Sunday, 2 March 2014

Glorified be You





Gambar: DUA FOR:
Praise

RECITATION & TAFSIR & MORE DETAILS:
http://quranicduas.com/surah-saba/#mg_ld_2144

TRANSLATION:
41. They (angels) will say: "Glorified be You! You are our Wali (Lord) instead of them. Nay, but they used to worship the jinns; most of them were believers in them."


They (angels) will say: "Glorified be You! You are our Wali (Lord) instead of them. Nay, but they used to worship the jinns; most of them were believers in them."



sumber dari: https://www.facebook.com/QuranicDuas

Give me victory





Gambar: DUA OF (Lut (PBUH) FOR:
Victory

RECITATION & TAFSIR & MORE DETAILS:
http://quranicduas.com/surah-ankabut/#mg_ld_2157

TRANSLATION:
30. He said: "My Lord! Give me victory over the people who are Mufsidun (those who commit great crimes and sins, oppressors, tyrants, mischief-makers, corrupts).

He said: "My Lord! Give me victory over the people who are Mufsidun (those who commit great crimes and sins, oppressors, tyrants, mischief-makers, corrupts).



sumber dari: https://www.facebook.com/QuranicDuas

stay close to anything that reminds you to ALLAH





Gambar: And remind, for verily, the reminding profits the believers

Qur'an 51 : 55




It is the name of a man who had ten children




All perfect praise is due to Allaah; I testify that there is none worthy of worship except Allaah and that Muhammad is His Slave and Messenger; as well as his family and all his companions.

Allaah Says (what means):  

“There was for [the tribe of] Saba’ in their dwelling place a sign: two [fields of] gardens on the right and on the left. [They were told]: 'Eat from the provisions of your Lord and be grateful to Him. A good land [you have], and a forgiving Lord.' But they turned away [refusing], so We sent upon them the flood of the dam [i.e. the overwhelming flood that caused a break in their dam], and We replaced their two [fields of] gardens with gardens of bitter fruit, tamarisks and something of sparse lote trees. [By] that We repaid them because they disbelieved. And do We [thus] repay except the ungrateful?And We placed between them and the cities which We had blessed [In the lands of what is now southern Syria and Palestine] [many] visible cities. And We determined between them the [distances of] journey [i.e., We placed the intermediate settlements at calculated distances for the convenience of travellers.], [saying]: 'Travel between them by night or by day in safety.' But [insolently] they said: 'Our Lord! Lengthen the distance between our journeys,' and wronged themselves, so We made them narrations [i.e., their story became a tale related amongst people to take an example from] and dispersed them in total dispersion. Indeed in that are signs for everyone patient and grateful. And Satan had already confirmed through them [i.e. the people of Saba’] his assumption [i.e., that mankind could readily be misled by him.], so they followed him, except for a party of believers. And he had over them no authority except [it was decreed] that We might make evident who believes in the Hereafter from who is thereof in doubt. And your Lord, over all things, is Guardian.” 
[Quran 34: 15-21]

The people of Saba’ were the kings of Yemen and Balqees, the wife of Sulaymaan was from them. The people of Saba’ lived happy and joyful lives that were full of blessings; their sustenance was abundant and their trees and plants very fruitful. Allaah sent messengers to them, instructing them to eat from what He had provided for them and show gratitude towards Him, as well as to worship Him alone and believe in His oneness. They adhered to these instructions for a while, but then shunned His commandments, and were thus punished by a flood on their land.

Ibn ‘Abbaas, narrated that a man came to the Prophet and asked him whether Saba’ was a name of a man, a woman or a land; the Prophet answered by saying:  

“It is the name of a man who had ten children from his progeny, all of whom were Arab; six of them later lived in Yemen and four in Shaam (i.e., ancient Syria). The ones in Yemen were later known as the tribes of Mathhij, Kindah, Al-Azd, Al-Ashaa’iriyyoon, Anmaar and Himyar. As for the ones who lived in Shaam, they were to be the known tribes of Lakhm, Juthaam, ‘Aamilah and Ghassaan.”[Ahmad]

Imaam Ibn Katheer, said: “The meaning of the saying of the Prophet : “…who had ten children from his progeny, all of whom were Arab”is that these ten descended from his offspring, to whom all the Arab tribes originate. It does not mean that they were his direct children, because between him and some of them were two or three generations, and more in some cases. After the flood of the dam hit their area, some remained in their land, while others left to other locations.” End of quote.



sumber dari: http://www.sunni-news.net/

don't compare your love....





