Saturday, 31 December 2011

At-Takwiir -pembunuhan bayi moden




Dalam surah at-Takwir ayat 8 yang bermaksud :
“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikuburkan hidup-hidup bertanya kerana dosa apa dia dibunuh”

Kalau Zaman Firaun hanya bayi lelaki dibunuh manakala Zaman Jahiliyyah hanya bayi perempuan dibunuh. Zaman Moden? Tak kira apa jantina si bayi, ia pasti dibunuh. Mereka dibunuh dengan pelbagai cara. Cukup kejam dan tidak berperi kemanusiaan.

Jika Firaun dan masyarakat Jahiliyyah punya alasan sendiri kenapa mereka membunuh bayi-bayi mereka, masyarakat kita juga punya alasan tersendiri. Kerana apa? Kerana MALU. Ya, kerana MALU kepada masyarakat akibat perbuatan zina mereka sendiri.

Jadi apa beza dulu dan sekarang??

Pembunuhan bayi lelaki pada Zaman Firaun berakhir setelah dewasanya Nabi Musa a.s yang membawa Islam. Saidina Umar yang pernah menanam hidup - hidup puterinya ketika masih musyrik telah bertaubat setelah masuk Islam. Jika semua kejahilan pada zaman tersebut berjaya diatasi melalui Islam, sudah pasti penyelesaian untuk zaman sekarang juga adalah Islam. Kita harus kembali kepada Islam, jadikan Islam cara hidup yang sebenarnya, pasti semua kemaksiatan dan kemungkaran akan berakhir seterusnya kita akan mampu untuk hidup dalam aman berkat keredhaan dan kerahmatan dari Allah.

At-Takwiir -kehendak Illahi





Ayat yang menjadi poin pembahasan adalah ayat ke 29 surah at-Takwir, “Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam“, dan ayat yang mirip dengan ayat ini terdapat pula pada sebagian ayat ke 30 surah Ad-Dahr (Al-Insan), Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Begitu pula pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya.
Berikut ini kami akan menganalisa ketiga ayat tersebut:

1. Ayat yang dibahas adalah ayat ke 29 surah at-Takwir yang merupakan surah Makiyah. Pada dua ayat sebelumnya Tuhan berfirman, Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Kemudian pada ayat ke 29 berfirman, Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.[1]

Ringkasan dari ayat-ayat ini adalah bahwa tidak ada sesuatu yang lain di dalam al-Quran al-Karim yang merupakan kalam Ilahi dan pasti benar, “Dan bukan kalam setan yang terkutuk” (Qs. At-Takwir: 25) kecuali peringatan dan nasehat bagi para penghuni alam, tentu saja nasehat dan peringatan ini adalah bagi setiap mereka yang berkehendak untuk menempuh jalan yang benar.

Di sini mungkin saja manusia akan menganggap dengan ayat berikut, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” dimana kehendak bertahan, istiqomah, berada di jalan lurus, memilih jalan menuju Tuhan, dan berbusana ketaatan dan penghambaan telah diletakkan dalam pilihan bebas manusia dalam bentuk yang mandiri, dimana jika mereka berkehendak maka mereka akan memilih berada di jalan yang benar dan jika tidak menghendaki maka ……; dengan demikian, ketika Tuhan menghendaki keistiqamahan dari mereka, Dia membutuhkan mereka! Untuk menyingkirkan anggapan seperti ini Dia berfirman bahwa kehendak dan keinginan mereka ini bergantung kepada kehendak Yang Kuasa. Mereka tidak akan menginginkan istiqamah (tidak akan mampu, tidak ada izin, dan tidak memiliki kodrat untuk berkehendak), kecuali apabila Tuhan berkehendak supaya mereka menghendaki istiqamah![2]

Dengan ibarat lain, perbuatan-perbuatan ikhtiari manusia –bahkan kehendak manusia itu sendiri- akan berada dalam kehendak yang dimaksud dan sesuai dengan kehendak-Nya yang akan terjadi dengan perantara, dan karena kehendak-Nya dan dzat Suci Tuhan menghendaki supaya manusia melakukan perbuatan-perbuatan ikhtiari-nya sendiri yang bergantung atas kehendak dan ikhtiar manusia dengan kehendaknya sendiri. Tentunya dalam ayat ini-ayat ini yang menjadi obyek pembicaraan adalah kaum mukminin yang memiliki tujuan untuk melangkahkan kaki di jalan Ilahi dan sampai pada keselamatan dan kebahagiaan, bahkan pesan al-Quran al-Karim ini tidak dikhususkan saja kepada mereka, bahkan meliputi seluruh manusia.

Ayat-ayat lain yang dalam beberapa dimensi memiliki kemiripan dengan ayat yang kita bahas (yaitu ayat ke 29 surah at-Takwir) adalah sebagian dari ayat ke 30 surah Ad-Dahr (dan ayat-ayat sebelumnya). Pada ayat ke 29 dan 30 surah Ad-Dahr ini Tuhan berfirman, Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan untuk menuju kepada Tuhan-nya. Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[3]

Bagian dari ayat-ayat akhir surah Ad-Dahr (al-Insan) ini memiliki konteks yang mirip dengan konteks Makiyah dengan menerima pendapat bahwa awal surah ini adalah Madani dan sebagian dari bagian terakhirnya (sebanyak sembilan ayat) merupakan ayat-ayat Makiyah.[4]

