Tuesday, 10 June 2014

Conversation with the moon – Ma’al Qamar






I love this poem by Saudi Arabian poet, Abdul Rahman al-Ashmāwi. His poems make me weep. When I first read the poem and when I came to the part where the moon says “و قال أتعني الرّسول الكريم؟ ، أتعني الصّدّيق، أتعني عمر؟” – “Do you mean tales of the gracious Prophet, Do you mean as-Siddique (Abu Bakr) or do you mean ‘Umar?”, my heart skipped a beat and the tears began to flow as I read on. This is truly beautiful as are all Ashmāwi’s other poems. It is also beautifully sung. Hope you enjoy it and take time to reflect and take stock of yourself. It doesn’t take much, this poem definitely gets you there.

Tell us what you think.



sumber dari: ummulhasanaat.co.za/

12 Kaum Yang Dibinasakan Allah SWT







1. Kaum Nabi Nuh.
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang engkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (Surah Al-Ankabut : 14).

2. Kaum Nabi Hud.
Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (Surah Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

3. Kaum Nabi Salleh.
Nabi Salleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Salleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (Surah ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

4. Kaum Nabi Luth.
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyonsang, iaitu berminat dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Banyak kali diberi peringatan, mereka tidak mahu bertaubat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah runtuhan rumah mereka sendiri (Surah Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

5. Kaum Nabi Syuaib.
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah kerana mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perniagaan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Banyak kali mereka berlindung di tempat yang teduh, perkara itu tidak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (Surah Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pohonnya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (Surah AlHijr: 78, Alsyu’araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

6. Firaun.
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun mengaku sebagai tuhan. Dia akhirnya maut di Laut Merah dan jasadnya berjaya diselamatkan. Hingga kini masih boleh disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

7. Ashab Al-Sabt.
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestin). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (Surah Al-A’raaf: 163).

8. Ashab Al-Rass.
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Salleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib.
Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan kerana mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam perigi sehingga mereka dibinasakan Allah (Surah Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

9. Ashab Al-Ukhdudd.
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (Surah Alburuuj: 4-9).

10. Ashab Al-Qaryah.
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (Surah Yaasiin: 13).

11. Kaum Tubba’.
Tubaa’ adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat engkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah empangan air (Surah Addukhan: 37).

12. Kaum Saba.
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Kerana mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan empangan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (Surah Saba: 15-19).



sumber dari: nine.gapuranetwork.net/

Hafalan Alquran Dapat Mencegah Berbagai Penyakit






Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.
 
Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.
 
Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.
 
Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.
 
Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.
 
Komentar terhadap Kajian:
 
Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.
 
Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:
 
1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
 
Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)
 
Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw.



sumber dari: alkautsar-rt.blogspot.com/

Suasana Alam Akhirat





Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum. Marilah kita sama2 memuji dan memuja Allah SWT yang mencurahkan limpah kurniaNya yang begitu banyak, memberikan kenikmatan yang begitu banyak sehingga kita tak mampu menghitungnya.

Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad saw serta keluarga dan para sahabat yang mulia dan orang2 yang istiqamah mengikuti Baginda.

Hari ini dituliskan tentang suasana hari akhirat yang digambarkan dalam surah 83 yakni al-Muthaffifin (orang-orang yang curang/menipu dalam timbangan dan sukatan) mulai ayat 1 hingga 21.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dan Ahmad Sonhadji, sebabnya ayat ini diturunkan ialah semasa Nabi Muhammad saw sampai di Madinah didapati orang2 Madinah menyukat dan menimbang dengan cara yang amat buruk. Salah seorang peniaga yang bernama Abu Juhainah mempunyai dua jenis alat sukatan dan alat timbangan, satu besar dan satu lagi kecil. Jika menyukat barangan untuk dibeli oleh dirinya sendiri daripada orang lain dia gunakan sukatan yang besar, sebaliknya jika dia menjual barangannya kepada orang lain digunakan timbangan yang kecil. Jadi dengan ini dia yang mendapat untung manakala orang lain yang berurus niaga dengannya mendapat kerugian.

Dalam ayat pertama ada perkataan al-muthaffifin. Kalimah itu berasal daripada kata akar thaffafa yang bermaksud mengurangi atau menambah.

Oleh itu Allah menurunkan ayat-ayat ini sebagai peraturan dalam proses jual beli atau urus niaga sesama manusia.

Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang (dalam timbangan dan sukatan), (1) Iaitu mereka yang apabila menerima sukatan (gantang cupak) daripada orang lain mereka mengambilnya dengan cukup, (2) Dan (sebaliknya) apabila mereka menyukat atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. (3) Tidakkah mereka menyangka bahawa mereka akan dibangkitkan (hidup semula sesudah mati)? (4) Pada hari (kiamat) yang amat agung/ besar (huru-haranya), (5) Hari berdiri manusia untuk menghadap Tuhan sekalian alam? (6)

Allah mengancam dengan kecelakaan besar (Neraka Wail) yang amat panas kerana cara mereka berniaga seperti di atas tadi adalah tidak betul. Allah mengingatkan mereka bahawa mereka akan dibangkitkan semula pada hari akhirat dan akan mendapat balasan atas apa yang mereka kerjakan. Di Padang Mahsyar nanti mereka akan merasa panas teriknya matahari jarak sejengkal di atas kepala, manakala peluh mengikut kadar amalan masing-masing, ada yang sampai ke buku lali, ada yang sampai ke lutut dan ada pula sampai ke lubang hidung. Demikianlah dahsyatnya hari kiamat, dan inilah yang dinamakan yaumul 'Adzim (hari yang agung/besar)(1-6)



sumber dari: harmoniinn.blogspot.com/

DESCRIPTION OF THE DAY OF JUDGMENT





surah-mutaffifin



4) أَلَا يَظُنُّ أُولَـٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ
[Do they not think that they will be resurrected (for reckoning),]

5) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ
[On a Great Day?]

6) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
[The Day when (all) mankind will stand before the Lord of the 'Alamîn (mankind, jinn and all that exists).]

Describing the horror of the Day of Judgment, Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) said:

“On the Day of Judgment, the sun will draw near the servants (i.e. men) until it is a mile or two away from them. Then the sun will burn them, and they will be submersed in sweat based upon the amount of their deeds. From among them there will be those whose sweat will come up to their two heels. From among them there will be those whose sweat will come up to their two knees. From among them there will be those whose sweat will come up to their groins. From among them there will be those who will be bridled in sweat up to their necks.”
[Narrated by Muslim and At-Tirmidhi]

The Prophet used to seek refuge with Allah from the hardship of standing on the Day of Judgment. ‘Aa’ishah, the wife of the Prophet said:

“The Messenger of Allah used to begin his late night prayer (i.e. Tahajjud) by declaring Allah’s greatness ten times (by saying “Allahu Akbar”), praising Allah ten times (by saying “Alhamdulillah”), glorifying Allah ten times (by saying “Subhanallah”), and seeking Allah’s forgiveness ten times (by saying “Astagfirullah”). Then he would say, “O Allah! Forgive me, guide me, provide for me, and protect me.” Then he would seek refuge from the hardship of the standing on the Day of Judgment.”
[Narrated by Abu Dawood, An-Nasai’i and Ibn Majah]



sumber dari: beginnerinislam.wordpress.com/

Tafsir Surah Al- Mutaffifin Ayat 1-3




My Photo


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,

Firman Allah SWT dalam surah al-Mutaffifin (83) ayat 1-3 :

Maksudnya :"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."

