Saturday, 31 December 2011

'Abasa -lagi kiriman seorang teman

'Abasa -wajah berseri













Karunia yang diberikan oleh Allah Swt.kepada orang yang bangun malam dengan benar dan ikhlas adalah wajahnya cemerlang dan besinar.jika anda melihat wajah orang yang yang bangun malam,seakan-akan cahaya yang banyak bersinar darinya.

Al-Qurthubi di dalam tafsirnya,ketika mengomentari firman Allah Swt..,

” Banyak muka pada hari itu berseri-seri,tertawa ria,”
(‘Abasa:38-39).

Ibnu Abbas r.a berkata, “Maksudnya adalah wajah orang yang bangun malam.”

Ditanyakan kepada Hasan Al-Basri, “Mengapa orang-orang yang bertahajjud malam itu dikatakan sebagai orang yang paling baik wajahnya?” Dia menjawab, “karena mereka berkhalwat dengan Allah dalam kegelapan malam, sehingga Allah memakaikan sebagian cahaya dari cahaya-Nya.”

Abdul Aziz bin Umar yang mulia ketika melukiskan tentang cemerlangnya cahaya yang muncul dari wajah orang yang bertahajjud mengatakan,”Anda lihat cahaya keagungan di wajahmereka dan bekas pengabdian di antara kedua wajah mereka. Seseorang yangmengabdi kepada raja dunia terlihat pengaruhnya, lalu bagaimana tidak terlihat pengaruhnya bagi orang yang mengabdi kepda Allah?”

Asyhab bin Abdul Aziz berkata, “Pada suatu malam aku keluar setelah orang-orang pada tidur. Lantas aku melewati rumah Malik bi Anas. Ternyata dia sedang shalat. Ketika selesai shalat beliau membaca, “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Alamin.” Kemudian mulai membaca, ” Alhaakumuttakaatsur…..,” hingga sampai firman-Nya, “Tsumma latusalunna yawmaidzin ‘anin-nai’im.” Lalu menangis lama, mengulang-ulangi bacaannya dan menangis. Aku merasa tidak enak untuk mengutarakan keinginanku padanya, yang karenanya aku keluar. Aku tetap berdiri sedangkan dia tetap mengulang-ulang bacaannya dan menangis hingga terbit fajar. Ketika fajar telah tampak dia rukuk, lalu aku kembali ke rumahku, berwudhu kemudian datang ke masjid. Tiba-tiba dia masih tetap di tempatnya dan orang-orang berada di sekelilingnya. Ketika masuk waktu shubuh aku melihat wajahnya bercahaya,” (Ibnu Kharath, Ash-Shalah wa At-Tajajud)

'Abasa -iblis dan ibnu ummi maktum

Iblis dan Ibnu Ummi Maktum






Abdullah bin Ummi Maktum A adalah salah seorang sahabat yang mulia. Dia menjadi salah satu sebab turunnya surah `Abasa. Suatu hari, Abdullah bin Ummi Maktum mengikuti pengajian Rasulullah SAW. Dalam kesempatan itu, Rasul menyampaikan akan kewajiban setiap Muslim yang mendengar azan untuk segera menunaikan shalat.

Karena kondisi fisiknya, yakni matanya yang buta, ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah SAW, apakah saya juga diwajibkan kendati saya tidak bisa melihat?“ tanya Ibnu Ummi Maktum. Rasul menjawab, “Apakah kamu mendengar seruan azan?“ Ibnu Ummi Maktum menja wab, “Ya, saya mendengarnya.“ Rasul pun memerintahkannya agar ia tetap pergi ke masjid meskipun sambil merangkak.

Maka, dengan penuh keimanan, setiap azan berkumandang dan waktu shalat tiba, ia pun segera pergi ke masjid dan berjamaah dengan Rasulullah SAW. Suatu ketika di waktu Subuh, saat azan dikumandangkan, Ibnu Ummi Maktum pun bergegas ke masjid. Di tengah jalan, kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Namun, tekadnya sudah bulat untuk tetap berjamaah ke masjid.

Waktu Subuh berikutnya, ia bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda tersebut bermaksud menolongnya dan menuntunnya ke masjid. Selama berhari-hari, sang pemuda ini selalu mengantarnya ke masjid. Ibnu Ummi Maktum pun kemudian ingin membalas kebaikannya. “Wahai saudaraku, siapakah gerangan namamu. Izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah,“ ujarnya. “Apa untungnya bagi Anda menge tahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,“ jawab sang pemuda. “Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan,“ tutur Ibnu Ummi Maktum kepada pemuda itu.

Maka, sang pemuda ini pun akhirnya mengenalkan diri. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis,“ ujarnya. “Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?“ tanya Ibnu Ummi Maktum lagi. Sang pemuda yang bernama iblis itu kemudian membuka rahasia atas pertolongannya selama ini.

“Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Al lah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga ter hapuslah dosamu seluruhnya.Maka, sia-sialah kami menggodamu sela ma ini,“ jawab iblis tersebut. “ Kisah di atas menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya iblis tak akan pernah berhenti untuk s menggoda dan menyesatkan manu sia. Dalam hal yang baik pun, iblis selalu berusaha untuk membe lokkan orang yang beriman ke arah yang dimurkai Allah. Ketahuilah, se sungguhnya iblis itu adalah musuh yang nyata bagi kita. (QS Fatir [35]: 6). Semoga Allah senantiasa mem. bimbing dan meridai setiap ibadah kita.


Amin.

Wallahu a’lam

'Abasa -ditinggikan dan disucikan

Pertanyaan:

Meletakkan al-Quran di lantai?

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Ada sebagian orang yang meletakkan mushaf Alquran di lantai, baik saat dibaca ataupun tidak. Ada yang menganggap terlarangnya meletakkan mushaf Alquran di lantai, karena dia harus di tempat yang tinggi dengan dalil Alquran, surat Abasa, ayat 14, “Yang ditinggikan dan disucikan.” Mohon penjelasannya. Jazakallahu khairan katsira (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak).

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah.

Sebagian ulama mengharamkan tindakan meletakkan mushaf Alquran di lantai. Muhammad bin Sulaiman Al-Bajirami (salah satu ulama Mazhab Syafi’iyah) mengatakan, “Haram hukumnya meletakkan mushaf di lantai, namun harus diangkat, meskipun hanya sedikit.” (Tuhfah Al-Habib Syarh Al-Khatib, 3:322)

Akan tetapi, jika tidak terdapat tempat yang lebih tinggi dari lantai untuk meletakkan Alquran, sementara jika dibawa terus akan menyulitkan kita dalam melakukan kegiatan yang lain, maka mushaf tersebut boleh diletakkan di lantai, dengan syarat: lantainya harus suci. Allahu a’lam

'Abasa -air mani ke gunung everest




From Nutfah (male and female semen drops) He created him and then set him in due proportion.
Dari air mani diciptakanNya, serta dilengkapkan keadaannya dengan persediaan untuk bertanggungjawab;
['Abasa (80) : 19]






Microorganism yang paling kecil dalam badan manusia? Biar betul makhluk ni pernah panjat Gunung Everest? Betul. Makhluk ni pernah panjat Gunung Everest tapi bukan dalam bentuk ni. Makhluk ni perlu melalui beberapa proses sebelum betul2 boleh panjat sampai ke puncak Everest.



     



Setelah berlaku bermacam-macam process dalam rahim ibunya (fertilisation, zygote, embryo etc.), selepas sembilan bulan lahirlah makhluk tersebut ke dunia fana ini. Berbanding makhluk tersebut dengan spesis-spesisnya yang lain yang sudah lama menetap di Bumi ini, saiz badannya agak kecil jika dibandingkan. Namun, adakah makhluk yang dikatakan baru sahaja keluar dari rahim ibunya benar-benar pernah conquer puncak Everest? Benar, namun bukan dalam keadaan sekarang lagi. Makhluk tersebut perlu menjalankan beberapa process supaya badannya membesar sama seperti spesis-spesisnya yang lain.