2. Penjelasan ayat Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan ... akan kami bahas pada bagian ketiga. Akan tetapi mafhum dan pengertian serta yang dimaksud dengan ayat Dan tidaklah kamu akan mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah.” adalah mirip dengan ayat ke 19 surah at-Takwir. Ketika dikatakan bahwa pada awalnya Tuhan menyebutkan ayat dalam bentuk manfi (dan tidaklah…) kemudian melengkapi kalam dengan menggunakan pengecualian (kecuali bila…) dari satu sisi hal ini merupakan penjelas bahwa wujud dan keterwujudan kehendak manusia (hamba) bergantung atas kehendak Tuhan. Dari sinilah sehingga kehendak Dzat Suci dari cara keterwujudan kehendak hamba akan memberikan pengaruh dalam perbuatannya namun tidak akan terwujud secara langsung dan tanpa perantara, sehingga keraguan ini muncul bahwa kehendak manusia tidak memiliki pengaruh dalam perbuatan-perbuatannya dan apapun yang dilakukannya tidak berada dalam ikhtiarnya. Dari sini, jika manusia melakukan perbuatan yang buruk dan tercela atau memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang buruk, maka hal tersebu t terjadi karena kehendak langsung Tuhan. Dengan demikian terhadap hubungan yang diperbolehkan antara kehendak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dengan Tuhan.

Dari sisi lain, memahamkan bahwa manusia tidak memiliki kemandirian dalam kehendaknya melakukan segala sesuatu yang diinginkan, melainkan kehendaknya bergantung pada kehendak Tuhan dan perbuatan ikhtiari hamba terhubungpada ikhtiarnya sendiri, meskipun kehendak dan ikhtiar ini tidak terhubung pada kehendak dan ikhtiar lain.

Kesimpulannya keinginan dan kehendak hamba bergantung pada kehendak dan keinginan Tuhan dan tanpa adanya izin Tuhan (yang bersifat takwiniyah) maka kehendak ini tidak akan memberikan pengaruh sedikitpun, hal ini karen prinsip keberadaan manusia adalah dari-Nya, dengan demikian mau ataupun tidak mau, kehendaknya pun berasal dari Dzat yang telah memberikan keberadaan itu.

3. Pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, Tuhan berfirman, Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya. Dan kalimat yang sama persis terdapat pula pada ayat ke 29 surah Ad-Dahr. Dhamir kata hadzihi (ini adalah) mungkin mengisyarahkan pada ayat sebelumnya yang berada dalam posisi memberikan peringatan yang juga memiliki kesesuaian khas dengan ke-makiyah-an surah ini yang diturunkan pada awal pengangkatan kenabian Rasulullah saw, atau sebagaimana ayat pada surah Ad-Dahr yang mengisyarahkan pada ayat-ayat yang berhubungan dengan terjaga dan tahajjud di malam hari, sebagaimana hal ini dalam surah ad-Dahr melaksanakan shalat malam diperkenalkan sebagai cara khusus untuk membimbing hamba ke arah Tuhannya. Bagaimanapun, baik pada surah ad-Dahr ataupun surah al-Muzammil yang berbicara tentang ke-tadzkirah-an ayat-ayat (atau tahajjud dan shalat malam) adalah untuk orang-orang yang mencari jalan untuk mendekat kepada Tuhan. Dan baik pada surah at-Takwir dimana al-Quran dan kalamullah dianggap sebagai peringatan untuk orang-orang dari kalangan mukminin yang ingin berjalan lurus dan melangkahkan kaki di atas kebenaran, dari satu sisi pesan Ilahi ini benar-benar jelas dan nampak bahwa jalan untuk menuju kedekatan dan bertentangga dengan Tuhan dan berada dalam lintasan kebenaran puntidak akab mungkin diterimaselain dari jalan al-Quran dan terhidayahinya dengan hidayah dan kehendak Tuhan, dari satu sisi merupakan penjelas poin bahwa meskipun tujuan-tujuan dan kehendak-kehendak Ilahi serta kerahiman pun ada dengan perhatian dan kehendak-Nya dan jika saja tidak ada kemuliaan, kebaikan, dan keagungan-Nya maka tidak ada sesuatupun dan tidak ada seorangpun yang memiliki keberadaan ataupun cahaya, karena, “Tuhan adalah cahaya langit-langit dan bumi[5] dan “yang menerima” dan “penerimaan” keduanya berasal dari-Nya. Dari sinilah sehingga para filosof mengatakan, “Yang menerima itu adalah dari rahmat (feidh)-Nya yang paling suci (al-aqdas).”[6]

Dari pendekatan ketiga kelompok ayat-ayat ini secara berdampingan dan juga berbagai ayat-ayat lainnya yang terdapat dalam al-Quran al Karim, kita bisa menggunakan “tauhid perbuatan” dan ketika kehendak dan keinginan manusia pada seluruh ketaatannya mengikuti dan bergantung pada kehendak Tuhan, dan ilmu Tuhan melingkupi ilmunya, maka perbuatan dan pengaruh manusia akan merupakan pengaruh dan perbuatan Tuhan dan tidak saja lemparannya adalah lemparan Tuhan sebagaimana firman-Nya, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar[7] melainkan selain perbuatan-perbuatan lainnya tidak dianggap berasal dari dirinya, Semuanya (berasal) dari sisi Allah.[8] Dan “Tidak ada pemberian kecuali pemberian-Nya[9] melupakan diri dan keberadaannya dan keluar dari keakuannya dan menjadi manifestasi dari asma dan sifat Tuhan.

Tentunya pernyataan ini bukanlah bermakna keterpaksaan, bagian dari keterpaksaan, atau kekurangan[10] melainkan merupakan mafhum yang tak berangkap dan hakikidan kehendak serta keinginan hamba meskipun merupakan keinginan dan kehendaknya, akan tetapi juga merupakan kehendak Tuhan.

