Showing posts with label Al-Fiil. Show all posts
Showing posts with label Al-Fiil. Show all posts

Tuesday, 14 January 2014

Membaca surah selepas al-Fatihah






Setelah membaca al-Fatihah, disunatkan membaca ayat al-Quran dari surah lazim atau ayat al-Quran yang dihafal. Seorang imam perlu berhenti seketika (saktah) sebelum memulakan bacaan surah ini. Saktah itu sekira-kira panjangnya makmum selesai membaca surah al-Fatihah. Ketika ini imam bolehlah membaca surah yang hendak dibaca secara sir (perlahan). Sebagai contoh, imam ingin membaca surah Al-Fiil, maka bolehlah dia membaca surah al-Humazah secara sir sebelum membaca surah al-Fiil secara jahar (kuat).

Dalam solat imam membaca secara jahar (solat fardhu Subuh, Maghrib dan Isya’), imam perlulah membaca ayat-ayat al-Quran mengikut muwaalat (turutan sususan surah dalam al-Quran). Bacaan surah tidak harus membaca secara menyongsang misalnya membaca surah An-Nash pada rakaat pertama, kemudian membaca al-Kaafiruun pada rakaat kedua. Bacaan surah selepas membaca al-Fatihah dalam rakaat pertama dan kedua hukumnya sunat haiat. Pun begitu, sebagai mencapai kesempurnaan solat bacaan ini tidak harus diabaikan. Rasulullah S.A.W membaca surah yang lebih panjang pada rakaat pertama berbanding rakaat kedua kecuali dalam solat Jumaat dan sunat hari raya. Dalam solat-solat ini nabi membaca surah al-A’laa (sabbihis) pada rakaat pertama dan al-Ghaasyiah pada rakaat kedua. Surah al-Ghaasyiah lebih panjang daripada al-A’laa iaitu 26 ayat. Sedangkan al-A’laa hanya 19 ayat. Selain daripada ini, bacaan surah hendaklah mengikut keutamaan (al-Aulaa) iaitu dari segi muwaalatnya.

Bagaimana dengan seseorang membaca surah al-Falaq pada rakaat pertama kemudian an-Naas pada rakaat kedua? Jika dilihat, an-Naas lebih panjang daripada al-Falaq. Jika an-Naas dibaca keseluruhannya, ia disebut sebagai membelakangkan sunnah (Khilaf as-Sunnah). Manakala jika dibaca secara menyongsang, ia disebut sebagai membelakangkan keutamaan (Khilaf al-Aulaa). Ulama membahaskan hal ini dengan menyebut, surah An-Naas perlulah dibaca pada rakaat kedua dengan syarat ayat yang dibaca menyamai bilangan ayat surah al-Falaq atau lebih pendek daripada itu. Contoh kedua khilaf al-Aulaa berlaku sebagaimana berikut. Seseorang membaca surah al-Humazah dalam rakaat pertama, kemudian membaca surah al-Quraisy dalam rakaat kedua. Walhal jika dilihat muwaalat surah, al-Fiil lebih utama dan lebih pendek juga berbanding dengan surah al-Humazah. Hal ini berbeza jika membaca surah at-Tiin dalam rakaat pertama, kemudian membaca surah al-Qadr dalam rakaat kedua. Hal ini bermakna jika membaca surah al-‘Alaq (19 ayat), tindakan itu sudah termasuk dalam khilaf as-Sunnah, melainkan kalau dibaca setakat ayat yang kelapan kerana surah at-Tiin mengandungi 8 ayat sahaja.
Begitu juga halnya dengan amalan solat sunat Taraweh. Imam memulakan bacaan bermula surah At-Takaatsur kemudian membaca surah al-Ikhlaash dalam rakaat kedua. Bacaan dalam rakaat kedua diulang-ulang. Adalah lebih elok sekiranya dibaca mengikut muwaalat surah sehingga lengkap dua puluh  rakaat Taraweh tersebut.



sumber dari: naimisa.blogspot.com

Saturday, 11 January 2014

Selamat Datang di Kelas 1 Al-Fiil











































Alhamdulillah...tahun ajaran baru 2013 ini SD Islamic Global School bertambah siswanya sebanyak 2 kelas. Kelas 1 kali ini diberi nama baru yaitu kelas 1 Al-Fiil.

Anak-anak hebat ini akan dibimbing oleh Bu Ena sebagai guru kelas. Selama bulan Ramadhan ini anak-anak akan melaksanakan orientasi dan beberapa kegiatan amaliah Ramadhan.

Selamat ya...semoga Allah memberikan kemudahan kepada semua siswa kelas 1 Al-Fiil dalam menempuh ilmu dan membina karakter Islami. 



sumber dari: islamicglobalschool.com

Al Humazah dan Al Fil




alquran rosmul utsmani juz 30 hal 601


Subhanallah, sungguh luar biasa aku mendapatkan makna yang sangat penting untuk kita renungkan dari rahasia urutan kedua surah ( Al Humazah dan Al Fil ). Dalam surah sebelumnya Allah swt. menggambarkan manusia-manusia humazah dan lumazah (pencela dan pengumpat). Di situ dijelaskan bahwa mereka adalah manusia yang mengagung-agungkan harta. Menganggap harta adalah segalanya. Meyakini bahwa dengan hartanya akan hidup kekal tanpa batas. Lalu seketika dalam surah Al Fiil Allah mencontohkan seorang manusia yang dihancurkan justru di saat-saat ia diselimuti tumpukan harta. Dimusnahkan justru di saat pasukannya berkumpul untuk membelanya. Dicelakakan justru oleh segerombolan burun-burung kecil yang tidak berdaya.

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa jumlah gajah yang digiring Abrahah lebih dari seribu. Tujuan pokoknya adalah untuk menaklukkan kota Mekah tanpa perlawanan, sehingga ia dengan mudah bisa menghancurkan Ka’bah. Sebagai manusia materialistik Abrahah tidak pernah membayangkan bahwa di atas segalanya ada kekuatan immateri (ghaib). Demikianlah Abrahah dan pasukannya melenggang dengan penuh keyakinan bahwa ia pasti bisa menghancurkan Ka’bah. Di tengah jalan menuju Mekah, mereka merampas unta-unta penduduk yang sedang di gembala. Di antaranya seratus unta milik Abdul Muthalib (kakek Rasulullah saw). Karena itu Abdul Muthalib segera menemui Abrahah untuk menuntut untanya. Di sini terjadi dialog antara Abrahah dengan Abdul Mutahlib:

Abdul Muthalib berkata: ”Wahai Abrahah, kembalikan unta-untaku.”

Abrahah: ”Hanya urusan unta kau datang menghadapku. (Tadinya Abrahah mengira Abdul Muthalib datang untuk menyerahkan kota Mekah. Sebab dari raut mukanya yang penuh wibawa Abdul Muthalib terbaca di benak Abrahah sebagai pemuka Quraisy).”

Abdul Muthalib: ”Aku adalah pemilik unta, maka tugasku adalah menuntut unta-untaku dikembalikan. Adapun Ka’bah yang akan kau hancurkan itu, ia ada pemiliknya. Silahkan kau berhadapan langsung dengan Sang Pemiliknya.”

Mendengar itu Abrahah semakin yakin, bahwa keinginannya untuk menghancurkan Ka’bah akan segera tercapai. Lalu Abrahah minta agar tidak ada satupun dari penduduk Mekah yang menghalangi. Seketika Abdul Muthalib mengumumkan hal tersebut, dan mereka patuh, lalu semuanya menyingkir ke balik pegunungan sambil melihat apa yang akan terjadi. Dalam diri mereka tersimpan keyakinan bahwa Ka’bah ada yang punya. Karenanya mereka menunggu apa yang akan dibalaskan oleh Sang Pemilik Ka’bah.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba datang barisan berwarna hitam dari arah Yaman. Secara perlahan barisan tersebut semakin banyak dan menutup langit. Abrahan dan pasukannya menyangka bahwa itu gumpalan awan pertanda akan turun hujan. Namun ternyata setelah kian mendekat, nampaklah bahwa itu barisan burung Ababil yang sangat rapi, mirip dengan barisan shaf shalat umat Islam di Masjidil haram. Masing-masing burung tersebut membawa tiga kerikil: satu di paruhnya dan dua di kakinya. Semua kerikil yang dilemparkan mengena langsung kepada sasaran. Dan begitu mereka terkena, seketika tubuh mereka menjadi rapuh, organ-organ dan persendian segera berjatuhan satu persatu. Lalu menumpuk seperti dedaunan yang di makan ulat. Allah menggambarkan kejadian ini dengan sangat jelas dalam surah Al-Fiil. Mari kita simak secara seksama kandungan surah ini:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?,
Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Perhatikan, apa lagi yang akan manusia banggakan dengan hartanya. Masihkan akan terlena dengan benda-benda yang tidak berdaya?.
Masihkah akan menjadikan dirinya sebagai hamba materi?.
Masihkan akan mewakafkan seluruh hidupnya untuk kesibukan mengurus benda-benda?.
Masihkah akan menganggap Allah sebagai sampingan?.
Masihkah akan melihat bahwa Allah bukan tujuan?.
Masihkan akan merendahkan Allah dan meninggikan dunia?.
Masihkah akan mengutamakan kebutukan fisiknya di atas kebutuhan ruhaninya?.