Asbabun Nuzul ayat 1-3 :

"Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahawa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, penduduk Madinah adalah masyarakat yang sudah biasa melakukan kecurangan dalam menakar ukuran dan timbangan barang dagangan mereka. Atas perilaku tidak terpuji itu, Allah menurunkan tiga ayat ini." (Hadis Sahih Riwayat Nasai dan Ibnu Majah)

Firman Allah SWT maksudnya : "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi."
(Surah al-Mutaffifin ayat 1-2)

Tafsirannya :

Azab dan kehinaan yang besar pada hari kiamat disediakan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Allah SWT telah menyampaikan ancaman yang keras kepada orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang yang terjadi di tempat-tempat jual beli di Mekah dan Madinah pada waktu itu.

Diriwayatkan bahawa di Madinah ada seorang laki-laki bernama Abu Juhainah, Ia mempunyai dua macam takaran yang besar dan yang kecil. Bila ia membeli gandum atau kurma dari para petani ia mempergunakan takaran yang besar, akan tetapi jika ia menjual kepada orang lain ia mempergunakan takaran yang kecil.

Perbuatan seperti itu menunjukkan adanya sifat tamak, ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri walaupun dengan jalan merugikan kepada orang lain.

Terhadap orang seperti itu Nabi Muhammad SAW. telah memberi ancaman yang keras sekali seperti tersebut dalam hadis ini:

خمس بخمس ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت ولا طفَّفوا الكيل إلا مُنِعُوا النبات ولا مَنَعُوا الزكاة إلا حُبِسَ عنهم المطر.

Maksudnya : "Ada lima perkara yang dibalas dengan lima perkara:

1. Tidak pernah suatu kaum yang melanggar janji melainkan Allah akan membiarkan kaum itu dikuasai musuhnya.

2. Tidak pernah mereka yang memutuskan suatu perkara dengan hukuman yang tidak diturunkan oleh Allah melainkan akan tersebar luaslah kefakiran di kalangan mereka.

3. Tidak pernah di kalangan mereka yang menampakkan gejala-gejala perzinahan melainkan akan tersebar luaslah bahaya kematian.

4. Tidak pernah mereka yang berbuat curang dalam menakar dan menimbang melainkan mereka akan curang dalam menakar dan menimbang melainkan mereka akan kehilangan kesuburan tumbuh-tumbuhan.

5. Dan tidak pernah mereka yang menahan zakat melainkan akan diazab dengan tertahannya hujan (kemarau yang panjang).

(Lihat Tafsir Al Maragi, hal. 72, juz 30; jilid X)

Firman Allah SWT maksudnya : " dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."(Surah al-Mutaffifin ayat 3)

Tafsirannya :

"Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mempergunakan takaran atau timbangan yang kurang."

Ayat ini merangkumi segala macam kecurangan atau penipuan dalam berbagai aspek dalam pergaulan hidup. Contohnya seorang majikan jika mengambil buruh (tenaga kerja) , ia berusaha supaya pekerjanya itu bekerja keras semaksima mungkin untuk meningkatkan hasil pengeluarannya yang membawa keuntungan besar. Akan tetap jika ia sendiri menjadi buruh, ia selalu mencari kesempatan untuk membuang masa atau berehat dan kurang bertanggungjawab untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Perbedaan sikap ini ketika menjadi majikan atau buruh hendaknya dihindari kecurangan agar supaya timbul sikap saling mempercayai antara kedua belah pihak.

Termasuk juga dikira sebagai kecurangan di dalam takaran dan timbangan apabila seseorang membuat kerja-kerja pembinaan samaada daripada pihak kerajaan atau swasta cuba mengurangkan speksifikasi yang telah dipersetujui bersama seperti di dalam surat perjanjian tawaran kerja.

Kecurangan ini harus dijauhkan, baik mengenai perkara-perkara yang kecil, apalagi yang bersangkut paut kepentingan masyarakat dan negara.

Betapa besarnya dosa orang-orang yang memakan harta benda orang lain tanpa takaran dan timbangan yang benar sebenarnya mereka memakan harta orang lain dengan cara yang salah dan diharamkan oleh syarak. Berat seksaannya di hari akhirat nanti.

Tidak ragu-ragu lagi bahawa mereka itu dimasukkan golongan yang mendustakan hari pembalasan, walaupun lidah mereka berkata bahawa mereka itu mengaku orang-orang yang mukmin yang tulus ikhlas.

Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsir Fizilalil Quran ayat 1-3 sebahagian tafsirannya seperti berikut :

"Surah ini dimulakan dengan penisytaran perang dari Allah keatas penipu-penipu sukatan , 'celakalah kepada orang-orang yang mengurangkan sukata (dan timbangan)'. Samaada yang dimaksudkan dengan kata-kata 'celakalah' ini adalah satu ketetapan Allah terhadap mereka atau suatu doa supaya mereka binasa, namun tujuan kedua-dua adalah satu, kerana doa dari Allah adalah ketetapan.

Kemudia pengertian, 'orang-orang yang mengurangkan sukatan (dan timbangan) itu di tafsirkan oleh dua ayat yang berikut, 'iaitu orang-orang yang apabila menerima sukatan (dan timbangan) dari orang lain mereka menuntut sukatan (dan timbangan) yang sempurna. Dan apabila mereka menyukat atau menimbang untuk orang lain, mereka memberi sukatan yang kurang.' Yakni mereka ialah orang-orang yang apabila membeli, mereka mahukan barang-barang itu disukat dengan cukup, tetapi jika mereka menjual, mereka memberikan barang-barang mereka dengan sukatan yang kurang.

Kemudia tiga ayat yang kemudiannya menyatakan kehairanan terhadap sikap penipu-penipu sukatan yang bertindak, seolah-olah perbuatan mereka di dunia ini tidak akan dihisab, dan seolah-olah manusia tidak akan berdiri di depan Allah pada hari kiamat untuk menjalani hisab dan menerima balasan di hadapan khalayak ramai.

Ayat-ayat ini menunjukkan bahawa golongan curang yang diancamkan Allah dengan azab kecelakaan dan di isytiharkan perang terhadap mereka itu adalah terdiri dari golongan pembesar-pembesar yang berpengaruh yang dapat memaksa orang ramai menerima apa sahaja sukatan yang diberikan mereka. Merekalah yang menentukan sukatan ke atas orang ramai, bukan orang ramai yang menentukannya. Kerana sesuatu sebab yang tertentu, mereka seolah-olah mempunyai kuasa menuntut sukatan dan timbangan yang sempurna dari mereka secara paksa."

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah sama-sama kita bersikap jujur dan amanah di atas segala tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita .Sikap jujur dan amanah perlu menjadi darah daging kita di dalam apa sahaja urusan samaada dalam bermuamalah, jual beli, pinjam meminjam, pajak dan gadai dan sebagainya kerana semua perbuatan kita akan di hisab dengan hisab yang seadil-adilnya.

Peniaga yang tidak jujur sering menipu dalam timbangan atau spesifikasi  sebenarnya mereka adalah manusia yang rugi andai terus mengamalkan sikap demikian. Sepatutnya di bulan Zulhijjah terdapat hari raya Aidil Adha dan  ibadah korban yang kalian lakukan dapat menjadi bulan mendidik dan mengajar kalian erti keikhlasan dan memberi, kerana keuntungan sebenar adalah apabila kita meraih habuan syurga daripada Allah SWT di akhirat kelak.