Bahasan sebelumnya bisa pula dijelaskan dengan cara berikut: kehendak dan keinginan Tuhan terbagi menjadi dua yaitu kehendak dzati dan kehendak aktual. Kehendak dzati adalah kehendak yang terwujud pada tingkatan Dzat Tuhan yang menyatu dengan seluruh sifat-sifat lain yang dimiliki oleh Tuhan. Kehendak dzati ini tak lain adalah ilmu Tuhan, dan makna yang terdapat dalam kehendak manusia tidak benar dalam kaitannya dengan kehendak Tuhan. Pada kehendak dzati sama sekali tidak terdapat interaksi, hubungan dan ketersambungan dengan eksistensi-eksistensi eksternal maupun sistem kekuasaan atas realitas obyek.[11]

Kehendak aktual merupakan kehendak Tuhan pada maqam perbuatan dan dalam kaitannya dengan eksistensi-eksistensi alam luar dimana tak lain merupakan manifestasi dan tajalinya Tuhan di alam luar.

Kehendak aktual (takwiniyah) kadangkala muncul dalam bentuk tasyri’iyah dan pengutusan serta turunnya kitab-kitab untuk membimbing manusia secara umum dan untuk menusia-manusia mukmin akan terwujud dalam bentuk yang khas. Kehendak tasyri’iyah dan hukum-hukum, perintah-perintah dan larangan-larangan ini merupakan shirat dan jalan tasyr’iyah Tuhan.[12]

Dan kadangkala dalam bentuk kehendak takwiniyah yang tak lain adalah penciptaan alam dan sistem qadha dan qadar takwiniyah Tuhan dan terwujudnya ilmu Tuhan secara eksternal dan ‘aini. Dan berdasarkan sistem penciptaan yang paling sempurna dan hikmah Ilahi, seluruh eksistensi akan hadir di alam dengan izin takwiniyah-Nya dan makhluk ini akan dibimbing dari alam kegelapan dan ketiadaan ke alam cahaya dan keberadaan (yang berdasarkan hakikat wujudnya dan ciri khasnya serta karakteristik-karakteristik wujudnya seperti kehendak dan lain sebagainya).

Dari sini bisa dikatakan, dalam kehendak dzati Tuhan tidak terdapat kehendak lain yang bertentangan dengan kehendak Ilahi tersebut, dan dalam kehendak aktual takwiniyah-Nya tidak pula terdapat eksistensi lain yang bersumber dari sisi-Nya yang mampu mandiri secara mutlak dan bertolak belakang dengan kehendak Ilahi, atau tanpa kehendak dan izin takwiniyah-Nya suatu maujud akan terwujud.

Berdasarkan pada kehendak aktual dan izin takwiniyah itulah sehingga manusia tercipta secara bebas dan berkehendak dan juga bebas dalam memilih jalan: yang benar, yang berkembang, dan membawa kepada kebahagiaan, ataukah jalan yang batil dan sesat yang akan mengantarkannya pada kesengsaraan abadi. Dalam salah satu ayat-Nya Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan (yang lurus) kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.[13] , pada ayat yang lain berfirman,Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”[14] Demikian juga pada ayat yang lain berfirman,Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.[15]

Berdasarkan kehendak, izin, ikhtiar, dan kehendak takwiniyah Ilahi-lah sehingga makhluk Tuhan bebas untuk menentukan langkahnya, yaitu menempatkan dirinya untuk menjalani perintah-perintah Ilahi, taat secara mutlak kepada-Nya, mendapatkan kebahagiaan, dan surga abadi melalui kehendak dan iradah tasyri’iyah (baca: agama dan syariat), dan inilah hasil dari keharmonisan antara iradah takwiniyah dan tasyri’iyah. Ataukah menolak dan tidak mentaatinya yang hal ini akan berujung pada kesengsaraan dan neraka jahannam.

Dengan kata lain, meskipun dalam iradah takwiniyah terdapat kebebasan untuk melakukan perbuatan yang baik ataupun yang buruk, akan tetapi kehendak dan iradah tasyri’iyah Tuhan terletak pada pelaksanaan perbuatan yang baik, dan tidak menerima perbuatan tercela dan buruk dari hamba-Nya.

Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan hadis Imam Shadiq As yang bersabda, “Sesungguhnya tidak ada keterpaksaan mutlak demikian juga kebebasan mutlak, melainkan yang ada adalah perkara di antara dua perkara,” Imam Ridha As bersabda, “… maksudnya adalah terdapatnya jalan untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.” Perawi hadis berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ridha As: apakah dalam perkara ini terdapat kehendak dan iradah Tuhan?” Imam Ridha As bersabda, “Sesungguhnya dalam ketaatan, terdapat iradah dan kehendak Ilahi, terdapat perintah terhadapnya, terdapat keridhaan untuknya dan terdapat pertolongan atasnya. Sementara itu dalam dosa dan kemaksiatan, terdapat pelarangan atasnya, terdapat kerendahan untuknya dan terdapat kesengsaraan atasnya …”[16]