Sungguh bila sejenak manusia mau menggunakan akal sehatnya, ia akan segera tahu bahwa dirinya berada dalam posisi yang sangat rentan. Terjepit sedikit saja syaraf matanya, ia langsung tiba-tiba buta. Terjepit sedikit saja urat syaraf punggungnya ia tiba-tiba tidak bisa duduk dan tidak berbaring. Dicabut saja kepercayaan istrinya, ia segera kalang kabut dan bingung. Apalagi yang dicabut kepercayaan banyak orang, mau ke mana ia harus mempertahankan kedudukannya. Sungguh segala yang dimiliki sebenarnya hanyalah kesemuan. Tidak ada yang abadi. Pun tidak ada yang bisa membela dirinya. Benar, Allah menjelaskan bahwa dunia hanyalah tipu daya. 

Wallahu a’lam bishshawab



sumber dari: jamil-masyita.blogspot.com

Kelebihan mengamalkan surah Al-Fil






Surah ini boleh digunakan untuk menakutkan atau melumpuhkan musuh. Bacalah di dalam peperangan sedang berlaku, ketika bertempur dengan musuh atau ketikan dalam ketakutan. InsyaAllah terpelihara dari kejahatan mereka.

Tuliskan surah ini kemudian digantungkan pada senjata untuk menghadapi peperangan. InsyaAllah mendapat kemenangan yang besar.

Imam Al-Ghazali r.a dan para wali berkata: Sesiapa yang membaca Surah Al-Insyirah selepas Fatihah dalam rakaat pertama solat sunat subuh dan Surah Al-Fiil dalam rakaat ke dua, InsyaAllah tidak akan dimudharatkan oleh musuh-musuhnya dan tiada jalan bagi musuhnya untuk mengkhianatinya.



sumber dari: amalankelebihan.blogspot.com

Kisah Pasukan Bergajah -Shahih Bukhari dan Shahih Muslim




Photo


Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah S.A.W  bersabda pada waktu pembebasan kota Mekah (Fat-hu Makkah),

“Sesungguhnya, Allah telah menahan gajah dari memasuki kota Mekah, dan Dia menjadikan Rasul-Nya dan kaum mukminin berkuasa atasnya. Sesungguhnya, kehormatan kota ini telah kembali sebagaimana kehormatannya kemarin. Karena itu ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Nah, itu adalah peristiwa yang pasti bahwa Allah telah menahan gajah itu dari memasuki Mekah pada waktu peristiwa gajah.

Kemudian Allah hendak membinasakan pasukan itu beserta komandannya. Maka, dikirimkan-Nyalah kepada mereka beberapa rombongan burung yang melempari mereka dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat dan dari batu-batu gunung, sehingga mereka menjadi seperti daun-daun kering yang terobek robek, sebagaimana diceritakan oleh Al-Qur’anul-Karim. Abrahah pun tekena lemparan di tubuhnya. Mereka membawanya dalam keadaan jari-jarinya terputus satu demi satu, hingga sampai di Shan’a. Maka, ia tidak mati sehingga dadanya terbelah dan kelihatan hatinya, sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat.
Bermacam-macam riwayat di dalam menetapkan keberadaan burung-burung ini, tentang rombongannya, bentuknya, ukuran fisiknya, besar kecilnya batu-batu itu, jenisnya, dan cara kerjanya, sebagaimana juga terdapat sebagian riwayat yang mengatakan bahwa pada tahun itu merajalela penyakit cacar dan campak di Mekah. Orang-orang yang cenderung mempersempit kawasan kejadian luar biasa dan urusan gaib, memandang bahwa hukum alam yang berlaku dalam peristiwa itu. Mereka berpendapat bahwa menafsirkan peristiwa itu dengan terjadinya wabah cacar dan campak adalah lebih dekat dan lebih tepat, sedangkan, yang dimaksud dengan burung di situ adalah lalat atau nyamuk yang menyebarkan virus-virus tersebut, karena arti kata thairadahh segala sesuatu yang bisa terbang.

Ustadz Syekh Muhammad Abduh mengatakan di dalam menafsirkan surah ini di dalam Juz Amma,
“Pada hari kedua, merajalela penyakit cacar dan campak di kalangan tentara (Abrahah).”  Ikrimah berkata, “Itu adalah penyakit cacar yang pertama kali ada di negara Arab.”  Ya’qub bin Utbah berkata tentang peristiwa yang terjadi itu, “Pertama kali terjadi penyakit campak dan cacar di negeri Arab adalah pada tahun itu. Wabah itu menimpa tubuh mereka dengan kondisi yang jarang terjadi keadaan seperti itu. Daging mereka berserakan dan berjatuhan, sehingga pasukannya menjadi rusak dan berlarian, dan mereka pun terkena penyakit itu. Daging Abrahah terus berjatuhan sepotong demi sepotong, dan jari-jemarinya terputus satu demi satu hingga tembus dadanya, dan ia meninggal di Shan’a.”

Demikianlah yang telah disepakati dalam riwayat-riwayat. Itulah itikad yang benar tentang peristiwa ini. Surah yang mulia ini telah menjelaskan kepada kita bahwa penyakit cacar atau campak itu timbul karena batu kering yang jatuh menimpa personal tentara itu dengan perantaraan beberapa rombongan burung yang dikirimAllah bersama angin kencang. Maka boleh saja Anda berkeyakinan bahwa burung ini adalah sejenis nyamuk atau lalat yang membawa bibit-bibit penyakit, dan batu-batu ini berasal dari tanah beracun yang kering yang dibawa oleh angin, lalu menempel pada kaki binatang-binatang tersebut. Apabila ia hinggap pada tubuh, niscaya akan menempellah racun tersebut padanya. Kemudian menimbulkan luka yang merusak tubuh dan menjadikan dagingnya berjatuhan.

Kebanyakan dari burung-burung yang lemah ini disiapkan sebagai tentara Allah yang besar untuk membinasakan orang-orang yang hendak dibinasakan-Nya. Binatang-binatang kecil ini, yang sekarang mereka namakan dengan mikroba tidak keluar dari kelompok tentara-tentara Allah itu. Mereka bermacam-macam kelompok dan jenisnya yang hanya Allah SWT yang dapat menghitung jumlahnya.

Adanya bekas kekuasaan Allah untuk menekan orang-orang yang zalim dan diktator tersebut, tidak ditentukan bahwa burung-burung itu harus dari puncak-puncak gunung, tidak harus dari jenis binatang bersayap yang aneh, tidak harus memiliki warna tertentu, dan tidak pula harus diketahui ukuran bebatuannya dan cara kerjanya. Maka Allah memiliki tentara dari segala sesuatu.

” Pada tiap-tiap sesuatu lerdapat tanda-tanda
Yang meriunjukkan bahwa Allah Maha Esa.”

Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini melainkan tunduk kepada kekuatan-Nya. Maka terhadap sang tiran yang hendak menghancurkan Baitullah ini, Allah mengirimkan kepadanya burung atau binatang penerbang yang menebarkan penyakit cacar atau campak kepadanya. Lalu, membinasakannya dan membinasakan kaumnya, sebelum memasuki Mekah. Ini sekaligus sebagai nikmat yang dicurahkan Allah kepada warga tanah Haram, meskipun waktu itu mereka masih menyembah berhala, untuk memelihara rumah suci-Nya.
Sehingga, Dia mengutus orang yang akan memeliharanya dengan kekuatan agamanya, yaitu Nabi Muhammad S.A.W.  Nikmat Allah itu dahulu juga diberikan kepada musuh-musuh-Nya, pasukan bergajah yang hendak memangsa Baitul Haram tanpa dosa dan kesalahan apa pun.