Sabda Rasulullah yang bermaksud: "Peniaga yang jujur itu bersama para nabi, siddiqin dan syuhada nanti di syurga." (Hadis riwayat Bukhari).

Rasulullah juga memberi amaran dalam sabda yang bermaksud: "Jual beli dilakukan dengan tawar-menawar, jika kedua-dua pihak jujur dan nyata, maka mereka diberkati, tetapi jika kedua-duanya dusta dan merahsiakan, maka keberkatannya akan lenyap." (Hadis riwayat Abu Daud).



sumber dari: abubasyer.blogspot.com/

Surah Al-Mutaffifin Benefits







Bismillahir Rahmanir Rahim - Benefit #1 : My benefit today is from Surah Al-Mutaffifin, ayat 4 where Allah says ' Do they not think that they will be resurrected, on a Great Day? ' Ibn Kathir explains this meaning by saying ' Do these people not fear the resurrection and standing before He Who knows th hidden matters and the intermost secrets, on a Day that contains great horror and tremendous fright? Whoever loses on this Day will be made to enter into a blazing Fire. ' My benefit from this is whoever thinks that they will not be judged, is a fool. Whoever is lost on this Day will not see the Gardens of Jannah.

Bismillahir Rahmanir Rahim - Benefit #2 : My benefit today is from Surah Al-Mutaffifin, ayat 6 where Allah says ' The Day when all mankind will stand before the Lord of all that exists. ' Ibn Kathir explains this meaning by saying ' They will stand barefooted, naked and uncircumcised at a station that will be difficult, hard, and distressful for the criminals. They will be covered by the command from Allah, and it will be that, which the strength and the senses will not be able to bare. ' My benefit from this is it will not be easy for those people who have done wrong. It will be difficult and they will not be able to bare it.



sumber dari: thmsadaqagroup.org/

Terapkan QS Al-Mutaffifin pada Metrologi





terapkan qs mutaffifin Kuliah Umum Prodi Fisika : Terapkan QS Al Mutaffifin pada Metrologi


“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!. (Yaitu) orang- orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain) mereka mengurangi.” (QS Al-Mutaffifin ayat 1-3)

Program Studi Fisika FMIPA UAD dalam Kuliah Umum Prodi Fisika tentang Metrologi pada Rabu kemarin (25/09) datangkan pembicara dari Badan Metrologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kuliah Umum tersebut diikuti oleh Mahasiswa dan Dosen Fisika bertempat di Laboratorium Fisika Dasar Kampus 3 UAD.

Metrologi berbeda dengan Meteorologi. Meteorologi adalah ilmu interdisipliner yang mempelajari atmosfer. Sedangkan Metrologi adalah ilmu pengetahun mengenai pengukuran yang menyangkut semua aspek baik teori maupun terapannya. “Dalam penerapannya tak jarang didapati adanya kecurangan. Seperti dalam dunia perdagangan, adanya pengurangan takaran pada penimbangan barang merupakan sebuah kecurangan terhadap konsumen” papar Ida Suryanti Lestari, S.H, M.H., pembicara pada Kuliah Umum Prodi Fisika yang sudah 22 tahun bekerja di Badan Metrologi DIY.

Metrologi mempunyai dampak yang besar terhadap kehidupan manusia, seperti dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, dalam bidang ilmu pengetahuan dan dalam bidang teknologi. “Melihat dampaknya yang begitu besar terhadap kehidupan manusia, dalam pedoman hidup orang Islam, Alqur’an Surat Al-Mutaffifin ayat 1 s.d 3 sebenarnya sudah menjelaskan tentang bagaimana harusnya kita beretika dalam kegiatan takar-menakar. Tak hanya Al-Mutaffifin dalam QS Al-An’am ayat 152, QS Ar-Rahman ayat 8-9 dan masih banyak ayat-ayat yang lain yang menjelaskan tentang metrologi. Hal ini harusnya bisa menjadi pedoman kita dalam penerapan metrologi” sambungnya.



sumber dari: fmipa.uad.ac.id/

How I came towards Quran




The Beauty of Islam
This blog is a collection of words & images that depict the true beauty of Islam

I was in third grade when I was chosen by the school principal to recite the morning thikr and dua in front of the entire school; I went to a private Islamic school since I was in third grade (and from preschool to second, I was in public school). Before we all were dismissed to head to class, the Deen’s of the school would line us all up — depending on the weather, either outside in the school yard or inside the auditorium — in order to recite our morning dua together. When my principal chose me - out of all the hands that were begging to be chosen - I was ascetic. He handed me the microphone, and with my recitation, the entire school had to repeat after me. I started with Surah Fatihah, Falaq, Nas, Dua, and then Ayat Kursi. Every single day we did this; this is where my love for Quran began.

Even though I’m European and have never previously encountered the Arabic language before, I picked up the material rather quickly during primary school. I began memorizing the same pace as my Arab friends, and even began to formulate the Arabic accent for recitation.

One night, as I read my Quran in bed, my mother sat beside my bed and patted my hair. She never said anything; she just listened to me recite. When I finished, she hugged me, and said something I don’t think I can ever forget. She said: “You’re my Mutaffifin reciter.” I know, that may sound silly, but I still smile when I remember that. During the third grade, I was memorizing surah al-Mutaffifin (surah 83); it was hard, but I remember coming home and reciting it to my mom in the kitchen. So I mean sure, parental support has a lot to do with it, but my father has been nothing but neutral (and somewhat pessimistic if not neutral) about everything and anything I’ve ever done. So I guess you can say I had a somewhat of an imbalance of support, but I’ve had it.

As I got older, I entered Quran competitions in which I’d place down the level I wanted to compete in — usually the last 3 juz (Naba, Tabaraq, and Qad Sami’a) — and was tested on random surahs or ayahs from any of those juz. I loved being in these competitions; it helped me prove to myself a lot of things. It allowed me to understand that you don’t need to be Arab to read and memorize Quran. It helped me accept the fact that a non-Arab can have an Arabic accent when reading Quran. It allowed me to love the way I recite Quran and try to perfect it as best as possible. And most importantly, it allowed me to make an important decision; that is, I would always memorize Quran. Always.
As soon as I got to highschool, things were a bit different. I was still taught by the same Sheikh, but he approached me differently. I was no longer the girl who memorized Quran like the rest of the class; rather, I was placed  with the other girls who were understood as the most serious and dedicated students ever. It was my Sheikh that sat me down and told me that I should seriously think about memorizing the entire Quran by the end of high school; it was him. And if it wasn’t for him, I don’t think I’d be where I am now.

