Showing posts with label Al-Ahzab. Show all posts
Showing posts with label Al-Ahzab. Show all posts

Friday, 7 March 2014

Jiwa yang Mulia




1296529620611752158


Kita mengetahui bahwa kita sebagai manusia mempunyai komposisi ruhani dan bahwa Alloh SWT telah meniupkannya ruh-Nya ke dalam diri kita. Hakikat ruh itu sendiri tidak penting bagi kita. Karena Alloh SWT telah memerintahkan Rosul SAW agar menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya tentang ruh dengan jawab bahwa ruh adalah urusan Alloh SWT. Tidak diragukan lagi bahwa ruh merupakan unsur yang agung dan mulia karena merupakan urusan Alloh SWT. Tidak diragukan lagi bahwa ruh berada di alam metafisik, yang berada di luar ruang lingkup hukum-hukum alam. Ia berada di alam yang seluruhnya berisi cahaya dan sinar terang, semuanya jernih, tetapi ketika Al Qur’an yang mulia menyebutkan jiwa manusia, maka ia menyebutkan sifat-sifatnya.  

“Dan Kami telah menunjukkan dua jalan kepadanya.” (QS. Al Balad:10) 

“ Dan demi jiwa serta penyempurnaananya, maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” (QS. Asy-Syams: 7-8)

Jiwa manusia semata adalah jiwa yang diberi hak memilih. Ia dapat melakukan kebaikan dan keburukan. Ia mampu berbuat baik sebagaimana pula mampu berbuat buruk. Alloh SWT telah membuat berbagai sarana yang dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk kebaikan, jika ia berorientasi kepadanya. Namun ia dapat pula digunakan untuk tujuan kejahatan jika ia berorientasi kepadanya. Inilah rahasia Alloh SWT, Robb Yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur.
Sesungguhnya kita dapat melakukan perbuatan baik dan perbuatan buru, dan kita mampu membedakan antara keduanya. Rahasia pemberian Alloh ini selalu siap untuk ditingkatkan keilmuannya sampai pada puncak batas kemungkinan. Kita bukan malaikat yang seluruh hidupnya sarat dengan kebaikan, namun kita juga bukan setan yang seluruh hidup kita penuh dengan keburukan. Dengan kebijaksanaan Alloh SWT, kita dapay mengisi hidup kita dengan keduanya. Jadi, jiwa kemanusiaan kita memiliki batas-batas yang luas dan karakter yang elastis, yang dapat menerima kebaikan sebagaimana pula dapat menerima kejahatan.

Meskipun jiwa manusia dinilai sangat tinggi oleh Al Qur’an, sekalipun jiwa manusia mempunyai ilmu dan keutamaan, dan sekalipun ia bercahaya dan cemerlang, namun manusia tidak disebut di dalam Al Qur’an dengan gambaran bahwa ia memiliki kecenderungan kepada keburukan.

“ Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan bodoh.” (QS. Al Ahzab: 72)

“ Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (QS. Al A’adiyat: 6)

“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al ‘Ashr: 1-2)

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Al Ma’arij: 19-21)

Hal ini semua disebabkan oleh kenyataan bahwa jiwa manusia yang menempati badan, sedangkan dengan kedudukan yang diberikan Alloh SWT itu, ia lupa dan bodoh, sehingga ia terpola dengan karakter bejana dan wadah yang ditempatinya. Ia terpola dengan kecenderungan materi dan karakteristik-karakteristiknya. Tidak ini saja, bahkan setan telah menguasainya. Setan akan terus menguasai dan memikatnya.

Jiwa manusia akan menjadi mulia jika jiwa itu melakukan amal sholih, sehingga martabatnya akan tinggi dihadapan manusia dan Alloh SWT.  

“ Sesungguhnya manusia benar-benar rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan amal sholih.” (QS. Al ‘Ashr: 2-3). 

““Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat. Yaitu mereka yang terus menerus mengerjakan sholatnya.” (QS. Al Ma’arij: 19-23)


12965293461944782258


Jadi untuk mengatasi karat keburukan dan kemaksiatan dalam jiwa kita diperlukan pembersih noda. Di sana ada perjuangan yang harus dilakukan terus menerus. Alloh SWT tidak akan membiarkan kita sia-sia. Sebaliknya Alloh SWT mengirimkan para rasul yang membawa kita sehingga ruh dapat dijaga kesuciannya dan orientasi kita kepada Alloh SWT terus lestari dan subur, berkat karunia dan petunjuk Alloh SWT. Al Qur’an telah mengisyaratkan bahwa jiwa manusia dalam perjuangan ini mengalami beberapa tahapan dan peringkat. Maka, rutinkanlah hubungan kita dengan Alloh SWT, rutinkanlah zikir kita, rutinkanlah ketaatan kita kepada Alloh SWT, dan kuatkan perhatian kita kepada Alloh SWT. Inilah pelarut karat yang dapat mencemerlangkan jiwa kita manakal ia jatuh ke kubangan kemaksiatan dan keburukan.  

“ Dan aku tidak menganggap bahwa diriku terbebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu meyuruh kepada kejahatan…” (QS. Yusuf: 53).

Terakhir saya ingin mengingatkan diri saya khususnya, dan kita semua yang membaca tulisan ini dengan firman Alloh SWT yang berbunyi,  

“ Dan orang-orang berjihad untuk mencari keridhoan-Ku, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut: 69)

Marilah kita bermujahadah (bersungguh-sungguh) meningkatkan kemuliaan jiwa kita di sisi Alloh SWT dengan amal sholih dan iman kepada-Nya.

Wallahu A’lam



sumber dari: http://agama.kompasiana.com/

Thursday, 27 February 2014

TENTARA-TENTARA ALLOH SWT




Saudaraku, waspadalah akan tentara pemusnah masal yang siap Alloh SWT kirimkan kepada hamba yang melanggar aturan-Nya. Tentara itu tidak pandang bulu, ia tidak hanya akan menyerang orang yang bermaksiat, namun juga akan menyerang orang mukmin yang membiarkan saudaranya bergelimang dalam maksiat.

Layaknya seekor nyamuk yang menggigit kita, maka yang kita lakukan bukan hanya memburu nyamuk yang bersalah itu, namun nyamuk lain yang tak bersalahpun kita buru.

ANGIN TOPAN
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ahzab : 6)
 
GUNTUR & PETIR
Jika mereka berpaling maka katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud." (QS. Fushilat : 13)
 
 GUNUNG BERAPI & LAHAR
“dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,” (QS. Al-Mursalat: 10)

 
TSUNAMI
Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qoshosh: 40)

 
API
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.
(QS. Az-Zumar: 16)

 
BADAI
“atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (QS. Al-Mulk: 17)

 

GEMPA BUMI
“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,” (QS. Al-A`rof: 91)

 

HUJAN BATU METEOR
Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.
(QS. An-Naml: 58)

 
BANJIR
Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.
(QS. Al-Mu`minuun: 41)



TANAH & LONGSOR
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
(QS. Al-Qoshosh: 81)

 

Untuk itu, marilah kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita untuk senantiasa berbakti kepada Alloh Yang Maha Suci dan berusaha meninggalkan kemaksiatan yang selama ini kita perbuat kepada-nya,

Sebagaimana firman Alloh SWT: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
(QS. At-Tahrim: 6)

WALLOHU`ALAM BISSHOWAB


sumber dari: laatakhof.blogspot.com

Saturday, 4 January 2014

Divorce may be pronounced twice







In order to understand the commandments of this Surah, it would be useful to refresh one's memory about the instructions which have been given in the Qur'an concerning divorce and the waiting period (Iddat) above.

"Divorce may be pronounced twice; then the wife may either be kept back in fairness or allowed to separate in fairness." (Al Baqarah 229)

"And the divorced women (after the pronouncement of the divorce) must wait for three monthly courses... and their husbands are fully entitled to take them back (as their wives) during this waiting period, if they desire reconciliation." (Al Baqarah 228)

"Then, if the husband divorces his wife (for the third time), she shall not remain lawful for him after this divorce, unless she marries another husband..." (Al-Baqarah : 230)

"When you marry the believing women, and then divorce them before you have touched them, they do not have to fulfill a waiting period, the completion of which you may demand of them." (Al-Ahzab : 49)

"And if those of you who die, leave wives behind, the women should abstain (from marriage) for four months and ten days." (Al-Baqarah 234)

The rules prescribed in these verses were as follows:

1.                   A man can pronounce at the most three divorces on his wife.
2.                   In case the husband has pronounced one or two divorces he is entitled to keep the woman back as wife within the waiting period and if after the expiry of the waiting period the two desire to re-marry, they can re- marry there is no condition of legalization (tahlil). But if the husband has pronounced three divorces, he forfeits his right to keep her as his wife within the waiting. period, and they cannot re-marry unless the woman re-marries another husband and he subsequently divorces her of his own free will.
3.                   The waiting period of the woman, who menstruates and marriage with whom has been consummated, is that she should pass three monthly courses. The waiting period in case of one or two divorces is that the woman is still the legal wife of the husband and he can keep her back as his wife within the waiting period. But if the husband has pronounced three divorces, this waiting period cannot be taken advantage of for the purpose of reconciliation, but it is only meant to restrain the woman from re-marrying another person before it comes to an end.
4.                   There is no waiting. period for the woman, marriage with whom has not been consummated, and who is divorced even before she is touched. She can re-marry, if she likes, immediately after the divorce.
5.                   The waiting period of the woman whose husband dies, is four months and ten days.