Inilah yang semestinya dipegang dalam menafsirkan surah ini. Selain itu tidak dapat diterima kecuali dengan takwil, jika sah riwayatnya. Ada satu kekuasaan besar yang mengagumkan yang menghukum orang yang membanggakan diri dengan gajahnya. Kemudian membinasakannya dengan burung atau makhluk kecil yang tidak tampak oleh mata telanjang. Karena kecilnya ukurannya, tetapi diberi kemampuan demikian hebat. Tidak diragukan oleh orang yang berakal sehat bahwa peristiwa ini sangat hebat, menakjubkan, dan mengagumkan!!


Kami tidak mengetahui, apakah gambaran yang dilukiskan oleh Ustadz al-Imam mengenai bentuk penyakit cacar atau campak ataukah yang disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa batu-batu itu sendiri yang mencabik-cabik kepala dan tubuh mereka hingga rusak berantakan seperti daun-daun yang dimakan ulat, yang disebut “ashf”,  yang lebih menunjukkan kekuasaan dan rencana Allah.

Bagi kami sama saja, apakah hukum alam yang terungkapkan kepada manusia yang berlaku dan membinasakan suatu kaum yang hendak dibinasakan oleh Allah,  ataukah terjadi sesuatu yang luar biasa yang tidak terungkapkan dalam ilmu pengetahuan manusia, yang terjadi pada kaum itu untuk merealisasikan ketentuan Allah.



sumber dari: mytafsirquran.com

TAFSIR SURAT AL-FIIL (GAJAH)






Allah SWT berfirman, 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ {1} أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فيِ تَضْلِيلٍ {2} وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ {3} تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ {4} فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ {5} 
Tafsir 

1. Di dalam surat ini, Allah SWT memberitahukan tentang kisah pasukan gajah. Allah SWT berfirman, tidakkah kamu lihat salah satu bukti kemampuan dan kekuasaan Allah dan kasih sayang-Nya terhadap hamba-Nya, serta tanda-tanda keesaan-Nya dan kebenaran Rasul-Nya, Muhammad SAW. Yaitu apa yang diperbuatnya-Nya terhadap pasukan gajah, Abrahah dan kaumnya yang telah membuat tipu daya dan bermaksud menghancurkan ka’bah. Lalu ia mempersiapkan bala tentaranya untuk itu dan menyertakan gajah untuk menghancurkan ka’bah. Mereka datang dengan pasukan yang besar, yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab. Mereka terdiri dari orang-orang Habasyah dan Yaman.

2. Dan ketika sampai mendekati Mekkah sedang masyarakat Arab tidak punya kemampuan untuk melawan mereka, maka mereka keluar meninggalkan Mekkah karena ketakutan. Pada saat itu, Allah SWT membuat semua rencana mereka ggal total, maksud mereka tidak kesampaian.

3. Di mana Allah SWT mengirimkan pasukan burung yang datang menyebar dan susul-menyusul.

4. Burung-burung itu membawa batu panas dari tanah liat dan melemparkannya kepada mereka, mengejar mereka yang jauh dan yang dekat, hingga semuanya binasa

5. Mereka menjadi seperti sisa tanaman yang dimakan oleh binatang, kemudian dilempar ke tanah dan diinjak-injak. Allah SWT telah melindungi masyarakat Mekkah dari maksud jahat mereka dan membalikkan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri.


Kisah pasukan gajah ini amat masyhur dan pada tahun itulah Rasulullah SAW dilahirkan. Maka peristiwa itu termasuk tanda-tanda munculnya dakwah dan kerasulannya. Segala puji bagi Allah dan syukur bagi Allah SWT juga.!



sumber dari: ilmuislam2011.wordpress.com

The Story of the Owners of the Elephant




Custom image

The story of the owners of the elephant is given in Sura Al-Fil (105:1-5).

It is a story illustrating the fate of those who tried to attack the Ka’aba. The incident is supposed to have taken place just before the birth of Prophet Muhammad (S.A.W.S).

Before Prophet Muhammad (S.A.W.S) was born, the governor of Abyssinia, Abraha Al-Ashram, had built a place of worship and asked all Arabs to worship there. This site was richly decorated with treasures from the collection of Bilquis, Queen of Saba. He erected gold and silver crosses, built ebony and ivory pulpits, and raised the site’s stature and expanded its width. But the Arabs refused to bow down. Their loyalty lay with the Ka’aba, built by Ibrahim (alaihis salam). An Arab, in defiance and mockery of Abraha’s command, desecrated at the place of worship, angering him so much that he swore to destroy the Ka’aba. The Abyssnians had tame elephants that they used in wars. Abraha gathered his army of men and elephants and marched towards Makkah. As he advanced towards the Ka’aba, he defeated the tribes, enslaving the people and seizing their property. Included in this were two hundred camels that belonged to ‘Abdul Muttalib Ibn Hashim, the Prophet’s grand father, who was then, the leader of the Quraish. The tribes of Quraish, Kinanah and Hudhail decided to fight against Abraha, but they realized that they could not afford such a war and gave up the plan.

Abraha, meanwhile, sent a messenger to the Quraish, who were taking care of the Ka’aba. In his message, Abraha declared that he had come only to destroy the Sacred House and wouldn’t harm anyone unnecessarily. He said that if the people didn’t want to fight, their leader should come and meet Abraha. Abdul Muttalib, after listening to the message, said:

“By Allah! We do not intend to fight. Really we cannot afford it. This is the Sacred House of Allah and His Khalil (friend) Ibrahim (alaihis salaam). He Alone can protect it if He wills to.”

The messenger then took him to Abraha. Abdul Muttalib was a dignified looking, handsome man. His noble appearance impressed Abraha. He did not want to insult him, nor did he want to give a potential enemy an equal status, so Abraha sat down on the rich carpet beside Abdul Muttalib. Through an interpreter, Abraha asked what the chief of the Quraish wanted. Abdul Muttalib asked for a compensation for the two hundred camels that were taken from him and did not say a word about the expected attack on the Ka’aba. When Abraha expressed surprise, ‘Abdul Muttalib answered:

“I am the master of the camels, whereas the Ka’ bah – house of worship – has its Lord to defend it.”

Abraha, arrogantly claimed that no one could defend the Ka’aba from him to which Abdul Muttalib replied: “You are on your own!” Abraha then gave him his camels back. Abdul Muttalib went home and told the Quraish about his conversation with Abraha and ordered them to evacuate Mecca and move to the mountains. He then went to the Ka’aba, along with some men, and holding the ring of the Ka’bah’s door, invoked Allah and sought His aid against Abraha and his troops.

Abdul Muttalib set out with all the Quraish to the mountains seeking shelter and waiting to see what would happen next. The next morning, Abraha prepared himself, his troops and his elephant, Mahmoud, to enter Mecca. When Mahmoud was directed towards Makkah, Nufail Ibn Habib came near him and whispered in his ear: “Kneel down Mahmoud and go back home safe, you are in Allah’s Sacred Town.” He let go his ear and the elephant kneeled down. Nufail Ibn Habib then went away and climbed up the mount till he was far and safe. The Abyssinians tried everything to make the elephant stand again but in vain. They beat him, hurt him with weapons but still the elephant refused to get up and march towards Makkah. While trying to get him to stand they turned his direction to Yemen and he immediately got ready to move. Similarly he was ready to go to Sham (Syria) but still refused to budge in the direction of the Ka’aba. Allah the Almighty then sent birds from the seaside that resembled hawks. Each bird held three stones: one in its beak and one in its each leg. The birds dropped these stones on the Abyssinians killing them. Some Abyssinians fled while death pursued them every way they went. They tried to go back the way they had come and asked Nufail Ibn Habib to guide them back to Yemen. Allah the Almighty also sent a severe wind that added to the speed and strength of the stones and caused the majority of the army to perish.

Abraha was hit with a stone as well. His people carried him and his body began to tear apart by the time they reached San’aa. After a short while, his chest cracked and he died. Ibn Ishaq said some of the Abyssinians managed to return to Yemen and related to their people what had happened to them and to the whole army.