He was my ultimate motivator. And I know that privilege is almost never provided, but if you live near a mosque or have friends that read Quran, attach yourselves to them. I didn’t have a specific method of memorizing except that I came and left everyday to and from school with new pages to learn from Quran. At first, he used to teach me how to read with tajweed. And before I knew it, he gave me two pages to memorize a day, and when I came to school having memorized them, he had me read the next two pages to him. That was my method. It was a challenge. If I had more than a few mistakes, he’d tell me to take the rest of the day to memorize them properly. This ultimately infuriated me because it left me with another day to work on the same pages when I could have been memorizing two new ones. But it worked. He pushed me. He challenged me. He believed in me.
So my routine was to study as much as I could every single day. Sometimes I could only memorize one page; sometimes a few. And some days, I memorized a few lines on the spot (after having repeated it a thousand times). But this worked for me. There’s so many ways you can come up with a routine. If you have the intention of wanting to memorize Quran, start with the small surahs. Don’t begin from Baqarah, you wont go far (unless you’re amazing, but even amazing people have trouble memorizing from huge surahs). Start with the small surahs, and work your way up. Have someone test you! And if you can’t, recite along with the reciters you can listen to off of youtube. Also, if you get into surahs that are more than a couple of pages long (have fun with Surah Ghafir yall), break them into parts. If you want to memorize a page for a day — or a couple of days — you start by memorizing a few lines for each salah. For example, when you pray Fajr, you memorize the first three of four lines of the surah. For Dhuhr, you memorize the next two or three. Asr, the next couple. And by Ish’a, you’ll have the entire page down. My Sheikh advised us to do this; it’s hard, but it works.

Conclusively, but most most most importantly, you need to love it. By Allah, you need to love Quran and you need to love Allah to be able to do this every single day. I’m 10 juz out of 30 away from memorizing the entire Quran (along with its translation and meaning), but I swear to you, when people praise me for that fact, I can only say that it’s just the beginning of the journey. It truly is. I love memorizing Quran because it’s what I do. It’s how I approach my Islam. It’s what allows me to say that I am still connected with Allah. It literally defines a huge part of me.

For me, it’s never been about finishing the entire Quran; it’s always been about the journey through the surahs. If I do finish memorizing the Quran, I’d cry, but I know it won’t be over. I love memorizing it. I love repeating my favorite verses whenever. And I love randomly finding myself doing things like washing the dishes or organizing my desk while reading Quran; it makes me feel alive.

So no, it’s not about memorizing in order to be done with Quran. It’s always been about memorizing Quran because it’s what I do and who I am. Memorizing Quran is where I find Allah. It’s where I find reassurance and sakina. It’s where I find myself at fault and in awe all on the same page. And if you don’t see these things when you come towards Quran, don’t feel obliged to memorize it.



sumber dari: thebeautyofislam.tumblr.com/

Surah Al-Mutaffifin (Jawi & Rumi)







Waylul-Lil Muaffifiin ۝ ‘Allaiina ‘Iak-Tâluu Alan-Nâsi Yastawfuun ۝
Wa ‘Iâ Kâluuhum ‘Awwa-Zanuuhum Yukhsiruun ۝ ‘Alâ Yaunnu ‘Ulâ-‘Ika ‘An-Nahum-Mab-Uuthuun ۝ Li Yawmin-Aiim ۝ Yawma Yaquumun-Nâsu Li-Rabbil-Âlamiin ۝ Kallâ ‘Inna Kitâbal Fujjâri Lafii Sijjiin ۝ Wa Mâ ‘Adrâka Mâ Sijjiin ۝ Kitâbum-Marquum ۝ Waylun-Yawma-‘iil-Lil-Mukaẓẓibiin ۝ ‘Allaiina Yukaẓẓibuuna Bi-Yawmid-Diin ۝ Wa Mâ Yukaẓẓibu Bihii ‘illâ Kul-Lu Mu‘-Tadin ‘Athiim ۝ ‘Iâ Tutlâ Alayhi ‘Âyâtunâ Qâla ‘Asâiruul-‘
Awwaliin ۝ Kallâ Bal; Râna Alâ Quluubihim-Mâ Kânuu Yaksibuun ۝
Kallâ ‘innahum Ar-Rabbihim Yawma-‘iil-La-Mah-Juubuun ۝
Thumma ‘innahum Laâ-Lul-Jaiim ۝ Thumma Yuqâlu Hâal-Laii Kuntum-Bihii Tukaẓẓibuun ۝  Kallâ ‘inna Kitabâl-‘Abrâri Lafii illi-Yiin ۝
Wa Mâ ‘Adrâka Mâ illi-Yuun ۝ Kitâbum-Mar-Quum ۝ Yash-Hadu-Hul-Muqarrabuun ۝ ‘Innal-‘Abrâra Lafii Na-iim ۝ Alal-‘Arâ-‘Iki Yanuruun ۝
Ta-Rifu Fii Wujuuhi-Him Naratan-Na-iim ۝ Yusqawna Mir-Raiiqim-Makhtuum ۝ Khitâmuhuu Misk; Wa Fii âlika Fal-Yatanâfasil-Muta-
Nâfisuun ۝ Wa Mizajuhuu Min-Tasniim ۝ Aynan-Yashrabu Bihal-Muqarrabuun ۝ ‘Innallaiina ‘Ajramuu Kânu Minallaiina ‘Âmanuu Yaḍḥakuun ۝ Wa ‘Iâ Maruu Bihim Yataġâ Mazuun ۝ Wa ‘Ian-Qalabuu ‘ila ‘Ahlihimun-Qalabuu Fakihiin ۝ Wa ‘Iâ Ra-‘Awhum Qâluu ‘inna Hâ-‘Ulâ-‘I-Lâ-âlluun ۝ Wa Mâ ‘Ursiluu Alayhim afiiin ۝ Fal-Yawmallaiina ‘Âman-Uu Minal-Kuffari Yaḍḥakuun ۝ Alal-‘Arâ-‘iki Yanuruun ۝
Hal-Thuwwibal-Kuffâru Mâkânuu Yaf-Aluun ۝