    


Setelah berlaku proses tumbesaran (growth) dengan menyerap/memakan bahan-bahan seperti kalsium (untuk tulang), protein (untuk tumbesaran/penggantian tisu badan) dan karbohidrat (tenaga), akhirnya jadilah makhluk tadi seperti yang ada pada dalam picture ni. Seorang yang dahulunya hanya merangkak kerana tulang kaki dan otot kaki yang tidak cukup kuat, akhirnya menjadi satu makhluk yang boleh berdiri, berjalan malah boleh melompat lagi. Sangat aktif dan cergas namun cukup kuat kah makhluk ini untuk menawan Gunung Everest? Benar, makhluk ini pernah menawan Gunung Everest, tetapi bukan dalam peringkat ini lagi.




Kemudian berlaku lagi proses tumbesaran di mana saiz badan makhluk tadi hampir sama atau sama dengan kebanyakan spesis-spesisnya yang lain. Tinggi, besar, gagah malah lebih energetic berbanding dirinya yang dahulu. Sudah 15 tahun menetap di Bumi, pada hayatnya ketika ini dikatakan masih lagi tidak cukup stabil. Ape yang tak stabilnya? Kekuatan dah ada. Ketangkasan pun cukup. Ape tak cukup lagi? Makhluk tersebut pada ketika berumur 15 tahun kurang pengalaman, bermaksud kurang pembinaan dari segi mental. Bukan setakat itu sahaja, emosi juga berlaku gangguan. Mereka ini sering mengalami gangguan mental pada ketika ini, tahap di mana dia merasakan dirinya sudah 'matang', ingin mencuba benda2 yang tidak pernah dicubanya, atau senang cerita, tahap di mana mereka mengenal hakikat dunia yang sebenar. Jadi, bolehkah makhluk tersebut memanjat Gunung Everest? Boleh, tapi bukan ketika stage ini kerana untuk menawan Everest perlu mempersediakan diri dari segi mental juga.



 

'Abasa -kiriman seorang teman

080-abasa(001-attakwir029) - 1024x768px

'Abasa -urdhu translations

 Love Islam Channel




 Love Islam Channel



 Love Islam Channel



 Love Islam Channel

'Abasa -tafsir surah





Sekarang, kita diberi-tahu dalam surat ini bahwa kemuliaan ruhani dapat dicapai secara sama oleh semua manusia – baik kaya ataupun miskin, raja atau rakyat, tunanetra atau bisa melihat, tunarungu atau bisa mendengar – tak satu pun cacat lahiriah seseorang ataupun kemiskinan, yang menjadi hambatan di jalan menuju Majelis Kerajaan Allah, jalan kepada kesempurnaan ruhani dan keluhuran yang terbuka sama lebar bagi setiap orang. 


Selanjutnya, amal perbuatan masing-masing diri kita akan membawa konsekwensi yang jelas sebagaimana prinsip universal yang bisa diterapkan kepada semua manusia. Tidak ada pengecualian dalam hal ini dan tak ada privilege istimewa yang bisa dinikmati oleh keturunan seorang penguasa, gubernur, seorang nabi ataupun wali. Bila mereka terlibat dalam perbuatan jahat maka tak bisa lari dari tanggung-jawab perbuatannya, dan apakah ia orang miskin, orang kaya atau bangsawan tidak akan bisa mengelak dari pembalasan yang sama yang akan diterimanya. Semua sama dalam pandangan Allah. Tidak, bahkan mungkin seorang yang miskin bisa mengungguli si kaya karena ketulusannya dalam beriman serta beramal salih dan sikap serta akhlaknya yang lebih baik. Allah Ta’ala menyukai keimanan, ketulusan, amal salih, dan perilaku yang baik serta moral yang tinggi, bahkan meskipun orang yang menunjukkan watak ini boleh jadi amat miskin atau tidak penting dalam ukuran duniawi.


Jadi, dalam mengajarkan risalah Allah kepada orang lain, seseorang tak perlu gelisah apakah orang yang dituju itu kaya ataukah miskin. Umumnya, ambisi orang ingin menarik kepada agamanya agar supaya beberapa orang yang mempunyai kedudukan sosial yang tinggi bisa masuk kedalam Islam atau bergabung dalam organisasinya, meskipun kebijakan yang demikian itu salah karena tak seorangpun bisa mendalami hati manusia dan mengukur hasratnya dalam mencari kebenaran, kesadaran akan Tuhan dan ketulusannya. Hanya orang yang datang dengan maksud tulus untuk mencari kebenaran sajalah yang bisa memetik manfaat dari penyeru kepada agamanya. Apakah dia rendah atau tinggi kelasnya, orang semacam itu berhak untuk diberi perhatian lebih, dan bahwa risalah Allah harus diberikan kepada mereka.

Konsekwensinya, Allah Yang Maha-tinggi telah membicarakan masalah ini dan memberi petunjuk tentangnya dalam surat ini.


Ibnu Maktum adalah seorang sahabat yang mulia dari Nabi Suci s.a.w. Beliau seorang tuna-netra. Suatu kali, dia bertemu dengan Nabi Suci tepat ketika Beliau sedang menyampaikan risalah kepada para bangsawan Quraish. Tidak menyadari apa yang sedang terjadi, mungkin karena kebutaannya, dia mulai menginterupsi percakapan Rasulullah dengan meluncurkan pertanyaan-pertanyaan. Nabi Suci sedang bersungguh-sungguh dalam dakwahnya dan agaknya kurang berkenan dengan interupsi ini di tengah percakapan yang serius sehingga Beliau tidak memperhatikan Ibnu Maktum. Peristiwa inilah yang digambarkan oleh Allah Taa’ala sebagai berikut:

1. Ia bermuka masam dan berpaling,
2. Karena orang buta datang kepadanya.

‘Abasa berarti melengos atau merasa terganggu. Ini menunjukkan betapa dekat Allah Ta’ala mencermati perilaku Nabi Suci. Memang tidak diragukan lagi bahwa budi pekerti serta akhlak Nabi Suci itu demikian mulia dan luhur sehingga Allah Yang Maha-tinggi telah memuji akhlak beliau yang luhur dalam Qur’an Suci itu sendiri dengan menyatakan: “Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang agung”(68:4). Meskipun demikian, bahkan perbuatan yang nampaknya kurang penting, yang dilakukan oleh pemilik akhlak dan sopan-santun yang agung itu; dianggap kurang berkenan oleh Allah.


Bahkan kini, kita punya kesepakatan yang sama karena adalah dipandang kurang tepat bila kita memotong atau menginterupsi percakapan orang lain, dan seseorang yang melakukan hal yang demikian akan dianggap kurang sopan. Maka bila interupsi yang kurang pada tempatnya ini menyebabkan kurang senangnya Nabi Suci s.a.w. maka hal itu sesuai dengan sopan-santun masyarakat beradab. Namun, karena Ibnu Maktum adalah seseorang yang miskin, buta lagi, yang melakukan pelanggaran terhadap perilaku beradab ini, maka Allah Yang Maha-tinggi memandang tidak diharapkan bila Nabi Suci sama-sekali mengabaikan orang semacam ini dan tetap berbicara dengan kaum elit saja. Untuk menghibur dan memberi semangat kepada orang miskin, maka adalah penting untuk tidak membedakan mereka dalam majelis Nabi Suci; bahkan, si miskin harus diberi keutamaan daripada si kaya, karena Islam datang untuk mengajar umat prinsip luhur perilaku kemanusiaan dengan akhlak mulia dimana orang-orang yang sangat miskin ini bisa mencapai tingkat yang agung.