This incident was revealed in the Sura Al Fil as a reminder to the Quraish of Allah’s Favor bestowed on them through defeating the Abyssinians and defying them:
  • “Have you (O Muhammad (Peace be upon him)) not seen how your Lord dealt with the owners of the Elephant? [The Elephant army which came from Yemen under the command of Abraha Al-Ashram intending to destroy the Ka'bah at Makkah].
  • Did He not make their plot go astray?
  • And He sent against them birds, (Ababil) in flocks.
  • Striking them with stones of Sijjil (baked clay).
  • And He made them like (an empty field of) stalks (of which the corn has been eaten up by cattle)” (Al Fil, 105:1-5).
In his Tafsir, An-Naqqash mentioned that the flood carried away their dead bodies and threw them into the sea. Then, Ibn Ishaq cited the poetry the Arabs composed pertaining to that great incident in which Allah the Almighty made His Sacred House victorious for He wanted to grant it honor, dignity, purification and respect through sending His Messenger Muhammad (S.A.W.S) and the Legislation He sent with him. One of the fundamental pillars of this Legislation is the Prayer whose Qiblah direction would be made to the honorable Ka’ bah. The destruction of the owners of the elephant was not for the sake of the Quraishites themselves but victory was granted to the Sacred House in preparation for the advent of Prophet Muhammad (S.A.W.S).


Following the death of Abraha and his succeeding two sons, the Abyssinian rule over Yemen came to an end; the church built by Abraha was deserted. No one could even approach it for it was built over the burial place of two idols – that of Ku’aib and his wife. The two idols were made of wood, their height was about sixty cubits and they were touched with the jinn. Hence no one could take the risk of coming near the church or taking anything of its building or ornaments fearing the evils of the jinn. It stayed deserted till the time of the first Abbaside Caliph, As-Saffah who heard about the riches found inside the church. He sent his ruler over to Yemen, Al-’Abbas Ibn Ar-Rabi’, to destroy it and bring him all the precious objects he might find there.



sumber dari: iqrasense.com

Abrahah dan bala tentara bergajah






Peristiwa ini bukan cerita mistik bertebaran dalam sejarah bangsa Arab tempo dulu. Ini bukan dongeng atau tahayyul belaka. Seandainya bangsa Arab tidak melihat burung Ababil menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya atas izin Allah SWT, dengan kerikil panas dari neraka yang membara. Maka ketika jika ada seseorang menceritakan persitiwa itu kepada mereka, pasti mereka akan mengatakan orang itu gila. Mereka akan mengejek, sebagimana mereka mengejek Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menceritakan bahwa dirinya telah isra’ dan mi’raj.

Pada abad keenam sekitar tahun 571 Masehi, saat itu Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negerinya. Seorang menterinya yang bernama Abrahah bin Al-Shobaah menemukan bahwa setiap tahunnya orang-orang dari berbagai belahan bumi bergegas dan berduyun-duyun pergi ke Kabah di Mekah untuk menunaikan haji

Diperintahkannya arsitek dan ahli bangunan terbaik untuk membangun Al-Qalies, sebuah geraja yang sangat besar dan indah di Kota San’a. Gereja ini dipersembahkan kepada Raja Najasyi serta merupakan bukti kuat keinginan Abrahah agar orang-orang melupakan Ka’bah.

Abrahah telah bersumpah untuk menghancurkan Ka’bah. Berangkatlah Abrahah ke Makkah beserta tentaranya dengan menunggangi gajah. Abrahah memimpin pasukan dengan menunggangi seekor gajah yang santa besar dan gagah. Gajah tersebut adalah hadiah dari Raja Najasyi karena Abrahah sudah membuatkan sebuah gereja yang indah

Abdul Muthalib bin Hasyim yang merupakan salah seorang pemuka Kaum Quraisy pun ‘pasrah’ (Dia bilang Ka’bah adalah milik Allah SWT jadi Allah SWT yang akan menjaganya), dia hanya meminta kepada Abrahah 200 ontanya dikembalikan kepadanya. Dia yakin benar, bahwa Allah sendiri yang akan menjaga rumahNya, Baitullah. Dan benarlah, Allah SWT mengirimkan pasukan burung Ababil, yang merontokkan pasukan Abrahah laksana dedaunan yang dimakan ulat.

Surat Al Fiil (105) ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafiruun. Nama “Al Fiil” diambil dari kata “Al Fiil” yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya “gajah”.

AL FIIL (GAJAH) Surat ke 105 : 5 ayat

Qur’an menyebut peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan. Pendapat umum menyebut “Toiron Ababil” sebagai “Burung Ababil” atau “Burung yang berbondong-bondong”. Buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai wabah kuman cacar (wabah Sampar atau Anthrax – yang menewaskan sepertiga warga Eropa dan Timur Tengah di abad 14). Namun ada pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor, hujan batu panas yang berjatuhan atau ‘terbang’ dari langit. Wallahua’lam.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
  2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?,
  3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
  4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
  5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).



sumber dari: marianacity.wordpress.com

Memudahkan hapalan Al Qur'an






Surat Al A'rof ayat 170 memudahkan paham ilmu dan hapalan Al Qur'an.

"Ditulis pada buku yang akan dipelajari Insya Allah mendapat Taufiq".

Surat Ar Rohman ayat 1- 78 Memudahkan hapalan Al Qur'an.

"Dibaca ayat ini pada bejana yang diisi air Zamzam kemudian diminum Insya Allah mudah menghapalnya".

Surat Al Hijr ayat 9 menjaga jiwa dan harta dari segala kejahatan.

"Ditulis pada perak sambil dibacakan 40x kemudian dipakai / dibawa Insya Allah selamat jiwa dan hartanya".

Surat Asy Syuro ayat 15 Menjaga dari kejahatan manusia dan binatang buas

"Bacalah ayat ini jika akan bertemu orang jahat atau binatang buas Insya Allah terbebas dari kejahatannya".

Surat Al Fiil ayat 1- 5 Menolak bala dan memelihara dari kejahatan makhluk dibumi.

"Dibaca ayat ini 40x antara shalat sunnah subuh dan shalat fardhu shubuh kemudian diteruskan dengan membaca Asma Allah "Al Qoodir Al Qoohir 40x".




sumber dari: nursyifa.hypermart.net

Musailamah Al Kadzab mencoba meniru surat Al Fiil






Di zaman Rasulullah ada seorang Nabi palsu, Musailamah Al-Kadzab, yang ingin menyaingi Rasulullah dengan mendakwakan dirinya sebagai Nabi. Musailamah Al-Kadzab bersahabat dengan ‘Amr bin Ash, salah satu sahabat Nabi yang termasuk terakhir dalam memeluk Islam. Ketika surat Al-‘Ash turun, ‘Amr bin Ash belum masuk Islam, tetapi ia sudah mendengarnya.
Ketika Musailamah Al-Kadzab berjumpa dengan ‘Amr bin Ash, Musailamah bertanya : “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Mekah itu?” ’Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang begitu singkat, tetapi dengan makna yang begitu luas.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat Al-’Ashr ini dibacakan oleh ‘Amr bin Ash.
Musailamah merenung sejenak, ia berkata, “Persis kepadaku juga turun surat seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab: “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunani wa shadr. Wa sãiruka hafrun naqr. (Hai kelinci, hai kelinci. Kau punya dada yang menonjol dan dua telinga. Dan di sekitarmu ada lubang bekas galian.)” Mendengar itu ‘Amr bin Ash, yang masih kafir, tertawa terbahak-bahak, “Demi , engkau tahu bahwa aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan itu adalah dusta.”

Di saat yang lain Musailamah Al Kadzab mencoba meniru surat Al Fiil dengan surat yang dikarangnya “Alfiil, maal fiil, wa maa adrakamaal fiil, lahu dzanabun wabiilun, wa khurthuumun thawiil” yang artinya: “Gajah. Tahukah anda gajah?Apakah gajah itu?Dan tahukah anda apakah gajah itu? Ia berekor pendek & berbelalai panjang”. Lucu sekali bukan?



sumber dari: islamedia.web.id

Tafsir Jalalain Qs Al Fiil 1-5






001. (Apakah kamu tidak memperhatikan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna takjub; artinya sepatutnya kamu merasa takjub (bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah) orang yang mempunyai gajah itu bernama Mahmud yang disertai oleh teman-temannya, yaitu raja negeri Yaman yang bernama Abrahah berikut tentaranya. Dia telah membangun sebuah gereja di Shan'a dengan tujuan supaya orang-orang berpaling dari menziarahi Mekah dan tidak menziarahinya lagi. Pada suatu hari ada seseorang lelaki dari Kinanah telah membuat kejadian di gereja tersebut, ia melumuri bagian gereja yang dijadikan kiblat dengan kotoran unta dengan maksud menghinanya. Abrahah bersumpah untuk menghancurkan Kakbah. Lalu ia datang ke Mekah bersama tentaranya, beserta gajah-gajah milik Mahmud tadi. Ketika mereka mulai bergerak hendak menghancurkan Kakbah, Allah mengirimkan kepada mereka apa yang dikisahkan-Nya melalui firman selanjutnya yaitu:

002. (Bukankah Dia menjadikan) telah menjadikan (tipu daya mereka itu) dalam rangka menghancurkan Kakbah (sia-sia) maksudnya hanya menjerumuskan mereka ke dalam kerugian dan kebinasaan.

