Saturday, 22 February 2014

scientific miracle from Al Quran





There are many scientific proof in Al quran such creation human, natural phenomenon like rain, and many more. So our job is to make a research on Al quran so that we can discover new knowlegde that Allah already mention in Al Quran. You Know how Jews can conquer world economy now? This because the study Al quran, make a research and they use this to fight against Muslim, and we should relies about this.



sumber dari: acapingu.blogspot.com

Makna Syukur yang Benar






“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan [76]: 3)

Mukaddimah

Ayat ini terdapat di surah al-Insan. Dinamakan al-Insan karena di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menceritakan awal kejadian manusia serta hakikat manusia itu sendiri. Para ulama juga sepakat menjadikan surah al-Insan sebagai bacaan yang sunnah dibaca pada shalat Subuh di hari Jumat setelah surah as-Sajadah di rakaat pertama.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: Di antara hikmah membaca kedua surah itu di hari Jumat, mengingatkan kaum Muslimin akan penciptaan Nabi Adam –sebagai awal penciptaan manusia- yang terjadi pada Jumat. Sebagaimana hari Kiamat juga kelak akan terjadi pada Jumat. Selain itu, surah al-Insan juga mengingatkan tentang awal perjalanan kehidupan manusia yang bermula dari sesuatu yang hina. Serta akhir perjalanannya yang niscaya berpulang kepada sang Pemilik kehidupan tersebut.

Hidup adalah Nikmat

Pernahkah kita berpikir jika hidup ini adalah nikmat? Dalam kacamata logika, bagi seseorang yang dikaruniai limpahan materi dalam hidupnya, boleh jadi menjawab ‘ya’. Kehidupan dunia ini adalah nikmat dan sesuatu yang menyenangkan. Sedang mereka yang ditakdirkan hidup tanpa materi yang cukup, mungkin mereka berkata ‘tidak’. Hidup adalah beban dan semata tumpukan penderitaan saja.
Seiring jauhnya seseorang dari agama dan rusaknya moral manusia, dengan mudah kita mendapati mereka yang menganggap hidup di dunia adalah beban. Mereka tak mampu lagi berpikir positif, sebab hidupnya saja adalah beban. Alih-alih memberikan manfaat kepada orang lain, dia sendiri sudah terkungkung beban pemikirannya yang sempit. Hasilnya sangat mudah ditebak, orang yang bertipe semacam itu akan mudah mengalami stress, dan hidupnya merasa tertekan. Lebih parah lagi jika ternyata orang itu menganggap bunuh diri adalah solusi dari kebuntuan hidupnya.

Padahal Allah Subhananhu wa Ta’ala telah menegaskan, jika hidup adalah nikmat. Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mengutarakan dua nikmat besar yang telah Allah berikan kepada manusia. Nikmat pertama, penciptaan manusia itu sendiri. Dia diciptakan sedang sebelumnya dia tak pernah ada. Manusia lahir ke muka bumi sedang dulunya dia sama sekali tak dikenal. Bahkan oleh sang ibu yang melahirkan anak itu, sebagaimana para orang tua, tak pernah tahu seperti apa anak yang kelak menjadi keturunan mereka. Dalam urusan penciptaan ini, manusia sama sekali tak punya andil dan kuasa sedikit pun, kecuali hanya wajib mensyukurinya.

Nikmat berikutnya terdapat pada kemurahan Allah dengan diutusnya Rasul kepada manusia dan diturunkannya al-Qur`an sebagai pegangan hidup. Rasul yang diutus lalu bertugas memberikan penjelasan aturan dan rambu-rambu kehidupan di dunia. Suatu pedoman hidup yang telah terangkum lengkap dalam al-Qur`an, petunjuk yang mampu mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan ketenangan hidup. Baik di dunia terlebih di akhirat kelak.

Berbeda dengan tipe manusia pertama, orang yang pandai bersyukur memiliki secret power dalam kehidupannya. Dia senantiasa mampu memandang segala persoalan dengan kacamata positif. Baginya, jatah hidup berarti kesempatan untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Dia seakan-akan tak punya waktu lagi untuk berleha-leha dan berbuat sia-sia. Sebab, nikmat yang dia rasakan begitu banyak, tak sebanding dengan apa yang telah dia perbuat. Jatah umurnya yang terus menyusut tak seimbang dengan pengabdiannya kepada agama.