Here, one should understand well that Surah At- Talaq was not sent down to annul any of these rules or amend it, but it was sent down for two purposes;

First, that the man who has been given the right to pronounce divorce should be taught such judicious methods of using this right as do not lead to separation, as far as possible however, if separation does take place, it should only be in case all possibilities of mutual reconciliation have been exhausted. For in the Divine Law provision for divorce has been made only as an unavoidable necessity; otherwise Allah does not approve that the marriage relationship that has been established between a man and a woman should ever break. The Holy Prophet (upon whom be Allah's peace) has said "Allah has not made lawful anything more hateful in His sight than divorce." (Abu Daud). And: "Of all the things permitted by the Law, the most hateful in the sight of Allah is the divorce, (Abu Daud)


The second object was to complement this section of the family law of Islam by supplying answers to the questions that had remained after the revelation of the commandments in Surah Al-Baqarah. So, answers have been supplied to the following questions:What would be the waiting period of the women, marriage with whom has been consummated and who no longer menstruate, or those who have not yet menstruated, in case they are divorced?What would be the waiting period of the woman, who is pregnant, or the woman whose husband dies, if she is divorced?And what arrangements would be made for the maintenance and lodging of the different categories of divorced women, and for the fosterage of the child whose parents have separated on account of a divorce? 



sumber dari: saracenic.com

Friday, 3 January 2014

The Prophet (Saas) Reminded People of Death




hell


  Dying is one of the foremost fears of those who doubt or do not believe in the hereafter. Since they believe that death will mean the end of everything, they therefore cling desperately to this world. Yet, everyone will die at the moment decreed for him by Allah, and there is no means of escape from it. The Prophet (saas) also told people that there was nothing to be gained by trying to avoid death, and called on them instead to consider their real life, which comes after.

Say: "Flight will not benefit you if you try to run away from death or being killed. Then you will only enjoy a short respite." (Surat al-Ahzab: 16)


Say: "You have a promised appointment on a Day which you cannot delay or advance a single hour." (Surah Saba': 30)

Who is better:someone who founds his building on heeding and pleasing Allah,or someone who founds his building on the brink of a curumbling precipice so that it collapses with him into the fire of hell?Allah does not love wrongdoers.
(Surat at-Tawba: 109)



sumber dari: harunyahya.com

Friday, 2 August 2013

Why Do Muslim Women Cover Up




Bismillah ar-rahmaan ar-rahim. In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

Many people, including a large of number of Muslims themselves, find it `oppressive’ and an infringement of their human rights to be told that Muslim women have to cover themselves, revealing only their faces and hands. Many say that we need to reinterpret the holy Quran in the `modern’ light of today’s globalised world. In many ways, `modern’ may mean `without divine guidance’ as many so called `modern’ ways is a result of man’s vain desires (nafs) as they often contradict God given laws.

A Muslim is someone who submits to the will of God. Allah SWT revealed an important verse to our holy Prophet Muhammad SAW. We can find this verse in Al-Quran which states that:


“They (the believing women) should draw their head coverings over their bosoms”. (Surah An-Nur, 24:31)

Al-Quran is divine guidance for all mankind till the end of the world. It is suitable for all times. It is not only contemporary but is actually far more advanced as proven by scientific discoveries of today. Awareness of our spiritual rights and obligations liberates us of the shackles of negative man-made expectations, which fog our minds and divert us from the true path to salvation. It may be a little difficult for some Muslims to cover their aurat because of the influence and approval of the so-called `modern’ world, which constantly demands they to look their `best’.

It is a competitive world out there. There is a subconscious need to be accepted and respected and even admired, by others. This is very much the nature or fitrah of man.
“O Prophet! Tell your wives and daughters and the believing women that they should put their outer garments; that is most convenient in order that they should be recognized (as Muslims) and not be molested. (Surah Al-Ahzaab 33:59)

We are ambassadors of Islam and we should take our responsibility as vicegerent of this world seriously. After all, we will have to present our book of records to the Creator on the Judgement day. We are being observed in all that we do as we go about in society. Our appearance and behaviour tells people much about Islam – do our best at all times as an Ibadah. This is liberation and an expression of our identity. Putting on the hijab (veil/scarf) provides a message that a Muslim’s privacy should not be violated. This tells people around her to know her as a person rather than as a decorated object that is always trying hard to please others. This is liberation. A Muslima is no exhibitionist or is she an exhibit. She is an honoured mother, wife, daughter and our sister in Islam.


sumber dari: firdausnurul.blogspot.com

Tuesday, 30 July 2013

Spiritual Assistance to get Married


















1. Suratu Taha – To be worn as tawidh. Recite on water and drink
2. Suratul Ahzab
3. Suratul Mumtahana 5x every day.
4. Aya 36 of Suratu Yasin 11x after SalatutTahajjud for 40 days
5. Dua Al-Mashlool for 40 days
6. Recite the following dua after giving sadaqa
O Causer of Causes; O He Who opens the doors of (opportunities); O He Who answers to the call from wherever (He is called).
7. Recite the following dua 100x for 40 days after any wajib salaa.
Make easy (my difficulty) by Your super-abundant favours, O the Mighty.
8. The father to recite 2 rakat salaa on Friday after Salatul Jumua’ and after the salaam go into Sajda and recite Suratul Muzzammil 21x.

Adapted from the book: "Nikah & Beyond" by: "qfatima.com"


sumber dari: rafed.net

Monday, 15 July 2013

Submission to Destiny




You should be aware that you are in a state of unconditional submission to your own destiny. No power other than Allah can alter this. Everything that you have experienced or will experience in future is set out in the Sight of Allah, and you have no control over your future. This book will leave your hands in a while, wrinkles will appear on your face in a few years’ time, and all the details of a film you will watch 15 years from now are all included in the knowledge of Allah. The people you will meet, how much money you will earn, which illnesses you will suffer, what you will rejoice over and how and where you will die—all this has already taken place in your own destiny.

The only reason why you do not know these things is that they are not yet in your memory.
Grieving over something that happens, therefore, wondering “Why did it happen like that?”, harboring sorrow and regret and starting with the words “If only . . . ,” and becoming angry, greedy or impatient—all these actions are needless and meaningless. That is because all events that give rise to sorrow or anger are under the control of Allah. It is Allah Who creates all of these within a person’s destiny, and there can be no question of any other possibility outside a person’s destiny.

If someone has a traffic accident after turning into the wrong street, it is meaningless to complain about his mistake. Even if he could have his time over again, he would still turn into the wrong street and still have that accident. Saying things like, “If only I had my life to live over” are pointless and stem from a failure to understand this fact. Similarly, it is no solution for someone whose wallet is stolen to say, “If only I hadn’t gone into that shop,” or “If only I had kept my money in my pocket.” That person had no alternative but to go into that shop, carry money in his wallet and have it stolen. That person’s destiny has been created to go into a particular place at a particular time and for the money to be stolen. Even if he were to go back in time a thousand times, the money would still be stolen a thousand times.

A happy event or a success achieved are also in the individual’s destiny. Those successes and moments of joy will inevitably be experienced, because they are appointed in destiny.
Some people are reluctant to accept this insight. Roger Penrose describes them:
I think the trouble that people have with this idea is that you think the future is under your control, to some degree. And so, this means that if the future’s laid out, then in a sense it’s not under your control.148
Since most people wish to be in control of their own lives, they reject the fact of destiny. Yet they fall into a serious error by doing so, because whether or not they wish to, whether they admit the fact or not, people live their own destinies. People’s very denial is also appointed in their destiny!

If Allah afflicts you with harm, no one can remove it except Him. If He desires good for you, no one can avert His favor. He bestows it on whichever of His slaves He wills. He is Ever-Forgiving, Most Merciful. (Surah Yunus, 107)

. . . Allah’s command is a pre-ordained decree. (Surat al-Ahzab, 38)


manzara

It will be useful to recall that living in submission to one’s destiny is a great blessing and brings great peace of mind. People experience great panic and distress if they think that events are actually under their own control. They then imagine that every event in the future will be their own responsibility, and they feel the weight of every event on their own shoulders. They feel that they must resolve all difficulties on their own. Unable to see the auspicious side of the functioning of events, they experience great distress in the face of events. They grow proud in the face of the triumphs they achieve, which feeling may result in serious harm in this world and in the Hereafter. The difficulties they experience, on the other hand, lead to increasing pessimism, emptiness and stress.

But knowing that every event takes place within a destiny determined by Allah and believing that all events are created for good is one of the greatest blessings a person can enjoy. Living in submission to the destiny appointed by Allah means accepting His will and voluntarily submitting to every event determined by Him. People will then be freed from the feeling that events are under their control, will feel rid of troubles, will know that they are living events that are already over and done with, and will enjoy the peace of mind that this imparts. Submission to destiny is a great blessing for anyone who knows that all things are created to be auspicious. Even events that may appear to be troubles or difficulties are in fact positive and eventually result in great good.

