
* “Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata,”Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang salat dhuha‘. Ia bersabda,?Salat awwabin (duha‘) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi)
* “Rasulullah bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat salat dhuha, karena dengan salat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani)
* “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat salatnya setelah salat shubuh karena melakukan i’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat salat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan.” (HR Abu Daud)
fadilah solat dhuha

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2).
Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.
Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri kepadanya.
Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha:
“Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya:
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35).
Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.
Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra:
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.
Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.
Friday, 18 November 2011
fadhilat & hikmah membaca Adh-Dhuha
Surah Adh-Dhuha (bererti waktu Dhuha) merupakan Surah yang ke 93 di dalam Al-Quran, mengandungi 11 ayat. Ia di namakan Adh-Dhuha kerana di awal Surah itu Allah Taala bersumpah dengan waktu tersebut dan juga dengan waktu malam, bahawa Dia tidak meninggalkan atau membenci Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diperkatakan oleh kaum kafir musyrik.
Di dalam surah ini, Allah SWT memberi semangat kepada baginda agar jangan menghiraukan tuduhan dan fitnah musuh-musuh Islam.
Surah ini turun setelah begitu lama wahyu terhenti. Sedangkan wahyu itulah sumber kekuatan jiwa baginda, bekalan rohani untuk berdepan dengan peritnya ujian dan beratnya bebanan risalah dakwah. Wahyu-wahyu Allah dan pertemuan dengan kekasihnya adalah penawar untuk merawat luka-luka jiwanya akibat tentangan dan kebencian kaumnya sendiri kepada baginda. Ketika tekanan berada dipuncak Rasulullah itulah turunnya surah ini membawa kasih mesra, rahmat, perdampingan, kerelaan, ketenteraman dan keyakinan, seolah-olah memujuk Baginda SAW.
- Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah),
- Dan demi malam apabila telah sunyi,
- Tuhanmu tiada meninggalkan kamu (Muhammad) dan tiada (pula) membencimu,
- Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan,
- Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
- Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?
- Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk.
- Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.
- Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
- Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu mengherdiknya.
- Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)
Menurut ulama, apabila Surah ini diamalkan membacanya menjadi wirid tujuh kali pada setiap pagi ketika matahari terbit dan tujuh kali setiap matahari terbenam, insyaAllah akan terselamat dari kehilangan atau kecurian.
Sekiranya terjadi kehilangan atau kecurian, maka kerjakanlah solat sunat Dhuha tiga kali (dua rakaat sekali) pada setiap padi Jumaat sehinggalah yang hilang itu dapat kembali. Selepas memberi salam berdoalah memohon kepada Allah SWT.
Selain dari itu, sesiapa yang mengamalkan membaca Surah Adh-Dhuha empat puluh kali setiap hari, selama empat puluh hari dan berdoa memohon kepada Allah SWT, insyaAllah hidupnya terjauh dari keadaan fakir.
Sekiranya terjadi kehilangan atau kecurian, maka kerjakanlah solat sunat Dhuha tiga kali (dua rakaat sekali) pada setiap padi Jumaat sehinggalah yang hilang itu dapat kembali. Selepas memberi salam berdoalah memohon kepada Allah SWT.
Selain dari itu, sesiapa yang mengamalkan membaca Surah Adh-Dhuha empat puluh kali setiap hari, selama empat puluh hari dan berdoa memohon kepada Allah SWT, insyaAllah hidupnya terjauh dari keadaan fakir.
Wednesday, 16 November 2011
cara solat dhuha
Waktu sembahyang Dhuha ialah dari naik matahari sampai sepenggalah dan berakhir di waktu matahari tergelincir tetapi disunatkan dita'khirkan sehingga matahari naik tinggi dan panas terik.
Cara menunaikannya pula adalah sama seperti sembahyang-sembahyang sunat yang lain iaitu dua rakaat satu salam. Boleh juga dikerjakan empat rakaat, enam rakaat dan lapan rakaat. Menurut sebahagian ulama jumlah rakaatnya tidak terbatas dan tidak ada dalil yang membatasi jumlah rakaat secara tertentu, sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh 'Aisyah bermaksud :
"Adalah Rasulullah SAW bersembahyang Dhuha empat rakaat dan menambahnya seberapa yang dikehendakinya."(Hadis riwayat Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)
Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda bermaksud :
" Barangsiapa yang menunaikan sembahyang sunat Dhuha sebanyak dua rakaat tidak ditulis dia daripada orang-orang yang tidak lalai daripada mengingati Allah dan barangsiapa yang menunaikannya sebanyak empat rakaat ditulis akan dia daripada orang-orang yang suka beribadat dan barangsiapa yang menunaikannya sebanyak enam rakaat dicukupkan baginya pada hari tersebut, barangsiapa menunaikannya sebanyak lapan rakaat Allah menulis baginya daripada orang-orang yang selalu berbuat taat, barang siapa yang menunaikannya sebanyak dua belas rakaat Allah akan membina baginya mahligai didalam syurga dan tidak ada satu hari dan malam melainkan Allah mempunyai pemberian dan sedekah kepada hamba-hambaNya dan Allah tidak mengurniakan kepada seseorang daripada hamba-hamba-Nya yang lebih baik daripada petunjuk supaya sentiasa mengingati-Nya,"
( Riwayat At-Thabarani )
( Riwayat At-Thabarani )
Manakala surah yang sunat dibaca selepas membaca Faatihah pada rakaat pertama ialah surah as-Syams dan rakaat kedua selepas membaca al-Faatihah disunatkan membaca surah adh-Dhuha.
Adapun niat sembahyang Dhuha ialah :
Adapun niat sembahyang Dhuha ialah :
Ertinya :
" Sahaja aku sembahyang sunat Dhuha dua rakaat kerana Allah Taala "
Doa’ sembahyang Dhuha ialah:
Maksudnya :
" Ya Allah, bahawasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-Mu, kecantikan itu ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu dan perlindungan itu perlindungan-Mu. Ya Allah jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika ia (dari yang) haram maka sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, Keagungan, Keindahan, Kekuatan dan Kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada hamba-hamba-Mu yang saleh ."
kelebihan solat dhuha
Adapun kelebihan sembahyang Dhuha itu sepertimana di dalam kitab "An-Nurain" sabda Rasullullah SAW yang maksudnya : "Dua rakaat Dhuha menarik rezeki dan menolak kepapaan."
Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:
"Barangsiapa yang menjaga sembahyang Dhuhanya nescaya diampuni Allah baginya aku segala dosanya walaupun seperti buih di lautan."
(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Dan daripada Anas bin Malik r.a berkata :(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
"Aku mendengar Rasulullah SAW berkata : "Barangsiapa yang mengerjakan sembahyang sunat Dhuha dua belas rakaat dibina akan Allah baginya sebuah mahligai daripada emas"
(Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Subscribe to:
Posts (Atom)