Alhasil, kehidupan orang yang pandai bersyukur senantiasa aktif dan dinamis. Seluruh permasalahan dan aktivitasnya menjadi lahan subur baginya untuk merefleksikan rasa syukur itu. Dalam pikirannya, hanya satu saja yaitu menebarkan benih prestasi kebaikan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Hidup adalah Pilihan

As-sabil (jalan) yang dimaksud pada ayat di atas adalah hidayah dari Allah berupa bayan (penjelasan) akan hakikat kehidupan manusia di dunia. Sebagaimana disebutkan, selain menciptakan manusia, Allah Ta’ala juga mengirimkan kepada mereka Rasul. Sebagai utusan Allah, maka Rasul bertugas mengajarkan mana jalan al-haq (kebenaran) dan mana jalan al-bathil (keburukan), mana al-huda (petunjuk) dan mana ad-dhalalah (sesat).

Rasul juga berkewajiban membimbing manusia untuk senantiasa istiqamah menjalani fitrahnya yang suci. Sebab, selain kedua nikmat di atas, nikmat berupa iman merupakan karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia.

Hidup adalah pilihan. Boleh jadi ungkapan tersebut bisa mewakili keadaan manusia sekarang, sebab rupanya karunia petunjuk ini sekaligus menyisakan ujian yang tak mudah bagi manusia. Dia dihadapkan pada dua pilihan. Apakah mereka mampu bersyukur atas nikmat tersebut atau justru mengingkari nikmat.

Kehidupan dunia dengan segala tawaran fasilitasnya kembali menjadi taruhan bagi manusia dalam menimbang kadar kesyukuran seseorang.

Allah hanya sebatas memberikan jalan menuju surga dan menjelaskan cara meraih keselamatan itu. Sedang pilihan itu berpulang kepada setiap diri manusia. Meski sudah menjadi fitrah dan pengakuan setiap jiwa di alam arwah, tapi dia bukanlah garansi keselamatan selama-lamanya. Sebab, iman merupakan perkara yang tak bisa diwariskan. Dia bisa saja lenyap begitu saja dengan bujuk rayu dari tumpukan materi yang ada.

Makna Syukur yang Benar

Tidak jarang manusia bersyukur hanya jika mendapatkan nikmat berupa materi duniawi saja. Lalu luput mensyukuri nikmat yang jauh lebih hakiki berupa keimanan yang terjaga. Bagi seorang Muslim, iman adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Selama keimanan masih tertancap dalam raga, maka tak ada pilihan lain kecuali bersyukur kepada-Nya. Dalam shalat lima waktu, seorang hamba wajib mengulang-ulang permohonannya kepada Allah untuk diteguhkkan dalam nikmat iman tersebut. “Ihdina as-shirat al-mustaqim” tunjukilah kami jalan yang lurus.

Bersyukur tentu tak sekadar membasahi lidah dengan ucapan syukur semata. Sebagaimana dia tak cukup untuk diakui di dalam hati saja tanpa ada refleksi amalan kebaikan. Namun, sikap syukur yang benar adalah ketika seseorang mampu menjadikan rasa syukur di hati menjadi zikir di lidah dan berbuah kepada ketaatan kepada Allah semata.

Jangan Keliru Memilih

Dalam urusan keimanan, keliru bersikap bisa berakibat sangat fatal. Ketika seseorang salah memilih presiden, misalnya. Pilihan yang salah itu hanya berdampak pada penyesalan selama masa periode kepemimpinan sang presiden itu. Namun, berbeda halnya ketika manusia salah memilih jalan hidup. Ketika seseorang tidak mampu mempertahankan fitrah pada dirinya, lalu mengingkari segala nikmat yang diberikan, maka hal ini berujung kepada penyesalan seumur hidupnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebab kesengsaraan itu akan dirasakan selama-lamanya pada kehidupan abadi yang tiada bertepi lagi.



sumber dari: majalah.hidayatullah.com

Thursday, 20 February 2014

Fearlessness in the face of Authority






Sulayman ibn ‘Abd al-Malik (the Ruler) once sent for Abu Hazim, and when he came to him, he said, “O Abu Hazim, why is it that we dislike death?”

He said, “Because you have ruined your Hereafter and built up your present world. So you hate to leave this constructed world of yours and go to the ruins.”