When considering the concept of destiny, some people take the fact that everything is predetermined to imagine that there is no need for them to do anything. Yet this is a major distortion of the concept of destiny. True, everything we experience is determined in our destinies—before we experience them, those events have already taken place in the Sight of Allah and all its details are written down in the Lawh al-Mahfuz (the Preserved Tablet) in His Sight.

However, Allah gives every human being the feeling that they are able to alter events and act in accordance with their own decisions and choices. When one is thirsty, for example, one does not sit down and wait, saying,“I will have a drink—if that is in my destiny.” One gets up, takes a glass and drinks. In fact, of course, one drinks the amount of water determined in one’s destiny. But one nevertheless feels that one is doing this in accord with one’s own wish. That feeling is experienced in everything we do throughout our lives. The difference is that someone who has submitted to the destiny created by Allah knows that despite the feeling he does things of his own accord, he actually performs them by the will of Allah. Others who have failed to grasp this fact mistakenly imagine that they do everything with their own intelligence and strength.

For example, a submitted person who learns that he has contracted a disease will be resigned, since he knows that this is his destiny. He will say, “Since Allah has created this in my destiny, there must be an auspicious element to it.” He will not sit back and do nothing saying “If I am destined to recover, I will.” On the contrary, he will take all the requisite precautions. He will go to the doctor, be careful what he eats and take medicine. However, he will not forget that the doctor he visits, the treatment administered, the drugs he takes, and how effective these will be—in short, every single detail—are all in his destiny. He knows that all these events were already in the memory of Allah, long before he ever came into the world.
Allah has revealed this in verses:

It is He Who created you from clay and then decreed a fixed term, and another fixed term is specified with Him. Yet you still have doubts! (Surat al-An‘am, 2)

. . . Allah’s command is a pre-ordained decree. (Surat al-Ahzab, 38)

Not just human beings have a destiny in the Sight of Allah, but the Sun, the Moon, mountains, trees and all things and entities. A centuries-old antique vase that is broken, for example, breaks at the moment appointed in its destiny. The people who would use this vase, where it would stand in which home, and what other objects would be standing alongside it were all determined at the moment it was manufactured.

Every pattern on it and all its colors were determined beforehand in its destiny. The day, hour and minute when it would be broken, and by whom and how, already exist in the memory of Allah. In fact, the moment that the vase was first made, the moment it was placed in the shop window, the moment it was placed in its new home and the moment it was broken—in short, every moment in the life of that vase lasting several hundred years—all exist as a single moment in the Sight of Allah. Although the person who broke the vase was totally unaware of that event even a few seconds beforehand, that moment had already happened and was known in the Sight of Allah. That is why Allah tells us not to be saddened by what befalls us. That is because what happens is part of one’s destiny, and human beings have no power to change this. However, people must still learn from destined events and, by seeing the wisdom and goodness in them, turn to our Lord, Who creates their destinies and Who is infinitely Merciful, Affectionate and Just, and Who preserves and protects His servants.

The form people assume while still an embryo, their state when they first learn to read and write and the fitness they display on their 35th birthday and when they retire are already determined in the book in the Sight of Allah. Human beings can neither experience nor do anything that is not appointed in their destiny. People heedless of this major truth spend their lives in a state of anxiety and fear.

For example, they constantly worry about their children’s futures, which school they will attend, what jobs they will have, their state of health and the kind of lives they will lead. In fact, however, everything from a person’s existence as a single cell to the time when they first learn to read and write, from the answers they give in exams to what job they will do in which company, how many times they will sign their names, and how and where they will die—everything is predetermined in the Sight of Allah. All these events lie concealed in the memory of Allah. For example, people’s state at this precise moment, as a fetus, in primary school, at university, first day at the office, when they celebrate their 35th birthday, when they see the angels at the time of their death, when they are buried by their relatives and the moments when they account for themselves in the Hereafter—all exist as a single moment in His Sight.
hayat şeridi

Those who sincerely submit to Allah may hope to attain His approval, mercy and Paradise, and will live in peace and happiness in both this world and the Hereafter. For someone who has submitted to Allah and who knows that the destiny created by Him is the most auspicious for them, there is nothing to fear, or regret or sorrow over. Such people will make genuine efforts, but will know that these are all in their destiny, and that they have no power to change what is written in their destiny, no matter what they may do.

A believer will submit to the destiny created by Allah, will embrace, as much as he can, the events he encounters, will take precautionary measures and seek to turn all events in an auspicious direction, but will live in the awareness and ease imparted by knowing that they all take place within his destiny and that Allah has already determined them in the most auspicious form.

In the Qur’an, Allah refers to a precaution taken by the Prophet Yaqub (as) for the security of his children. In order that they should not attract the attention of evilly disposed persons, the Prophet Yaqub (as) recommended that his sons enter the city by separate gates, but also reminded them that this could never alter the destiny appointed by Allah:

He [Jaqub] said, “My sons! You must not enter through a single gate. Go in through different gates. But I cannot save you from Allah at all, for judgment comes from no one but Allah. In Him I put my trust, and let all those who put their trust, put it in Him alone.” (Surah Yusuf, 67)

Allah reveals in another verse that no matter what they may do, people cannot change their destinies:

Then He sent down to you, after the distress, security, restful sleep overtaking a group of you, whereas another group became prey to anxious thoughts, thinking other than the truth about Allah—thoughts belonging to the Time of Ignorance—saying, “Do we have any say in the affair at all?”’ Say, “The affair belongs entirely to Allah.” They are concealing things inside themselves which they do not disclose to you, saying, “If we had only had a say in the affair, none of us would have been killed here in this place.” Say, “Even if you had been inside your homes, those people for whom killing was decreed would have gone out to their place of death.” So that Allah might test what is in your breasts and purge what is in your hearts. Allah knows the contents of your hearts. (Surah Al ‘Imran, 154)

As can be seen from this verse, even if people avoid an auspicious, religious observance in order to save their lives, they will still die if that is what is written in their destiny. The methods to which such a person will resort in order to avoid death are also determined in that destiny, and everyone will experience what has been determined for them.

In this verse, Allah also states that the events created in people’s destinies are intended to test them and cleanse their hearts. In Surah Fatir, it is revealed that everyone’s life span is determined in the Sight of Allah:

Allah created you from dust and then from a drop of sperm and then made you into pairs. No female becomes pregnant or gives birth except with His knowledge. And no living thing lives long or has its life cut short without that being in a Book. That is easy for Allah. (Surah Fatir, 11)

manzara

The following verses from Surat al-Qamar reveal that everything a person does has been written line by line and relate the events experienced by the people of Paradise as events which have already occurred. As has already been stated, the true life in Paradise is the future for us. However, the discourse, experiences and banquets in Paradise are all present in the memory of Allah. The future of all people in this world and in the Hereafter have taken place in a moment in the Sight of Allah before we are even born and are preserved in His memory:

Everything they did is in the Books. Everything is recorded, big or small. The people who guard against evil are amid Gardens and Rivers, on seats of honor in the presence of an All-Powerful King. (Surat al-Qamar, 52-55)

In some verses of the Qur’an, Allah refers to some events which lie in the future for us, but which have already taken place in His Sight. For example, certain verses revealing that people will have to account for themselves to Allah in the Hereafter relate those events as already over and done with:

The Trumpet is blown, and those in the heavens and those in the Earth all lose consciousness, except those Allah wills. Then it is blown a second time and at once they are standing upright, looking on. And the Earth shines with the Pure Light of its Lord; the Book is put in place; the Prophets and witnesses are brought; it is decided between them with the truth . . . (Surat az-Zumar, 68-69)

Those who disbelieve are driven to Hell in companies . . . (Surat az-Zumar, 71)

And those who have fear of their Lord are driven to the Garden in companies . . . (Surat az-Zumar, 73)

Other verses on the same subject read:

[On that Day,] every self came together with a driver and a witness. (Surah Qaf, 21)

And Heaven is split apart, for that Day it is very frail. (Surat al-Haqqa, 16)

And [He] rewarded them for their steadfastness with a Garden and with silk. Reclining in it on couches, they experienced there neither burning sun nor bitter cold. (Surat al-Insan, 12-13)

And the Blazing Fire is displayed for all who can see. (Surat an-Nazi‘at, 36)

So today those who believe laugh at the disbelievers. (Surat al-Mutaffifin, 34)

The evildoers saw the Fire and realized they had to fall into it and found no way of escaping from it. (Surat al-Kahf, 53)


sumber dari: harunyahya.com

The Existence of Destiny and the Scientific Evidence




. . . Allah’s command is a pre-ordained decree. (Surat al-Ahzab, 49)

If all events are created in a single moment and if we observe these only within our perception of time, then we must conclude that there is a Creator Who knows all these events from the very beginning, Who is not subject to time, Who sees these things as we experience them and Who therefore created them.