Kesimpulannya, kecenderungan manusia untuk melakukan perbuatan yang buruk dan tercela tidak mungkin terjadi tanpa adanya kehendak dan izin takwiniyah Ilahi, tanpa izin-Nya tidak ada satupun persoalan eksternal yang akan mampu terwujud –hal ini juga meliputi pemikiran, kehendak manusia, dan sebagainya- dan kehendak takwiniyah Ilahi tersebut tidak lain adalah kebebasan dan ikhtiar hamba dalam berkehendak, bertujuan, dan dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik maupun yang buruk. Dan hal ini tidak berkontradiksi dengan tujuan Ilahi, bahkan merupakan satu-satunya jalan untuk sampai pada kesempurnaan, kebahagiaan, kedekatan dan pertemuan dengan-Nya; atau ketercelaan, keburukan, dan terjauhkannya dari Tuhan. Surga dan neraka ditentukan berdasarkan kewajiban, dan landasan kewajiban manusia terletak di atas kebebasan dan ikhtiarnya. Dan Tuhan telah menyediakan cara-cara yang bersifat internal (dalam bentuk akal dan fitrah) maupun yang eksternal (dengan mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab dan bimbingan para Imam Maksum Ahlulbait As) yang memungkinkan bagi manusia untuk memasuki kenikmatan ataupun kesengsaraan, dan akan senantiasa terdapat dua hal yang terpisah, surga dan neraka, kebahagiaan dan kesengsaraan, malaikat dan setan, dan …

Tafsir dari ayat-ayat yang menjadi poin pembahasan kita ini juga telah dinukilkan dalam banyak riwayat dari keturunan para Imam Ahlulbait As, dimana kami menghindarkan diri dari membahasnya karena keterbatasan ruang, dan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap hendaklah merujuk pada tafsir-tafsir dan kitab-kitab hadis.[17]

Penting untuk dikemukakan bahwa pembahasan mengenai masalah kehendak Ilahi, kehendak manusia, dan keterkaitannya dengan jabr dan ikhtiar, persoalan di antara dua persoalan (amr bainal amrain), kemakhlukan perbuatan hamba, kehendak Ilahi dan bagian-bagiannya, perbedaan antara keinginan dan kehendak, dan … membutuhkan ruang yang lebih luas dan hal ini pun telah terdapat secara mencukupi pada ayat-ayat, riwayat, tafsir-tafsir dan kitab-kitab kalam, filsafah, irfan dan kalimat-kalimat para pembesar, cendekiawan Islam dan ma’arif Ilahi.

Pada akhir pembahasan penting kiranya untuk menyebutkan poin penting bahwa sebagian keinginan dan kehendak ditafsirkan dan dideskripsikan dengan ridha (kerelaan),kemudian dibahas dalam kaitannya dengan pemahamannya, kepentingannya, bentuk, klasifikasi dan tingkatannya. Dengan makna berikut bahwa salah satu dari hasil mencintai Yang Haq adalah ridha, dan ridha merupakan salah satu maqam tertinggi para muqarrabin (orang-orang yang mendekati-Nya).[18] Sebuah keridhaan tidak akan menuntut sesuatu kecuali keridhaan dari Yang Haq, dan kehendak serta iradahnya akan mengalami kefanaan dalam kehendak dan iradah Yang Haq.[19]

Dalam keadaan ini, keinginan Tuhan merupakan keinginannya dan siapapun yang telah sampai ke maqam kerelaan maka dia telah sampai pada sekumpulan tingkatan penghambaan, sebagaimana disabdakan, “Ridha adalah suatu nama yang padanya berkumpul makna-makna penghambaan.” [20]

Tentang ridha dan kerelaan ini, Lahiji pada Syarh Golsyan-e Roz, menuliskan, hakikat ridha adalah keluar dari kerelaannya sendiri dan menuju pada kerelaan Yang Dicintainya, ridha dengan segala sesuatu yang telah dikehendaki oleh Tuhan atasnya, tidak akan terjerumus dalam pertentangan dengan kehendak Ilahi dengan segala prestise yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak, sebagaimana firmannya, Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam. Dan yang dimaksud dengan rela kepada hakikat adalah seseorang yang tidak keberatan dengan takdir-takdir Ilahi.[21]

Dengan menerima tafsir dan pendapat ini, seorang hamba hakiki dan pesuluk yang mencintai dan pecinta kebenaran sama sekali tidak akan memiliki kecenderungan dan kehendak berkaitan dengan sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat keridhaan Tuhan, dan ridha serta kehendak Tuhan yang baik, indah, dan suci murni sama sekali tidak berkaitan dengan keburukan dan ketercelaan.

Namun apa yang bisa dipahami dari kata al-Quran, “kehendak”, pada ayat-ayat yang kita bahas berbeda dengan makna dan pengertian ridha, meskipun dalam fenomena dan persoalan yang lain kesejajaran hal ini bisa saja terjadi.

Terdapat kemungkinan untuk menjabarkan dan menganalisa pembahasan mengenai jabr, ikhtiar dan kehendak Ilahi serta ridha ini dari berbagai pandangan, apabila Anda berminat dan memberitahukan, maka tentu hal tersebut bisa dilaksanakan.

At-Takwiir -kelebihan unta




Di dalam Al-Quran banyak disebutkan tentang kejadian unta selain penciptaan langit dan bumi dan juga penciptaan-penciptaan yang lain.
 
Tetapi di dalam hal unta ini Al-Quran menyebutnya dengan pelbagai versi seperti العشار di dalam Surah At-Takwir ayat 4:

Dan apabila unta-unta yang bunting terbiar.

Dan juga الإبل di dalam Surah Al-Ghaashiyah ayat 17:

 
(Mengapa mereka yang kafir masih mengingkari akhirat) tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan?


Mengapakah Al-Quran menyebutnya di dalam pelbagai versi?