He said, “That’s true. So how will our arrival be when we go back to Allah?”

He said, “As for the righteous good-doer, then he will be like the absent one returning to his family, and as for the wicked, then he will be like the runaway slave being brought back to his master.”
Sulayman then wept and said, “Alas, what do we have with Allah then, O Abu Hazim?”

He said, “Present yourself to the Book of Allah `azza wa jall, and you will know what you have with Him.”

He said, “O Abu Hazim! How can I get that?”

He said, “At the point of His Words: “And indeed, the wicked will be in Hellfire.” [al-Infitar: 14]

He said, “So where is the Mercy of Allah?”

He said, “…Near to the good-doers.” [al-A’raf: 56]

Sulayman said, “What do you say about our affairs (as rulers)?”

He said, “Pardon me from answering this.”

He said, “Even words of advice that you can give?”

Abu Hazim said, “There are some people who took hold of this matter (authority/government) forcefully without consulting the Muslims or gathering their opinions. So they shed therein much blood because of their pursuit of the Dunya (world), and then they left this world. God knows what they will say and what will be said to them.”

Some of those present said, “What evil you have uttered, O shaykh!”

Abu Hazim said, “You are a liar. Indeed Allah has taken a covenant from the scholars that they should make things clear to the people and not conceal knowledge.”

Sulayman said, “Accompany us, O Abu Hazim, so that we can gain from you and you can gain from us.”

He said, “I seek refuge in Allah from that.”

He said, “And why?”

Abu Hazim said, “I fear that I will incline to you a little and thus be made to taste double punishment in life and double punishment after death.” (referring to verses from Surah al-Isra’)

He said, “Instruct me.”

He said, “Beware that Allah sees you where He has prohibited you from, and that He finds you missing from where He has ordered you to be.”

He said, “O Abu Hazim, pray for us for goodness.”

He said, “O Allah, if Sulayman is from Your close slaves, then ease the path of goodness for him. And if he is an enemy to You, then take him by the forelock and guide him to good.”

Sulayman said to one of the workers, “Bring a hundred dirhams.” And he gave it to Abu Hazim saying, “Take it.”

Abu Hazim said, “I have no need for it. I fear that you are bestowing this upon me because of what you just heard from me.”

- Translated from Shaykh Sa’id ‘Abd al-’Adhim’s book, ‘al-Atqiya’ al-Akhfiya’, pg.169-170



sumber dari: fajr-literary.com

Ciptaan Allah dan The Golden Ratio




Golden Section juga dikenal dengan nama The Golden Mean, Golden Ratio, dan Divine Proportion (The Golden Section).

Dijabarkan sebagai sebuah rasio yang berasal dari huruf Yunani : phi Op), rasio the golden mean sama dengan atau mendekati bilangan 1.618033988749895 or (1+'q5)/2 (The Golden Mean, MathSoft Constants) yang termasuk di dalamnya satu set konstruksi geometrik untuk memisahkan satu ruas garis menjadi banyak bagian dimana nilai rasio/perbandingan garis yang panjang berbanding total panjang garis sama dengan atau mendekati nilai perbandingan dari garis yang pendek berbanding dengan garis yang panjang (The Golden Section).

The Golden Mean sebagai sebuah rasio/perbandingan kompleks yang berasal dari huruf Yunani phi ((p) menggambarkan satu set figur geometrik yang termasuk di dalamnya ; garis, segiempat, dan spiral. Figur-figur tersebut jika digambar sesuai dengan the Divine proportion dianggap sebagai bentuk yang sempurna dan paling memuaskan secara estetis.

The Golden Section telah digunakan sejak jaman klasik dalam berbagai penerapan termasuk dalam bidang seni, arsitektur, dan spiritual karena pendekatannya terkait dengan hal yang bersifat ideal dan tentunya menyentuh sisi-sisi ketuhanan sebagai sesuatu yang absolut.Angka Fibonacci 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, …Angka Fibonacci memiliki satu sifat menarik. Jika Anda membagi satu angka dalam deret tersebut dengan angka sebelumnya, akan Anda dapatkan sebuah angka hasil pembagian yang besarnya sangat mendekati satu sama lain.