This Creator, Who creates for us images, sounds and tastes—in short, the external world, as well as the perception of time—must be aware of the circumstances and existence of all that He has created, and must observe them at all moments. This Great Creator, Who causes us to perceive all these things and reveals them to our minds, must keep them under His control at all times. Allah, Lord of the worlds, the Sublime and Almighty, is the Creator of all things. The fact that He knows and creates the condition of all things shows us the fact of destiny.


ayçiçeği

Almighty Allah is He Who creates images, sounds, tastes, in short the whole external world and the perception of time for us, and Who knows all the entities He has created, and all their situations. Everything is under His control. Allah’s creation and knowledge of the status of all things reveals to us the fact of destiny.

A period of time lasting billions of years for us is but a “single moment” in the Sight of Allah. Something that for us will take place in the future is already over and done with in the Sight of Allah. We observe the future within the concept of time that we perceive. The fact is, however, that anything we need to wait for already exists in the Sight of Allah. All events that will take place in the future have already done so in the dimension of timelessness.

In the Sight of Allah, everything from the moment of the creation of the universe to the Last Day, when the universe will come to an end, is already over and finished with. One main reason why people are unable to understand this concept properly is that they are unaware of it. The fact is that events “that have not yet taken place” have simply not yet been experienced within our perceptual world.

Allah is unfettered by time and space. He creates time and space out of nothing. He has no need to wait in order to see the result of an event. Its beginning and end all take place in a single moment in His sight. The past and present are all laid out before Him and develop in the manner determined by Him.
time
In the sight of Allah, everything, from the moment of the creation of the universe right up to the Last Day when the universe will come to an end, has already taken place and is over and done with. Allah is unfettered by space and time. He is the Creator of space and time. All events are but “a single moment” in His sight. Past and future are always ready formed before Him and take place as determined by Him.

Dr. Jim al-Khalili described this fact during a program broadcast on BBC radio:
If you take this block of 4-D space/time literally, it means you have to abandon free will. It means not only is the future pre-ordained, but it’s already there, it’s already happened. There’s no point in making any decisions, whatever you do has already happened. If I choose to drop this stone into a pond, I think of it being my own free choice. But of course in 4-D space/time, I had no choice in dropping the stone; the splash is already there in the future, and so we lose all free will.145
Roger Penrose, a guest on the same program, drew the following conclusion from the data provided:
So this means that in a sense, the present, past and future are out there, and that also gives us a very deterministic view of the world. We have no control of what happens in the future because it’s all laid out.146
A human being witnesses the destiny determined for him throughout the course of his life. Every moment in the lives of everyone who has ever lived, and who will ever live in the future are all previously experienced in the Sight of Allah. All events written in the destinies of all things, not just human beings, but the animals, plants, planets and other entities—all exist in His “memory,” constantly and permanently. The workings of destiny is one of the manifestations of Allah’s name of Al-Hafeedh (the Preserver, the Guardian) and of His infinite might and greatness.

Fred Alan Wolf describes how someone’s past and future have been determined long beforehand:
Although a history depends on our observations of both the starting and finishing events, we remember the history as if we were aware of it while it was taking place.
In other words, we seem to “live” the history as it happens. We make it a “living” story. We live in a river of time in which the source of the river (our past) and its final destination ahead of us (our future) already exist.147
İnsan sürekli olarak kendisini yaratan Allah'ın kontrolündedir ve O'nun kendisi için belirlediklerini yapmaktadır. Allah, bu gerçeği ayetinde şu şekilde bildirir:

A person is constantly under the control of Allah, our Creator, and does what He has determined for him. Allah reveals this fact in a verse:

Nothing occurs, either in the Earth or in yourselves, without its being in a Book before We make it happen. That is something easy for Allah. (Surat al-Hadid, 22)


sumber dari: harunyahya.com

Sunday, 14 July 2013

Situations That May Require Self-Sacrifice




Allah created this life to test human beings with good and evil. For this reason, people may encounter sudden unexpected and disorientating events in which only belief can enable them to maintain a good moral character and adhere to the Qur'an's moral teachings. Their fear and respect of Allah, as well as their deep belief, allow them to react in the most appropriate way when confronted with unexpected and entirely new events.

Basically, people can demonstrate self-sacrificial behavior under certain circumstances even without such belief. For example, if they think that they can gain respect in the eyes of others or that some advantage will accrue from it, they will engage in self-sacrificial behavior. But they cannot display such a moral character if some adversity happens to them suddenly and without warning. .

In such unexpected situations, believers are happy and more than willing to sacrifice themselves without a second thought. In the days of our Prophet (saas), he and his Companions were shining examples of the self-sacrificial moral character that comes from sincere belief.

Without regard for their lives or their possessions, they were determined to die in order to win Allah's approval when some people, mostly deniers, showed great enmity toward believers.

When required, they were prepared to leave behind their homes, families, work, possessions, respect, and all the other worldly blessings to ensure the believers' comfort, contentment, security, and overall well-being. Putting our Prophet's (saas) security above their own lives, they became examples to all people, regardless of time or location, of superior moral character. In the Qur'an Allah tells us of the believers' faithfulness toward our Prophet (saas) and their self-sacrificial moral character:

The Prophet is closer to the believers than their own selves. . 
(Surat Al-Ahzab, 6)

Islamic scholars have passed down many such examples of the early Muslims' determination, courage, patience, and self-sacrificial actions done solely to win Allah's approval and mercy and attain Paradise. Living in a non-Islamic society, the Companions risked everything and believed in Muhammad (saas) as His Prophet, despite the unbelievers' oppression and threats. At that time, the powerful and respected members of the Meccan community applied great pressure to make the believers recant and return to their ancestral idolatry. Many sincere believers were determined to resist in order to win Allah's approval. Some of them were maimed by torture, had their hands and feet cut off, or even died. But none of them recanted. On the contrary, this oppression caused them to become more resolute, more self-sacrificial, and more eager to spread the Qur'an's morality. They may have been wounded in battles, but even this did not daunt them; rather, they accepted it as a blessing and a great honor. Their excellent moral character is described in the Qur’an: :

Many a prophet has been fought when there were many thousands with him. They did not give up in the face of what assailed them in the way of Allah, nor did they weaken or yield. Allah loves the steadfast. All they said was: "Our Lord, forgive us our wrong actions and any excesses that we went to in what we did. Make our feet firm and help us against these unbelieving people." So Allah gave them the reward of this world and the best reward of the Hereafter. Allah loves good-doers. (Surah Al 'Imran: 146-48)

Allah tells us in another verse that the Companions knew that all of these things drew them close to Allah and were important opportunities to attain Paradise: 

"Nor will they give away any amount, whether large or small, nor will they cross any valley without it being written down for them so that Allah can recompense them for the best of what they did" (Surat at-Tawba: 121).

Since it was an act of worship performed to win Allah's approval, believers knew the joy of returning wounded from a battle and the excitement of joining another. At a time when the hypocrites, those who have diseased hearts, hold back in fear of being wounded, sincere believers are prepared to sacrifice everything for His cause:

Say: "What do you expect to befall us, except for one of the two best things? But what we expect to happen to you is for Allah to punish you either directly from Himself or through our hands. So wait. We are waiting with you." (Surat at-Tawba: 52)

They realize that every difficulty they encounter is a mercy from Allah, and so do not pursue this world but try to win His approval and success in the Hereafter. In the Qur’an Allah describes the tears of those who are eager to sacrifice themselves but cannot find a horse to ride into battle with our Prophet (saas) or help other Muslims:

… nor is anything held against those who, when they asked you to provide them with mounts and you said: "I cannot find anything on which to mount you," turned away with their eyes overflowing with tears, overcome by grief at having nothing to give. (Surat at-Tawba: 92)

All believers have experienced such things, for Allah says that He will test each person with regard to his/her possessions, life, friends and relatives, business, status, and respect. Satan stirs up in each person's heart a strong love of this world, a passionate ambition for possessions and position, worries about the future, and an addiction to a comfortable life; he urges them to follow their lower self's desires, robs them of their willpower, and urges them to be lazy and uninterested; and he leads them into fear and despair. But sincere believers always counter these incitements with the Qur'an's morality so that they can win His approval by refusing to placate their lower self.

Allah gives in the Qur’an examples of situations in which believers could be called upon to make such personal sacrifices.


sumber dari: harunyahya.com

Tuesday, 11 June 2013

Impian Langit Kebangkitan Islam






”Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…”
(TQS. Al-Mu’min [40]: 60)

“Hati-hati jika bermimpi, karena mimpi adalah doa dan bisa jadi seketika itu sebenarnya doa kita telah dikabulkan oleh Allah. Jika kita bermimpi biasa-biasa saja, maka kita juga akan mendapatkan hasil yang biasa-biasa. Bermimpilah yang luar biasa, karena kita akan menjadi luar biasa! Bermimpilah setinggi langit, karena setinggi itu pula hasil yang akan dapat kita raih. Jika kita yakin bahwa diri kita adalah generasi terbaik (khayru ummah), maka buktikan secara kongruen terhadap ukiran terbaik impian kita!” (Resolusi, 2007)

Ungkapan tersebut bukanlah ungkapan dari seoarang yang sombong. Bukan pula ungkapan dari seorang peramal mistis, seperti Mama Lorenz atau Ki Gendeng Pamungkas yang dielu-elukan orang awam yang tak berkeyakinan. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan optimisme diri seorang manusia yang mendamba kehidupan lebih baik dan terbaik di masa depan. Keoptimisan diri generasi terbaik dengan makna mendalam refleksi keyakinannya.