Menurut jawapan daripada Nouman Ali Khan hafizahullah, perkataan العشار merujuk kepada unta betina yang bunting 10 bulan. Mengapa العشار?
Ini kerana:
 
1) Petunjuk status kekayaan kaum Arab jahiliyyah. Tiada bagi mereka yang lebih dihargai dari العشار. Oleh kerana dahsyatnya hari kiamat, sesuatu yang dihargai seperti itu pun (dalam konteks kita mungkin benda-benda lain) akan dibiarkan kerana kedahsyatan hari kiamat membuatkan manusia lupa kepada itu semua kecuali teringat kembali semua amalan yang telah dilakukan!

2) Perhatikan ayat ayat 8-9 surah yang sama. Selain dari menceritakan kedahsyatan hari kiamat, surah ini mengkritik sikap jahiliyyah yang bencikan anak perempuan (sehingga ada yang dibunuh ketika lahir) dengan mengatakan bahawa anak-anak perempuan yang dibunuh akan ditanya atas dosa apakah mereka dibunuh? dan dalam masa yang sama mengingatkan Jahiliyyah bahawa dosa ini tidak akan terlepas dari pengadilan Allah. Kritikan Al-Quran juga menunjukkan ironinya sikap jahiliyyah - unta diagungkan, anak sendiri dibunuh.
 
Di dalam perihal lain, apakah hikmah dan pengajaran yang kita dapati daripada binatang yang bernama unta ini? Dan mengapa Al-Quran banyak kali mengulangi nama dan sifat unta? Bahkan kenapa Al-Quran menyeru supaya kita berfikir tentang kejadian unta?

Sudah pasti banyak perkara yang kita dapat pelajari dari kejadian unta, oleh sebab itu Allah seru kita supaya kaji tentang unta.
 
Ulama telah buat kajian tentang unta, didapati unta ada sifat-sifat terpuji yang harus diikuti oleh manusia, antaranya (secara ringkas) ialah:
 
1. Unta mempunyai sifat sabar yang tinggi, oleh sebab itu dia mampu merempuhi padang pasir yang panas dan salji yang sejuk tanpa sebarang bantahan. Justeru, manusia kena belajar sikap tersebut khasnya dalam memperjuangkan Islam.

2. Unta mentaati tuannya, oleh sebab itu dia senang dipelihara. Justeru, manusia kena taat Tuhan dan mudah amalkan agama.

3. Unta mengenali tuannya dan ingat tempat kembali, sebab tu dalam hukum fiqh jika ada jumpa binatang yang sesat maka boleh ambil untuk diiklankan kecuali unta sebab unta akan tahu sendiri jalan pulang. Justeru, manusia kena kenal dan tahu tempat kembali iaitu akhirat maka sentiasa beramal untuk akhirat.

4. Unta tidak akan melakukan hubungan seks di hadapan manusia kerana sikap malu yang tinggi, bahkan jika dia tahu ada manusia yang intai waktu dia mengawan maka dia akan marah dan mungkin akan bunuh orang tersebut. Justeru, manusia pun kena ada sikap malu yang tinggi, bukan senang-senang buat maksiat depan khalayak orang, bahkan ada manusia yang lebih teruk dari binatang dalam bab ni hingga tak malu bercumbu-cumbu di hadapan orang.

5. Unta tidak akan berkongsi bini macam binatang lain. Justeru, manusia juga harus jaga maruah dalam berkeluarga.

6. Unta mampu menyesuaikan diri dengan suasana sekeliling, jika musim sejuk maka kulitnya akan menjadi baju sejuk baginya kerana ada aliran pemanas badan. Jika musim panas pula dia akan berasa selesa juga kerana kulitnya mampu menyesuaikan diri. Justeru, manusia harus pandai dalam bergaul dengan masyarakat, bukan sombong dan tidak sabar dengan suasana keliling.

7. Bahagian-bahagian dari diri unta banyak manfaatnya, hati unta, daging unta, susu unta bahkan air kencing unta pun boleh dijadikan ubat. Justeru, manusia kena jadikan diri mereka sentiasa memberi manfaat untuk umat bukannya mudarat dan racun bagi umat.
 
Dan sebenarnya banyak lagi yang boleh disyarahkan dan ditafsirkan dari sikap-sikap unta untuk renungan manusia. Apa yang dah diberi tu pun cukup sebagai pengajaran buat manusia yang sering bongkak dan sombong terhadap apa yang dikurniakan oleh Allah swt. Kita sebagai manusia harus mensyukuri nikmat Allah bukannya merasakan diri kita lebih bagus. Dan semoga kita mengambil manfaat daripada sifat-sifat kejadian unta.

At-Takwiir -pembunuhan bayi





PERIHAL mengenai pembunuhan anak yang tidak berdosa, dirangkaikan oleh al-Quran dalam surah al-Takwir ayat satu hingga lapan dengan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi seperti kehancuran matahari, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, lautan dipanaskan dan dipertemukannya kembali roh dengan badan.

Bersamaan dengan semua itulah, al-Quran bertanya: "Kerana dosa apakah dia (anak perempuan) dibunuh (dikuburkan hidup-hidup) ?, Yang pastinya, ayat terakhir itu tidak bertanya siapa yang membunuh kerana pada hakikatnya sesiapapun pelakunya, ia pasti telah melakukan perkara yang kejam, di luar batas-batas perikemanusiaan dan mendapat kemurkaan Allah SWT.

Itu semua satu isyarat betapa besarnya kebencian dan kemurkaan Allah sehingga si pelaku (pembunuh bayi) tidak wajar untuk di pandang atau diajak berdialog dengan Allah SWT. Namun yang ditanya oleh ayat di atas adalah 'disebabkan dosa apakah anak perempuan itu dibunuh?' Semacam ayat itu bukan sahaja mengisyaratkan larangan pembunuhan, tetapi mengajak si pembunuh untuk menyedari betapa buruk, kejam perbuatannya serta memahami mengapa dia harus menerima hukuman.