Nyatanya, angka ini bernilai tetap setelah angka ke-13 dalam deret tersebut. Angka ini dikenal sebagai "golden ratio" atau "rasio emas".GOLDEN RATIO (RASIO EMAS) = 1,618 233 / 144 = 1,618 377 / 233 = 1,618 610 / 377 = 1,618 987 / 610 = 1,618 1597 / 987 = 1,618

Anda akan melihat betapa hebat Allah dalam presentasi ini, dan ini menyajikan bukti-bukti tentang keberadaan Allah.Semua ciptaan di alam semesta ini mengikuti rasio ilahi ini.

- Jarak antara ujung jari dan siku / jarak antara pergelangan tangan dan siku = 1. 618
- Jarak antara pusar dan bagian atas kepala / jarak antara garis bahu dan bagian atas kepala = 1. 618.
- Jarak antara pusar dan lutut / jarak antara lutut dan ujung kaki = 1. 618.

Bahkan kaki Anda juga menunjukkan phi. Kaki memiliki beberapa proporsi berdasarkan garis phi, termasuk: bagian tengah lengkungan kaki dan telapak kaki; bagian dasar garis dan ujung jempol kaki; bagian atas garis ujung dan bagian bawah jalur riwayat kaki. Jari-jari kita memiliki tiga ruas. Proporsi dari dua bagian jari dengan panjang jalur riwayat juga menunjukkan rasio emas. Anda juga dapat melihat bahwa proporsi jari tengah terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula.Wajah ManusiaTotal lebar dua gigi depan pada rahang atas dibagi dengan tingginya menghasilkan rasio emas. Lebar gigi pertama dari tengah dibandingkan gigi kedua juga menghasilkan rasio emas.

Allah berfirman dalam Alquran:  
“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS. Al-Infitar, 7-8)

Panjang wajah / lebar wajah = 1,681 Panjang mulut / lebar hidung = 1,681 Lebar hidung / jarak antara lubang hidung = 1,681 Jarak antara pupil / jarak antara alis = 1,681 Jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala / panjang kepala = 1. 618Paru-paruSalah satu fitur dari jaringan bronkia yang membentuk paru-paru adalah bentuknya yang asimetris. Sebagai contoh, tenggorokan terbagi menjadi dua bronkus utama, yang pertama panjang (di sebelah kiri) dan yang kedua pendek (di sebelah kanan). Percabangan asimetris ini terus berlanjut ke subdivisi berikutnya dari bronki. Itu dipastikan bahwa pada seluruh percabangan ini proporsi bronkus pendek ke panjang selalu 1/1.618.

Spiral

Sebuah persegi panjang yang perbandingan panjang sisi-sisinya sama dengan rasio emas dikenal sebagai "persegi panjang emas." Sebuah persegi panjang yang panjang dan lebarnya masing-masing berukuran 1,618 dan 1 satuan panjang adalah persegi panjang emas. Mari kita letakkan sebuah bujur sangkar di sepanjang sisi lebar dari persegi panjang ini dan menggambar seperempat lingkaran yang menghubungkan dua sudut dari bujur sangkar ini. Kemudian, kita gambar satu bujur sangkar lagi dan seperempat lingkaran pada sisi yang selebihnya dan melakukan hal demikian pada seluruh persegi panjang yang ada pada persegi panjang utama. Jika Anda melakukan hal ini, pada akhirnya Anda akan mendapatkan sebuah spiral.

Pakar keindahan asal Inggris William Charlton menjelaskan bagaimana orang-orang menyukai bentuk spiral dan telah menggunakannya selama ribuan tahun. Ia menyatakan bahwa kita menyukai bentuk spiral karena penglihatan kita dapat dengan mudah mengikuti bentuk tersebut.

Spiral yang didasarkan pada rasio emas memiliki rancangan paling tak tertandingi yang dapat Anda temukan di alam. Sejumlah contoh pertama yang dapat kita berikan adalah susunan spiral pada bunga matahari dan buah cemara. Bentuk-bentuk lengkung spiral ini senantiasa sama dan bentuk dasarnya tidak pernah berubah berapapun ukurannya. Tidak ada bentuk mana pun dalam matematika yang memiliki sifat ini.