”Kamu adalah umat terbaik (khayru ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
(TQS.Al-Imran [3]: 110)

Setiap manusia, dengan berbagai keyakinannya dalam kehidupan pasti memiliki impian. Terlepas, apakah impian tersebut baik atau buruk, benar atau salah, serta  diperjuangkan sekuat jiwa atau tidak. Begitupun dengan kita, umat Islam. Dengan label yang telah Allah berikan kepada kita ’sebagai umat terbaik’, pasti memiliki impian. Impian generasi terbaik adalah tegaknya Islam atas kehidupan mereka. Impian yang membawanya pada visi bersama La ilaha illallah pada sebuah negara yang mengikatnya menjadi umat yang satu (ummatan wahidan) atas seluruh dunia (rahmatan lil alamiin). Yang akan melindungi diri mereka, harta mereka, dan akal mereka; menjaganya dalam keberkahan dan menghantarkannya pada kedigjayaan.

Rasulullah membina para sahabat dengan landasan keyakinan kepada Allah SWT, Dzat yang telah menciptakan dan menjamin kehidupan. Hingga Islam menjadikan mereka memiliki impian yang sama, yakni kerinduan untuk mewujudkan baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Yakni impian yang terukir diatas kerinduan menjadi umat terbaik di dalam sebuah negara penuh berkah dan rahmat Allah, Khilafah Islamiyah. Hingga akhirnya mereka pun mampu wujudkan dan buktikan.

“Bismillahirahmanirrahim… Ini adalah perjanjian dari Muhammad, Nabi Allah, yang mengatur hubungan kaum mukmin, kaum muslim dari Quraisy, penduduk Yatsrib, serta orang-orang yang mengikuti mereka, mendukung dan berjihad bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummatan wahidan), yang berbeda dengan umat yang lain…”.

“Dokumen ini tidak melindungi orang dzolim dan pendosa. Siapa saja yang keluar (untuk berperang) akan mendapatkan keamanan. Siapa saja yang tinggal di rumah akan mendapatkan keamanan, kecuali orang-orang yang berbuat dzalim dan dosa. Sesungguhnya Allah dan Muhammad SAW adalah pelindung bagi siapa saja yang berbuat baik dan bertaqwa.”
(Teks Perjanjian yang dibuat oleh Muhammad SAW sebagai Konstitusi Negara di Madinah, yang mengatur Interaksi antara Muhajirin, Anshar, dan Orang-orang Yahudi, dalam bait pertama dan akhir; Sirah Ibn Hisyam, h.341-344)

Rasulullah, Muhammad SAW. seorang manusia dengan karakter sempurna yang dapat dipercaya, ’Al-Amin’ (‘The Trustworthy’). Bukan hanya bagi muslim, tapi bagi seluruh umat di dunia. Bersama para sahabat (hasil binaannya), Rasulullah memberikan teladan bahwa kehidupan diatas landasan Islam mampu menjadikan mereka sebagai umat terbaik selama kurang lebih 13 abad, dengan Visi – Impian Langit untuk kemuliaan umat manusia. Maka tak heran jika Michael H Hart dalam buku ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History,’ New York (1978) dengan tegas dan jelas menempatkan Muhammad SAW dalam urutan pertama dari 100 orang paling berpengaruh di dunia, mengalahkan Isaac Newton, Paulus, dan Yesus. Begitupula Sir George Bernard Shaw dalam buku ‘The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8 (1936), menyatakan bahwa jika ada agama yang akan menguasai Inggris atau Eropa dalam abad mendatang mungkin itu adalah Islam. Muhammad adalah orang yang mengagumkan dan pantas disebut Penyelamat Manusia (the Savior of Humanity).

Lantas bagaimana dengan kita? Bagaimana kita mampu meneladani Rasulullah dan para sahabat, hingga perjuangan itu mampu membuahkan hasil yang serupa?

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(TQS.Al-Ahzab [21]: 33)

Rasulullah dan para sahabat memiliki impian langit, maka refleksi keteladanan pertama kita sebagai umatnya adalah berjuang bersama dalam visi – impian langit. Kita semua, para intelektual muslim (laki-laki dan perempuan) selayaknya memiliki impian terbaik dalam kehidupan. Impian seorang muslim yang Allah berikan kelebihan sebagai intelektual. Dengan proaktif mengambil berbagai peran dan tanggungjawab (di berbagai ranah), sesuai dengan potensi intelektual yang kita miliki. Sehingga visi bersama menuju baldatun thayibatun wa rabbun ghafur dapat segera terwujud, insyaAllah.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
(TQS. As Shaff [61]: 10-11)

Refleksi keteladanan berikutnya adalah bersiap diri menghadapi tercapainya impian. Karena kesiapan lah yang memberikan hujjah atau argumentasi kuat kebenaran sebuah impian, yang membedakannya dengan mimpi di siang bolong. Kesiapan diri berkorelasi positif terhadap keberadaan ‘proses’ di dalamnya. Proses untuk mempersiapkan segala hal yang menjadikan impiannya terengkuh dalam kehidupan. Bersungguh-sungguh adalah faktor pendukung utamanya, dan keyakinan kepada Allah adalah faktor kuncinya. Menetapkan impian dan mempersiapkan diri menyambut kehadirannya, yakni menyempurnakan seluruh ikhtiar (dan potensi yang dimiliki) dengan landasan keyakinan yang benar karenaNya dan untukNya. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat contohkan pada kita. Hingga seluruh buktinya tak mampu ditentang atau ditutup-tutupi dunia.

“Sungguh perkara (agama) ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumahpun, baik di tengah penduduk kota maupun di tengah penduduk kampung, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan dan kehinaan yang dihinakan; kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang di dengannya Allah menghinakan kekufuran.”
(HR. Ahmad)

”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).”
(TQS. Yunus [10]: 55)

Demikianlah, sesungguhnya Islam datang dari generasi yang pantang mundur dalam perjuangan, dan kita (umat Islam) adalah generasi yang dilahirkan oleh generasi pejuang itu. Maka berjuanglah hingga kerinduan akan ketercapaian impian itu menyelimuti hati dan pikir kita. sebagaimana para pejuang terbaik dahulu memberikan keteladanannya pada kita. Berjuang untuk kemuliaan dan mati-pun dalam kemuliaan! InsyaAllah. Wallahu’alam.


sumber dari: cicinyulianti.wordpress.com

The Bestower of Security






O you who have attained to faith!
Remember God with unceasing remembrance, and extol His limitless glory from morn to evening.
He it is who bestows His blessings upon you, with His angels echoing Him,
so that He might take you out of the depths of darkness into the light.
(Al-Ahzab 33:41)



sumber dari: asma-ul-husna.netne.net

Wednesday, 5 June 2013

Rasul SAW Menyukai Memulai Dari Yang Kanan








قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ صحيح البخاري
Sabda Rasulullah saw : “Bahwa nabi saw menyukai memulai dari kanan, ketika beliau (saw) memakai sandal, ketika beliau (saw) menyisir, ketika beliau (saw) bersuci, dan dalam gerak gerik beliau (saw) ” (Shahih Bukhari)....


Assalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Mengumpulkan kita dalam perkumpulan yang luhur, di bulan yang luhur, yang mana dalam perkumpulan seperti inilah Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmatNya dan mengangkat derajat hamba-hambaNya dalam keluhuran di dunia dan akhirat, dalam kemuliaan di dunia dan akhirat, dalam kesucian di dunia dan akhirat, dalam kebahagiaan di dunia dan akhirat yang semuanya sampai kepada kita dari tuntunan tersuci dan terluhur dari segenap tuntunan alam semesta, yaitu tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tuntunan termulia yang menuntun pada kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang menuntun ummatnya untuk jauh dari perbuatan-perbuatan hina dan senantiasa berada pada perbuatan yang mulia. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga hari-hari kita untuk selalu berada dalam kemuliaan dan keluhuran serta jauh dari segala hal yang hina di dunia dan akhirat, amin.

Sampailah kita pada tuntunan mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disampaikan oleh sayyidah Aisyah Ra dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melakukan suatu perbuatan menyukai untuk mengawalinya dari sebelah kanan, seperti ketika memakai sandal, ketika bersuci, menyisir rambut, dan yang lainnya. Hal tersebut sangat disukai oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal tersebut pun telah terbukti secara ilmiah bahwa peredaran darah terlebih dahulu mengalir pada anggota tubuh yang bagian kanan kemudian pada bagian yang kiri, sehingga aliran darah itu terlebih dahulu membersihkan anggota tubuh bagian kanan, dan hal ini secara Ilmiah baru diketahui dalam akhir-akhir ini, namun hal tersebut telah diajarkan dalam tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummat Islam, yaitu dengan mengawali segala perbuatan baik dari anggota tubuh sebelah kanan.

 Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa hadits tersbut diatas bermakna ‘aam makhsuus (bersifat umum tapi dikhususkan), yaitu secara umum bermakna demikian adanya namun terdapat pengecualian, diantaranya adalah ketika masuk ke masjid mendahulukan kaki kanan, namun ketika keluar dari masjid mendahulukan kaki kiri, sebaliknya ketika masuk ke kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan, mengapa demikian?, Al Imam An Nawawi berkata bahwa segala hal atau sesuatu yang baik atau bersifat ibadah maka didahulukan dengan anggota sebelah kanan, maka selayaknyalah kita memahami sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ
“Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku ketika kerusakan ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid”

Berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini adalah hal yang mudah, namun banyak diremehkan oleh kaum muslimin, maka kita berusaha untuk menghidupkan kembali hal tersebut dengan melakukan sesuatu yang baik diawali dengan yang kanan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Kita selayaknya memahami bahwa segala persahabatan akan berakhir, segala perkumpulan dalam keluarga, saudara dan teman akan berakhir, segala kenikmatan dan kegembiraan di dunia akan berakhir, dan kesemuanya berganti dengan kehidupan yang gelap di alam kubur, namun berbeda dengan keadaan mereka yang mengikuti tuntunan luhur sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana mereka akan gembira di dunia dan akhirat, gembira di alam kubur dan di alam barzakh, hari-hari mereka berada dalam kebahagiaan karena mengikuti tuntunan yang menuntun kepada keluhuran dan kebahagiaan, tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tibalah kita di bulan agung ini, bulan Rabi’ Al Awwal, dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ، أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ، وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ، تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (الفيل : 1-5 )
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergaja, Bukankah Dia telah menjadikan siasat mereka (untuk menghancurkan ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil : 1-5)

  Dijelaskan dalam sirah Ibn Hisyam dan lainnya, dimana ketika kaisar Habasyah iri terhadap Ka’bah, dimana kota Makkah menjadi kota yang ramai dengan perdagangan dan banyak dikunjungi oleh orang-orang karena adanya Ka’bah disana. Dimana Ka’bah sudah ada sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana dibangun pada oleh Nabiyullah Ibrahim setelah runtuhnya dan terus ada serta menjadi tempat yang mulia dan muliakan, meskipun ketika itu masih dipenuhi dengan patung-patung berhala sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebelum terjadinya Fath Makkah.

Maka ketika itu kaisar Habasyah membangun suatu bangunan di kota San’a Yaman untuk menyaingi Ka’bah, bangunan yang serupa dengan Ka’bah dan terbuat dari emas dan perhiasan-perhiasan berharga, dengan tujuan agar manusia mengalihkan perhatian mereka dari Ka’bah yang berada di Makkah kepada Ka’bah yang dibuat raja Habasyah di kota San’aa yang ketika itu San’aa berada dibawah kekuasaan raja Habsyah. Namun keesokan harinya setelah Ka’bah palsu itu dibangun, maka didapatinya banyak kotoran yang dilemparkan ke ka’bah buatan raja Habasyah itu sehingga murkalah ia karena penghinaan dan pelecehan orang-orang, lalu raja Habasyah mengerahkan pasukan dengan jumlah yang sangat besar dan menunggangi gajah untuk berangkat ke Makkah dan menghancurkan Ka’bah.

Kemudian berangkatlah pasukan gajah itu yang mana sepanjang perjalanan ke Makkah tidak ada kabilah yang membela Ka’bah sanggup untuk menahan pasukan raja Habsyah. Maka pasukan gajah itu terus menempuh jazirah Arab menuju Makkah, dan di saat itu sayyidina Abdul Muthtalib sebagai pimpinan kota Makkah, beliau mengungsikan penduduk Makkah ke tempat-tempat yang aman, kemudian ia berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Allah, aku titipkan Ka’bah ini kepadaMu”, lalu sayyidina Abdul Muthtalib pun pergi dan kemudian pasukan gajah itu membawa beliau dibawa ke perkemahan pimpinan pasukan , maka panglima pasukan gajah itu berkata : “apakah engkau adalah pimpinan Makkah?”, sayyidina Abdul Muttalib berkata : “iya , aku adalah pimpinan Makkah”, lalu panglima itu berkata : “Engkau telah mengungsikan penduduk Makkah, tapi mengapa engkau justru pergi meninggalkan Ka’bah tempat yang suci itu tanpa membelanya dari serangan yang akan kami lakukan, padahal engkau adalah pimpinan kota Makkah?”, maka sayyidina Abdul Muttalib berkata : “Aku hanya menjaga diriku dan keluargaku, akan tetapi Ka’bah itu adalah milik Allah subhanahu wata’ala, maka Dia lah yang akan menjaganya”, lalu beliau pergi. Kemudian panglima pasukan gajah berkata kepada pasukannnya : “Mulai bergeraklah dan hancurkan Ka’bah”, maka mereka pun bergerak menuju kota Makkah dan setelah mendekat dengan Ka’bah dan Ka’abh sudah mulai terlihat oleh mereka, maka gajah terbesar sebagai pimpinan mereka yang berada pada barisan terdepan ketika itu berhenti, namun ketika diarahkan ke arah yang lain (bukan arah Ka’bah) gajah itu mau berjalan.

Hingga mereka memanaskan besi hingga menjadi bara kemudian ditusukkan ke tubuh gajah itu, namun gajah itu tetap tidak bergerak, maka semua gajah yang berada di belakangnya pun tidak mau bergerak karena pimpinannya tidak bergerak. Maka dalam keadaan itu, pasukan gajah diliputi kebingungan ketika itu terlihatlah dari kejauhan seperti awan yang hitam gelap berjalan menuju mereka, yang mana itu adalah rombongan burung ababil yang membawa batu-batu kerikil api dari neraka kemudian melemparkan batu-batu itu kepada semua pasukan gajah tersebut, sehingga semua pasukan dan gajah-gajah itu hancur dan binasa dan hanya tertinggal satu orang yang masih hidup, maka orang itu pun lari untuk menyelamatkan diri namun seekor burung tetap mengejarnya hingga ia sampai ke perkemahan penduduk Makkah, dengan terengah-engah dia berkata : “semua pasukan gajah telah binasa, tinggallah aku sendiri yang selamat”, lantas penduduk Makkah berkata : “apa yang menjadikan mereka binasa?”, ia menjawab : “kelompok burung yang mengikutiku membawa batu-batu seperti bara api kemudian melemparkannya kepada pasukan-pasukan gajah hingga mereka binasa”, penduduk Makkah kaget dan heran bagaimana hal itu terjadi, maka ketika itu satu burung yang masih mengikuti seorang prajurit gajah itu melemparkan batu api itu kepadanya hingga hancur leburlah ia bagaikan dedauan kering yang hancur dimakan ulat.

Allah subhanahu wata’ala ingin menunjukkan bahwa seperti itulah Allah menghancurkan pasukan-pasukan gajah itu, maka tidak ada kekuatan lagi bagi raja Habsyah untuk menghancurkan Ka’bah, karena Ka’bah akan tetap dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, dan di tahun itu pula kelahiran sayydina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disebut dengan ‘Aamul Fiil (Tahun Gajah), yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

 Dan ketika sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim sayyidah Aminah, beliau melihat cahaya juga keluar dari rahimnya hingga ia dapat melihat istana-istana Romawi yang berjarak 3 bulan perjalanan dari Makkah, bagaimana hal itu bisa terjadi?, sebagaimana kita ketahui jika cahaya proyektor saja bisa memperlihatkan gambar dari jarak yang jauh menjadi terlihat dekat, begitu juga siaran langsung di Televisi dari tempat yang jauh bahkan di luar negeri dapat terlihat di depan mata kita, yang mana hal itu disebabkan kekuatan cahaya yang diciptakan oleh manusia yang berupa alat-alat elektronik dan lainnya, maka terlebih lagi cahaya Allah subhanahu wata’ala yang diterbitkan dengan lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang membuat ibunya dapat melihat kerajaan Romawi yang terletak sangat jauh dari kota Makkah, sebagaimana telah berfirman subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (الأحزاب: 45-46 )
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al Ahzaab : 45-46)

Demikian hebatnya cahaya mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terlahir tanpa keluar setetes darah pun dan tanpa ada rasa sakit sedikit pun yang dirasakan oleh ibunya sayyidah Aminah. Setelah beberapa waktu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disusui oleh sayyidah Halimah As Sa’diyyah, dan ketika sayyidah Halimah membawa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke rumah beliau (perkampungan Bani Sa’ad), sayyidah Halimah berkata : “Tidak kami lewati pepohonan dan bebatuan kecuali mereka bersujud dan berkata : “Assalamu’alaika Ya Rasuulallah”. Demikian kemuliaan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang lahir dan tumbuh dalam keadaan yatim, namun beliau menjadi semulia-mulia makhluk karena Allah subhanahu wata’ala yang langsung mendidik beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau :

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
“ Tuhanku (Allah) Yang telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam makhluk yang paling mulia, paling baik, paling ramah dan menjadi lambang cinta bagi segenap manusia yang mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam tafsir Al Imam At Thabari, dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al Insaan, yang mana surat ini berisi tentang kenikmatan surga dan keindahannya, maka seorang hamba sahaya yang mendengarkan bacaan surat Al Insaan itu yang menjelaskan tentang kenikmatan-kenikmatan surga, berkata : 

“Wahai Rasulullah, apakah mataku ini kelak akan dapat memandang matamu di surga?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Na’am (Iya)”, maka hamba sahaya itu menangis terharu hingga ia terjatuh pingsan, karena dahsyatnya tangisan gembira sebab telah dijanjikan akan melihat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kelak di surga. Hamba sahaya itu tidak tergiur dengan kenikmatan dan keindahan yang ada di surga, namun yang di dambakan adalah setelah ia melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia apakah ia akan melihat kembali wajah beliau kelak di akhirat. Setelah beberapa waktu hamba sahaya itu wafat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanjakan jenazahnya, dimana beliau lah yang langsung turun ke lahad kubur dan menguburnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا ( الإنسان : 22 )
“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu disyukuri (diberi balasan).” ( QS. Al Insaan : 22 )

Melihat kejadian itu, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi hingga engkau mengucapkan hal itu?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamana kekuasaanNya, sungguh ruh jasad ini saat ini diberdirikan dihadapan Allah, dan Allah berkata : “ Wahai hambaKu, akan kujadikan wajahmu bercahaya”. Demikian keadaan orang-orang yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan keberuntungan terbesar bagi orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشْفِعٍ
“Saya pemimpin anak Adam di hari kiamat, dan orang pertama yang kuburnya terbelah (orang pertama yang dibangkitkan dari kubur di hari kiamat), dan orang pertama yang member syafaat dan yang dikabulkan syafa’atnya oleh Allah.”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Insyaallah acara Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tanggal 12 Rabi’ Al Awwal hari Ahad pagi di Monas, semoga acara ini sukses. Dan saya mohon kepada para Jamaah untuk hadir tepat waktu, karena dikhawatirkan banyaknya massa yang akan datang dari luar kota sehingga banyak dari mereka yang hadir dan datang lebih awal lalu menempati tempat-tempat yang di depan, seharusnya kita lah yang dari dalam Kota memberikan contoh kepada mereka yang datang dari luar kota bahwa kita datang tepat waktu.

Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan bagi kita semua, dan memberikan pemahaman yang luhur, taufik dan hidayah kepada kita untuk mengikuti tuntunan-tuntunan indah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semoga semua yang hadir langsung langsung di acara ini atau yang menyaksikan via streaming web majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga dilimpahi rahmat dan hidayah Allah subhanahu wata’ala dalam hari-harinya, semoga Allah melimpahkan kepada kita anugerah yang besar, dan mengangkat segala musibah dan kesulitan-kesulitan kita dan menggantikannya dengan rahmat dan segala kemudahan, amin allahumma amin…

Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ


sumber dari: fahmiahmad99.blogspot.com

Friday, 31 May 2013

AL-QABIL




The Acceptor of Repentance

He accepts repentance from His servants, pardons evil acts, and knows what they do. (Surat ash-Shura, 25)

All human beings are very vulnerable, for we cannot survive unless all conditions essential for life are provided for us. And yet some people tend to grow insolent, arrogant, and ungrateful toward Allah, as the following verses indicate:

We offered the Trust to the heavens, Earth, and the mountains, but they refused to take it on and shrank from it. But man took it on. He is indeed wrongdoing and ignorant. (Surat al-Ahzab, 72)

Truly man is ungrateful to his Lord. (Surat al-‘Adiyat, 6)

22Allah is fully aware of this inherent evil tendency. He knows that humanity is fallible, ignorant, and ungrateful, and yet He is always compassionate and merciful toward people. Out of His compassion, He showed humanity the way to salvation: repentance.

Allah gives all of us countless opportunities to purify ourselves through repentance. Regardless of what we have done or of our former ungratefulness, we can attain salvation if we are sincere, remain true to Allah, fear and are aware of Allah, and truly repent.

This attribute is a clear indication of Allah's compassion and mercy upon people. Allah, Who is not in need of anything,wouldn't have forgiven anyone if He willed. But out of His infinite compassion, He knew that people would need this compassion and mercy, and so gave the good news that He would accept the repentance of any sincere person. As the Qur'an states:

Do they not know that Allah accepts repentance from His servants and acknowledges their alms, and that Allah is the Ever-Returning, the Most Merciful? (Surat at-Tawba, 104)


sumber dari: harunyahya.com

.::Hikmah Surah Surah Pilihan::.






1) BISMILLAH (Dengan Nama Allah) Barangsiapa membaca sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, nescaya terpelihara dari godaan dan gangguan syaitan, dari bencana manusia dan jin, daripada kecurian dan kebakaran, dan daripada kematian terkejut. Dan barang siapa membaca sebanyak 50 kali diahadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada pembaca.

(2) SURAH AL-FATIHAH (Pembukaan) Barangsiapa membacanya sebanyak 41 kali diantara sembahyang sunatnya, nescaya permintaannya di perkenankan, jika sakit lekas sembuh dan nescaya dikasihi oleh makhluk dan ditakuti oleh musuh. Barang siapa membaca 20 kali sesudah tiap-tiap sembahyang fardhu, nescaya rezkinya dilapangkan oleh Tuhan dan bertambah baik keadaannya, serta bercahaya rohaninya.

(3) AYAT AL-KURSI (Kekuasaan Allah) Barangsiapa membacanya sekali selepas setiap sembahyang fardhu, nescaya terpelihara dari tipudaya dan ganguan syaitan. Dengan membacanya, seorang yang miskin akan menjadi kaya, dan jika dibaca ketika hendak tidur nescaya akan terselamat dari kecurian, kebakaran dan kekaraman. Barangsiapa sentiasa membaca ayat Al-Kursi, nescaya Allah akan kurniakan kepada ahli rumahnya kebaikkan yang tidak terhitung banyaknya. Barangsiapa berwudhuk lalu membaca sekali, nescaya Allah Akan meninggikan darjatnya setinggi 40 darjat dan Allah akan mendatangkan para malaikat menurut bilangan hurufnya, seraya berdoa untuk sipembaca sehinggalah ke hari Qiamat. Dan tersebut dalam hadith yang lain : Barangsiapa membacanya ketika hendak tidur, nescaya Allah akan membuka pintu rahmat baginya hingga kesubuh, dan mengurniakan kota nur menurut bilangan rambut dibadannya. Jika sipembacanya meninggal dunia pada malam itu, ia dikira mati syahid. Hadith yang lain mengatakan: Barangsiapa membacanya selepas setiap sembahyang fardhu, nescaya akan terpelihara dari kekerasan malakul-maut, dan Allah sendiri yang mencabut rohnya, dan dia akan dibangkitkan bersama para Mujahid yang berjihad beserta para Anbiya hingga ia gugur mati Syahid. Imam Jaafar Shadiq r. a. mengatakan: Barangsiapa membaca sekali, nescaya Allah akan menghindar darinya 1,000 kesukaran duniawi, yang terkecil sekali ialah kemiskinan dan kepapaan, dan 1,000 kesukaran ukhrawi, yang terkecil sekali ialah azab neraka.

(4) SURAH AL-BAQARAH (Sapi Betina) Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surah ini (Amanarrasulu) sebelum tidur, ia akan terselamat dari segala bala bencana dan mara bahaya.

(5) SURAH ALI-IMRAN (Keluarga Imran) Barangsiapa membaca tiga ayat yang pertama dari surah ini, Nescaya ia akan mencapai kesihatan dari segala penyakit dan terselamat dari gangguan jin.

(6) SURAH AN-NISSA' (Perempuan) Barangsiapa yang membaca ayat yang ke 75 dari surah ini, nescaya ia akan terselamat dari kejahatan para penjahat.

(7) SURAH AL-MAIDAH (Hidangan) Barang siapa membaca ayat yang ke 7 dari surah ini, sebanyak yang mungkin selama 3 hari berturut -turut, insya Allah akan terselamat dari was-was semasa wudhu dan sembahyang. Barang siapa membaca ayat
89 hingga ayat 101dari surah ini, keatas air lalu diberi minum kepada orang yang bercakap dusta, nescaya ia tidak akan bercakap dusta lagi.

(8) SURAH AL-AN'AM (Binatang Ternak) Barang siapa membacanya sebanyak 7 kali, nescaya akan terhindar dari segala bala bencana. Jika ayat 63 dan 64 dari surah ini, dibaca oleh penumpang kapal, ia akan terselamat dari karam dan tenggelam.

(9) SURAH AL-A'RAAF (Benteng Tinggi) Barang kali membaca ayat 23 dari surah ini, selepas tiap-tiap sembahyang fardhu, lalu beristighfar kepada Allah, nescaya akan terampun segala dosanya. Barang siapa membaca ayat 47 dari surah ini, ia akan terpelihara dari kekacauan para penzalim serta ia akan mendapat rahmat Allah.