Ibnu Maktum berbicara beberapa kali, tetapi melihat Nabi Suci sibuk dalam dakwah menyampaikan risalahnya, dia bangun dan pulang. Karena itu, wahyu di atas turun: suatu wahyu yang mengagetkan Nabi Suci! Buru-buru beliau pergi ke rumah Ibnu Maktum, mengundangnya ke rumah Beliau, dan membentangkan kain untuk tempat duduknya. Ibnu Maktum tidak mau duduk karena merasa sungkan dengan Nabi Suci, tetapi Nabi Suci s.a.w. mendesak dan mendudukkannya, dan kemudian bersabda: “Sekarang, tanyakanlah kepadaku apa yang ingin kauketahui”.


Secara kebetulan, bukankah ini memperagakan keyakinan mutlak dari Nabi Suci kepada wahyu yang diterimanya? Betapa keliru dan salahnya catatan yang disajikan oleh almarhum Sir Syed Ahmad Khan yang menyatakan bahwa wahyu itu suatu ide yang mula-mula mencerahkan pribadi manusia lalu turun ke dalam fikiran sadarnya. Bila demikian halnya, setidak-tidaknya pastilah ayat-ayat semacam ini tidak terdapat dalam Qur’an Suci.


Adalah pribadi Rasulullah sendiri yang memutuskan untuk tidak menanggapi Ibnu Maktum yang menginterupsi pada saat yang tidak tepat, sehingga bagaimana dapat dipahami suatu ide yang bertentangan dengan pandangan ini bisa muncul dari pribadi yang sama yang bisa menangkap ide ini pada awal pertamanya? Kedua, tak seorangpun yang menyukai gagasan bahwa suatu laporan yang mencela tingkah-laku pribadinya akan menjadi sesuatu yang diulang-ulangi oleh umatnya. Tetapi dengan mengabaikan pertimbangan ini, celaan ini selalu ada sebagai bagian dari Qur’an Suci dan akan seterusnya demikian. Ini juga menjadi bagian yang diulang-ulang dalam pengajian umatnya. Ini menunjukkan bahwa celaan ini tidak memancar dari hati Nabi Suci sendiri. Tidak, ini adalah wahyu dari Allah yang berisi elemen ketidak-setujuan, dan karenanya seorang nabi pun tidak dapat merahasiakan wahyu Ilahi yang diterimanya, maka ditulis dalam Qur’an Suci dan ini akan tetap di sana seterusnya sebagai sarana petunjuk bagi Ummah Nabi Suci s.a.w.


Bila seseorang memperhatikan dengan cermat, maka dia akan menyadari bahwa tindakan Nabi Suci ini tidaklah perlu diberikan begitu banyak perhatian. Sesungguhnya, maksud dibalik banyaknya tekanan terhadap peristiwa ini karena hal itu untuk memberi petunjuk kepada umat, sebab kalau tidak, maka Allah akan memberikan pesan yang sama kepada Nabi Suci s.a.w. sebagai wahyu yang rahasia dan tidak resmi (suatu wahyu yang tidak dicatat dalam Qur’an Suci sebagai bagian dari kitab suci yang diwahyukan).

'Abasa -terjemahan

'Abasa -Abdullah Ummi Maktum

Luar Maqam Sayidina Abdullah Ummi Maktum

Bercakap tentang berkat dan rahmat Allah ni, Abuya ajar kita, menyebut nama-nama orang soleh itu menurunkan rahmat. ذكر الصالحين تنزل الرحمة . sebut nama orang soleh pun mendatangkan rahmat, betapa lagi kalau yang disebut nama wali-wali Allah. Ketahuilah, semua sahabat-sahabat Rasulullah saw adalah wali-wali Allah. Mari kita cerita tentang seorang sahabat yang dengan sebabnya Nabi Muhammad ditegur oleh Allah taala sebagai panduan kepada kita. Moga-moga kita perolehi rahmat Allah.

Beliau adalah Abdullah bin Ummi Maktum, nama sebenarnya Abdullah bin Umar bin Syuraikh,


seorang sahabat suku Quraisy yang termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah saw. Abdullah mempunyai ikatan kekeluargaan dengan Rasululah saw. Dia adalah sepupu Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid ra. Bapanya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar ‘Umi Maktum’ kerana anaknya Abdullah lahir dalam keadaan buta.
Abdullah bin Ummi Maktum termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, dia turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makah ketika

 itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering menhadiri majlis Rasulullah saw.
Setiap waktu kosong selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu digunakan untuk menambah ilmu Islam. Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari baginda berhadapan dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Umayyah bin Khalaf dan Al Walid bin Mughirah (ayah Saiyidina Khalid bin Al Walid).
Rasulullah saw berunding dan bertukar fikiran dengan mereka tentang Islam. Baginda sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat baginda. Sedang Rasulullah saw berdakwah dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran.

Kata Abdullah, “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepadamu!”

Rasul saw yang mulia tidak mempedulikan permintaan Abdullah bahkan berpaling lalu meneruskan pembicaraannya dengan pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.
Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw cuba hendak pulang, tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti terkena pukulan. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya:

“Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya, Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (sentiasa) berbakti.” Surah ‘Abasa : 1 – 16.

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah saw berhubung dengan peristiwa Abdullah bin Ummi Maktum, yang sentiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Abdullah apabila dia datang. Baginda mepersilakannya duduk ditempat duduk beliau. Bertanyakan keadaannya dan beliau penuhi keperluannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan Abdullah sedemikian rupa, kerana teguran dari Allah itu sangat tegas.

Ketika tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi jadi, Allah swt mengizinkan kaum muslimin dan RasulNya berhijrah. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas meninggalkan tanah tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mus’ab bin Umair sahabat-sahabat Rasul yang pertama tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), Abdullah dan Mus’ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al Quran dan mengajarkan ilmu Islam.






Setelah Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin Rabbah menjadi tukang azan Rasulullah saw. Mereka berdua bertugas melaungkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang mengutamakan Tuhan dari segala kerja-kerja yang lain. Itulah kemenangan yang hakiki.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal azan untuk membangunkan kaum muslimin untuk bersahur dan Abdullah azan ketika masuk Subuh, agar semua orang menghentikan makan minum dan segala yang membatalkan puasa dan menunaikan solat.

Demi memuliakan Abdullah, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan baginda, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jawatan tersebut diamanahkan kepada Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy, yaumul fath.
Setelah perang Badar, Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran, mengangkat darjat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan darjat mereka yang pergi berperang disbanding dengan mereka yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi perang karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat memberi kesan di hati Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah saw,

“Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang.”

Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (uzur) sepertinya, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia sentiasa berdoa dengan penuh kerendahan hati. Katanya,

“Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur sepertiku!”

Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya.
Zaid bin Tsabit, jurutulis Rasulullah saw menceritakan, “Aku duduk di samping Rasulullah saw. Tiba tiba beliau diam, sedangkan peha beliau terletak di atas pehaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat peha Rasulullah saw ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pehaku hilang, baginda bersabda, “Tulislah, hai Zaid!”
Lalu aku menuliskan,

“Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah…..”

Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?”
Selesai pertanyaan Abdullah, Rasulullah saw berdiam dan peha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah saw berkata, “Cuba baca kembali apa yang telah engkau tulis!”
Aku membaca , “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang).” lalu kata beliau. Tulis!

“Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.”

Maka turunlah pengecualian yang diharap harapkan Ibnu Ummi Maktum.
Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang uzur sepertinya untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekad untuk turut berperang fi sabilillah.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.”

Tahun keempat belas Hijrah, Khalifah Umar bin Khatab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang adil dan bertauhid. Umar memerintahkan kepada semua Gabenur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”
Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang yang buta, Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan arahan-arahannya kepada Sa’ad.
Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. Abdullah bin Ummi Maktum memakai baju besi dan kelengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.




Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangi pertempuran tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah berlaku. Maka berpindah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin.

Dan runtuhlah mahligai yang paling megah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah api itu.

Dalam maqam Sayidina Abdullah Ummi Maktum

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemui syahid berlumuran darah sambil memeluk salah satu bendera kaum muslimin.

Begitulah kisah ringkas Saiyidina Abdullah bin Ummi Maktum yang sempat kami ziarah maqamnya di Syria. Tak pasti pula macam mana maqamnya berada di Syria, atau ia adalah hanya maqam bukan dhorih. Wallahu a’lam. Yang pastinya, dia sangat hebat. Dengan keadaan buta pun sanggup membahu perjuangan. Rasulullah saw lebih-lebih lagi hebat kerana sanggup menerima teguran dari Tuhan. Rasa hambanya sangat tinggi. Kemudian teguran itu kena dikongsi pula dengan orang lain. Malah diulang-ulang baca oleh siapa sahaja sehingga hari kiamat. Mampu ke kita menerima teguran atau hukuman? Mampu ke kita, teguran terhadap kita itu diulang-ulang baca? Sapa saja boleh baca. Dari budak-budak sampai orang-orang tua. Satu dunia. Boleh baca kuat-kuat atau perlahan. Allah, hebatnya Rasululah saw. Tidak merajuk atau protes Tuhan. Semuanya diterima. Berilah kami rasa hamba seperti kekasih-kekasihmu. RSA bantulah kami. sebenarnya menerima Rasulullah saw kena terima pakejnya sekali iaitu isteri-isterinya, anak-anaknya, sahabat-sahabatnya. Walaupun buta, ia adalah pakej kepimpinan baginda. Kalau tak terima Abdullah Ummi Maktum sebagai gabenor Madinah kerana dia buta, ertinya tak terima Rasulullah saw kerana Rasulullah saw yang melantiknya.

'Abasa -terjemahan 1 - 16

surat abasa


1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya.
3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)
4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), 9. Sedang ia takut kepada (Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
12. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
13. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
14. Yang ditinggikan lagi disucikan,
15. Di tangan para penulis (malaikat),
16. Yang mulia lagi berbakti.

'Abasa -pengenalan



Surah 'Abasa (Arab: سورة عبس‎) ialah surah ke-80 dalam al-Quran. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 42 ayat. Dinamakan 'Abasa yang diambil dari kata 'Abasa yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah s.a.w. membacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap ibnu Ummi Maktum itu.


Isi kandungan

  • Dalil-dalil keesaan Allah

  • Keadaan manusia pada hari kiamat

  • Dalam berdakwah hendaknya memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi dakwah

  • Cercaan Allah kepada manusia yang tidak mensyukuri nikmat-Nya.
  • At-Takwiir -hari akhirat

    Hari akhirat ialah hari dimana semua manusia dibangkitkan semula selepas mati dan dihimpunkan di suatu tempat yang dipanggil "Padang Mahsyar" untuk mengahadapi perbicaraan atau timbangan amalan yang dikerjakan semasa hidup di dunia dahulu dan seterusnya ditentukan samada ia menjadi penghuni syurga atau penghuni neraka. Dasar akidah ini amat penting dihayati kerana ia dapat membimbing kehidupan kita di jalan yang diredhai Allah.





    Di zaman moden yang serba mencabar perilaku dikalangan sesetengah umat islam jauh terkeluar daripada syariat islam. Diantaranya ada yang mengutamakan dunia dan tidak pedulikan nasib di akhirat. Demi keseronokkan dunia, nafsu syahwat dipertuhankan. Ada yang secara terang melakukan kezaliman, penyelewengan, pecah amanah, penipuan dan sebagainya. Ajaran dan panduan syariat tidak dijadikan pegangan dan amalan dalam kegiatan harian. Fenomena kerosakan akhlak di pelbagai peringkat masyarakat seperti penagihan dadah, arak, judi, zina, pergaulan bebas, hiburan liar dan sebagainya didapati meningkat dari masa kesemasa. Keadaan ini terjadi sesungguhnya kerana keyakinan dan pegangan kepada dasar akidah tentang kehidupan akhirat dikalangan kita tidak diutamakan.
    Terdapat banyak sekali gambaran-gambaran yang disebut oleh Allah Taala didalam Al-Quran tentang dahsyatnya suasana apabila terjadi hari kiamat nanti. Al-Quran secara jelas dan tegas mewajibkan kita meyakini bahawa hari kiamat pasti dan tetap akan berlaku walaupun tidak diketahui bilakah masa dan ketikannya.
    Kedahsyatan yang digambarkan sangatlah menggerunkan sehingga menjadikan seseorang kelihatan terpingga-pingga dan kebingungan. Ada yang kelihatan seperti orang mabuk walaupun sebenarnya Mereka bukanlah mabuk. Ibu-ibu yang sedang menggendong pula akan terus keguguran kerana ketakutan. Begitu juga anak-anak yang sedang menyusu akan tercampak dari pelukan ibunya dan dilupakan begitu sahaja oleh ibunya. Banyak lagi peristiwa dahsyat yang lain yang digambarkan oleh Allah S.W.T untuk renungan kita diantaranya melalui Surah At-takwir ayat 1-3:
     " Apabila matahari dilingkari cahayanya ( dan hilang lenyap ), apabila bintang-bintang gugur berselerakan dan apabila gunung-ganang diterbangkan ke angkasa ( setelah dihancurkan menjadi debu ). "

    Digambarkan juga suasana yang hiruk-pikuk dan kucar-kacir yang menyelubungi manusia ketika berada "dibumi al-mahsyar " yang masing-masing sibuk dengan hal masing-masing. Ada yang berjalan seperti biasa dan ada yang berjalan dalam keadaan terbalik dengan kepala di bawah dan kaki ke atas, ada yang merangkak-rangkak dan bermacam-macam lagi dalam suasana panas cahaya matahari yang berada hanya sejengkal di atas kepala manusia pada masa itu. Ada sesetengah manusia ditenggelami dengan peluh yang banyak dan berbau busuk, bergantung kepada tahap amalan masing-masing.

    Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Ibni Ammar Radiallahuanhuma bahwa Rasul Allah S.A.W memberitahu yang manusia akan dibangkitkan kembali untuk bertemu dengan Allah pada hari kiamat sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan dari perut ibunya telanjang bulat. Siti Aisyah Radiallahuanha bertanya: Lelaki dan perempuan berkumpul sama ya Rasul Allah?. Jawab Rasul Allah S.A.W: Ya!. Siti Aisyah berkata: Alangkah malunya, kemaluanku dapat dilihat setengah daripada setengah yang lain. Rasul Allah S.A.W menepuk bahu Aisyah dengan bersabda: Kesibukkan manusia pada saat itu tidak memungkinkan akan melihat itu, kebanyakkan pandangan mereka pada saat itu mengarah ke langit, berdiri selama empat puluh tahun tidak makan dan tidak minum, ada yang berpeluh sampai ke tumit, betis, perut dan ke mulut kerana lamanya berdiri. Kemudian berdiri para malaikat mengelilingi Arash lalu Allah menyuruh menyeru NAMA fulan bin fulan. Maka semua yang hadir melihat orang yang dipanggil untuk mengadap Allah S.W.T dan apabila ia sudah mengadap Allah, lalu dipanggil orang-orang yang pernah dianiaya dan dizaliminya untuk diberikan kebaikannya kepada orang tersebut kerana pada saat tersebut tidak ada pembayaran dengan emas atau perak. Semua orang yang pernah dianiaya dan dizalimi menagih kebaikan darinya sehingga habis kebaikannya, lalu diambil dosa-dosa orang yang dianiaya dan dizalimi tersebut untuk dipikulnya. Kemudian setelah selesai semuanya maka diperintahkan Allah kembalilah ketempatmu ke Neraka HAWIYAH kerana pada hari ini tidak ada penganiayaan. Sesungguhnya Allah amat segera perhitungannya dan pembalasannya. "





    Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Abi Barzatal Aslami bahwa Rasul Allah S.A.W bersabda:
     " Tidak berganjak kaki seorang hamba sehingga ditanya kepada-Nya tentang umurnya digunakan untuk apa sampai akhir hayatnya. Dan ilmunya apa ia pergunakan (apakah diamalkan atau tidak), dan hartanya dari mana ia dapat dan kemana ia belanjakan, dan badannya untuk apa ia pergunakan “ (Sunan Darimi)
    Keyakinan kepada hari kiamat akan memberi kesan yang sangat mendalam ke dalam jiwa setiap orang islam dalam usaha mencapai matlamat kehidupan yaitu mendapat kecemerlangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Dengan meyakini bahawa pada hari kiamat kita tetap akan dihimpunkan di padang Mahsyar untuk dibicarakan dimahkamah Rabbul Jalil di atas segala tindak tanduk dan amalan yang kita lakukan semasa hidup di dunia dan akan menerima pembalasan yang setimpal dan adil saksama dari Allah.


    Oleh itu bersegeralah kita mempertingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah S.W.T dengan sentiasa mentaati semua perintah Allah serta meninggalkan segala larangannya yang merangkumi seluruh aspek kehidupan yang merangkumi dasar perjuangan, perancangan termasuk cara berfikir, cara bertindak dan cara mencapai sesuatu tujuan dan matlamat.

    Marilah kita warnakan seluruh aktiviti kehidupan kita dengan sistem hidup yang digariskan oleh Allah S.W.T dan sekaligus meninggalkan segala bentuk fahaman dan amalan akhliah yang bercanggah dengan syariat Allah.

    At-Takwiir -ledakan matahari

    matahari padam, gejala matahari, pusat tata surya, benda ruang angkasa



    Sehari-hari kita merasakan yang namanya panas matahari. Buat jemur pakaian, hasil panen (petani) dan fungsi-fungsi lain yang sebenarnya banyak sekali..
    Jika matahari mati, Bumi akan benar-benar merasakan pengaruhnya. Kematian matahari akan memusnahkan semua kehidupan di Bumi. Tapi jangan khawatir...!! Masa itu masih sangatlah sama dihitung dari tahun sekarang ini.

    Panel astronom di pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science mengungkap matahari akan kehabisan suplai hidrogennya (Hidrogen=bahan bakar matahari) lima sampai tujuh miliar tahun mendatang. Saat itu, gravitasi matahari akan runtuh hingga ke intinya di mana sisa hidrogen akan menyebabkan matahari berubah menjadi raksasa merah.

    Pada titik ini, matahari akan menelan bumi. Bumi akan berakhir karena matahari, menguap dan tercampur material matahari. Bumi akan dihamburkan dan abunya tersebar ke ruang antar bintang. Pada saat matahari berubah menjadi raksasa merah, matahari jadi cukup panas untuk membakar semua helium dan ukuran matahari akan berfluktuasi.


     

    matahari padam, gejala matahari, pusat tata surya, benda ruang angkasa matahari padam, gejala matahari, pusat tata surya, benda ruang angkasa


    Jika Sains punya teori, maka Al-Qur'an pun sejak berabad-abad silam telah lebih dulu menyampaikan kabar ini dalam Surat At-Takwir (surat ke 81):

    ''Apabilah matahari digulung (1), dan apabila bintang-bintang berjatuhan (2), dan apabila gunung-gunung dihancurkan (3), dan apabila lautan dijadikan meluap (6)...''


    Berdasarkan penggalan ayat diatas tersirat bahwa ada korelasi (hubungan) erat antara hancurnya matahari dengan akibat yang akan bumi rasakan... Subhanallah!!


    Ledakan matahari tak cukup besar seperti supernova melainkan runtuh seperti bintang white dwarf dingin. Seiring perubahan matahari menjadi raksasa merah, maka ukuran matahari akan membesar 10% tiap satu miliar tahun. Pada tingkat itu, ilmuwan memperkirakan semua air di Bumi akan menguap satu miliar tahun mendatang... Masih lama juga ya?

    At-Takwiir -Al-Quran Kalamullah

    image



    Sebenarnya al-Quran itu sungguh-sungguh kalamullah (yang disampaikan oleh Jibril) utusan yang mulia.
    (At-Takwir: 19)


    Huraian:
    Kitab al-Quran ialah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan perantaraan Malaikat Jibril dalam tempoh 23 tahun.
    Ia dikira sebagai satu ibadat apabila membacanya. Al-Quran merupakan perlembagaan hidup umat Islam yang terkandung di dalamnya semua panduan aspek kehidupan, sama ada berbentuk syariat, akidah, sosial dan akhlak.

    Sistem kehidupan yang dinyatakan oleh Allah s.w.t. di dalam al-Quran adalah lengkap kerana Dialah Maha Mengetahui segala keperluan makhluk-Nya.

    Oleh itu, setelah wafatnya Nabi Muhammad, tiada lagi syariat baru diturunkan kerana Allah s.w.t. telah berfirman dalam surah al-Maidah ayat 3 yang bermaksud:

    Pada hari ini. Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.

    Namun begitu, ketika Rasulullah s.a.w. masih hidup hinggalah hari ini, masih ada orang yang meragui kesahihan al-Quran.
    Allah s.w.t. telah mencabar orang-orang kafir Quraisy untuk mendatangkan satu surah setaraf dengan gaya bahasa al-Quran jika mereka mampu menandingi kehebatan al-Quran tetapi mereka gagal berbuat demikian. Firman Allah s.w.t. dalam surah al-Baqarah ayat 23 yang bermaksud:

    Dan kalau kamu ada menaruh syak tentang apa yang Kami turunkan (al-Quran) kepada hamba Kami (Muhammad), maka cubalah buat dan datangkanlah satu surah yang sebanding dengan al-Quran itu, dan panggillah orang-orang yang kamu percaya boleh menolong kamu selain Allah, jika betul kamu orang-orang yang benar.

    Manusia dengan sifat kekurangan dan kelemahannya, sepatutnya akur dengan kebesaran dan keagungan Allah s.w.t. Al-Quran adalah kalamullah, bukan bait-bait syair, gurindam atau pantun seloka. Ia adalah mukjizat yang paling agung kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk disampaikan kepada umat Islam.


    Kesimpulan:
    Orang yang beriman mesti meyakini bahawa al-Quran adalah kalam Allah yang datangnya daripada Allah s.w.t. Meragui isi kandungan al-Quran boleh tergelincir dari landasan akidah Islam.

    At-Takwiir -jawapan untuk paderi

    Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar, dia juga seorang jurudakwah Islam. Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam.

    Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula dia keberatan, namun kerana desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka.




    Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, ‘Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini.’ Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, ‘Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. ‘ Barulah pemuda ini beranjak keluar.



    Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, ‘Bagaimana anda tahu bahawa saya seorang Muslim?’Paderi itu menjawab, ‘Dari tanda yang terdapat di wajahmu.’


    Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda Muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.

    Paderi berkata, ‘Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat. ‘ Si pemuda tersenyum dan berkata, ‘Silakan!’

    Sang paderi pun mulai bertanya, ‘Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya.’

    ‘Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!’

    ‘Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?’

    ‘Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?’

    Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.


    Setelah membaca ‘Bismillah.. .’ dia berkata,

    -Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

    -Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).’ (Al-Isra’: 12).

    -Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

    -Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.


    - Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.



    . -Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t. menciptakan makhluk.

    -Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. berfirman, ‘Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.’ (Al-Mulk: 3).

    -Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.’ (Al-Haqah: 17).