003. (Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong) atau yang bergelombang secara berturut-turut. Menurut suatu pendapat bahwa lafal Abaabiil ini tidak ada bentuk Mufradnya, sama halnya dengan lafal Asaathiir. Menurut pendapat yang lain bahwa bentuk tunggalnya adalah Abuul atau Ibaal atau Ibbiil yang wazannya sama dengan 'Ajuul, Miftaah dan Sikkiin.

004. (Yang melempar mereka dengan batu berasal dari tanah yang terbakar) yakni tanah liat yang dibakar.

005. (Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan) atau bagaikan daun tanaman yang dimakan oleh ternak, kemudian diinjak-injak dan dicabik-cabiknya. Allah telah membinasakan setiap orang dari mereka dengan batu yang padanya telah tertulis nama orang yang dikenainya. Setiap batu bentuknya lebih besar sedikit daripada biji 'adasah dan agak kecil daripada biji kacang Humsh; batu itu dapat menembus topi baja tentara yang berjalan kaki dan gajah yang dibawanya, kemudian batu itu jatuh ke tanah setelah menembus badan mereka. Hal tersebut terjadi pada tahun kelahiran Nabi saw.



sumber dari: study-quran.com

Friday, 26 July 2013

Semut versus Gajah





semut1


Ada orang yang baru ‘insyaf’ ikutan shalat berjamaah di masjid bersama temannya. Kebetulan imamnya orang yang hafal Qur’an dan sangat senang melantunkannya dalam shalat. Dan biasanya ia akan membaca surat-surat yang cukup panjang. Bagi jamaahnya yang sudah terbiasa, hal itu bukan masalah. Nah, kali ini sang imam membaca surat An Naml. Surat ini panjangnya sampai  93 ayat. Mmm..

Orang yang masih baru belajar islam tadi ikutan shalat berjamaah. Ketika selesei shalat, ia menggerutu dan bilang pada temennya, “Tadi si imam lama banget baca suratnya. Surat apa sih?”
“Surat An Naml artinya semut”
“Gila, panjang bangeet!”
Giliran mereka pun pulang.

“Jangan lupa, besok shalat berjamaah lagi ya. Nanti aku bilangin ke imamnya, janji deh suratnya gak panjang-panjang lagi.


gajah

"Emang mau baca surat apa?”
“Al Fiil artinya gajah”
“Gak, ah. Kamu pasti bohong. Surat ‘semut’ yang kecil aja sampe begitu lamanya, apalagi surat ‘gajah’ yang gedenya minta ampun. Pasti bakalan lebih lamaaa. Aku kapok ah..”
“Walaaahh…”

Padahal surat Al Fiil cuma beberapa ayat saja (lebih tepatnya cuma 5 ayat). Hehehe. Makanya kudu sering baca Qur’an biar tau jumlah ayatnya. Buat imam, kalo baca surat jangan panjang-panjang. Kasian kan ma’mumnya. Rasulullah aja kalo menjadi imam, membaca surat-surat yang ringkas. Beliau mengerti kondisi ma’mum yang beragam. Nah, baru kalo shalat sendirian (munfarid), beliau akan membaca surat-surat yang panjang, bahkan sampai kakinya sakit karena terlalu lama berdiri. Masya Allah…


sumber dari: pondokhati.wordpress.com

Inskripsi mengenai Abrahah







Apa yang ditulis pada batuan di atas adalah inskripsi yang menerangkan kejayaan seorang panglima bernama Abrahah. Sememangnya tiada langsung pernyataan tentang kemusnahan tentera Abrahah diserang burung Ababil mahupun keinginan mereka memusnahkan Kaabah. Akan tetapi, daripada sudut yang lain, ia menunjukkan watak Abrahah memang wujud dan sememang seorang yang mempunyai ego yang tinggi. 

Daripada sudut yang lain, ia menunjukkan inskripsi ini bukan dicipta atau direka oleh seseorang yang memiliki pengetahuan tentang al-Quran atau hadis kerana tiada pernyataan tentang Nabi Muhammad atau datuknya, Abdul Mutallib. Inskripsi ini kemungkinan besar ditulis oleh seseorang atas arahan Abrahah sendiri. Di bawah adalah maksud inskripsi tersebut:

Dengan kuasa Allah Yang Maha Kuasa, dan juruselamat(Messiah) Raja Abrahah Zeebman, Raja Saba’a, Zuridan, dan Hadramaut dan Yaman dan puak-puak  gunung dan pantai menulis ayat-ayat ini ke medan perang menentang puak Ma’Iklan, pertempuran al-Rabiya dan pada bulan ”Dhu al Thabithan” , berjuang semua Bani A’amir dan melantik Raja Abi Jabar dengan Kinda dan Al-Bishar bin Hasan dengan Sa’ad,  Murad, dan Hadramaut di hadapan tentera menentang Bani Amir dari Kinda dan Al di lembah Zu Markh dan Murad dan Sa’ad di lembah Manha dalam perjalanan untuk Serban dan membunuh dan menawan dan mengambil harta rampasan dalam kuantiti yang besar dan Raja berperang di Halbandan mencapai Ma’ad dan mengambil harta rampasan dan banduan, dan selepas itu, menakluk Omro bin al-Munzir (Abrahah) yang dilantik anak (Omro) sebagai pemerintah dan kembali dari Hal Ban (halban) dengan kuasa yang Maha Berkuasa dalam bulan A’allan Zu pada tahun 62 dan 600. ”


sumber dari: takusahrisau.wordpress.com

Sumur tentera Abrahah




Sumur ini dipercayai pernah digali oleh tentera Abrahah di sekitar Mekah sebelum bergerak untuk membinasakan Kaabah. Sumur dipercayai berjumlah 5 buah kesemuanya. Kemungkinan besar untuk menampung gajah serta kuda yang berpuluh-puluh ekor banyaknya. Melihat kepada sumur tersebut, peperangan dan pengepungan tersebut memakan masa berbulan-bulan lamanya.




















sumber dari: takusahrisau.wordpress.com

Peninggalan tentera Bergajah Abrahah..




Bukti-bukti bergambar di bawah menunjukkan bahawa kejadian serangan tentera bergajah Abrahah adalah benar-benar berlaku dan bukannya cerita dogeng rekaan semata-mata. Tanggal di mana Abrahah menyerang Kaabah bersamaan dengan kelahiran junjungan besar kita, Nabi Muhammad saw. Ia adalah kejadian yang besar maknanya dan mempunyai hikmah yang tersendiri. Semoga dengan maklumat dan bukti-bukti di bawah, sekurang-kurang ia akan menambahkan iman dan seterusnya memperkukuhkan akidah kita. InsyaAllah.

Kebiadapan Abrahah al-Ashram

Kisah kebiadapan Abrahah untuk membinasakan Kaabah tersemat dalam banyak kitab-kitab Sirah. Malahan Al-Quran merakamkan episod tersebut di dalam surah Al-Fiil daripada ayat 1 sehingga ayat 5 sebagai pengajaran kepada manusia supaya tidak berlaku bongkak dengan Allah swt.
Abrahah adalah seorang gabenor kepada raja Najasyi di Habsyah. Beliau beragama Kristian Orthodox. Abrahah pada awalnya bukannya seorang gabenor tetapi hanya panglima kepada seorang wakil raja Najasyi yang diutuskan untuk memerangi seorang pembesar Najran di Yaman yang zalim. Pembesar tersebut dikenali 

Zul Nawwas.