Rasio Emas pada DNA

Molekul yang mengandung informasi tentang seluruh sifat-sifat fisik makhluk hidup juga telah diciptakan dalam bentuk yang didasarkan pada rasio emas. Molekul DNA, cetak biru kehidupan, didasarkan pada rasio emas. DNA tersusun atas dua rantai heliks tegaklurus yang saling berjalinan. Panjang lengkungan pada setiap rantai heliks ini adalah 34 angstroms dan lebarnya 21 angstroms. (1 angstrom adalah seperseratus juta sentimeter.) 21 dan 34 adalah dua angka Fibonacci yang berurutan.

Rasio Emas pada Makkah dan Ka’bah

Al-Qur’an memberi isyarat tentang hubungan antara Kota Makkah dan Golden Ratio, yaitu di dalam Surah Ali Imran ayat 96. Jumlah total semua huruf dari ayat ini adalah 47. Menghitung Golden Ratio dari total surat, kata Makkah tersirat : 47/1.618 = 29,0. Terdapat 29 surat-surat dari awal sampai ayat kata, Makkah seperti dalam peta dunia. Jika hanya satu kata atau huruf yang hilang, rasio ini tidak pernah bisa dipakai. Kita menyaksikan koherensi sejumlah surat yang mengungkapkan hubungan antara Mekah dan Golden Ratio.

Penemuan mengenai hubungan antara Golden Ratio, Mekkah, Ka’bah dan Qur’an telah meningkat dari hari ke hari. Pada gambar, itu menunjukkan bahwa pengukuran dengan rasio emas kompas yang juga dikenal sebagai Kompas Leonardo, membuktikan bahwa kota Mekah terletak di Golden Ratio Point of Saudi sementara Ka’bah terletak di Mekah Golden Ratio City. Menurut perhitungan probabilitas, semua bukti ini tidak dapat insidentil (terjadi secara kebetulan).


sumber dari: midahzone.blogspot.com

He Who created you and formed you




THE HUMAN MIRACLE

O man! What has deluded you in respect of your Noble Lord? He Who created you and formed you and proportioned you and assembled you in whatever way He willed. (Surat al-Infitar:6-8)