Walaupun anak perempuan dikuburkan hidup-hidup pada zaman jahiliah hanya terbatas pada beberapa kabilah sahaja, namun kecaman al-Quran terhadap perbuatan keji itu tidak terperi lagi sehingga dikaitkan dengan kehancuran alam.

Demikianlah juga apa yang berlaku dalam masyarakat kita hari ini, di mana pembunuhan ke atas bayi-bayi adalah sekadar ingin menutup malu akibat perbuatan zina yang mereka lakukan. Mereka malu kepada ahli masyarakat tetapi tidak pada Tuhan. Perbuatan mereka tidak jauh bezanya dengan hubungan yang terjadi di dunia atau alam binatang. Siapa saling suka, ia akan melakukan apa sahaja.

Manusia sebagai makhluk yang terhormat sepatutnya tidak layak untuk menempuh kehidupan seperti haiwan dalam memenuhi hajat biologinya. Sesungguhnya Allah SWT telah mensyariatkan pernikahan dengan syarat dan rukunnya bagi tujuan menyucikan hubungan antara dua insan yang telah berniat untuk menjalinkan hubungan suami dan isteri. Inilah perlindungan yang paling efektif bagi mengelak fenomena zina yang melanda dari pelbagai sudut kehidupan hari ini.

Seingat kita pada zaman jahiliah, yang dibunuh atau yang ditanam hidup-hidup adalah anak perempuan, tetapi kini yang dibunuh adalah anak lelaki dan juga anak perempuan. Di zaman itu, anak yang akan dikuburkan hidup-hidup akan dihiasi terlebih dahulu, tetapi sekarang pembunuhan anak dilakukan sewenang-wenangnya - dibuang dan dibakar. Sungguh ironis dan kejam.

Kalau zaman jahiliah mereka membuang bayi-bayi perempuan yang dianggap memalukan keluarga mereka, tetapi sebaliknya apa yang berlaku pada zaman di mana Islam telah bertapak dan berkembang maju dengan kukuhnya, bayi-bayi perempuan mahupun bayi lelaki dibuang sekali gus menjadikan bayi sebagai sama taraf dengan sampah. Di manakah perikemanusiaan dan harga diri atau maruah masyarakat sekarang jika bayi yang tidak berdosa itu yang sepatutnya dibelai dengan kasih sayang dibuang begitu sahaja.

Berkali-kali al-Quran dan sunnah memperingatkan betapa bernilainya hidup makhluk Allah SWT. Jangankan manusia yang telah menginjakkan kaki di persada bumi, janin yang baru berada dalam perut ibu pun, walaupun masih dalam proses awal, bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhan dilarang untuk dicabut hidup-hidup kecuali berdasarkan ketentuan yang dibenarkan Allah SWT.

Dalam Islam adalah menjadi tanggungjawab masyarakat untuk mendidik anak-anak. Sikap tidak bertanggungjawab dan tidak mahu memelihara anak-anak sebenarnya melambangkan sikap tidak berperikemanusiaan. Sedangkan haiwan sayangkan anaknya, inikan pula manusia yang perlu bertanggungjawab untuk memelihara zuriatnya.

Pada zaman jahiliah yang lampau, anak dibunuh oleh mereka yang tidak berpengetahuan dan yang belum mengenal apa yang dinamakan hak asasi manusia. Tetapi semasa zaman jahiliah moden ini, anak dibunuh oleh ibu bapa yang berpengetahuan. Apapun alasan pelaku pembunuhan bayi, ia sebenarnya lebih buruk dan kejam daripada alasan mereka yang terpaksa melakukan pembunuhan bayi pada zaman jahiliah.

Sebagai anggota masyarakat dan atas peranan kita sebagai hamba Allah, kita turut bertanggungjawab untuk sama-sama mencari jalan dan kaedah yang berkesan untuk menangani gejala sosial yang serius ini. Ada pihak yang mahu peraturan undang-undang dan hukuman lebih berat dijatuhkan ke atas pelaku. Ada juga pihak mencadangkan agar institusi keluarga diperkukuhkan.

Ini langkah-langkah yang perlu. Namun, faktor agama perlu diutamakan. Ia meliputi aspek pendidikan (baik dalam keluarga, di sekolah atau melalui dakwah) serta kempen besar-besaran melalui saluran sesuai agar masyarakat lebih faham dan sama-sama berperanan menangani gejala ini secara Islamik. Kita juga perlu menyediakan pintu taubat kepada mereka yang menyesali perbuatan mereka dan ruang yang lebih besar kepada pihak NGO dalam usaha menyelamatkan nyawa bayi yang tidak berdosa sejajar dengan matlamat kempen Masyarakat Penyayang.

At-Takwiir -kekejaman manusia

Semalam, kita dikejutkan dengan berita tentang penemuan mayat seorang bayi yang dicampak atau tercampak dari Pangsapuri Sentul, Kuala Lumpur. Berita ini menjadi hiasan di dada-dada akhbar. MasyaAllah, dunia akhir zaman, begitu mudah dan murah harga nyawa manusia. Tatkala Al-quran dan hadith tidak lagi jadi pegangan, maka selagi itulah dosa dan noda akan sentiasa menjadi teman. Siksanya bayi tersebut di saat akhir kehidupannya. Moga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada pelakunya. Dan semoga pelakunya dapat dihadapkan kepada muka pengadilan.



Firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8)
 بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9)


Maksud ayat:

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikuburkan hidup-hidup disoal.
Kerana dosa apakah mereka dibunuh?”
(Surah Al-Takwir : 8-9)

Bayi-bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup oleh bapa-bapa mereka pada zaman jahiliyah dahulu, adalah adat jahiliyah yang paling kejam. Apalah dosa bayi-bayi perempuan itu maka mereka diperlakukan begitu zalim, bayi-bayi itu tidak pernah minta mereka dilahirkan sebagai bayi perempuan. Kemunculan mereka ke dunia ini hanyalah natijah daripada hubungan kelamin ibu bapa mereka. Sepatutnya bayi perempuan itu disambut dengan kasih sayang sebagai anugerah Allah Ta’ala.
Kini kita kembali mengulangi zaman Jahiliah di mana bayi dibunuh dengan kejam tanpa rasa sedikitpun pertimbangan. MasyaAllah, inilah harga kemajuan duniawi yang kita terpaksa bayar hari ini. Imanshah berpesan kepada rakan-rakan yang memiliki adik, kakak, abang, mahupun anak-anak. Awasilah mereka, perhatikanlah mereka. Biar kita dikatakan kolot di mata mereka, namun di hadapan Allah kita dapat
menjawabnya nanti!!

At-Takwiir -kedahshatan kiamat





Apabila matahari digulung
Dan apabila bintang-bintang berjatuhan
Dan apabila gunung-gunung dihancurkan
Dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan
Dan apabila binatang-bintang buas dikumpulkan
Dan apabila lautan dijadikan meluap
Dan apabila ruh-ruh dipersatukan
(Q.S. At-Takwir 81: 1-7)


Apabila matahari digulung

Dr. T. Djamaluddin dalam buku Menjelajah Keluasan Langit; Menembus Kedalaman Al Quran, yang diterbitkan Khazanah Intelaktual, halaman 81-82, menjelaskan bahwa kehancuran total alias kiamat bermula dari berkontraksinya alam semesta. Kalimat Apabila matahari digulung menggambarkan saat alam semesta mulai mengerut. Ketika itulah galaksi-galaksi mulai saling mendekat dan bintang-bintang, termasuk tata surya, saling bertumbukan atau dengan kata jatuh satu sama lain.

Alam semesta makin mengecil, akhirnya semua materi di alam semesta akan runtuh kembali menjadi satu kesatuan seperti pada awal penciptaannya. Inilah yang disebut Big Crunch (keruntuhan besar) sebagai kebalikan dari Big Bang, ledakan besar saat penciptaan alam semesta. Kejadian inilah yang tampaknya digambarkan dalam Surat Al Anbiya ayat 104 dengan mengumpamakan pengerutan alam semesta seperti makin mampatnya lembaran kertas yang digulung. “Pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran buku. Sebagaimana Kami telah memulai awal penciptaannya akan Kami ulangi seperti itu.”

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan

Saat matahari terbenam dan kegelapan malam menyelimuti bumi, tataplah ke atas sana. Nun jauh di sana, tampak titik-titik bintang indah menghiasi angkasa. Nun jauh di luar bumi, ada jutaan, bahkan miliaran, galaksi-galaksi bagaikan pulau-pulau yang saling berjauhan yang berpenghuni miliaran bintang.

Matahari adalah salah satu bintang terdekat dan merupakan induk tata surya bermassa sekitar 300.000 kali massa bumi dan berukuran lebih dari sejuta kali besar bumi. Gaya gravitasinya mampu menahan semua anggota tata surya yang sedikitnya terdiri dari 9 planet, sekitar 42 satelit, ratusan ribu asteroid (planet kecil), miliaran komet, dan tak terhingga bongkahan batuan, logam, atau es yang disebut meteoroid yang bertebaran di ruang antarplanet

Matahari hanyalah salah satu bintang berwarna kuning yang berukuran sedang. Padahal, masih ada miliaran bintang yang ukurannya ratusan kali lebih besar dari matahari. Bumi, tempat kita berpijak, hanyalah satu planet kecil di tata surya. Planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus berukuran lebih besar daripada planet bumi. (T. Djamaluddin 2006: 28).

Pada ayat ini disebutkan dan apabila bintang-bintang berjatuhan, maksudnya, bahwa miliaran galaksi yang berpenghuni miliaran bintang akan saling bertabrakan dan keseimbangan semesta pun kacau balau. Inilah peristiwa kiamat yang sangat mengerikan.

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan

Sejatinya, gunung-gunung itu berfungsi sebagai pasak bumi. ”Dan Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak.” (Q.S. An-Naba 78: 6-7). Bisa dibayangkan, apabila kita membangun tenda tanpa pasak, apa yang akan terjadi? Tentu tidak akan kokoh, bukan. Begitupun, bumi tidak akan stabil dan kokoh tanpa gunung-gunung karena gunung berfungsi sebagai pasaknya. Nah, pada saat bintang-bintang berjatuhan dan bertabrakan, sudah dipastikan bumi pun akan mengalami kehancuran total. Hal ini ditegaskan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.

Tidak sedikit ayat yang menyinggung tentang gunung saat berbicara tentang kiamat. Ini menunjukkan peranan gunung dalam keseimbangan bumi. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikut, ”Mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ’Tuhanku akan menghancurkannya pada hari kiamat dengan sehancur-hancurnya.” (Q.S. Thaha 20: 105) ”Dan gunung-gunung akan dihapuskan, hingga jadilah dia fatamorgana.” (Q.S. An-Naba 78: 20)



Dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan

Al ’isyar adalah unta bunting sepuluh bulan. Di kalangan orang Arab, inilah unta yang paling baik dan mahal. Dalam konteks sekarang, tentu bukan unta bunting yang dianggap berharga, namun boleh jadi kendaraan dan perhisan mewah. Pada hari terjadinya kiamat, manusia akan meninggalkan apa pun yang dinilainya berharga, bahkan orang yang dicintainya pun akan ditinggalkannya.