Kezaliman raja tersebut bertitik-tolak daripada pembunuhan beramai-ramai penganut Kristian di Yaman. Cerita kezaliman Raja Zul Nawwas ada diabadikan dalam al-Quran dalam surah Al-Buruj ayat 4 sehingga ayat 9. Allah menggelar penganut Kristian yang dibunuh oleh raja tersebut sebagai ‘orang-orang beriman’.(Surah Al-Buruj 85:8)

Namun, selepas pembesar tersebut tewas, wakil Raja Najasyi mula bertindak luar batasan dan berlaku zalim. Ia menimbulkan marah Abrahah. Abrahah dengan dokongan tentera yang setia kepadanya memerangi wakil raja Najasyi tersebut. Maka berlakulah pertarungan satu lawan satu. Abrahah memenangi pertarungan tersebut namun hidung beliau luka parah akibat terhunus pedang lawannya.
(Ingin sertai takusahrisau’s blog di Facebook?Klik SINI)

Ingin menyerang Rumah Allah

Dengan kemenangan tersebut, Abrahah telah menjadi raja di Yaman. Beliau mendirikan gereja dan memperbaiki kemudahan di sekitar tanah jajahannya. Walaubagaimanapun, sikap bongkak dan cemburunya mula menguasai diri apabila menyaksikan gereja milik tidak mendapat sambutan sebagaimana sambutan terhadap Kaabah di Mekah. Insiden yang dikaitkan dengan penghinaan gereja yang dibina juga menyemarakkan api dengki dan bongkaknya.

Beliau mengambil keputusan untuk membinasakan Kaabah pada tahun 570 masihi dengan menggunakan tentera bergajah miliknya. Perjalanan yang ditempuhi daripada Yaman menyaksikan beberapa peninggalan bersejarah seperti laluan tentera bergajah, sumur dan inskripsi kuno di batuan-batuan sekitar Yaman dan Mekah.

Abrahah dan tentera bergajah dihancurkan Allah swt dengan lontaran batu Sijjil daripada neraka yang diriwayatkan sebesar sebiji kacang yang mana telah dibawa oleh burung Ababil. Lontaran batu tersebut bagaikan hempasan peluru berpandu sehingga menghancurkan seluruh tentera bergajah miliknya. Allah swt mengibaratkan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.(Surah Al-Fiil 105:5)

Abrahah diriwayatkan meninggal dunia semasa dalam perjalanan pulang ke Yaman. Abrahah cedera teruk akibat terkena hanya satu lontaran batu Sijjil di badannya.

Laluan Tentera Bergajah Abrahah

Terletak di kawasan berdekatan Taif dan mengadap ke Hijjaz. Kawasan ini dikatakan laluan tentera bergajah Abrahah dan juga tentera berkudanya. Laluan ini diperbuatkan daripada batu granit yang setiap satunya tidak mempunyai saiz yang sama. Terdapat juga sebuah tempat yang dikatakan menjadi kem tentera Abrahah untuk berehat. Orang Arab menggelar tempat ini sebagai Laluan Gajah.








sumber dari: takusahrisau.wordpress.com

The Elephant





 This letter consists of 5 verses, including the group Makkiyyah letters, sent down after surat Al Kaafirun. The name Al verb derived from the word Al Fiil contained in the first paragraph of this letter, which means elephant. Surah Al Fiil suggests story the Elephant troops of Yemeni  led by Abraha who want to demolish the Kaaba in Mecca. This event took place in the Holy Prophet (Muhammad SAW) was born.
Principles of contents:Stories about The Elephant troops who punished by God Allah The Almighty by sending a kind of bird  "ABABIL (the name of the bird)" that attacked them until they are destroyed. The failure of elephant army who led by Abraha, because of the Kaaba is maintained by God Allah The Almighty




Al-Fil [The Elephant]

1.  Seest thou not how thy Lord dealt with the Companions of the Elephant?

2.  Did He not make their treacherous plan go astray?

3.  And He sent against them Flights of Birds,

4.  Striking them with stones of baked clay.

5.  Then did He make them like an empty field of stalks and straw, (of which the corn) has been eaten up.



sumber dari: alquran-is.blogspot.com

Wednesday, 5 June 2013

Rasul SAW Menyukai Memulai Dari Yang Kanan








قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ صحيح البخاري
Sabda Rasulullah saw : “Bahwa nabi saw menyukai memulai dari kanan, ketika beliau (saw) memakai sandal, ketika beliau (saw) menyisir, ketika beliau (saw) bersuci, dan dalam gerak gerik beliau (saw) ” (Shahih Bukhari)....


Assalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Mengumpulkan kita dalam perkumpulan yang luhur, di bulan yang luhur, yang mana dalam perkumpulan seperti inilah Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmatNya dan mengangkat derajat hamba-hambaNya dalam keluhuran di dunia dan akhirat, dalam kemuliaan di dunia dan akhirat, dalam kesucian di dunia dan akhirat, dalam kebahagiaan di dunia dan akhirat yang semuanya sampai kepada kita dari tuntunan tersuci dan terluhur dari segenap tuntunan alam semesta, yaitu tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tuntunan termulia yang menuntun pada kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang menuntun ummatnya untuk jauh dari perbuatan-perbuatan hina dan senantiasa berada pada perbuatan yang mulia. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga hari-hari kita untuk selalu berada dalam kemuliaan dan keluhuran serta jauh dari segala hal yang hina di dunia dan akhirat, amin.

Sampailah kita pada tuntunan mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disampaikan oleh sayyidah Aisyah Ra dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melakukan suatu perbuatan menyukai untuk mengawalinya dari sebelah kanan, seperti ketika memakai sandal, ketika bersuci, menyisir rambut, dan yang lainnya. Hal tersebut sangat disukai oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal tersebut pun telah terbukti secara ilmiah bahwa peredaran darah terlebih dahulu mengalir pada anggota tubuh yang bagian kanan kemudian pada bagian yang kiri, sehingga aliran darah itu terlebih dahulu membersihkan anggota tubuh bagian kanan, dan hal ini secara Ilmiah baru diketahui dalam akhir-akhir ini, namun hal tersebut telah diajarkan dalam tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummat Islam, yaitu dengan mengawali segala perbuatan baik dari anggota tubuh sebelah kanan.

 Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa hadits tersbut diatas bermakna ‘aam makhsuus (bersifat umum tapi dikhususkan), yaitu secara umum bermakna demikian adanya namun terdapat pengecualian, diantaranya adalah ketika masuk ke masjid mendahulukan kaki kanan, namun ketika keluar dari masjid mendahulukan kaki kiri, sebaliknya ketika masuk ke kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan, mengapa demikian?, Al Imam An Nawawi berkata bahwa segala hal atau sesuatu yang baik atau bersifat ibadah maka didahulukan dengan anggota sebelah kanan, maka selayaknyalah kita memahami sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ
“Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku ketika kerusakan ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid”

Berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini adalah hal yang mudah, namun banyak diremehkan oleh kaum muslimin, maka kita berusaha untuk menghidupkan kembali hal tersebut dengan melakukan sesuatu yang baik diawali dengan yang kanan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Kita selayaknya memahami bahwa segala persahabatan akan berakhir, segala perkumpulan dalam keluarga, saudara dan teman akan berakhir, segala kenikmatan dan kegembiraan di dunia akan berakhir, dan kesemuanya berganti dengan kehidupan yang gelap di alam kubur, namun berbeda dengan keadaan mereka yang mengikuti tuntunan luhur sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana mereka akan gembira di dunia dan akhirat, gembira di alam kubur dan di alam barzakh, hari-hari mereka berada dalam kebahagiaan karena mengikuti tuntunan yang menuntun kepada keluhuran dan kebahagiaan, tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tibalah kita di bulan agung ini, bulan Rabi’ Al Awwal, dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ، أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ، وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ، تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (الفيل : 1-5 )
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergaja, Bukankah Dia telah menjadikan siasat mereka (untuk menghancurkan ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil : 1-5)

  Dijelaskan dalam sirah Ibn Hisyam dan lainnya, dimana ketika kaisar Habasyah iri terhadap Ka’bah, dimana kota Makkah menjadi kota yang ramai dengan perdagangan dan banyak dikunjungi oleh orang-orang karena adanya Ka’bah disana. Dimana Ka’bah sudah ada sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana dibangun pada oleh Nabiyullah Ibrahim setelah runtuhnya dan terus ada serta menjadi tempat yang mulia dan muliakan, meskipun ketika itu masih dipenuhi dengan patung-patung berhala sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebelum terjadinya Fath Makkah.

Maka ketika itu kaisar Habasyah membangun suatu bangunan di kota San’a Yaman untuk menyaingi Ka’bah, bangunan yang serupa dengan Ka’bah dan terbuat dari emas dan perhiasan-perhiasan berharga, dengan tujuan agar manusia mengalihkan perhatian mereka dari Ka’bah yang berada di Makkah kepada Ka’bah yang dibuat raja Habasyah di kota San’aa yang ketika itu San’aa berada dibawah kekuasaan raja Habsyah. Namun keesokan harinya setelah Ka’bah palsu itu dibangun, maka didapatinya banyak kotoran yang dilemparkan ke ka’bah buatan raja Habasyah itu sehingga murkalah ia karena penghinaan dan pelecehan orang-orang, lalu raja Habasyah mengerahkan pasukan dengan jumlah yang sangat besar dan menunggangi gajah untuk berangkat ke Makkah dan menghancurkan Ka’bah.