    -Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*

    -Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. berfirman, ‘Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.’ (Al-An’am: 160).

    -Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .

    -Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, ‘Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.’ (Al-Baqarah: 60).

    -Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

    -Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. ‘ (At-Takwir: 18).


    -Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

    -Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.’ Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ‘Tak ada cercaan terhadap kamu semua.’ Dan ayah mereka Ya’qub berkata, ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Yusuf:98)

    -Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai.’ (Luqman: 19).


    -Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

    -Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.. Allah s.w.t. berfirman, ‘Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim..’ (Al-Anbiya’: 69).

    -Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

    -Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya Wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t. ‘Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.’ (Yusuf: 28).

    -Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

    Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

    Pemuda ini berkata, ‘Apakah kunci surga itu?’





    Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

    Mereka berkata, ‘Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! ‘

    Paderi tersebut berkata, ‘Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah.’

    Mereka menjawab, ‘Kami akan jamin keselamatan anda. ‘

    Paderi pun berkata, ‘Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah , Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. ‘




    Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa ..**

    At-Takwiir -lubang hitam

    Baru-baru ini para menemukan adanya bintang-bintang mereka yang disebut dengan lubang hitam, yang memiliki ciri khas pada tiga sifat:
    1 - tidak terlihat (tampak).
    2 – bergerak pada kecepatan tinggi.
    3 - menarik segala sesuatu yang dekat kepadanya selalu menyapu halaman langit.


    Bahkan para ilmuwanpun menyebutnya dengan pembersih alam semesta, dan yang menakjubkannya lagi bahwa hal tersebut telah disebutkan dalam Al Qur'an, yaitu firman Allah:

    َفلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ * الْجَوَارِ الْكُنَّسِ
    “Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam”.
    (At-Takwir:: 15-16].


    Kata "al-khunnas" berarti tidak nampak.
    Dan "al-jiwar" adalah yang bergerak, sedangkan "al-kunnas" yang menyapu dan menarik segala sesuatu oleh adanya gravitasi yang sangat kuat untuk itu.
    Bukankah ayat ini mewakili keilmiahan Al-Qur'an?

    At-Takwiir -pembunuhan bayi moden




    Dalam surah at-Takwir ayat 8 yang bermaksud :
    “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikuburkan hidup-hidup bertanya kerana dosa apa dia dibunuh”

    Kalau Zaman Firaun hanya bayi lelaki dibunuh manakala Zaman Jahiliyyah hanya bayi perempuan dibunuh. Zaman Moden? Tak kira apa jantina si bayi, ia pasti dibunuh. Mereka dibunuh dengan pelbagai cara. Cukup kejam dan tidak berperi kemanusiaan.

    Jika Firaun dan masyarakat Jahiliyyah punya alasan sendiri kenapa mereka membunuh bayi-bayi mereka, masyarakat kita juga punya alasan tersendiri. Kerana apa? Kerana MALU. Ya, kerana MALU kepada masyarakat akibat perbuatan zina mereka sendiri.

    Jadi apa beza dulu dan sekarang??

    Pembunuhan bayi lelaki pada Zaman Firaun berakhir setelah dewasanya Nabi Musa a.s yang membawa Islam. Saidina Umar yang pernah menanam hidup - hidup puterinya ketika masih musyrik telah bertaubat setelah masuk Islam. Jika semua kejahilan pada zaman tersebut berjaya diatasi melalui Islam, sudah pasti penyelesaian untuk zaman sekarang juga adalah Islam. Kita harus kembali kepada Islam, jadikan Islam cara hidup yang sebenarnya, pasti semua kemaksiatan dan kemungkaran akan berakhir seterusnya kita akan mampu untuk hidup dalam aman berkat keredhaan dan kerahmatan dari Allah.

    At-Takwiir -kehendak Illahi





    Ayat yang menjadi poin pembahasan adalah ayat ke 29 surah at-Takwir, “Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam“, dan ayat yang mirip dengan ayat ini terdapat pula pada sebagian ayat ke 30 surah Ad-Dahr (Al-Insan), Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Begitu pula pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya.
    Berikut ini kami akan menganalisa ketiga ayat tersebut:

    1. Ayat yang dibahas adalah ayat ke 29 surah at-Takwir yang merupakan surah Makiyah. Pada dua ayat sebelumnya Tuhan berfirman, Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Kemudian pada ayat ke 29 berfirman, Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.[1]

    Ringkasan dari ayat-ayat ini adalah bahwa tidak ada sesuatu yang lain di dalam al-Quran al-Karim yang merupakan kalam Ilahi dan pasti benar, “Dan bukan kalam setan yang terkutuk” (Qs. At-Takwir: 25) kecuali peringatan dan nasehat bagi para penghuni alam, tentu saja nasehat dan peringatan ini adalah bagi setiap mereka yang berkehendak untuk menempuh jalan yang benar.

    Di sini mungkin saja manusia akan menganggap dengan ayat berikut, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” dimana kehendak bertahan, istiqomah, berada di jalan lurus, memilih jalan menuju Tuhan, dan berbusana ketaatan dan penghambaan telah diletakkan dalam pilihan bebas manusia dalam bentuk yang mandiri, dimana jika mereka berkehendak maka mereka akan memilih berada di jalan yang benar dan jika tidak menghendaki maka ……; dengan demikian, ketika Tuhan menghendaki keistiqamahan dari mereka, Dia membutuhkan mereka! Untuk menyingkirkan anggapan seperti ini Dia berfirman bahwa kehendak dan keinginan mereka ini bergantung kepada kehendak Yang Kuasa. Mereka tidak akan menginginkan istiqamah (tidak akan mampu, tidak ada izin, dan tidak memiliki kodrat untuk berkehendak), kecuali apabila Tuhan berkehendak supaya mereka menghendaki istiqamah![2]

    Dengan ibarat lain, perbuatan-perbuatan ikhtiari manusia –bahkan kehendak manusia itu sendiri- akan berada dalam kehendak yang dimaksud dan sesuai dengan kehendak-Nya yang akan terjadi dengan perantara, dan karena kehendak-Nya dan dzat Suci Tuhan menghendaki supaya manusia melakukan perbuatan-perbuatan ikhtiari-nya sendiri yang bergantung atas kehendak dan ikhtiar manusia dengan kehendaknya sendiri. Tentunya dalam ayat ini-ayat ini yang menjadi obyek pembicaraan adalah kaum mukminin yang memiliki tujuan untuk melangkahkan kaki di jalan Ilahi dan sampai pada keselamatan dan kebahagiaan, bahkan pesan al-Quran al-Karim ini tidak dikhususkan saja kepada mereka, bahkan meliputi seluruh manusia.

    Ayat-ayat lain yang dalam beberapa dimensi memiliki kemiripan dengan ayat yang kita bahas (yaitu ayat ke 29 surah at-Takwir) adalah sebagian dari ayat ke 30 surah Ad-Dahr (dan ayat-ayat sebelumnya). Pada ayat ke 29 dan 30 surah Ad-Dahr ini Tuhan berfirman, Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan untuk menuju kepada Tuhan-nya. Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[3]

    Bagian dari ayat-ayat akhir surah Ad-Dahr (al-Insan) ini memiliki konteks yang mirip dengan konteks Makiyah dengan menerima pendapat bahwa awal surah ini adalah Madani dan sebagian dari bagian terakhirnya (sebanyak sembilan ayat) merupakan ayat-ayat Makiyah.[4]

    2. Penjelasan ayat Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan ... akan kami bahas pada bagian ketiga. Akan tetapi mafhum dan pengertian serta yang dimaksud dengan ayat Dan tidaklah kamu akan mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah.” adalah mirip dengan ayat ke 19 surah at-Takwir. Ketika dikatakan bahwa pada awalnya Tuhan menyebutkan ayat dalam bentuk manfi (dan tidaklah…) kemudian melengkapi kalam dengan menggunakan pengecualian (kecuali bila…) dari satu sisi hal ini merupakan penjelas bahwa wujud dan keterwujudan kehendak manusia (hamba) bergantung atas kehendak Tuhan. Dari sinilah sehingga kehendak Dzat Suci dari cara keterwujudan kehendak hamba akan memberikan pengaruh dalam perbuatannya namun tidak akan terwujud secara langsung dan tanpa perantara, sehingga keraguan ini muncul bahwa kehendak manusia tidak memiliki pengaruh dalam perbuatan-perbuatannya dan apapun yang dilakukannya tidak berada dalam ikhtiarnya. Dari sini, jika manusia melakukan perbuatan yang buruk dan tercela atau memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang buruk, maka hal tersebu t terjadi karena kehendak langsung Tuhan. Dengan demikian terhadap hubungan yang diperbolehkan antara kehendak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dengan Tuhan.