sumber dari: the-human-miracle.blogspot.com

INTRODUCTION: A SHORT VOYAGE THROUGH THE HUMAN BODY




This website describes how the human body’s various systems function, and gives examples of their components. In contrast to many other books about human anatomy, however, we also regularly emphasize a number of points. We examine information in considerable detail, draw attention to the fine characteristic in every square millimeter of the human body, and particularly emphasize the cells, tissues, molecules and glands that perform such miraculous processes within that body’s depths.
From time to time, we also provide technical details, to ensure a better understanding of the complex structure within your body, and also to give you a new perspective on events occurring inside your body and to encourage you to consider them more deeply.
In order to achieve this, as you read this website, imagine yourself on a voyage throughout your own body—a voyage on which unbelievable surprises await you. You will discover that there is a generator in your heart, and when that generator cuts out, a spare one steps in to take over the work. You’ll witness how cells in your small intestine are able to recognize and trap iron atoms out of the many hundreds of different substances they encounter. You will see how, after a long journey, a molecule of hormone, produced in an endocrine gland located in your head, reaches its far distant objective—your kidney, for example—and how it instructs the cells there what to do.
During the course of this journey you will witness miraculous events that have been taking place throughout what you refer to as “My body” ever since the day you were born, starting right beneath the surface of your skin.
Viewed from that point of view, your body is a whole city, a whole other world, in fact. Inside it are modes of transport, buildings, factories, infrastructure systems, equipment more highly advanced than even the most sophisticated technology in the outside world, specialized elements (such as cells, hormones, glands) that seem to exhibit unexpected awareness, fully equipped defensive troops, and many other marvels.Moreover, this miniaturized environment is not restricted to your own body alone. Everyone you see around you—your parents, brothers, sisters, friends, colleagues, people walking in the street, the actors you watch on television, and all the billions currently living on this planet—possesses this same miraculous world within the skin. Similarly, people who lived hundreds or even thousands of years ago—indeed all the humans who have ever lived—have possessed this same inner perfection. Just like those alive today, people in the past had the same flawless systems in their bodies: trillions of conscious-seeming cells, secretory glands with decision-making abilities, and organs equipped with the most sophisticated biotechnology.
Considering and evaluating the events taking place within this miniature environment is of great importance, because anyone who does so has taken the first step towards freedom from a great illusion. Those who realize the perfection of the systems inside their own bodies—in the heart, for example—and who have grasped the creation within that system, can no longer be taken in by evolutionary fables that claim that the heart acquired all these features by chance. You will know that cells formed by the coming together of unconscious molecules could never do these things by themselves, and will seek to question of Whose intellect it actually is that these cells exhibit.
Someone who realizes that the stomach, a mere enclosure of muscle and tissue, possesses a special system that prevents it digesting itself while it secretes the acid strong enough to dissolve meat . . . those who know that when they cut their finger, at least 20 different enzymes go into action in a very special sequence in order for their blood to clot, with never any confusion or deficiency in the various processes while this is carried out . . . will find, by thinking deeply about the details of matter, that none of these systems could have developed in stages, as evolutionists would have us all believe.
Those who understand these details will realize that the tiny worlds of their bodies, has a Creator, and will regard the information they read here as a guide to becoming acquainted with that Creator. Everyone who sees the order in the systems within the human body, its superior creation at every point, will also clearly see that an Entity possessed of a superior power and a superior intellect must have created that body. In the Qur’an it is revealed that:
Everything in the heavens and everything in the earth belongs to Him. Allah is the Rich Beyond Need, the Praiseworthy. Do you not see that Allah has made everything on the earth subservient to you and the ships running upon the sea by His command? He holds back the heaven, preventing it from falling to the earth—except by His permission. Allah is All-Compassionate to humanity, Most Merciful. It is He Who gave you life and then will cause you to die and then will give you life again. Man is truly ungrateful. (Surat al-Hajj: 64-66)
As you will clearly see from the examples given throughout this website, it is Almighty Allah Who created the 100 trillion or so cells, the glands, many organs and tissues in your human body. Allah creates human beings as a whole, together with all their physical components, and reveals evidence of this to allow them to come to know Him. As our Lord has revealed in the Qur’an:
If you tried to number Allah’s blessings, you could never count them. Allah is Ever-Forgiving, Most Merciful. (Surat an-Nahl:18)
That being so, those who are aware of all this must also realize the many blessings imparted by Allah. Such people will arrange their lives in such a way as to please only Him, know that their own bodies, and every new day bestowed on them when they rise in the morning are blessings from Allah, and will give due thanks to Him.
INTELLIGENT DESIGN—IN OTHER WORDS, CREATION
In order to create, Allah has no need to design.
It’s important to properly understand the word “design.” That Allah has created a flawless design does not mean that He first made a plan, and then followed it. Allah needs no “designs” in order to create. Allah, the Lord of the Earth and the heavens, is exalted above all such deficiencies. His planning and creation take place at the same instant.
Whenever Allah wills a thing to come about, it is enough for Him just to say, “Be!” As we are told in verses of the Qur’an:
His command when He desires a thing is just to say to it, “Be!” and it is. (Surah Ya Sin:82)
[Allah is] the Originator of the heavens and Earth. When He decides on something, He just says to it, “Be!” and it is. (Surat al-Baqara: 117)
 

sumber dari: the-human-miracle.blogspot.com

The Cleaving






1 When the heaven is cleft asunder.
2 And when the stars have fallen and scattered.
3 And when the seas are burst forth.
4 And when the graves are turned upside down (and bring out their contents)
5 (Then) a person will know what he has sent forward and (what he has) left behind (of good or bad deeds).
6 O man! What has made you careless about your Lord, the Most Generous?
7 Who created you, fashioned you perfectly, and gave you due proportion.
8 In whatever form He willed, He put you together.
9 Nay! But you deny Ad-Din (i.e. the Day of Recompense).
10 But verily, over you (are appointed angels in charge of mankind) to watch you,
11 Kiraman (Honourable) Katibin writing down (your deeds),
12 They know all that you do.
13 Verily, the Abrar (the pious believers of Islamic Monotheism) will be in Delight (Paradise);
14 And verily, the Fujjar (the wicked, disbelievers, polytheists, sinners and evil-doers) will be in the blazing Fire (Hell),
15 Therein they will enter, and taste its burning flame on the Day of Recompense,
16 And they (Al-Fujjar) will not be absent therefrom.
17 And what will make you know what the Day of Recompense is?
18 Again, what will make you know what the Day of Recompense is?
19 (It will be) the Day when no person shall have power (to do) anything for another, and the Decision, that Day, will be (wholly) with Allah.


sumber dari: quran-english-transliteration.blogspot.com