Foto



sumber dari: https://www.facebook.com/wapapers

Penyakit Waswas







KERAGUAN adalah suatu fenomena lazim yang dihadapi manusia. Ia datang dan hilang tanpa diduga, namun dalam sesetengah kes, perasaan itu sukar dilenyapkan dan berpanjangan sehingga kerap mempengaruhi diri.

Bahayanya apabila ia bukan setakat menyukarkan seseorang menilai dan membuat keputusan terhadap sesuatu perkara, malah pada satu tahap mengakibatkan hati tidak tenteram.
Seringkali mereka yang dikuasai perasaan ini mengalami masalah dalam menentukan keseimbangan hidup seharian dan bagi umat Islam ia mengganggu tumpuan dalam aspek keimanan dan amal ibadat.

Perasaan ragu-ragu boleh disamakan dengan sangsi, waswas, syak hati dan bingung seperti diterangkan dalam Kamus Dewan.
Ditinjau lebih jauh ia juga disifatkan sebagai bisikan dan suara halus syaitan.

Syaitan berusaha sedaya upaya mengganggu manusia dengan menitipkan perkara bukan-bukan supaya timbul kecelaruan di dalam hati, malah kadangkala mempengaruhi keputusan akal.
Al-Quran ada menjelaskan perkara ini, antaranya ayat dari surah an-Nas, antara lain bermaksud: “Dari kejahatan pembisik, penghasut yang timbul tenggelam. Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia. (Iaitu pembisik dan penghasut) dari kalangan jin dan manusia.”

Sahabat Nabi Muhammad s.a.w juga dilaporkan tidak terlepas daripada perasaan ragu-ragu dan syubhat.

Malah, sesetengah mereka datang kepada baginda mengadukan perkara terbabit.
Abu Hurairah menceritakan, beberapa orang sahabat Rasulullah ]datang dan bertanya: “Sesungguhnya kami mendapati di dalam diri kami suatu yang kami tidak mampu untuk mengucapkannya.”
Rasulullah bertanya: “Apakah engkau mendapatinya?”
Sahabat menjawab: “Ya.”
Rasulullah bersabda: “Itulah kejelasan iman.” (Hadis riwayat Muslim)

Kejelasan iman itu dimaksudkan penolakan gangguan syaitan dan kebencian mereka terhadapnya.
Umat Islam diajar memohon perlindungan dari Allah apabila didatangi bahaya batin iaitu perasaan ragu-ragu dan ingatan buruk angkara makhluk yang tidak kelihatan, seperti syaitan dan jin serta dari tipu daya manusia.

Surah an-Nas adalah antara pelindung daripada bahaya terbabit.
Rasulullah ada menjelaskan ayat yang terkandung dalam surah an-Nas dan al-Falaq tidak ada tolak bandingnya bagi memohon pertolongan Allah daripada segala jenis bahaya.





Imam Muslim meriwayatkan hadis bermaksud: “Bacalah surah-surah (al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas) tiga kali apabila engkau berada pada waktu pagi dan tiga kali apabila engkau berada pada waktu petang supaya engkau terpelihara dan terselamat dari segala bahaya dan bencana.”
Seorang alim bernama Syaqiq menerangkan mengenai bisikan syaitan di dalam diri manusia, katanya: “Tiada satu pagi pun melainkan duduk padaku syaitan dari empat penjuru, dari depanku, belakang, kanan dan sebelah kiriku.”

Seterusnya dia berkata: “Janganlah engkau berasa takut, sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kemudian dia membaca ayat 82 dari surah Taha, ayat 6 dari surah Hud, ayat 128 dari surag al-A’raaf dan ayat 54 dari surah Saba pada setiap penjuru.