Maksudnya:
Kecelakaan besar bagi orang-orang Yang curang (dalam timbangan dan sukatan),
Iaitu mereka Yang apabila menerima sukatan (gantang cupak) dari orang lain mereka mengambilnya Dengan cukup,
Dan (sebaliknya) apabila mereka menyukat atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.
Tidakkah mereka menyangka Bahawa mereka akan dibangkitkan (hidup semula sesudah mati)?
Pada hari (kiamat) Yang amat besar (huru-haranya),
Hari berdiri manusia untuk mengadap Tuhan sekalian alam?
Tidak sepatutnya (Mereka melakukan perbuatan Yang salah itu dan melalaikan hari akhirat)! Sesungguhnya "kitab suratan Amal" orang-orang Yang berdosa itu (didaftarkan) Dalam "Sijjiin".
Dan apa jalannya Engkau dapat mengetahui: apa Dia "Sijjiin" itu,
Ialah (tempat simpanan) Kitab catitan Yang jelas nyata, (yang menghimpunkan amalan orang-orang Yang berdosa).
Kecelakaan besar, pada hari itu, bagi orang-orang Yang mendustakan -
Iaitu mereka Yang mendustakan hari pembalasan.
Dan tiada Yang mendustakannya melainkan tiap-tiap orang Yang melampaui batas (kebenaran), lagi amat derhaka!
(Sehingga) apabila ia dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata:" ini ialah dongeng orang-orang dahulu kala!"
Sebenarnya! (ayat-ayat Kami itu tidak ada cacatnya) bahkan mata hati mereka telah diselaputi kekotoran (dosa), Dengan sebab (perbuatan kufur dan maksiat) Yang mereka kerjakan.
Jangan lagi mereka berlaku demikian! (kalau tidak), mereka pada hari itu, tetap terdinding dari (rahmat) Tuhannya.
Kemudian, Sesungguhnya mereka akan menderita bakaran neraka.
Akhirnya dikatakan (kepada mereka): "Inilah Dia (azab seksa) Yang kamu dustakan dahulu."
Ingatlah Wahai manusia! Sesungguhnya "kitab suratan Amal" orang-orang Yang berbakti (dengan taat dan amal kebajikan), adalah (didaftarkan) dalam" Illiyiin".
Dan apa jalannya Engkau dapat Mengetahui, apa Dia "Illiyiin" itu?
Dan Ialah (tempat simpanan) Kitab catitan Yang jelas nyata,
Yang disaksikan oleh sekumpulan malaikat, Yang didampingkan Tuhan di sisinya.
Sesungguhnya orang-orang Yang berbakti (dengan taat dan amal kebajikan), tetap berada di Dalam syurga Yang penuh nikmat:
Mereka berehat di atas pelamin-pelamin (yang berhias), sambil melihat (segala keindahan dan kemuliaan Yang disediakan untuk mereka di situ).
Engkau dapat melihat pada muka mereka: cahaya nikmat Yang mereka perolehi.
Mereka diberi minum dari satu minuman Yang termeterai bekasnya,
Meterainya kasturi; - dan untuk (memperolehi nikmat kesenangan) itu hendaknya berlumba-lumba mereka Yang ingin merebut kelebihan dan kesenangan;
Dan campuran minuman itu adalah dari "Tasnim":
laitu matair Yang diminum daripadanya oleh orang-orang Yang di dampingkan (Tuhan di sisiNya).
Sesungguhnya orang-orang Yang derhaka, mereka selalu tertawakan orang-orang Yang beriman.
Dan apabila orang-orang Yang beriman lalu dekat mereka, mereka mengerling dan memejam celikkan mata sesama sendiri (mencemuhnya).
Dan apabila mereka kembali kepada kaum keluarganya, mereka kembali Dengan riang gembira;
Dan apabila mereka melihat orang-orang Yang beriman, mereka berkata: "Sesungguhnya orang-orang itu adalah golongan Yang sesat!"
Dan hal mereka tidak diutus untuk menjaga sesat atau tidaknya orang-orang Yang beriman itu!
Dan pada hari ini, orang-orang Yang beriman pula tertawakan orang Yang kafir itu.
Dan Sambil mereka berehat di atas pelamin-pelamin (yang berhias), serta melihat (hal Yang berlaku kepada musuhnya).
(Untuk menambahkan kegembiraan mereka, mereka ditanya): "Bukankah orang-orang Yang kafir itu telah dibalas akan apa Yang mereka telah kerjakan dahulu?"


sumber dari: hamparankasturi.blogspot.com/

MULUT BERBAU DOSA BERPUNCA DARI HATI YANG KOTOR





mengaji


Sebenarnya! (Ayat-ayat Kami itu tidak ada cacatnya) bahkan mata hati mereka telah diselaputi kekotoran (dosa), dengan sebab (perbuatan kufur dan maksiat) yang mereka kerjakan. 
(Surah al-Mutaffifin:14)

Mulut yang berbau dosa ini sering mendatangkan masalah terhadap hubungan di antara sesama manusia.
Kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa. Pepatah ini sering kita sebut-sebutkan dalam hal berkaitan dengan kesalah mulut.

Persoalannya ialah kenapa mulut ini boleh berbau dosa? Apakah sukar untuk mulut ini dijaga dengan baik demi menjaga kemaslahatan dan kebaikan sejagat.
Apabila mulut sudah berbicara perkara-perkara dosa, maka banyak perkara negatif akan muncul seperti dendam, permusuhan, pertelingkahan dan sebagainya.

Kadang-kadang kita pelik, bagaimana mulut yang sentiasa membaca al-fatihah ketika solat, tetapi pada masa yang sama bekata-kata buruk di luar solat.
Andai dosa itu boleh berbau, sudah tentu mulut orang yang suka berkata-kata buruk akan berbau busuk mulutnya.

Jika demikian, sudah tentu orang yang suka bekata-kata buruk itu akan memilih untuk berdiam diri.
Sedangkan berdiam diri itu adalah perbuatan yang lebih baik dari berkata-kata yang keji dan dusta.
Kita sering mendengar wujudnya segelintir pekerja yang gemar mencetuskan propaganda dan krontoversi.

Dan apakah yang mneyebabkan mereka ini suka membiarkan mulut mereka berbau dosa? Sedangkan bahayanya mulut itu mampu membuatkan yang baik menjadi buruk.
Rasulullah s.a.w. berpesan kepada Sayyidina Ali k.wj. yang bermaksud :
“Wahai Ali ! Allah tidak menjadikan apapun dalam tubuh manusia yang paling utama, kecuali mulut (lisan). Sesungguhnya mulutnyalah yang mengiring dirinya masuk syurga atau masuk neraka. Maka dari itu penjarakanlah (jagalah) mulut kerana mulut itu bagaikan anjing (gila)”.

Apabila mulut mula berbau dosa, dan ia sudah pasti bermula dari hati yang kotor. Apakah yang dimaksudkan dengan hati yang kotor?

Hati yang kotor ialah hati yang terdedah kepada dosa dan maksiat. Ibarat makanan yang tidak dipelihara atau dijaga dengan baik, sudah tentu makanan tersebut akan menjadi basi dan tidak elok.
Begitu jugalah hati. Jika ia tidak dipelihara dengan baik, maka banyak perkara-perkara negatif akan berlaku.

Apakah hal sebegini yang kita mahukan sebagai umat Islam? Tidak pernahkah kita memikirkan perasaan baginda Muhammad s.a.w.

Sudah pasti baginda akan sedih jika terdapat umatnya yang mulutnya sentiasa berbau dosa.
Hati yang kotor berpunca apabila hati tersebut tidak disirami dengan ayat-ayat Allah. Apakah ayat-ayat Allah yang perlu disirami?

Itulah dia ayat-ayat al-quran. Ayat-ayat inilah yang boleh membuatkan hati kita menjadi lembut dan taat kepada perintah Allah s.w.t.



sumber dari: myibrah.com/

Saturday, 7 June 2014

lebih dahsyat daripada film 2012




Kiamat menurut Al-Qur`an jauh lebih dahsyat daripada film 2012. Film 2012 yang menghebohkan dan menyebabkan MUI dibeberapa daerah mengharamkan film tersebut , sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film sebelumnya seperti The day after tomorrow, Armagedon, Deep Impact, Earth Quake dan lain lainnya. Film ini hanya mengkisahkan tentang kehancuran suatu negeri, kota atau daerah akibat bencana gempa dan tsunami kemudian usaha sekelompok orang menyelamatkan diri dari bencana tersebut.

Untuk menarik minat penonton Hollywood membuat judul yang seru yaitu 2012 berdasarkan kalender suku Maya yang berakhir pada tahun 2012, kemudian mereka mentafsirkan berakhirnya kalender itu sebagai akhir peradaban manusia atau kiamat. Ternyata judul tersebut cukup komersil dan menarik minat banyak penonton. Pada pemutaran perdana di Jakarta penonton terpaksa antri cukup lama untuk medapatkan tiket masuk. Dibeberapa daerah di Indonesia penonton sempat kecewa karena MUI melarang peredaran film tersebut, kuatir umat Islam percaya bahwa akan terjadi kiamat pada tahun 2012.