(10) SURAH AL- ANFAL (Rampasan) Barang siapa membaca ayat 62 dan 63 dari surah ini, nescaya dia akan di cintai dan dihormati oleh sekalian manusia.

(11) SURAH AL-BARAAH (AT-TAUBAH) (Pemutus perhubungan) Barangsiapa membacanya, nescaya akan terselamat dari kemunafiqan dan akan mencapai hakikat iman. Barang siapa membaca ayat 111 dari surah ini, dikedai atau ditempat-tempat perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu.

(12) SURAH YUNUS (Yunus) Barangsiapa membaca ayat 31dari surah ini, ke atas Perempuan yang hamil, nescaya ia melahirkan anak dalam kandungannya itu dengan selamat. Barangsiapa membaca ayat 64 dari surah ini, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk dan mengigau.

(13) SURAH AL-HUD (Hud) Barang siapa membaca, nescaya ia akan mendapat kekuatan dan Kehebatan serta ketenangan dan ketenteraman jiwa. Barang siapa membaca ayat 56 dari surah ini, pada setiap masa, nescaya ia akan terselamat dari gangguan manusia yang jahat dan binatang yang liar. Barang siapa membaca ayat112 dari surah ini, sebanyak 11 Kali selepas tiap-tiap sembahyang, nescaya akan mencapai ketetapan hati.

(14) SURAH YUSUF (Yusuf) Barang siapa membacanya, akan di murahkan rezekinya dan diberikan kemuliaan kepadanya. Barang siapa membaca ayat 64 dari surah ini, ia akan terhindar dari kepahitan dan kesukaran hidup. Barang siapa membac ayat 68 dari surah ini, nescaya Allah akan mengurniakan kesalehan kepada anak-anaknya.

(15) SURAH AR-RA'D (Petir) Barang siapa membaca ayat 13 dari surah ini, ia akan terselamat dari petir. Dan barangsiapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya Penyakit jantungnya akan sembuh.

(16) SURAH IBRAHIM (Ibrahim) Barang siapa membaca ayat-ayat 32 hingga 34 dari surah ini, nescaya anak-anaknya akan terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik dan bida'ah.

(17) SURAH AL-IIIJ'R (Batu Gunung) Barang siapa membaca 3 ayat yang terakhir dari surah ini, ke atas perempuan yang selalu anak kandungannya gugur, nescaya anak kandungannya itu akan terselamat, dari gugurnya.

(18) SURAH BANI ISRAIL (anak-anak Israil) Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang bercakap gagap insya Allah akan hilang gagapnya itu. Barang siapa membaca ayat 80 dari surah ini, ketika ia pulang dari perjalanan, nescaya dia akan dimuliakan dan dihormati oleh orang- orang yang setempat dengannya.

(19) SURAH AL-KAHF (Gua) Barang siapa membacanya, akan terhindar dari kemiskinan dan kepapaan. Barang siapa membacanya pada malam Jumaat, nescaya dia akan mendapat rezeki yang murah.

(20) SURAH MARYAM (Maryam) Barang siapa membacanya, nescaya akan mendapat kejayaan di dunia dan di akhirat.

(21) SURAH THAAHAA (Hai Manusia) Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan mengurniakan kepadanya ilmu pengetahuan dan akan tercapai segala maksudnya. Barang siapa membaca ayat-ayat 25 hingga 28 sebanyak 21 kali, tiap- tiap hari selepas sembahyang subuh nescaya otaknya akan cerdas dan akalnya akan sempurna.

(22) SURAH AL ANBIYA (Nabi-Nabi) Barang siapa membaca ayat 83 dari surah ini, nescaya dia akan mendapat sebesar-besar pangkat di sisi Allah s. w. t .

(23) SURAH AL-HAJ (Haji) Barang siapa membacanya, Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.

(24) SURAH AL-MU'MINUN (Orang-orang Mukmin) Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang selalu minum minuman keras, nescaya dia tidak akan meminumnya lagi. Barang siapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya perahunya akan terselamat daripada karam dan rumahnya akan terselamat dari kecurian dan serangan musuh.

(25) SURAH AN-NUUR (Cahaya) Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk. Barang siapa membaca ayat 35 dari surah ini, pada hari Jumaat sebelum sembahyang Asar, nescaya dia akan disegani oleh orang ramai.

(26) SURAH AL-FURQAN (Pembaca) Barang siapa membacanya sebanyak 3 kali ke atas air yang bersih, lalu air itu dipercikkan di dalam rumah, nescaya rumah itu akan terselamat dari gangguan binatang-binatang yang liar dan ular-ular yang bisa.

(27) SURAH ASY-SYU A'RA (Ahli-ahli Syair) Barang siapa membaca ayat 130 dari surah ini, sebanyak 7 kali dengan senafas ke atas orang-orang yang digigit oleh binatang-binatang yang berbisa nescaya akan hilang bisa-bisa itu.

(28) SURAH AN-NAML (Semut) Barang siapa membacanya nescaya nikmat-nikmat Allah akan kekal kepadanya.

(29) SURAH AL-QA-SHASH (Cerita) Barang siapa membacanya ke atas pekerja-pekerjanya, nescaya Mereka tidak akan mencuri dan mengkhianat. Barang siapa membaca ayat-ayat 51 hingga 55 dari surah ini, Nescaya otaknya akan cergas, akalnya akan sempurna dan budi pekertinya akan halus.

(30) SURAH AL-ANKABUT (Labah-labah) Barang siapa membacanya, nescaya demamnya akan sembuh. Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari gelisah dan keluh kesah.

(31) SURAH AR-RUM (Rum) Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan membinasakan orang yang hendak menzaliminya.

(32) SURAH LUQMAN (Luqman) Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari segala-gala penyakit terutama dari penyakit-penyakit perut. Barang siapa membaca ayat 31 dari surah ini, nescaya akan terselamat dari bencana banjir.

(33) SURAH AS-SAJ DAH (Sujud) Barang siapa membaca ayat-ayat 7 hingga 9 dari surah ini, ke atas kanak-kanak yang baru lahir, nescaya ia akan terhindar dari segala- gala penyakit ruhani dan jasmani.

(34) SURAH AL-AHZAB (Golongan-golongan) Barang siapa membaca ayat-ayat 45 hingga 48 dari surah ini, nescaya ia akan mendapat kemuliaan dan kehormatan sejati. Dan barang siapa membaca ayat-ayat 60 hingga 66 dari surah ini, nescaya Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.

(35) SURAH SABA' (Saba') Dengan membacanya, terselamatlah ia dari segala-gala bala bencana, terutamanya dari rosaknya tanam-tanaman.

(36) SURAH FAATHIR (Pencipta) Barang siapa membaca ayat-ayat 29 dan 30, nescaya Allah Akan memberkati perniagaannya.

(37) SURAH YAASIIN (Hai Manusia) Nabi kita Muhammad s. a. w bersabda : "Tiap-tiap sesuatu Mempunyai hati dan hati Al-Quran ialah surah Yaasiin." Yaasiin kerana Allah, nescaya akan terampun segala-gala dosanya kecuali dosa syirik.." Dalam satu hadith yang lain Baginda s. a. w bersabda: "Hendaklah kamu membaca surah Yaasiin ke atas pesakit-pesakitmu yang menghadapi sakaratul- maut, nescaya Allah s. w. t akan meringankan kekerasan sakaratul-maut itu."Dalam satu hadith yang lain pula Baginda s. a. w bersabda: "Aku ingin benar, agar surah Yaasiin ini dihafaz oleh tiap-tiap umatku." Barang siapa membacanya sebanyak 41 kali, pasti akan tercapai segala hajat dan cita-citanya. Barang siapa membacanya sebanyak 21 kali pada malam Jumaat, Lalu berdoa istghfar untuk kedua ibu bapanya, nescaya dosa kedua ibu bapanya akan diampunkan oleh Tuhan. Barang siapa membaca sekali ketika membuka kedai atau perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu. Barang siapa membacanya sekali pada awal malam, andaikata ia mati pada malam itu, mesti ia mati syahid. Barang siapa membacanya sekali selepas tiap-tiap sembahyang Jumaat, nescaya ia akan diselamatkan dari siksa kubur. Jika dibacanya oleh seorang askar, ketika ia hendak turun kemedan peperangan, Allah akan mengurniakan kepadanya keberanian dan kegagahan, serta naiklah ketakutan pada musuh-musuhnya. Hikmat-hikmat dan khasiat-khasiat surah Yaasiin ini banyak benar didapati di dalam kitab-kitab hadith tetapi cukuplah setakat ini untuk diamal oleh anda sekalian.

(38) SURAH ASH-SHAAFFAAT (Yang Berbaris) Barang siapa membacanya, insya Allah in akan terpelihara daripada gangguan jin.

(39) SURAH SHAAD (Shaad) Dengan membaca ayat 42 dari surah ini, nescaya akan mendapat kebahagian sejati. Insyallah rakan- rakan semua akan mendapat 'Sayangilah Diri Anda Sebelum Menyayangi Insan Lain


sumber dari: cahayakelembutanku.blogspot.com