Ibrahim bin Hakim menceritakan; dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata: “Ada seorang lelaki yang berpergian jauh (musafir), ternampak seorang lelaki sedang tidur dan dekatnya ada dua syaitan.

“Musafir terbabit mendengar satu antara syaitan itu berkata kepada temannya: ‘Sila pergi dan rosakkan hati orang yang sedang tidur itu.’

“Apabila syaitan itu menghampirinya dia berpatah balik kepada temannya dan berkata: ‘Dia tidur dengan satu ayat yang membuatkan kita tidak menemui jalan kepadanya.’
“Satu lagi syaitan datang kepadanya. Apabila menghampirinya, ia berpatah balik kepada temannya dan berkata: ‘Engkau betul.’

“Kemudian syaitan terbabit beredar dari tempat itu.
Musafir terbabit mengejutkan lelaki yang sedang tidur itu dan menceritakannya hal syaitan yang dilihatnya itu. Dia bertanya: ‘Apa yang engkau baca ketika hendak tidur?’

“Lelaki itu menjawab: ‘Aku membaca ayat ini (maksudnya: Dan berapa banyak negeri yang Kami binasakan, iaitu datang azab seksa Kami menimpa penduduknya pada malam hari atau ketika mereka berehat pada tengah hari-ayat 4 surah al-A’raaf).’”

Mereka yang menghiaskan diri dengan takwa dan iman, malah selalu mengingati Allah sukar diganggu bisikan syaitan. Hati mereka tenang dan tidak mudah dipengaruhi, walaupun berdepan dengan cabaran dan godaan.

Ibnu Qayyim berkata, sangat perlu bagi seseorang agar tidak menghentikan lidahnya daripada berzikir kepada Allah. Dengan zikir seseorang dapat melindungi dirinya, sedangkan syaitan tidak dapat masuk kepadanya melainkan melalui pintu kelalaian.

Syaitan sentiasa mengintai manusia. Apabila manusia lalai dan mengantuk ia menerkamnya.
Apabila manusia berzikir kepada Allah, terancamlah musuh Allah itu dan berasa dirinya terhina dan tertunduk.

Ibnu Abbas berkata: “Syaitan itu seperti virus penyakit di hati manusia. Apabila manusia lalai dan lupa, syaitan beraksi dan apabila manusia ingat kepada Allah ia menyorok (lari bersembunyi).”
Tetapi tidak dinafikan, sesetengah pihak mengalami kesukaran menangkis ancaman terbabit walaupun selepas dibaca doa pelindung dan ini membuatkan diri semakin buntu memikirkan usaha terbabit.

Dalam hubungan ini Ibnu al-Jauzi ada membuat perumpamaan, katanya: “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan iblis terhadap orang yang takwa dan tidak adalah seperti seorang sedang duduk di hadapannya ada makanan dan daging.
“Seekor anjing melalui kawasan itu, kemudian dia berkata: ‘Husy! Husy!.’
“Anjing itu berlalu dan kemudian datang pada orang lain, juga terdapat makanan dan daging di hadapannya.
“Orang itu juga menghalau anjing terbabit dengan mengatakan: ‘Husy! Husy!.’ Tetapi kali ini anjing tidak mahu meninggalkannya.
“Perumpamaan yang pertama adalah seperti orang yang takwa didatangi syaitan, ia mampu menghalau syaitan dengan zikir saja. Perumpamaan kedua seperti orang yang tidak takwa, syaitan tidak mahu lari darinya (walaupun dihalaunya dengan zikir).”

Justeru, bagi orang Islam yang ingin selamat dari bisikan syaitan dan tipu dayanya, hendaklah menyibukkan diri dengan ketakwaan, keimanan dan perlindungan kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

Doa’ Penyakit Was-Was:

Wallahu’alam….




sumber dari: http://hasnulhadiahmad.com/penyakit-waswas/

pohon Sidir





Sidir 4


Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi 
 (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr[1237].


Sidir 3



sumber dari: http://fatemah-abdullah.blogspot.com