Umat Islam yang teguh Iman dan keyakinannya sebenarnya tidak akan terpengaruh oleh prediksi kiamat th 2012 ini, saat datangnya kiamat tidak bisa diramalkan, hanya Allah yang tahu kapa terjadinya. Bagi umat Islam yang teguh Imannya bahkan ada baiknya menonton film ini, kita bisa mendapat gambaran kira-kira seperti apa kejadian kiamat yagn banyak digambarkan didalam Al-Qur’an seperti pada surat Al – Qori’ah, Al- Zalzalah, Al – Infithar, At – Takwir dan lain sebagainya. Kiamat yang digambarkan Al-Qur’an jauh lebih dahsyat dari apa yang digambarkan pada film 2012.




Pada film 2012 ini dikisahkan masih ada sekelompok orang yang berhasil selamat dari gempa yang memporak porandakan jalan dan gedung bertingkat serta gelombang tsunami setinggi gunung yangmenyapu kota ditepi pantai, dengan naik pesawat terbang dan kapal raksasa. Pada peristiwa kiamat yang dikisahkan dalam Al Qur`an tidak seorangpun yang bisa selamat dari bencana dihari itu. Bumi terbelah dan memuntahkan semua isinya, gunung-gunung hancur beterbangan diangkasa bagaikan kapas yang dihamburkan, gedung bertingkat dan seluruh bangunan dibumi hancur porak poranda, Laut mendidih dan melimpah kedaratan dengan gelombang setinggi gunung, Angkasa dipenuhi dengan hujan meteor, badai, topan dan batu berapi yang dimuntahkan dari gunung yang meletus. Dalam kondisi seperti itu mana ada pesawat yang bisa terbang di udara, atau kapal yang mampu berlayar dilautan.

Umat Islam tidak perlu alergi dengan film 2012, itu hanya film fiksi ilmiah sama seperti film The day after tomorrow, Earth Quake atau Deep Impact. Gambaran kehancuran sebuah kota atau daerah di Film tersebut cukup membantu kita untuk memahami bagaimana kira kira kondisi kiamat yang digambarkan dalam beberapa ayat Al – Qur’an sebagai berikut ini.

Al- Qori’ah
1- Hari Kiamat,
2- apakah hari Kiamat itu?
3- Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
 4- Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran,
5- dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qori’ah 1-5)

Al- Zalzalah
1- Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat),
2- dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,
3- dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,
4- pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5- karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (Al Zalzalah 1-5)

Al – Infitar
1- Apabila langit terbelah,
2- dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
3- dan apabila lautan dijadikan meluap, ( Al Infitar 1-3)

At – Takwir
1- Apabila matahari digulung,
2- dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
3- dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
4- dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan),
5- dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
6- dan apabila lautan dipanaskan, (At Takwir 1-6)

Apa yang digambarkan dalam ayat Qur`an diatas jauh lebih dahsyat dari apa yang diperlihatkan dalam film 2012. Pada peristiwa Kiamat total yang disebutkan dalam Qur`an tidak seorangpun mampu menyelamatkan diri dari kehancuran total alam semesta. Bumi, laut dan udara berkecamuk dahsyat, tidak ada mahluk yang bisa bertahan hidup dilaut, darat maupun udara. Pada film 2012 terlihat masih ada peluang orang menyelamatkan diri dengan naik pesawat terbang, kemudian dilanjutkan naik kapal raksasa seperti kapal nabi Nuh yang memuat segala sesuatu berpasang pasangan.

Film ini hanya pelajaran bagi kita, yang digambarkan pada film itu bukanlah kiamat total sebagaimana dimaksud dalam Qur`an. Itu hanya becana alam lokal yang memang akan banyak terjadi menjelang peristiwa kiamat yang sebenarnya. Dalam skala kecil bencana seperti film 2012 sudah sering terjadi di dunia ini, seperti gempa di China, Kobe, Thailand, tsunami Aceh, gempa Padang dan lain sebagainya. Tsunami dahsyat yang menenggelamkan seluruh kota di tepi pantai laut pasifik seperti Sydney, Hawai, Los Angeles, Hongkong, Jakarta, Taiwan dengan jumlah korban sampai puluhan juta orang bisa saja terjadi dimasa yang akan datang.

Sejak zaman dahulu sampai sekarang ada saja Asteroid yang cukup besar nyelonong masuk kedalam orbit bumi . Jika jatuh diatas sebuah kota pasti akan melenyapkan kota tersebut dengan korban sampai beberapa juta orang, jika jatuh ditengah hutan atau gurun pasir memang tidak banyak menimbulkan korban jiwa. Namun jika Asteroid yang sangat besar sampai jatuh di laut pasifik tentu akan menimbulkan tsunami yang amat dahsyat, yang mampu menenggelamkan kota seperti Sydney, Los Angeles, Hongkong, Taiwan dan kota kota ditepi pantai di Indonesia ini dengan korban puluhan juta orang.



sumber dari: romezzoe.wordpress.com/

The Most Beautiful Names of Our Lord




Say: 'Call on Allah or call on the All-Merciful. Whichever you call upon, the Most Beautiful Names are His.'
(Surat al-Isra, 110)




The name All-Merciful and Most Merciful has a broad and deep meaning which subsumes numerous names of our Lord mentioned in the Qur'an. For example, He is protective and forgiving in His endless mercy toward human beings and grants them incomparable blessings throughout their lives. Through His abundant grace, He provides physical and spiritual blessings; forgives their errors, accepts their repentance, protects them, covers their sin, and guides them on the straight path.

Due to His creation's perfection and superior nature, Allah sustains the life of all creatures, every one of which submits to His supreme intelligence, endless compassion, and mercy. He has given them everything they need to survive in their close proximity, as another indication of His mercy. The Lord is "All-Gentle, Most Merciful" (Surat al-Baqara, 143) towards His creatures:

Do you not see that Allah has made everything on Earth subservient to you, and the ships running upon the sea, by His command? He holds back the heaven, preventing it from falling to Earth – except by His permission. Allah is All-Compassionate to humanity, Most Merciful. (Surat al-Hajj, 65)

He sends down Clear Signs to His servant to bring you out of the darkness to the light. Allah is All-Gentle with you, Most Merciful. (Surat al-Hadid, 9)

From the moment of birth, each person can survive only with Allah's mercy, protection, and help. For example, disasters such as earthquakes, floods, tornadoes, and volcanic eruptions happen all over the world every single minute. In fact such events can happen anywhere at any chosen time. And anyone can fall sick or experience material hardship. And there is a very basic fact that should never be forgotten in the face of such events; no matter how hard people may try, they cannot avoid any of these calamities, and no one can help them for they are all sent by Allah, and only Allah can remove them, for He, as the All-Merciful, is a person's sole protector and helper. Allah, if He wishes so, rescues people from every kind of trouble and calamity and also if He wishes so makes them face all kinds of difficulties.