    Dari sisi lain, memahamkan bahwa manusia tidak memiliki kemandirian dalam kehendaknya melakukan segala sesuatu yang diinginkan, melainkan kehendaknya bergantung pada kehendak Tuhan dan perbuatan ikhtiari hamba terhubungpada ikhtiarnya sendiri, meskipun kehendak dan ikhtiar ini tidak terhubung pada kehendak dan ikhtiar lain.

    Kesimpulannya keinginan dan kehendak hamba bergantung pada kehendak dan keinginan Tuhan dan tanpa adanya izin Tuhan (yang bersifat takwiniyah) maka kehendak ini tidak akan memberikan pengaruh sedikitpun, hal ini karen prinsip keberadaan manusia adalah dari-Nya, dengan demikian mau ataupun tidak mau, kehendaknya pun berasal dari Dzat yang telah memberikan keberadaan itu.

    3. Pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, Tuhan berfirman, Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya. Dan kalimat yang sama persis terdapat pula pada ayat ke 29 surah Ad-Dahr. Dhamir kata hadzihi (ini adalah) mungkin mengisyarahkan pada ayat sebelumnya yang berada dalam posisi memberikan peringatan yang juga memiliki kesesuaian khas dengan ke-makiyah-an surah ini yang diturunkan pada awal pengangkatan kenabian Rasulullah saw, atau sebagaimana ayat pada surah Ad-Dahr yang mengisyarahkan pada ayat-ayat yang berhubungan dengan terjaga dan tahajjud di malam hari, sebagaimana hal ini dalam surah ad-Dahr melaksanakan shalat malam diperkenalkan sebagai cara khusus untuk membimbing hamba ke arah Tuhannya. Bagaimanapun, baik pada surah ad-Dahr ataupun surah al-Muzammil yang berbicara tentang ke-tadzkirah-an ayat-ayat (atau tahajjud dan shalat malam) adalah untuk orang-orang yang mencari jalan untuk mendekat kepada Tuhan. Dan baik pada surah at-Takwir dimana al-Quran dan kalamullah dianggap sebagai peringatan untuk orang-orang dari kalangan mukminin yang ingin berjalan lurus dan melangkahkan kaki di atas kebenaran, dari satu sisi pesan Ilahi ini benar-benar jelas dan nampak bahwa jalan untuk menuju kedekatan dan bertentangga dengan Tuhan dan berada dalam lintasan kebenaran puntidak akab mungkin diterimaselain dari jalan al-Quran dan terhidayahinya dengan hidayah dan kehendak Tuhan, dari satu sisi merupakan penjelas poin bahwa meskipun tujuan-tujuan dan kehendak-kehendak Ilahi serta kerahiman pun ada dengan perhatian dan kehendak-Nya dan jika saja tidak ada kemuliaan, kebaikan, dan keagungan-Nya maka tidak ada sesuatupun dan tidak ada seorangpun yang memiliki keberadaan ataupun cahaya, karena, “Tuhan adalah cahaya langit-langit dan bumi[5] dan “yang menerima” dan “penerimaan” keduanya berasal dari-Nya. Dari sinilah sehingga para filosof mengatakan, “Yang menerima itu adalah dari rahmat (feidh)-Nya yang paling suci (al-aqdas).”[6]

    Dari pendekatan ketiga kelompok ayat-ayat ini secara berdampingan dan juga berbagai ayat-ayat lainnya yang terdapat dalam al-Quran al Karim, kita bisa menggunakan “tauhid perbuatan” dan ketika kehendak dan keinginan manusia pada seluruh ketaatannya mengikuti dan bergantung pada kehendak Tuhan, dan ilmu Tuhan melingkupi ilmunya, maka perbuatan dan pengaruh manusia akan merupakan pengaruh dan perbuatan Tuhan dan tidak saja lemparannya adalah lemparan Tuhan sebagaimana firman-Nya, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar[7] melainkan selain perbuatan-perbuatan lainnya tidak dianggap berasal dari dirinya, Semuanya (berasal) dari sisi Allah.[8] Dan “Tidak ada pemberian kecuali pemberian-Nya[9] melupakan diri dan keberadaannya dan keluar dari keakuannya dan menjadi manifestasi dari asma dan sifat Tuhan.

    Tentunya pernyataan ini bukanlah bermakna keterpaksaan, bagian dari keterpaksaan, atau kekurangan[10] melainkan merupakan mafhum yang tak berangkap dan hakikidan kehendak serta keinginan hamba meskipun merupakan keinginan dan kehendaknya, akan tetapi juga merupakan kehendak Tuhan.

    Bahasan sebelumnya bisa pula dijelaskan dengan cara berikut: kehendak dan keinginan Tuhan terbagi menjadi dua yaitu kehendak dzati dan kehendak aktual. Kehendak dzati adalah kehendak yang terwujud pada tingkatan Dzat Tuhan yang menyatu dengan seluruh sifat-sifat lain yang dimiliki oleh Tuhan. Kehendak dzati ini tak lain adalah ilmu Tuhan, dan makna yang terdapat dalam kehendak manusia tidak benar dalam kaitannya dengan kehendak Tuhan. Pada kehendak dzati sama sekali tidak terdapat interaksi, hubungan dan ketersambungan dengan eksistensi-eksistensi eksternal maupun sistem kekuasaan atas realitas obyek.[11]

    Kehendak aktual merupakan kehendak Tuhan pada maqam perbuatan dan dalam kaitannya dengan eksistensi-eksistensi alam luar dimana tak lain merupakan manifestasi dan tajalinya Tuhan di alam luar.

    Kehendak aktual (takwiniyah) kadangkala muncul dalam bentuk tasyri’iyah dan pengutusan serta turunnya kitab-kitab untuk membimbing manusia secara umum dan untuk menusia-manusia mukmin akan terwujud dalam bentuk yang khas. Kehendak tasyri’iyah dan hukum-hukum, perintah-perintah dan larangan-larangan ini merupakan shirat dan jalan tasyr’iyah Tuhan.[12]

    Dan kadangkala dalam bentuk kehendak takwiniyah yang tak lain adalah penciptaan alam dan sistem qadha dan qadar takwiniyah Tuhan dan terwujudnya ilmu Tuhan secara eksternal dan ‘aini. Dan berdasarkan sistem penciptaan yang paling sempurna dan hikmah Ilahi, seluruh eksistensi akan hadir di alam dengan izin takwiniyah-Nya dan makhluk ini akan dibimbing dari alam kegelapan dan ketiadaan ke alam cahaya dan keberadaan (yang berdasarkan hakikat wujudnya dan ciri khasnya serta karakteristik-karakteristik wujudnya seperti kehendak dan lain sebagainya).

    Dari sini bisa dikatakan, dalam kehendak dzati Tuhan tidak terdapat kehendak lain yang bertentangan dengan kehendak Ilahi tersebut, dan dalam kehendak aktual takwiniyah-Nya tidak pula terdapat eksistensi lain yang bersumber dari sisi-Nya yang mampu mandiri secara mutlak dan bertolak belakang dengan kehendak Ilahi, atau tanpa kehendak dan izin takwiniyah-Nya suatu maujud akan terwujud.