”Pada hari kamu melihat goncangan (kiamat) itu, lalailah wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya itu, dan wanita-wanita hamil mengalami keguguran, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah sangat keras.” (Q.S. Al Hajj 22: 2). Pada ayat ini ada penegasan bahwa seorang ibu yang sedang menyusui anaknya akan meninggalkannya karena sangat ketakutan.

Dan apabila binatang-bintang buas dikumpulkan

Insting binatang sangat kuat menangkap isyarat alam. Pada saat alat pendeteksi gempa belum ditemukan, orang-orang dahulu sering menjadikan perilaku binatang sebagai isyarat akan terjadinya suatu pertiwa yang hebat di bumi. Apabila binatang-binatang buas turun dari hutan menuju daratan, ini boleh jadi isyarat akan terjadinya gempa hebat atau gunung meletus.

Dan apabila binatang-binatang buas dikumpulkan adalah isyarat bahwa binatang buas pun sepertinya hilang kebuasannya hingga mereka mau berkumpul. Padahal, sifat asli bianatang buas itu sangat individualis, mereka lebih suka hidup sendiri-sendiri. Namun, saat terjadi kiamat, mereka berkumpul dengan sangat ketakutan. Ini isyarat betapa dasyatnya peristiwa kiamat.

Dan apabila lautan dijadikan meluap

Kata sujjirat pada ayat ini mengandung makna meluap disertai mendidih. Pada hari kiamat, air laut akan meluap disertai mendidih. Mengapa bisa terjadi demikian? Peristiwa ini bisa terjadi ketika matahari membengkak menjadi bintang raksasa merah.

Menurut teori evolusi bintang, matahari kita akan membesar menjadi bintang raksasa merah menjelang kematiannya. Pada saat itu, matahari bersinar sedemikian terangnya hingga lautan akan mendidih dan kering, batuan akan meleleh dan kehidupan akan punah.

Matahari akan terus bertambah besar hingga planet-planet di sekitarnya, Merkurius, Venus, Bumi, Bulan, serta Mars akan masuk ke dalam bola gas matahari. Barangkali kejadian inilah yang diisyaratkan dalam Al Quran sebagai bersatunya matahari dan bulan. ”Ketika pemandangan telah kacau balau dan bulan hilang cahayanya; matahari dan bulan disatukan ...” (Q.S. Al Qiyamah 55: 7-9). (T. Djamaluddin 2006:81)

Dan apabila roh-roh dipersatukan

Ustadz Sayyid Quthb dalam tafsir Ad-Dzilal menyebutkan bahwa ayat ini paling tidak mengandung dua makna.

Pertama, bisa jadi yang dimaksud dan apabila ruh-ruh dipersatukan adalah dipersatukan roh-roh itu dengan jasadnya sesudah dikembalikan penciptaannya. Maksudnya, semua manusia yang sudah mati, bahkan tulang belulangnya pun telah menjadi tanah, akan dikembalikan pada bentuk aslinya dan disatukan kembali dengan rohnya.

Melakukan hal ini bagi Allah swt. tidaklah sulit, “Dan dialah yang menciptakan dari permulaan, kemudian mengembalikannya kembali, dan menghidupkannya kembali adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan milik-Nya sifat Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (Q.S. Ar-Rum 30: 27)

Kedua, bisa jadi yang dimaksud dengan dan apabila roh-roh dipersatukan adalah akan dihimpunnya setiap kelompok roh-roh yang sejenis dalam satu kelompok tertentu,sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.
”Dan kamu menjadi tiga golongan, yaitu golongan kanan. Alangkah mulia golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsara golongan kiri itu. Dan orang-orang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan pada Allah. Berada dalam surga kenikmatan.” (Q.S. Al Waqi’ah 56: 7-12)

Menurut ayat ini, pada hari kiamat roh-roh akan dihimpun dalam tiga kelompok.

Pertama, Kelompok Kanan adalah kelompok yang mendapatkan kenikmatan dan kemuliaan

Kedua, Kelompok Kiri adalah kelompok yang mendapatkan kehinaan dan kesangsaraan

Ketiga, Kelompok Muqarrabin adalah kelompok yang mendapatkan pengormatan untuk didekatkan dengan Allah. Mereka bukan hanya mendapatkan kenikmatan dan kemuliaan, namun juga posisinya didekatkan dengan Allah swt.

Dua macam penafsiran yang dikemukakan Ustadz Sayyid Quthb bisa diterima karena berlandaskan pada alasan-alasan yang bersumber dari Al Quran. Maksudnya, kita bisa menafsirkan ayat dan apabila roh-roh dipersatukan dengan dipersatukannya roh dengan jasad. Atau bisa juga bermakna, dikumpulkannya roh-roh manusia berdasarkan kelompok kualitasnya.

Penulis lebih cenderung menggunakan dua tafsir tersebut secara berbarengan alias kedua tafsir itu bisa diterima.

Wallahu a’lam.

At-Takwiir -calligraphy





This Koranic fragment includes the bismillah and verses 1-14 of surah 81, entitled al-Takwir (the Folding up). The calligraphy is executed in rayhani script. This writing style is most closely associated with the master calligrapher Yaqut al-Musta’simi and Korans produced in Iran during the 13th and 14th centuries. Calligrapher: unknown. 14th century. 15.5 x 8.8 cm. Rayhani script. Courtesy of the Library of Congress, African and Middle Eastern Division.