Say: "Who rescues you from the darkness of the land and sea? You call on Him humbly and secretly: 'If You rescue us from this, we will truly be among the thankful.' " Say: "Allah rescues you from it, and from every plight. Then you associate others with Him." (Surat al-An'am, 63-64)

He [Noah's son] said: "I will take refuge on a mountain; It will protect me from the flood." He [Noah] said: "There is no protection from Allah's command today, except for those upon whom He has mercy." (Surah Hud, 43)

As for those who show disdain and grow arrogant, He will punish them with a painful punishment. They will not find any protector or helper for themselves besides Allah. (Surat an-Nisa, 173)

We can see from these verses that only Allah, out of His endless compassion, removes people's anxieties and protects them from disaster. Knowing this, believers take refuge in His endless mercy when confronted with sickness, anxiety, and difficulty, for He provides material and spiritual abundance in this world to those who sincerely believe in and obey Him. He makes a way for them out of their difficulties and removes their anxiety:

Is there anyone who will make Allah a generous loan so that He can multiply it for him [or her] many times over? Allah both restricts and expands. And you will be returned to Him. (Surat al-Baqara, 245)

Your Lord expands and restricts the provision of anyone He wills. He is aware of and sees His servants. (Surat al-Isra, 30)

Being eternal goodness, Allah is good to human beings throughout their lives and gives them things of incomparable goodness and beauty: "Beforehand we certainly used to call on Him because He is the All-Good, the Most Merciful" (Surat at-Tur, 28) Everything that exists comes from Him; all beauty and every fine blessing manifest His intelligence. Like all other beings, each person comes into this world, through His will, as a piece of flesh in its mother's womb, grows and gradually develops a beautiful face, and reflects His wondrous artistry in every detail:

O humanity! What has deu in respect of your Lord Most Beneficent? He Who created you, formed you, proportioned you, and assembled you in whatever way He willed? (Surat al-Infitar, 6-8)

Recite: In the Name of your Lord Who created, created humanity from clots of blood. Recite: And your Lord is the Most Generous, He Who taught by the pen, taught humanity what it did not know. No indeed! Truly humanity is unbridled, seeing itself as self-sufficient. Truly it is to your Lord that you will return. (Surat al-Alaq, 1-8)



sumber dari: m.harunyahya.com/

renungan surah al-infitar




"wahai insan! Apakah yang menyebabkan engkau terpedaya(mencuaikan kewajipan) terhadap Tuhanmu yang MAha Pemurah?"[82:6]

"ia merupakn kecaman yang menghancurluluhkan apabila seseorang itu memikirkan hakikat asal usulnya dan hakikat kedudukannya ketika berdiri di depan Tuhannya yang memanggi namanya dan mengecam perbuatannya"

"wahai manusia yang telah dikurniakan Allah - penaung dan Pemeliharanya- dengan sifat insaniyahmu yang mulia dan luhur! Apakah yang menyebabkan engkau terpedaya mencuaikan kewajipanmu terhadap TUhanmu sehingga sanggup mencuaikan hak-hakNYA, meringan-ringankan perintahNYA, dan berkelakuan biadab terhadapNYA, sedangkan Allah Tuhanmu yang Maha Pemurah dan telah memberi selimpah-limpah kurnia kepadamu??? ...."

"kamu mendustakan hari Balasan, sedangkan kamu dalam perjalanan menuju kepadanya. Segala amalan yang telah dilakukan akan dihisab. Tiada amalan yang akan terlepas dan tiada amalan akan dilupakan"

"...cukuplah hati manusia itu sedar bahawa dia tidak akan dibiarkan percuma dan dia sentiasa di bawah perhatian para malaikat pengawas dan penulis amalan mereka, yang mengetahui setiap perbuatan yang dilakukan mereka, kerana kesedaran ini sudah cukup untuk membuat mereka menggelentar, berwaspada dan beradap sopan terhadap TUhannya..."

"manusia pada hari itu diselubungi keadaan terlalu lemah, keadaan terlalu lumpuh dan tersorok dan keadaan terlalu terpisah dari orang lain yang masing-masing sibuk dengan penanggungan dan duka nestapa diri sendiri hingga tidak berdaya menghubungi orang-orang dikenali.."




sumber dari: bukanrobot.blogspot.com/

thoughts on surah al-'infitar (ayah #2)




inshaAllah I'm going to post separate notes separately, like not all in the same blog post. I think clumping them all together takes away from the depth of each gem that Ustadh shares with us. So just be prepare for separate, and possibly shorter, posts.

Last Sunday, we looked at Surah Al-'Infitar. I think I mentioned that Ustadh has been covering the Surahs of the 30th Juz of the Qur'an every Sunday. It's not a very detailed lecture because there are already podcasts available here, but I haven't heard these Surahs explained before so it's pretty heavy for me.

I will say this much before I get into the notes: you know, I share notes that I take and I share lessons that I benefit from but in the grand scheme of things, I haven't learned anything. The more I feel that I've learned, the more I realize that I know very little. The knowledge that I've acquired while being here can be summed up like this: practically non-existant. You know the expression, "to scratch the surface" - to just get started doing something, right? LOL, I haven't scratched the surface when it comes to studying Deen. I'm 100,000 feet above the surface, just trying to get to the surface to be able to scratch it. I'm not sure if that makes sense to you - the imagery makes sense in my head, but then again I laugh at my own jokes too so maybe my logic isn't coming through. Basically, I'm overwhelmed by The Knowledge of Allah (subhana wa ta'ala). I can only know superficially based on is in front of me, right? What about everything that I don't see and don't know? He still knows all of that too. He knows everything. He knows right when the DNA is replicating inside every nucleus inside every plant cell inside every leaf of every tree that grows and has grown since the creation of trees and every tree that will grow - and that's just a tree. What about everything else that He knows? I've already facepalmed like 5x times while writing this because HE JUST KNOWS EVERYTHING. What do I know compared to what He knows - nothing, zero, void, non-existant. It is so incredible to me when I hear someone speak with great confidence and authority about our Deen. Don't get me wrong here - there are people like our teachers who are so knowledgeable mashaAllah, and they know the nitty-gritty of the Deen, and they have dedicated their lives to this knowledge - but even they speak with humility and with an awareness that they don't know everything.

Anyway, back to the Surah and my superficial-practically-non-existant reflections on some of the ayat. 

The second ayat of this Surah is, 
I notice that I'm very affected by the ayat that refer to nature. I love looking at the creation around me, especially the sky. Here in Texas, you just can see the sky for miles and the only way that I can think of to describe its beauty is, it's not "just beautiful." It's so overpoweringly beautiful that your breath catches and your heart pauses for a second - it actually overtakes you for a moment - which makes me wonder if this is how beautiful the sky of this world is, how beautiful is the Creator of the sky of this world? If we're able to see Him one day inshaAllah, would we even be able to handle it?

Sorry, I keep going on tangents. Anyway, I like the sky so the ayat about the sky get to me. When Ustadh was talking about this ayah, he said that word used here doesn't quite mean "stars." Rather, it means "abnormally brilliant heavenly bodies" - so, bigger than stars - and this word for "scattering" is...

...it's like if you have legos on a bedsheet and then you lift/throw up the sheet up when you're making the bed, and the legos go flying everywhere...it's the result of a jerk movement. That image is so heavy - I can see my mom making the bed and whatever was sitting on the bed, flies everywhere - and that is what will happen to everything in the sky on the Day of Judgement. Can you imagine that?