    Berdasarkan pada kehendak aktual dan izin takwiniyah itulah sehingga manusia tercipta secara bebas dan berkehendak dan juga bebas dalam memilih jalan: yang benar, yang berkembang, dan membawa kepada kebahagiaan, ataukah jalan yang batil dan sesat yang akan mengantarkannya pada kesengsaraan abadi. Dalam salah satu ayat-Nya Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan (yang lurus) kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.[13] , pada ayat yang lain berfirman,Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”[14] Demikian juga pada ayat yang lain berfirman,Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.[15]

    Berdasarkan kehendak, izin, ikhtiar, dan kehendak takwiniyah Ilahi-lah sehingga makhluk Tuhan bebas untuk menentukan langkahnya, yaitu menempatkan dirinya untuk menjalani perintah-perintah Ilahi, taat secara mutlak kepada-Nya, mendapatkan kebahagiaan, dan surga abadi melalui kehendak dan iradah tasyri’iyah (baca: agama dan syariat), dan inilah hasil dari keharmonisan antara iradah takwiniyah dan tasyri’iyah. Ataukah menolak dan tidak mentaatinya yang hal ini akan berujung pada kesengsaraan dan neraka jahannam.

    Dengan kata lain, meskipun dalam iradah takwiniyah terdapat kebebasan untuk melakukan perbuatan yang baik ataupun yang buruk, akan tetapi kehendak dan iradah tasyri’iyah Tuhan terletak pada pelaksanaan perbuatan yang baik, dan tidak menerima perbuatan tercela dan buruk dari hamba-Nya.

    Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan hadis Imam Shadiq As yang bersabda, “Sesungguhnya tidak ada keterpaksaan mutlak demikian juga kebebasan mutlak, melainkan yang ada adalah perkara di antara dua perkara,” Imam Ridha As bersabda, “… maksudnya adalah terdapatnya jalan untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.” Perawi hadis berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ridha As: apakah dalam perkara ini terdapat kehendak dan iradah Tuhan?” Imam Ridha As bersabda, “Sesungguhnya dalam ketaatan, terdapat iradah dan kehendak Ilahi, terdapat perintah terhadapnya, terdapat keridhaan untuknya dan terdapat pertolongan atasnya. Sementara itu dalam dosa dan kemaksiatan, terdapat pelarangan atasnya, terdapat kerendahan untuknya dan terdapat kesengsaraan atasnya …”[16]

    Kesimpulannya, kecenderungan manusia untuk melakukan perbuatan yang buruk dan tercela tidak mungkin terjadi tanpa adanya kehendak dan izin takwiniyah Ilahi, tanpa izin-Nya tidak ada satupun persoalan eksternal yang akan mampu terwujud –hal ini juga meliputi pemikiran, kehendak manusia, dan sebagainya- dan kehendak takwiniyah Ilahi tersebut tidak lain adalah kebebasan dan ikhtiar hamba dalam berkehendak, bertujuan, dan dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik maupun yang buruk. Dan hal ini tidak berkontradiksi dengan tujuan Ilahi, bahkan merupakan satu-satunya jalan untuk sampai pada kesempurnaan, kebahagiaan, kedekatan dan pertemuan dengan-Nya; atau ketercelaan, keburukan, dan terjauhkannya dari Tuhan. Surga dan neraka ditentukan berdasarkan kewajiban, dan landasan kewajiban manusia terletak di atas kebebasan dan ikhtiarnya. Dan Tuhan telah menyediakan cara-cara yang bersifat internal (dalam bentuk akal dan fitrah) maupun yang eksternal (dengan mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab dan bimbingan para Imam Maksum Ahlulbait As) yang memungkinkan bagi manusia untuk memasuki kenikmatan ataupun kesengsaraan, dan akan senantiasa terdapat dua hal yang terpisah, surga dan neraka, kebahagiaan dan kesengsaraan, malaikat dan setan, dan …

    Tafsir dari ayat-ayat yang menjadi poin pembahasan kita ini juga telah dinukilkan dalam banyak riwayat dari keturunan para Imam Ahlulbait As, dimana kami menghindarkan diri dari membahasnya karena keterbatasan ruang, dan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap hendaklah merujuk pada tafsir-tafsir dan kitab-kitab hadis.[17]

    Penting untuk dikemukakan bahwa pembahasan mengenai masalah kehendak Ilahi, kehendak manusia, dan keterkaitannya dengan jabr dan ikhtiar, persoalan di antara dua persoalan (amr bainal amrain), kemakhlukan perbuatan hamba, kehendak Ilahi dan bagian-bagiannya, perbedaan antara keinginan dan kehendak, dan … membutuhkan ruang yang lebih luas dan hal ini pun telah terdapat secara mencukupi pada ayat-ayat, riwayat, tafsir-tafsir dan kitab-kitab kalam, filsafah, irfan dan kalimat-kalimat para pembesar, cendekiawan Islam dan ma’arif Ilahi.

    Pada akhir pembahasan penting kiranya untuk menyebutkan poin penting bahwa sebagian keinginan dan kehendak ditafsirkan dan dideskripsikan dengan ridha (kerelaan),kemudian dibahas dalam kaitannya dengan pemahamannya, kepentingannya, bentuk, klasifikasi dan tingkatannya. Dengan makna berikut bahwa salah satu dari hasil mencintai Yang Haq adalah ridha, dan ridha merupakan salah satu maqam tertinggi para muqarrabin (orang-orang yang mendekati-Nya).[18] Sebuah keridhaan tidak akan menuntut sesuatu kecuali keridhaan dari Yang Haq, dan kehendak serta iradahnya akan mengalami kefanaan dalam kehendak dan iradah Yang Haq.[19]

    Dalam keadaan ini, keinginan Tuhan merupakan keinginannya dan siapapun yang telah sampai ke maqam kerelaan maka dia telah sampai pada sekumpulan tingkatan penghambaan, sebagaimana disabdakan, “Ridha adalah suatu nama yang padanya berkumpul makna-makna penghambaan.” [20]

    Tentang ridha dan kerelaan ini, Lahiji pada Syarh Golsyan-e Roz, menuliskan, hakikat ridha adalah keluar dari kerelaannya sendiri dan menuju pada kerelaan Yang Dicintainya, ridha dengan segala sesuatu yang telah dikehendaki oleh Tuhan atasnya, tidak akan terjerumus dalam pertentangan dengan kehendak Ilahi dengan segala prestise yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak, sebagaimana firmannya, Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam. Dan yang dimaksud dengan rela kepada hakikat adalah seseorang yang tidak keberatan dengan takdir-takdir Ilahi.[21]

    Dengan menerima tafsir dan pendapat ini, seorang hamba hakiki dan pesuluk yang mencintai dan pecinta kebenaran sama sekali tidak akan memiliki kecenderungan dan kehendak berkaitan dengan sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat keridhaan Tuhan, dan ridha serta kehendak Tuhan yang baik, indah, dan suci murni sama sekali tidak berkaitan dengan keburukan dan ketercelaan.

    Namun apa yang bisa dipahami dari kata al-Quran, “kehendak”, pada ayat-ayat yang kita bahas berbeda dengan makna dan pengertian ridha, meskipun dalam fenomena dan persoalan yang lain kesejajaran hal ini bisa saja terjadi.

    Terdapat kemungkinan untuk menjabarkan dan menganalisa pembahasan mengenai jabr, ikhtiar dan kehendak Ilahi serta ridha ini dari berbagai pandangan, apabila Anda berminat dan memberitahukan, maka tentu hal tersebut bisa dilaksanakan.