Kemudian berangkatlah pasukan gajah itu yang mana sepanjang perjalanan ke Makkah tidak ada kabilah yang membela Ka’bah sanggup untuk menahan pasukan raja Habsyah. Maka pasukan gajah itu terus menempuh jazirah Arab menuju Makkah, dan di saat itu sayyidina Abdul Muthtalib sebagai pimpinan kota Makkah, beliau mengungsikan penduduk Makkah ke tempat-tempat yang aman, kemudian ia berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Allah, aku titipkan Ka’bah ini kepadaMu”, lalu sayyidina Abdul Muthtalib pun pergi dan kemudian pasukan gajah itu membawa beliau dibawa ke perkemahan pimpinan pasukan , maka panglima pasukan gajah itu berkata : “apakah engkau adalah pimpinan Makkah?”, sayyidina Abdul Muttalib berkata : “iya , aku adalah pimpinan Makkah”, lalu panglima itu berkata : “Engkau telah mengungsikan penduduk Makkah, tapi mengapa engkau justru pergi meninggalkan Ka’bah tempat yang suci itu tanpa membelanya dari serangan yang akan kami lakukan, padahal engkau adalah pimpinan kota Makkah?”, maka sayyidina Abdul Muttalib berkata : “Aku hanya menjaga diriku dan keluargaku, akan tetapi Ka’bah itu adalah milik Allah subhanahu wata’ala, maka Dia lah yang akan menjaganya”, lalu beliau pergi. Kemudian panglima pasukan gajah berkata kepada pasukannnya : “Mulai bergeraklah dan hancurkan Ka’bah”, maka mereka pun bergerak menuju kota Makkah dan setelah mendekat dengan Ka’bah dan Ka’abh sudah mulai terlihat oleh mereka, maka gajah terbesar sebagai pimpinan mereka yang berada pada barisan terdepan ketika itu berhenti, namun ketika diarahkan ke arah yang lain (bukan arah Ka’bah) gajah itu mau berjalan.

Hingga mereka memanaskan besi hingga menjadi bara kemudian ditusukkan ke tubuh gajah itu, namun gajah itu tetap tidak bergerak, maka semua gajah yang berada di belakangnya pun tidak mau bergerak karena pimpinannya tidak bergerak. Maka dalam keadaan itu, pasukan gajah diliputi kebingungan ketika itu terlihatlah dari kejauhan seperti awan yang hitam gelap berjalan menuju mereka, yang mana itu adalah rombongan burung ababil yang membawa batu-batu kerikil api dari neraka kemudian melemparkan batu-batu itu kepada semua pasukan gajah tersebut, sehingga semua pasukan dan gajah-gajah itu hancur dan binasa dan hanya tertinggal satu orang yang masih hidup, maka orang itu pun lari untuk menyelamatkan diri namun seekor burung tetap mengejarnya hingga ia sampai ke perkemahan penduduk Makkah, dengan terengah-engah dia berkata : “semua pasukan gajah telah binasa, tinggallah aku sendiri yang selamat”, lantas penduduk Makkah berkata : “apa yang menjadikan mereka binasa?”, ia menjawab : “kelompok burung yang mengikutiku membawa batu-batu seperti bara api kemudian melemparkannya kepada pasukan-pasukan gajah hingga mereka binasa”, penduduk Makkah kaget dan heran bagaimana hal itu terjadi, maka ketika itu satu burung yang masih mengikuti seorang prajurit gajah itu melemparkan batu api itu kepadanya hingga hancur leburlah ia bagaikan dedauan kering yang hancur dimakan ulat.

Allah subhanahu wata’ala ingin menunjukkan bahwa seperti itulah Allah menghancurkan pasukan-pasukan gajah itu, maka tidak ada kekuatan lagi bagi raja Habsyah untuk menghancurkan Ka’bah, karena Ka’bah akan tetap dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, dan di tahun itu pula kelahiran sayydina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disebut dengan ‘Aamul Fiil (Tahun Gajah), yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

 Dan ketika sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim sayyidah Aminah, beliau melihat cahaya juga keluar dari rahimnya hingga ia dapat melihat istana-istana Romawi yang berjarak 3 bulan perjalanan dari Makkah, bagaimana hal itu bisa terjadi?, sebagaimana kita ketahui jika cahaya proyektor saja bisa memperlihatkan gambar dari jarak yang jauh menjadi terlihat dekat, begitu juga siaran langsung di Televisi dari tempat yang jauh bahkan di luar negeri dapat terlihat di depan mata kita, yang mana hal itu disebabkan kekuatan cahaya yang diciptakan oleh manusia yang berupa alat-alat elektronik dan lainnya, maka terlebih lagi cahaya Allah subhanahu wata’ala yang diterbitkan dengan lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang membuat ibunya dapat melihat kerajaan Romawi yang terletak sangat jauh dari kota Makkah, sebagaimana telah berfirman subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (الأحزاب: 45-46 )
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al Ahzaab : 45-46)

Demikian hebatnya cahaya mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terlahir tanpa keluar setetes darah pun dan tanpa ada rasa sakit sedikit pun yang dirasakan oleh ibunya sayyidah Aminah. Setelah beberapa waktu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disusui oleh sayyidah Halimah As Sa’diyyah, dan ketika sayyidah Halimah membawa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke rumah beliau (perkampungan Bani Sa’ad), sayyidah Halimah berkata : “Tidak kami lewati pepohonan dan bebatuan kecuali mereka bersujud dan berkata : “Assalamu’alaika Ya Rasuulallah”. Demikian kemuliaan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang lahir dan tumbuh dalam keadaan yatim, namun beliau menjadi semulia-mulia makhluk karena Allah subhanahu wata’ala yang langsung mendidik beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau :

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
“ Tuhanku (Allah) Yang telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam makhluk yang paling mulia, paling baik, paling ramah dan menjadi lambang cinta bagi segenap manusia yang mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam tafsir Al Imam At Thabari, dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al Insaan, yang mana surat ini berisi tentang kenikmatan surga dan keindahannya, maka seorang hamba sahaya yang mendengarkan bacaan surat Al Insaan itu yang menjelaskan tentang kenikmatan-kenikmatan surga, berkata : 

“Wahai Rasulullah, apakah mataku ini kelak akan dapat memandang matamu di surga?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Na’am (Iya)”, maka hamba sahaya itu menangis terharu hingga ia terjatuh pingsan, karena dahsyatnya tangisan gembira sebab telah dijanjikan akan melihat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kelak di surga. Hamba sahaya itu tidak tergiur dengan kenikmatan dan keindahan yang ada di surga, namun yang di dambakan adalah setelah ia melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia apakah ia akan melihat kembali wajah beliau kelak di akhirat. Setelah beberapa waktu hamba sahaya itu wafat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanjakan jenazahnya, dimana beliau lah yang langsung turun ke lahad kubur dan menguburnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا ( الإنسان : 22 )
“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu disyukuri (diberi balasan).” ( QS. Al Insaan : 22 )

Melihat kejadian itu, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi hingga engkau mengucapkan hal itu?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamana kekuasaanNya, sungguh ruh jasad ini saat ini diberdirikan dihadapan Allah, dan Allah berkata : “ Wahai hambaKu, akan kujadikan wajahmu bercahaya”. Demikian keadaan orang-orang yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan keberuntungan terbesar bagi orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشْفِعٍ
“Saya pemimpin anak Adam di hari kiamat, dan orang pertama yang kuburnya terbelah (orang pertama yang dibangkitkan dari kubur di hari kiamat), dan orang pertama yang member syafaat dan yang dikabulkan syafa’atnya oleh Allah.”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Insyaallah acara Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tanggal 12 Rabi’ Al Awwal hari Ahad pagi di Monas, semoga acara ini sukses. Dan saya mohon kepada para Jamaah untuk hadir tepat waktu, karena dikhawatirkan banyaknya massa yang akan datang dari luar kota sehingga banyak dari mereka yang hadir dan datang lebih awal lalu menempati tempat-tempat yang di depan, seharusnya kita lah yang dari dalam Kota memberikan contoh kepada mereka yang datang dari luar kota bahwa kita datang tepat waktu.

Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan bagi kita semua, dan memberikan pemahaman yang luhur, taufik dan hidayah kepada kita untuk mengikuti tuntunan-tuntunan indah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semoga semua yang hadir langsung langsung di acara ini atau yang menyaksikan via streaming web majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga dilimpahi rahmat dan hidayah Allah subhanahu wata’ala dalam hari-harinya, semoga Allah melimpahkan kepada kita anugerah yang besar, dan mengangkat segala musibah dan kesulitan-kesulitan kita dan menggantikannya dengan rahmat dan segala kemudahan, amin allahumma amin…

Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ


sumber dari: fahmiahmad99.blogspot.com

Al-Fiil dan Kita Hari Ini






Inna lihadzihid da’wati rabban yahmiiha–Sesungguhnya dakwah ini milik Allah, maka Allahlah yang akan menjaganya. Tak ada kuasa kita untuk menjaganya. Kita teramat lemah dan tak berkekuatan. Inilah yang dapat kita pelajari dari merenungi surat Al-Fiil. Surat yang diturunkan pada periode Makkiyah itu menyadarkan kita kembali: Allah-lah yang akan menjaga dakwah ini.

Ketika Abrahah berencana menghancurkan Ka’bah karena mengusik rencananya mengalihkan perhatian dunia terhadap bangunan itu, seakan tak ada satupun yang mampu menghalangi ambisi politik dan kebudayaan Abrahah. Dzu Nafar, bangsawan dan penguasa Yaman yang berusaha menghalang-halangi gagal. Bahkan, dirinya jadi tawanan Abrahah. Tentu kisah yang menyertai penyerbuaan itu sangat panjang. Saya tidak akan mengisahkan kembali.

Penyerbuan itu sangat luar biasa, keji, dan penuh rasa jumawa. Kalkulasi manusiawi, Ka’bah pasti takluk dan mampu dilumatkan. Ya, tidak dulu, tidak juga sekarang, kita selalu yakin bahwa kalkulasi manusiawi kita lebih tepat dan presisi. Padahal, nyatanya, tidak sepenuhnya demikian. Begitu tribulasi dakwah mendera, para ‘pengamat’ selalu tampil amat pintar dan ilmiah. Mereka prediksikan dakwah pasti hancur tak bersisa. Para peragu pun menjadi bimbang dan beralih memperolok dan menyalah-nyalahkan, seolah-olah bersikap objektif. Kita lupa bahwa kepastian itu di atas kuasa Allah.

Seperti makar Abrahah yang lumat oleh kuasa Allah, begitulah kita berharap ada banyak pertolongan Allah atas kelemahan diri. Kita tak pernah tahu, ending dari semua peristiwa besar yang menimpa dakwah. Sama sekali tidak tahu. Kita hanya punya keyakinan: dakwah ini milik Allah, Dia pulalah yang akan menjaganya.

Mari kita selami kisah di surat Al Fiil, lalu temukan banyak inspirasi bersikap yang dapat diserap. Ada invasi Abrahah yang sangat pongah, ada ketakberdayaan bangsa Arab yang tergambar nyata, ada pengkhianatan Abu Righal yang menunjukkan arah Makkah pada Abrahah, ada kisah kewibawaan Abdul Muthallib, dan tentu kisah penghancuran pasukan gajah yang tak terprediksi sama sekali. Dan semua kisah itu Allah sampaikan pada periode Makkah, ketika mihnah dan ujian dakwah mendera para sahabat.

Ya, kisah Al Fiil menyertai seluruh makar orang-orang Quraisy atas diri kaum Muslimin. Ada siksaan dan penghinaan, hujatan yang mempermalukan, tuduhan gila yang terlontar semena-mena, dan sebagainya. Model permusuhan itu mungkin tidak akan sama, tapi kita meyakini di setiap zaman pasti ada. Saya kira termasuk hari ini.


sumber dari: matahati01.wordpress.com

Friday, 16 September 2011

Al-Fiil -kisahnya

Sedutan cerita Abrahah dari penceritaan ustaz:


Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut sebagai tahun Gajah kerana pada tahun itu telah datang pasukan tentera bergajah menyerang Kota Mekah. Selepas terjadinya peristiwa tersebut, junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW telah dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabiul-Awal tahun Gajah.

Tentera bergajah diketuai oleh Abrahah yang berasal dari Habasyah(Ethiopia). Abrahah sangat ditakuti oleh orang-orang Arab disebabkan kebengisan beliau. Beliau mempunyai sifat yang sungguh angkuh. Disebabkan dengkinya dengan Kaabah, beliau telah membina satu gereja yang begitu tinggi di Yaman yang dinamakan Qullais. Keinginan beliau tidak lain hanya ingin menarik perhatian manusia supaya beralih pergi ke Yaman.

Abrahah berharap Qullais dapat mengalahkan pengaruh Kaabah yang menjadi tumpuan di waktu itu. Seorang di antara kabilah Bani Fuqaim tidak dapat menahan amarahnya terhadap Abrahah. Dia telah mengambil langkah memakan julap. Secara diam-diam dia kemudiannya masuk ke dalam Qullais lalu membuang air besar di dalamnya dan mengotori bahagian penting bangunan itu dengan najis. Ketika Abrahah mendengar peristiwa itu dia menjadi amat marah di mana perasaan dendamnya terhadap Kaabah jadi semakin menebal. Abrahah lalu bersumpah akan menghancurkan Kaabah.

Beliau terus menyiapkan sebuah pasukan besar dengan membawa ratusan ekor gajah lalu berangkat sendiri memimpin pasukannya menuju ke Mekah. Sepanjang laluan ke Mekah, Abrahah telah bertindak memusnahkankan setiap perkampungan yang ditempuhi. Seluruh masyarakat Arab jadi takut dan cuba melarikan diri dari terserempak dengan laluan Abrahah yang sedang mara ke Kota Mekah. Jelas betapa jahatnya Abrahah ketika itu.


Ada soalan yang timbul:

"Kenapa Abrahah bawa gajah, bukan bawa kuda untuk serang Kota Mekah?"

Jawapannya, Abrahah ini jenis orang yang bersikap takabbur dan angkuh. Beliau ingin tunjukkan kepada masyarakat Arab tentang konon betapa kuat dan hebatnya beliau.

Apabila sampai ke satu tempat di luar kota Mekah, ketika beliau sedang berehat disuruhnya beberapa orang pergi ke Kota Mekah untuk memberitahu penduduk Mekah akan kemaraan mereka ke sana. Tapi sebahagian dari orang2 tersebut tidak mendengar kata sebaliknya bila sampai di Mekah telah mencuri dan merompak harta orang-orang Mekah termasuklah kambing kepunyaan Abdul Mutalib salah seorang darinya.

Abdul Mutalib lalu pergi berjumpa Abrahah untuk meminta dipulangkan kembali kambingnya. Sebaliknya Abrahah dengan bongkaknya telah bertanya balik apakah Abdul Mutalib tidak merasa gerun dan takut terhadap keinginannya yang akan cuba membinasakan kaabah. Abdul Mutalib menjawab, "...kambing itu memang kepunyaanku tetapi Kaabah itu ada tuannya... Pemiliknya ialah Allah..." Jelas menunjukkan betapa kuatnya hati Abdul Mutalib yang berani mengatakan ini kepada Abrahah yang terkenal bengis.

Abrahah dengan angkuhnya lalu meneruskan misi menyerang kota Mekah dengan tentera bergajahnya. Dia merasakan dia lah yang paling kuat tetapi Allah telah mengatakan pada orang yang baca surah Al-Fiil:


Allah telah datangkan kepada mereka burung2 yang berpuak-puak. Kalau kita fikir logik, tentu lah Allah akan hantar haiwan yang lebih besar dari gajah sebagai contoh: Dinasour umpamanya...

Sebaliknya Allah utuskan berpuak2 burung untuk tewaskan tentera bergajah. Ini pengajaran terhadap sifat bongkak Abrahah bila Allah hantar burung-burung untuk tewaskan gajah yang bersaiz besar.
Jelas bahawa barangsiapa yang tawadduk, maka dia akan ditinggikan oleh Allah, sebaliknya barangsiapa yang merasa dirinya takabbur, maka mereka akan direndahkan oleh Allah Taala.

Setiap burung itu membawa tiga biji batu. Dibalingnya ke atas mereka batu2 itu yang berasal dari neraka. Burung itupun semestinya bukan sebarang jenis burung. Tidak ada seorangpun yang tersisa dari buruan burung-burung tersebut. Apabila dilontar batu pada tentera bergajah maka menjadilah mereka seperti daun2 yang dimakan ulat.