That's really all I had to say about that ayah, the description of what will happen on that Day is just really intense.




sumber dari: thoughtsfromadream.weebly.com/

The Day Of Judgement





The Holy Qur'an


"This period will be over then. The good and the pure will have been separated from the evil and the rebellious; the latter will have been rendered inert, and the former will have been so perfected that their wills will be in complete consonance with Allah's Universal Will. The Command, thenceforward, will be wholly with Allah." - Abdullah Yusuf Ali

Surah 82:1-15

When the Sky is cleft asunder; when the Stars are scattered;
When the Oceans are suffered to burst forth;
When the graves are turned upside down -
(Then) shall each soul know what it had sent forward,
And (what it hath) kept back,
O man! What has seduced thee from Thy Lord Most Beneficent? -
Him who created thee, fashioned thee in due proportion,
And given thee a just bias;
In whatever Form He wills, does He put thee together.
But verily over you (are appointed angels) -
Kind and honourable - writing down (your deeds):
They know (and understand) all that ye do.
As for the righteous, they will be in Bliss; and the wicked -
They will be in the Fire,
Which they will enter on the Day of Judgement,(6008)
And they will not be able to keep away thereform.
And what will explain to thee what the Day of Judgement is?
Again, what will explain to thee what the Day of Judgement is? (6009)
(It will be) the Day when no soul shall have power, (to do) aught for another: (6010)
For the Command, that Day, will be (wholly) with Allah.

Surah 82:1-15 Al Infitar (The Cleaving Asunder)

"6008. I understand this relative clause to govern "the Fire", i.e., the Punishment. It will be postponed as long a possible, to give the sinner every chance of repentance and amendment. But once the period of probation is past, it will be irrevocable. 6009. We can speak of Rewards and Punishments, the Fruits of Actions, the Resurrection and the Tribunal, the Restoration of True Values, the Elimination of all Wrong, and a hundred other phrases. They might serve to introduce our minds vaguely to a new World, of which they cannot possibly form any adequate conception under present conditions. The question is repeated in verses 17-18 to emphasise this difficulty, and a simple answer is suggested, as explained in the next note. 6010. The answer is suggested by a negative proposition: 'No soul shall have the power to do aught for another.' This is full of meaning. Personal responsibility will be fully enforced. In this world we all depend on one another proximately, though our ultimate dependence is always on Allah, now and forever. But here a father helps a son forward; husband and wife influence each other's destinies; human laws and institutions may hold large masses of mankind under their grip; falsehood and evil seem to flourish for a time, because a certain amount of limited free will has been granted to man. This period will be over then. The good and the pure will have been separated from the evil and the rebellious; the latter will have been rendered inert, and the former will have been so perfected that their wills will be in complete consonance with Allah's Universal Will. The Command, thenceforward, will be wholly with Allah."

Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur'an
(Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur'an, Amana Corporation, 1989.)


There are two distinct time frames here, that is, the present Bliss of Qiyamah and the future Punishment by the Fire which the present Unbelievers will only enter at the end of the Day of Judgment. Only when the Grace period of Qiyamah ends will the universal Day of Judgment, the Second Coming take place. This is yet far away in the future. The present True Believers (Al-Mu'minun) will by then have been judged and those successful entered His Kingdom a long time ago.

The Islamic scholars dismembered their version of Doomsday into two with this interpretation:

"I understand this relative clause to govern 'the Fire', i.e., the Punishment. It will be postponed as long a possible, to give the sinner every chance of repentance and amendment. But once the period of probation is past, it will be irrevocable."

Unless this refers to two different periods it makes no sense:

i) Why delay punishment when it is the End of the World?
ii) When will sinners have the time to repent for their sins to escape punishment?
iii) Which fool won't repent when the skies are falling to pieces and mountains tumbling down in Allah's Wrath?
iv) Then why is this absolutely frivolous act that allows all sinners, no matter how immoral or murderous, to just repent and be eligible for paradise?
v) Why are these Thieves of Faith able to conjecture and fool the Ummah, or is their intelligence not insulted?
vi) And then the blind scholars tell their intellectually challenged followers that:

"We can speak of Rewards and Punishments, the Fruits of Actions, the Resurrection and the Tribunal, the Restoration of True Values, the Elimination of all Wrong, and a hundred other phrases. They might serve to introduce our minds vaguely to a new World, of which they cannot possibly form any adequate conception under present conditions."

Again, unless the Day of Resurrection and final Judgment is separated, the above statement makes no sense.

Then yet again Yusuf Ali and his forty Thieves of Truth struggle to fuse Resurrection and Judgment together but with little success:

". . . human laws and institutions may hold large masses of mankind under their grip; falsehood and evil seem to flourish for a time, because a certain amount of limited free will has been granted to man. This period will be over then. The good and the pure will have been separated from the evil and the rebellious; the latter will have been rendered inert, and the former will have been so perfected that their wills will be in complete consonance with Allah's Universal Will. The Command, thenceforward, will be wholly with Allah."

Yet again this false fusion of two different and distinct periods between the Good News and Grace of Al-Qiyamah and the Death and Destruction of Doomsday - separated by decades or centuries - makes no sense. But prisoners of blind faith and religious fundamentalism have been known to care little for logic and sense. Their herd mentality gives them the security of numbers and self-bestowed righteousness, even in the face all obvious falsity. So we have to ask the Ummah:

i) How, when and why will Allah "give the sinner every chance of repentance and amendment" on Judgment Day?
ii) Does this "period of probation" commence on Doomsday, or with His messengers announcing the Good News of Qiyamah?
iii) Does this Period of Probation end on Doomsday itself, or when there are no more humans aspiring to enter His Kingdom?
iv) Did Thy Lord Most Beneficent who created thee also create Hindus, Christians, Buddhists and others?
v) Does Thy Lord Most Beneficent who calls thee to the Resurrection also call all other beings, or is it just the privilege of the Ummah?
vi) Does Thy Lord Most Beneficent who regards you as His children also regard all humans as such?
vii) And what will explain to thee what the Day of Qiyamah (Al Qadr) and Day of Judgment (Al Qariah) is?
vii) Do your ulema, clerics, imams, shaikhs, muftis, mullahs and ayatollahs know the difference between the Beginning of the Night of Power and Fate (Al Qadr) and the End of the Day of Noise and Clamor (Al Qariah)?
viii) Do they have the power to influence your destiny and lead you to His Paradise during the Resurrection - or Hell during Judgment Day?
ix) Do they have the power to save you from the wiles of Iblis, or do they lead you blindly to his lair?
x) Do your religious regimes and sects free you to respond to His Call, or do they hold you in their grip as Qiyamah progresses on?
xi) Is falsehood and evil flourishing in the mosques as the Great News (surah 78:1-5 An-Naba) of Qiyamah is spread across Earth?
xii) Are the good and the pure being "separated from the evil and rebellious" by the Good News?
xiii) Are the True Believers (Al-Mu'minun) being rendered inert, and becoming "so perfected that their wills are in complete consonance with Allah's Universal Will"?
xiv) Does His Command that you accept His Mercy and bear personal responsibility during the Resurrection - lest they have to face the terrible Punishment on Judgment Day - make sense?
xv) And if it doesn't, then what will explain to thee what the Day of Judgment is?

They may defy Allah but they cannot stop His Will. The Day of Qiyamah has been announced and no force can now obliterate this Revealed Truth from the face of this Earth. But the Hypocrites (Al-Munafiqun) will defy and dare Allah's Sure Sings of Qiyamah. The Unbelievers (Al-Kafirun) will differ and deny the Great Event. The entire Ummah will scorn and sneer at the Good News.




sumber dari: al-qiyamah.org/